SI CUPU YANG TERTINDAS

SI CUPU YANG TERTINDAS
BAB 110. NADIA HILANG.


__ADS_3

5 bulan kemudian.....


Perut Nadia mulai terlihat membuncit, dalam umur kadungan seperti itu Nadia masih saja aktif melakukan gerakan senam dan mondar-mandi di sekitar mension tentunya di temani oleh bi Ona, suster dan juga beberapa pelayan yang siap menjaganya saat Dave tidak ada di mension.


Dave sengaja memindahkan kamar pribadi mereka kelantai bawah agar Nadia tidak capek turun naik tangga hingga bisa membahayakan diri dan juga bayi yang ada dalam kandunganya, apa lagi melihat perut Nadia yang semakin hari makin membesar.


Mungkin karena mengandung bayi kembar maka ukuran kandungan Nadia terlihat lebih besar dari kandungan perempuan hamil yang seumuran denganya.


Melihat seperti itu, penjagaan Dave pun pada istrinya semakin di perketat. Kadang Nadia protes tapi dia bisa apa kalau mata Dave sudah melotot seakan-akan ingin menelanya bersama bayi-bayinya. Nadia sadar betul kalau semua itu Dave lakukan demi kebaikan dirinya dan juga bayi mereka.


Pagi itu Dave sudah berdiri di depan pintu dan bersiap-siapan untuk berangkat kerja di temani Nadia, bi Ona Goyun dan dua suster yang senang tiasa mengawal Nadia kemana pun Nadia pergi.


"Sayang, mungkin hari ini Aku sedikit lambat pulang karena ada rapat dan juga Aku harus mengunjungi beberapa proyek baru yang rencananya akan segera di mulai bulan ini. Kamu jangan berbuat aneh-aneh selagi Aku luar dan ingat jangan mengerjakan pekerjaan yang membuatmu merasa capek, jika ada yang kamu butuhkan....," belum juga ucapan Dave terselesaikan Nadia sudah memotongnya.


"Suruh saja orang lain, mereka itu di gaji bukan untuk santai-santai tapi untuk melayanimu dan jaga pola makan jangan sampai bayi-bayi kita kelapatan di dalam sana. Jika sampai mereka mengadu padaku maka tamat kamu di tanganku," Nadia sudah hafal betul perkatasn Dave karena hampir tiap hari Dave memperingatkan itu padanya.


"Nah bagus, kalau kamu sudah paham, Anak-anak ganteng atau cantik ayah yang ada di dalam sana, ayah berangkat dulu. Kalian baik-baik di dalam sana dan jangan nakal apalagi menyusahkan ibumu. Kalau sampai ibumu melapor kalau kalian merepotkanya selama Ayah tidak ada maka Ayah tidak akan mengunjungi kalian lagi tiap malam," cium Dave pada perut Nadia dalam posisi berjengkok.


Seakan mendengar ucapan ayahnya, perut Nadia bergerak hingga membuat Dave tersenyum.


"Nah bagus, sekarang Ayah berangkat, sebentar malam kita ketemu lagi dan bermain-main. Sayang Aku berangkat dan ingat pesanku tadi," Dave berdiri lalu menyodorkan tanganya pada Nadia.


"Suamiku juga hati-hati dan jangan lupa makan," Nadia mencium punggung tangan Dave.


"Tentu sayang. Ken ayo kita berangkat sekarang," Dave langsung masuk kedalam mobil.


"Baik tuan," balas sekertaris Ken menutup daun pintu mobil dan berlari kecil lalu masuk kedalam mobil.


Sedikit demi sedikit mobil mereka melaju meninggalkan mension.


Sepeninggalan Dave dan sekertaris Ken, Nadia pun masuk diikuti bi Ona dan yang lain sedangkan Goyun kembali menjalanka tugasnya seperti biasa mengawasi para pelayan dan koki di dapur.


Nadia melangkah kearah taman belakang rumah tempat favoritenya selama ini di masa ke hamilan karena hanya di tempat itu dia bebas mengespresikan diri.

__ADS_1


Senam dan juga berjemur dibawah terik matahari pagi. Pagi itu guru senam Nadia datang, untuk memberikan gerakan-gerakan senam sebagai penunjang agar kondisi bayi dan juga kesehatan Nadia bisa terjaga dan memudahkan nantinya dalam proses persalinan.


Semua yang bersama Nadia pun harus mengikuti senam tanpa terkecuali.


Ada sekitar 30 menit Nadia dan yang lain melakukan instruktur Rere nama pelatih senam tersebut hingga mereka istrirahat karena melihat Nadia sudah mulai terlihat letih.


"Baiklahlah, hari ini kita sudahi dulu latihanya. Lusa baru kita lanjutin lagi dengan gerakan-gerakan yang lebih bervariasi," Rere mengecilkan volume radio dan mulai mengemasi barang-barangnya.


"Nyonya, Saya permisi dulu soalnya Saya harus melatih beberapa ibu hamil di tempat lain juga," ucap Rere menghadap pada Nadia.


