SI CUPU YANG TERTINDAS

SI CUPU YANG TERTINDAS
BAB 54. KEMUNCULAN LEON.


__ADS_3

"Siapa pemilik dari tanah itu, Dan apa kamu bisa mempertemukan Aku denganya?,"


"Namanya Leon, beliau salah satu pengusaha suskses dari kota C. Kalau Tuan mau bertemu denganya biar besok Saya atur jadwalnya.


Soalnya beliau juga sedang berada di kota ini untuk mengurus bisnisnya,".


"Leon?, sepertinya Aku pernah mendengar nama itu. Baiklah, kamu atur saja jadwalnya besok hari. Ngomong-ngomong, apa kamu sudah beri tahu pada Nelza apa yang telah Aku perintahkan padamu?,".


"Sudah Tuan," balas sekertaris Ken singkat. Setelah semua urusan dalam ruangan itu selesai, Dave bergegas meninggalkan tempat


duduknya dan melangkah menuju kearah kamar.


Sedangkan sekertaris Ken tinggal sejenak untuk membereskan berkas dan lanpot yang dibiarkan Dave begitu saja diatas meja.


Setelah membuka daun pintu, Dave segera masuk kedalam kamar dan mencari keberadaan Nadia.


"Rupanya istriku sudah tidur," tatap Dave kearah sofa dan melangkah mendekat.


"Kelihatanya dia capek sekali," Dave


menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Nadia.


Lama Dave disana, hingga dia terlihat berdiri dan membopong tubuh Nadia menuju kearah pembaringan dan meletakkanya dengan sangat pelan-pelan sekali.


"Tidurlah yang nyenyak," Dave menutup tubuh Nadia dengan selimut lalu melangkah ke arah nakas dan meletakkan handphonenya disana.


Diatas nakas, tampak segelas air jahe sudah tersedia.


Dave tersenyum sesaat kearah Nadia lalu mengambil gelas tersebut dan meminum isinya hingga tidak tersisa sama sekali.


Dave meletakkan kembali gelas tersebut ketempatnya semula dan beranjak kearah kamar mandi untuk membersihkan diri.


Hanya beberapa saat Dave disana hingga dia kembali keluar dan sudah terlihat mengenakan pakaian tidur.


Dave memadamkan lampu sebelum dirinya membaringkat tubuh diatas pembaringan.


Sebelum menutup mata, untuk sekali lagi Dave menatap wajah Nadia yang kala itu masih bergelut dengan mimpi indanya.


Malam semakin larut hingga Dave juga sudah mulai memejamkan mata dan masuk kedalam alam mimpi.


Hembusan angin pagi dan suara ombak yang saling berkejaran di tepi pantai membuat Nadia sedikit demi sedikit mulai terbangun.


"Mimi....," Nadia meraba-raba mencari bonekakesayanganya dengan mata masih tertutup rapat.


Dave yang kala itu juga sudah terjaga membiarkan Nadia mengerayangi tubuhnya.


Sedapat mungkin Dave menahan tawa saat Nadia mengelus area sensitifnya mulai dari dada sampai bagian perutnya.

__ADS_1


"Mimi dimana kamu?," Nadia masih terus meraba hingga akhirnya dia harus terhenti saat memegang sebuah gumpalan yang sesekali berdenyut di bawa sana.


"Ah.........," teriaknya sembari melompat dari atas pembaringan.


Seketika Dave terkekeh hingga membuat Nadia melemparnya menggunakan bantal dan juga


guling.


"Kenapa sampai Aku tidur diatas sini?, Seingatku, semalam Aku tidur bersama Mimi di sofa itu, Pasti suamiku semalam yang memindahkanku bukan?,".


"Saat Aku datang semalam, kamu sudah tidur diatas pembaringan, beberapa kali Aku mencoba membangunkanmu tapi tidurmu


semakin nyenyak seperti kerbau habis di gorok . Mau tidak mau Aku terpaksa membiarkanmu terlelap seperti itu," balas Dave bangun dari


tempat tidur lalu melangkah tersenyum membelakangi Nadia yang saat itu terlihat kebingungan dan mencoba mengingat-ingat kembali kejadian semalam.


"Apa kamu sudah mengingatnya?, tanya Dave yang saat itu belum sepenuhnya menutup pintu


kamar mandi.


Nadia hanya menggeleng dengan wajah masih kebingungan.


