
Selepas kepergi anak buahnya menyeret Frans, Carlos maju dan menghampiri para pria berjas itu.
"Jadi kalian yang selama ini bekerja sama dengan si botak Frans?. Pantas saja dia berani korupsi di perusahaan ini," bentak Carlos pada mereka semua yang hanya bisa menunduk.
"Mulai sekarang kalian tidak lagi masuk kedalam team kami,".
"Tapi bang, kami benar-benar tidak tahu-menahu kalau perusahaan ini milik tuan Dave. Andai saja kami tahu, kami tidak akan datang kemari untuk membantu Frans,".
"Jadi kalau perusahaan lain boleh kalian perlakukan semena-mena begitu maksudmu?,".
"Maafkan kami bang, kami benar-benar khilaf,".
"Sekarang kalian boleh pergi dari sini sebelum Aku benar-benar kehilang kesabaran. Dan satu lagi, cepat lepaskan anak yang kalian sandera selama ini,".
"Baik bang. kurang ajar Kau Frans, gara-gara ulahnya ini, kami semua juga kena dampaknya. Tunggu kamu Frans, Aku akan mengirimu ke neraka paling jahanam,".
Satu-persatu dari mereka mulai keluar sambil menundukan kepala.
"Joko pulanglah, lain kali kalau ada masalah seperti ini jangan ragu untuk memberi tahuku. Ini juga berlaku pada kalian yang ada disini, paham,". ucap Dave.
"Paham tuan," balas mereka serentak.
"Terima kasih banyak tuan, andai saja tuan tidak menolongku, entahlah bagaimana nasib anak kami di tangan Frans. Kalau begitu Saya permisi. Sekali lagi terima kasih banyak atas semuanya," Joko menyalim tangan Dave.
Beban yang selama ini dia tanggung akhirnya terlepas begitu saja dari dalam hatinya.
"Kalian semua juga boleh bubar sekarang dan jalankankan tugas kalian dengan baik. Kedepanya Aku tidak mau lagi mendengar ada peristiwa seperti ini terjadi untuk yang kedua kalinya,".
Para peserta rapat, Carlos serta anak buahnya pun segera keluar setelah mendengar perintah Dave.
Kini tinggal Dave dan sekertaris Ken yang ada dalam ruangan itu.
"Tuan, ada baiknya tuan makan siang dan beristirahat sejenak di hotel lalu kita kembali ke kota B sebelum malam menjemput,".
"Harusnya seperti itu, kamu masukkan semua berkas-berkas itu kedalam tas lalu kita berangkat,".
"Baik tuan,".
Setelah semuanya dirasa cukup, keduanya pun segera meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
Mobil kembali membawa mereka menuju kesebuah hotel ternama yang tidak jauh tempatnya dari perusahaan yang mereka tempati tadi.
Setelah memarkirkan kendaraan, keduanya masuk kedalam bangunan hotel dan langsung menuju kearah restoran.
Dave langsung menuju kearah meja kosong yang berada paling ujung di dekat dinding yang terbuat dari kaca transparan.
Hirup mudik kendaraan dapat terlihat jelas di tempat Dave duduk saat ini.
"Silahkan dilihat menunya tuan," ucap seorang pelayan menghampiri mereka.
Setelah mencatat pesanan pada secarik kertas kecil, Dave menyerahkan kertas kecil itu pada sang karyawan.
"Kalau begitu tuan tunggu sebentar biar kami menyiapkanya untuk Anda,".
Sang pelayan segera berbalik meninggalkan Dave disana.
Sementara sekertasis itu Ken yang berdiri tidak jauh dari Dave terus memantau keadaan dalam restoran.
Seketika matanya menangkap sosok yang sudah tidak asing lagi.
"Sepertinya itu Nelza, sedang apa perempuan itu di hotel ini?. tatap sekertaris Ken yang terus memperhatikan langkah Nelza hingga hilang di balik pembatas ruangan.
"Kemana perginya Om Frans, sudah sedari tadi Aku telepon dia tapi HP tidak aktif-aktif juga. Apa dia masih mengikuti rapat?,".
Tidak lama kemudian pintu Lift kembali terbuka, Nelza melanjutkan langkah sambil menepuk-nepuk telapak tanganya menggunakan Hp menuju kearah balkom hotel.
Pandangan sudah terpapar indah memanjakan mata setelah Nelza tiba disana karena balkom langsung mengarah kelaut lepas.