"Baiklah, lusa ibu Rere datang lagi bukan untuk memberi pelatihan dan gerakan terbaru?,".


"Tentu nyonya, kalau tidak ada halangan Saya pasti datang. Kalau begitu Saya permisi," Rere sedikit membungkukkan badan pada Nadia.


"Any tolong antar ibu Rere kedepan," perintah Nadia pada seorang pelayan yang berdiri tidak jauh darinya.


"Baik nyonya. Mari bu, biar saya antar,".


Setelah kepergian Rere, Nadia dan bi Ona kembali masuk ke dalam mension dan dangsung menuju ruang makan. Sejak hamil nafsu makan Nadia bertambah, postur tubuhnya pun kini sudah mulai berisi hingga Dave sering memanggilnya doraemon sakin lucunya.


"Bibi makan seperti apa yang nyonya makan saat ini," balas bi Ona melanjutkan kegiatanya menikmati hidangan yang ada di hadapanya.


Karena tidak mendapat jawaban yang di inginkanya Nadia kembali melanjutkan menyantap hidanganya hingga kembali terhenti saat mendengan kriukan yang sama seperti tadi dari arah bi Ona.


"Bibi makan apa sih, Nadia sangat penasaran. pasti bibi sedang menyembunyikan sesuatu dariku,".


"Ti....dak makan apa-apa kok Non," jawab bi Ona sedikit terbata sambil menyembungikan sesuatu di samping kirinya.


Nadia segera berdiri setelah melihat gerakan tangan bi Ona kesamping.


Kedua matanya seketika terbuka tatkalah melihan buah ranum berwarna orage tergeletak bersama pisau di samping bi Ona.


"Kenapa bibi tegah menyembunyikan buah mangga itu dariku," Nadia mencoba mengambil buah mangga tersebut tapi dengan lincah bi Ona mengambil dan menyimpanya di sebelah kananya.

__ADS_1


"Nyonya di larang tuan untuk makan buah mangga, kata beliau nanti wajah bayi-bayi kalian akan kecut seperti buah mangga,".


"Sedikit saja bi, lagian Dave juga tidak bakalan tahu kok, please," wajah Nadia sedikit memohon sambil menelan air liurnya melihat buah mangga yang ada di samping bi Ona.


"Baiklah, tapi hanya sedikit," bi Ona mengiris mangga tersebut sebesar ibu jari dan memberikanya pada Nadia.


Dengan sigap Nadia mengambil irisan buah mangga itu dan memasukkanya kedalam mulut.


"Bi tambah,".


"Tidak boleh nanti tuan Dave marah,". bi Ona segera berdiri dan menyimpan buah mangga tersebut kedalam lemari lalu menguncinya.


"Bibi pelit sekali,".


"Biarin dari pada kena marah,".


"Buah mangga di taman depan rumah sudah pada ranum, kalian tidak boleh mengambilnya sebelum masak. Kita bertiga sudah memiliki bagian masing-masing dan tidak boleh mengambil hak yang lain, paham,".tiga orang pelayan melintas di depan ruang makan.


Ada sekitar 20 menit Nadia dan bi Ona di sana hingga mereka keluar. Melihat keduanya keluar dua orang suster yang sedari tadi menunggu mereka di luar segera berdiri dan mengikuti mereka menuju kearah pintu keluar.


Nadia berencana ke taman depan rumah untuk melihat atau sekedar memberi makan pada ikan di kolam dan beberapa hewan peliharaan yang sengaja Dave simpan disana agar Nadia tidak bosan saat terkurung dalam mension.


"Bi, Susy dan Santy bantu Aku dong memberi makan pada mereka. Lihatlah mereka pada lapar, mungkin paman Goyun lupa memberi makan pada mereka," ucap Nadia memberi pakan ikan pada bi Ona dan kedua suster tersebut.


Dengan antusias bi Ona dan kedua suster itu pun segera mengambil pakan dari tangan Nadia dan menghamburkanya ke dalam kolam. Ikan-ikan berkerumun menyambut pakan-pakan yang mereka buang.


"Nyonya, semua pakanya sudah habis ada baiknya nyonya masuk dan beristirahat," bi Ona berdiri dan memandang kesealah arah mencari Nadia tapi tidak juga dia temukan.


"Nyonya.........suster apa kalian melihat nyonya Nadia?,".


Kedua suster itu menggeleng kepala.


"Astaga...kenapa nyonya tiba-tiba menghilang tanpa permisi terlebih dulu pada kita. Pasti ada yang kurang beres. Kalian berdua cepat beri tahu pak Goyun kalau nyonya Nadia tiba-tiba menghilang di taman depan," Bi Ona segera berlari sekencang mungkin masuk kedalam mension dan menuju ke kamar Nadia.

__ADS_1


TERUS IKUTI AUTHOR DI YOUTUBE YA...DENGAN CERITA PENDEK DAN SUDAH TAMAT. Terima kasih.



__ADS_2