"Kalau Mimi yang berdenyut-denyut tadi Apa kamu masih mengingatnya?," tanya Dave dan


secepat kilat menutup pintu kamar mandi lalu tertawa terbahak-bahak di dalam sana.


"Dasar mesum ....!," Nadia menghentak-hentakkan kakinya kelantai dan melap kasar telapak tanganya pada baju yang dia kenaka.


Sesekali dia terlihat menyeruput kopi yang ada di atas meja dan membalas pesan yang dikirimkan sesorang padanya.


Dari arah pintu masuk, muncul seorang gadis dengan pakaian sedikit **** melangkah mendekati pria tersebut.


"Maafkan, kalau sampai Mawar membuat kakak agak lama menunggu," ucap Mawar sambil


menarik kursi sedikit ke belakang lalu duduk tepat di depan pria tadi.


"Tidak apa-apa, santai saja," balas pria itu yang tak lain adalah Leon.


Melihat kedatangan Mawar seorang pelayan restaurant datang menghampirinya dan membawa nampan berisi minuman yang sudah


di pesan Leon saat dia baru datang.


"Silahkan Nona," ucap pelayan tersebut setelah meletakkan gelas tepat di depan Mawar.


Mawar hanya tersenyum tipis tanpa menjawab sama sekali.


kembali sang pelayan tadi berbalik dan meninggalkan mereka berdua.

__ADS_1


"Ada apa gerang kiranya kak Leon mengajak Mawar bertemu di tempat ini?. Dan kenapa tidak langsung kerumah sekalian menemui ayah dan ibu?,".


"Ada dua hal hingga Aku memilih tempat ini, Pertama Aku ingin menayakan padamu tentang


Nadia dan kedua Aku juga sedang menunggu kedatangan sesorang?," balas Leon.


"Menunggu seseorang?," tanya Mawar sedikit gugup.


"Iya, salah seorang pengusaha ternama yang ada di kota ini. Tapi itu tidak ada hubunganya denganmu. Coba katakan dimana Nadia sekarang, kenapa kamu seolah-olah


menyembunyikan dia dariku?,".


Seketika Mawar terdiam, ternyata Leon hanya ingin menanyakan keberadaan Nadia, bukan benar-benar ingin bertemu denganya.


"Mawar kenapa kamu hanya diam!, Cepat katakan dimana Nadia sekarang, biar Aku menemuinya karena ada sesuatu hal yang harus


Aku katakan padanya?,".


"Kenapa Nadia dan Nadia terus yang ada di pikiran kakak. Dari segi wajah dan penampilan jelas Aku lebih unggul darinya tetapi, kenapa


kakak lebih memilih Nadia di banding Aku. Coba katakan padaku, Apa keunggulan Nadia dibandingkan Aku?" Mawar kini berderai air


mata menatap kearah Leon.


"Mawar, kamu itu tidak pernah berubah, selalu saja menganggap dirimu lebih baik dari orang


lain. Ingat Mawar, kecantikan sesungguhnya bukan dilihat dari wajah tapi berasal dari hati.


Dan Itu semua ada pada Nadia. Kalau hanya berwajah cantik dan mengenakan pakaian **** seperti dirimu saat ini maka, ada seribuh gadis sepertimu di club malam dan dengan mudah para pria hidup belang bisa mendapatkanya," ucapan Leon.


Ucapan Leon bagai petir yang menyayat hati Mawar. Leon seolah-olah menyamakan dirinya


dengan perempuan penghibur yang gampang di dapatkan di tempat hiburan malam.


"Tapi sekarang kakak Leon sudah tidak bisa memiliki Nadia lagi karena Nadia sudah menjadi istri pria lain,".


Mawar yang kala itu menyeka air


matanya.


"Apa, Kamu jangan membohongiku, pasti ini hanya akal-akalanmu saja bukan?," Leon dengan Mata memerah berdiri dari tempat duduknya.


"Itulah kenyataanya, sekarang Nadia sudah hidup mewah dan memiliki seorang suami yang terpandang di kota ini,".


"Siapa nama suami Nadia itu?," tanya Leon yang masih berdiri menatap tajam pada Mawar.


"Dia adalah.....," Belum juga Mawar menyelesaikan ucapanya, dua orang berjas formal datang menghampiri mereka dua dan berdiri tepat dibelakang Mawar.

__ADS_1


Mohon beri dukungan kalian di channel YOUTUBE Aku" PEWARIS TERAKHIR SANG PERSDIR" terima kasih.



__ADS_2