Nelza duduk disebuah kursi panjang yang biasa di gunakan oleh para pengunjung hotel untuk melihat matahari terbenam di sore hari.
Sementara itu, Dave yang sudah menyelesaikan makan siangnya segera berdiri dari tempat duduknya dan langsung keluar dari dalam restoran.
Dave melangkah sendiri dari dalam restoran, sementara sekertaris Ken menyelesaikan pembayaran sekaligus menggantikan Dave untuk makan siang.
Dave masuk kedalam lift dan membawanya ke lantai puncak. Tidak lama kemudia Dave keluar dari dalam lift dan langsung menuju kearah kamar yang sudah disiapkan Carlos sebelum mereka datang ke kota itu.
Tanpa Dave sadari, sepasang bola mata terus memperhatikanya sambil bersembunyi di sebuah pot besar yang di atas ditumbuhi berbagai jenis bunga.
Setelah Dave memasuki kamar, orang tersebut yang tak lain adalah Nelza segera keluar dari persembunyian sambil tersenyum tipis.
__ADS_1
"Tumben sekali Dave datang hanya sendiri, dimana sekertaris sombong itu. Biasanya dia seperti seekor 4njing yang dengan setia mengikuti majikanya kemana pun majikanya itu pergi. Tapi ada bagusnya juga, dengan tidak adanya sekertaris itu. Aku bisa dengan muda melancarkan aksiku. Kali ini Kamu tidak akan lolos Dave, sedangkan kamu cupu akan menangis melihat kemesraan kami nantinya," senyum Nelza lalu mulai menghidupkan layar HPnya dan mencari kontak seseorang di dalam sana
"Hallo Rokky, sekarang kamu segera ke hotel dan bawa semua alat perekam gambar yang kamu miliki. Aku tunggu kamu sekarang juga disini," perintah Nelza saat sambungan teleponya dengan seorang pria terjalin.
"Baik, Aku akan segera kesana," balas pria itu lalu menutup sambungan telepon mereka.
Ada sekitar 8 menit Nelza menunggu dan akhirnya muncul seorang pria sambil membawa tas kecil berisi alat perekam sesuai perintah Nelza.
"Bagaiman?, apa semua persiapanya sudah kamu siapkan?,". tanya Nelza saat pria itu sudah duduk disampingnya.
"Semuanya sudah siap Nona tinggal mengambil gambarnya saja,". balas pria itu dan mulai merakit alat potretnya.
"Coba kamu lihat kamar itu. Didalam sana ada seorang pria, setelah Aku masuk kedalam kamar itu kamu bersiap-siaplah untuk mengambil gambar kami, tapi ingat lakukan dengan cepat karena waktunya sangat tipis,".
"Aku paham nona, serahkan semua padaku, pekerjaan seperti ini sudah menjadi makanan keseharianku, jadi Anda tenang saja, semuanya akan berjalan sesuai dengan keinginan Anda,".
"Bagus kalau Kamu paham. Ini bayanmu, sisanya nanti Aku kasih setelah tugasmu sudah selesai," Nelza mengeluarkan beberapa uang merah dari dalam tasnya dan menyerahkan pada pria itu.
"Terima kasih Nona,".
"Baiklah kalau begitu, mari kita bergerak sekarang,".
Nelza berdiri dari tempat duduknya diikuti pria itu. Keduanya segera melangkah mendekati kamar yang di tempati Dave saat ini.
Setelah tiba di depan pintu, keduanya memandang ke kiri dan kanan untuk memastikan keadaan sudah aman sebelum menjalankan rencana mereka.
Nelza memutar knop pintu tapi sayang Dave menguncinya dari dalam sana.
"Bagaimana ini Rokky?,". tanya Nelza menghentikan gerakan tanganya pada knop pintu tersebut.
"Tenang Nona, ini mudah bagi Saya,"
Roky meletakan tasnya ke lantai lalu mengeluarkan sebuah peniti besar dari dalam sana.
Dengan hati-hati sekali, Roky memasukkan peniti tersebut ke dalam lobang kunci. Ada beberapa detik Roky melakukan itu hingga terdengar bunyi kecil menyerupai suara gembuk yang sedang terbuka.
Seketika Nelza tersenyum karena dia tahu kalau pintu kamar itu sekarang sudah terbuka.
MAKIN HARI MAKIN KURANG YANG COMENT, LIKE, FAVORITE DAN VOTE. APA CERITANYA KURANG MENARIK YA?.
__ADS_1