
"Selamat pagi Tuan Leon, Ini Tuan Dave, ingin bertemu Anda," ucap Sekertaris Ken.
Seketika mata Mawar melotot melihat siapa yang sedang berdiri di depanya.
Dua pria tampan yang selama ini menjadi incaranya bertemu dalam satu ruangan yang sama.
"Tuan Dave, apa kabar?," Mawar berdiri dan menyodorkan tanganya kearah Dave.
Sama seperti sebelum-sebelumnya Dave hanya terdiam dan sama sekali tidak membalas uluran tangan Mawar hingga kembali kekecewan tampak di wajah gadis itu.
"Mari Tuan-Tuan, saya sudah menyiapkan tempat kosong pada kalian berdua untuk berbincang santai tanpa ada gangguan dari
pihak lain," ucap sekertaris Ken menatap kearah Mawar.
Dave dan sekertaris Ken segera menuju kesebuah ruangan berdinding kaca, sedangkan Leon masih tinggal sejenak.
"Mawar, Kamu tunggu Aku disini karena urusan kita belum selesai," ucap Leon lalu mengikuti langkah Dave dan sekertaris Ken menuju kearah ruangan berdinding kaca.
"Ada apa gerangan Anda mengajakku bertemu di tempat ini,?," ucap Leon pada Dave setelah keduanya sudah duduk saling berhadapan.
"Aku ingin mengajukan penawaran pada lokasi milik Anda yang ada di tengah-tengah kota itu," balas Dave.
"Maksud Tuan Dave, lokasih bekas gudang keramik milik ayahku?,".
"Betul sekali, kira-kira berapa harga yang Aku bayar untuk bisa memiliki lokasih itu?,".
"Maaf, Aku tidak bisa menjualnya karena itu adalah satu-satunya warisan peninggalan orang tuaku,".
"Berapa pun harga akan Aku bayar asal Tuan Leon mau menyerahkan tanah itu padaKu,".
"Sekali lagi maaf, Aku tidak akan pernah menjual tanah itu apa pun yang terjadi," balas Leon tegas.
"Tolonglah, kami sangat membutuhkan lokasi itu dari pada hanya terbengkalai tanpa di gunakan,".
"Sekali Aku bilang tidak bisa ya tidak bisa. Kenapa Anda begitu memaksa. Aku juga punya banyak uang jadi Aku masih bisa membeli apa pun yang Aku inginkan," Leon yang mulai
memanas.
"Sombong sekali, Aku sudah memohon padamu tapi kamu masih berkeras hati. Baiklah kalau dengan cara halus Aku tidak bisa memiliki lokasi itu maka Aku akan gunakan cara keras, Ken Ayo pergi," Dave bangkit dari tempat duduknya.
"Lakukan saja kalau bisa," tantang Leon.
"Baiklah kita lihat saja nanti apa yang akan terjadi," Dave meninggalkan tempat itu dan melangkah menuju pintu keluar di ikuti sekertaris Ken dari arah belakang.
"Dasar pemaksa, memangnya hanya dia saja yang memiliki banyak uang dan kuasa di kota ini," Leon menyeruput kopi yang ada diatas meja untuk mengurangi ketegangan pada dirinya.
Melihat Dave dan sekertaris Ken sudah pergi, Mawar datang menghampiri Leon yang masih duduk santai di tempatnya semula.
"Ada apa tuan Dave datang menemui kakak?," tanya Mawar begitu serius.
__ADS_1
"Dia ingin membeli lokasi bekas gudang keramik ayahku, apa kamu mengenalnya?," tanya balik Leon.
"Siapa yang tidak kenal Tuan Dave, seorang pengusaha sukses dan paling di takuti di kota ini?,".
"Ditakuti!," Leon tersenyum tipis lalu kemudian melanjutkan ucapanya.
"Mungkin sebagian orang takut padanya tapi jangan harap Aku akan sama dengan mereka,"..
Seketika mawar tersenyum setelah mendengar ucapan Leon.
"Kalau Aku tidak bisa mendapatkan Leon maka Aku akan merebut Dave dari tangan Nadia," ucap Mawar dalam hati.
"Kenapa kamu tersenyum-senyum sendiri seperti itu?,".
"Tidak apa-apa kak!, sampai lupa tadi kakak menanyakan siapa suami dari Nadia bukan?,".
Leon yang tadinya terlihat santai kini
menampakkan kembali wajah seriusnya.
"Iya cepat katakan siapa dia?, kamu jangan coba-coba untuk membohongiku,".
"Tuan Dave ," jawab Mawar singkat.
"Apa, Dave?, kenapa bisa Nadia sampai jatuh di tangan pria pemaksa itu?,".
"Dulu ayah meminjam bahan baku dari Tuan Dave. Setelah ayah mengirimnya lewat jalur laut tiba-tiba kapal yang mengangkut bahan baku
"Terus Nadia yang harus menebusnya, begitu maksudmu?,".
"Sebenarnya Tuan Dave memiliku tapi entah kenapa Nadia yang ingin sekali menikah dengan Tuan Dave. Ya mungkin karena dia melihat Tuan Dave memiliki harta yang banyak. mau tidak mau terpaksa Aku yang harus mengalah," Mawar meremas-remasi jari-jemarinya saling bergantian supaya Leon tidak mencurigainya kalau saat ini dia sedang berbohong.
"Pasti kamu berbohong, Aku mengenal watak Nadia, dia tidak mungkin mau menikah hanya karena harta. Aku yakin kalian bertigalah yang menjerumuskan Nadia masuk kedalam kehidupan Dave. Mawar, apa kamu lupa Aku ini sahabat Nadia sejak kecil dan Aku mengetahui betul bagaimana perlakuan kalian bertiga
padanya,".
"Terserah kakak saja, mau percaya atau tidak, yang jelasnya Aku sudah berkata jujur" Mawar yang kini menundukkan kepalanya.
"Awas saja kalau sampai Aku tahu kalau kalian bertiga telah memaksa Nadia untuk menikah dengan Dave, Aku tidak akan tinggal diam, akan kuhancurkan perusahaan ayahmu itu
hingga tidak tersisa sedikit pun, camkan itu baik-baik," .
Leon dengan wajah memerah meninggalkan Mawar yang masih terdiam menunduk tanpa bisa berkata apa-apa.
Mawar melangkah keluar restauran dengan wajah lesuh. Cinta Leon yang sudah yakin dia dapatkan harus kandas dengan adanya Nadia.
Mawar mengemudikan kendaraanya menuju kearah kediamanya. Setelah tiba di rumah mewah tersebut, Mawar segera keluar dari dalam mobil.
Mawar melangkah memasuki rumah dengan wajah seperti orang yang sudah tidak memiliki harapan untuk hidup.
__ADS_1
Setelah melewati ruang tamu, dia terpaksa berhenti karena seseorang memanggil namanya.
"Mawar, kamu sudah pulang?," tanya Yunita yang sedang bersantai di ruangan itu.
"Iya," jawab Mawar lesuh.
"Loh kok jawabanya cuman segitu, cepat kemari,".
Mawar pun berbalik arah dan melangkah mendekati Yunita.
"Ada apa ini?, kenapa wajahmu di tekuk seperti itu. Tadi kamu keluar rumah dengan wajah berseri, pulang-pulang sudah seperti pakaian lusuh yang hampir 1 tahun tidak kena strikaan,".
Sebelum menjawab Mawar duduk disamping Yunita.
"Ibu, kak Leon," seketika Mawar memeluk tubuh Yunita sambil menangis.
"Ada apa dengan Leon?," Apa dia
menyakitimu?, coba ceritakan apa ibu apa sebenarnya yang telah terjadi," Yunita membelai pucuk kepala Mawar.
"Kak Leon lebih memilih Nadia dibandingkan Aku," Mawar yang masih terus menangis di pelukan ibunya.
"Apa, Leon lebih memilih Nadia?," tanya Yunita kaget.
Mawar tidak menjawab dia hanya mengangguk pelan.
"Kenapa dewi fortuna selalu berpihak pada Nadia, sudah ada dua pria kaya yang ingin memiliki dirinya. Ataukah kita harus ancam dia lagi agar segera pergi meninggalkan kota ini?,".
Seketika Mawar melepaskan pelukanya.
"Ibu jangan main-main, Kalau sampai kak Leon tahu maka tamatlah sudah riwat keluarga ini,".
"Apa maksud kamu Mawar, jangan menakuti-nakuti ibu seperti ini,".
"Tadi kak Leon mengancam Mawar, kalau sampai dia tahu kalau kita yang memaksa Nadia untuk menikah dengan Tuan Dave maka dia tidak
akan segan-segan menghancurkan perusahan Ayah,".
"Apa?," seketika Yunita berdiri dengan kedua bola mata yang hampir saja keluar dari kulit matanya.
"Kak Leon benar-benar marah mendengar Nadia harus menikah dengan Tuan Dave,".
"Ini tidak bisa dibiarkan, Ayo kita temui Nadia sebelum dia memberi tahu pada Leon hal yang sebenarnya,".
Yunita menarik pergelangan tangan
Mawar. Keduanya pun melangkah menuju pintu keluar.
Mawar kembali mengemudikan kendaraanya menuju ke toko kue milik Nadia yang jaraknya memang tidak begitu jauh dari kediaman mereka.
__ADS_1
Terus kunjungi channel youtube Aku yang pastinya akan up tiap hari dengan cerita yang tidak kalah serunya" PEWARIS TERAKHIR SANG PRESDIR" jangan lupa Subcreber, coment, like serta nyalakan lonceng notifikasinya agar tidak ketinggalan Video terbaru dari Aku . Terima kasih.