
Tiga hari kemudian.
"Sayang, setalah pulang dari toko kue kamu langsung pulang dan jangan kemana-mana lagi biar Goyun yang akan menjemputmu nanti. Dan ingat, jangan biarkan balon Neon itu masuk kedalam toko tanpa persetujuanku," Dave yang kala itu memasang kancing dibagian pergelangan tanganya.
"Tentu saja Aku langsung pulang. Memangnya Aku mau kemana lagi. Soal Leon kamu jangan terlalu keras padanya. Leon sebenarnya baik cuman kamu selalu salah mengartikan,". Nadia ikut mengancing baju Dave di bagian dada.
"Berani-beraninya kamu menyanjung balon gas itu di depan suamimu. Ingan Dia, jika aku menemukan kalian berdua duduk kurang dari 7 meter makan tamatlah riwayat kalian berdua ditanganku,". Dave mendekatkan wajahnya pada Nadia.
"Hiiii....over protektif sekali. Mana mungkin Aku mau berdekatan dengan pria lain sedangkan Aku memiliki suami tampan, keren dan juga kaya sepertimu,". Nadia mengusap lembut wajah Dave yang di tumbuhi bulu-bulu halus.
"Masih ada yang kurang?,". Dave yang seketika itu juga tersenyum.
"Apa itu?,".
"Jago diatas ranjang dan memiliki induk ikan lele yang begitu besar. Kamu akan selalu ketagihan bila dia sudah menyentuh kulit halusmu,".
"Iya, seperti ini," Nadia menggenggam pangkal celana Dave lalu tersenyum dengan kedua mata terbuka lebar.
"Sayang, jangan keras-keras nanti ikan lelenya hidup. Apa kamu sanggup menenangkan jika dia mengamuk?," Daven yang hampir saja melompat karena ulah Nadia.
"Sangat mudah bagiku,".
"Jadi kamu mau kita melakukanya sekarang mumpung masih ada waktu 15 menit sebelum rapat dikantor dimulai?,".
"Jangan macam-macam sebelum Aku benar-benar membuat ikan lele suamiku ini sudah tidak bisa berenang lagi di air. Cepatlah dan kita turun sarapan,". Nadia melepaskan genggaman tanganya pada pangkal celana Dave.
"Kejam sekali. Kenapa sekarang kamu menjadi psikopat ikan lele," sungut Dave.
Setelah semuanya dirasa cukup, keduanya segera keluar dari dalam kamar.
Goyun sudah tidak lagi menyambut mereka sesuai keinginan Nadia. Soal Dave, Nadia mengambil alih semuanya.
Setelah tiba diruang makan, Goyun segera menarik kursi buat Dave kemudian dilanjutkan pada Nadia.
Seperti biasa sudah ada Elis dan Yunita disana menyambut Dave dengan senyuman sedangkan pada Nadia mana mungkin mereka mau. Duduk semeja saja dengan Nadia keduanya merasa jijik apa lagi bermanis-manis denganya.
__ADS_1
Nadia menuang nasi dan lauk ke piring Dave kemudian melanjutkan pada piringnya.
Nadia menikmati sarapan pagi itu dengan lahap hingga membuat bola mata Anita dan Elis terbelalak.
"Lihatlah gembel itu, sepertinya dia baru makan enak setelah tinggal disini," tatap sinis Elis pada Nadia yang sama sekali tidak mempedulikan mereka.
"Tentulah, kamu bisa lihat sendiri keluarganya yang datang tempo hari. Sepertinya selama ini mereka memang orang susah dan tidak terpelajar seperti kita. Wajarlah dia menjual si cupu ini pada kakakmu agar bisa menikmati fasilitas mewah disini," Anita yang sesekali mengunya makanan dalam mulutnya.
"Betul kata Ibu. Elis punya ide, bagaimana kalau kita memanfaatkan keluarga si cupi ini untuk menindasnya dan mengusirnya dari sini. Karena Elis lihat waktu itu sepertinya hubungan mereka kurang baik,".
"Ibu juga kepikiran seperti itu. Kita bisa mengiming-imingi mereka dengan uang, jika Dave tahu kita mencelakai sicupu itu, kita bisa cuci tangan nantinya dengan menyalahkan mereka,".
"Ide yang bagus, kalau begitu nanti Elis telpon kak Nelza untuk membicarakan ini,".
Keduanya melanjutkan sarapan pagi mereka dan sesekali menatap kearah Nadia dengan rasa benci.
Mobil melaju meninggalkan mension menuju kearah toko Nadia yang dikemudikan oleh sekertaris Ken.
"Astaga sampai lupa," Nadia menepuk jidat hingga membuat Dave yang saat itu sedang sibuk memantau grafik saham perusahaan dalam handphone berbalik padanya.
"Apanya yang lupa," Dave membolak balik tubuh Nadia seolah-olah ada bagian tubuh Nadia ke tinggal di mension.
"Kalau begitu, setelah mengantarku kekantor, Ken akan datang dan menjemput kalian di toko,".
"Tidak usah sayang, kami naik taxi saja,".
"Kalau kamu menolak tidak usah kesana, Awas saja kalau sampai Aku melihat atau ada laporan yang masuk kalau kalian pergi ke mall tanpa sepengetahuanku maka jangan salahkan Aku jika sampai mall itu hancur saat itu juga," ancam Dave dengan serius hingga membuat nyali Nadia menciut dibuatnya.
"Kejam sekali, lagian kami hanya sebentar disana kok, setelah makan-makan dan membeli handphone buat bi Ona kami langsung pulang,".
"Pokoknya tidak bisa, bagaimana kalau ada orang yang ingin menyelakaimu seperti waktu dibandara, apa kamu bisa memberi pertangung jawaban padaku?,".
"Iya-iya, baiklah. Kami akan menunggu jemputan sekertaris ken tapi dengan syarat sekertaris Ken hanya boleh memantau kami dari kejauhan karena bila sekertaris Ken ada diantara kami, pasti orang-orang dalam mall akan merasa takut dan kami juga akan merasa enggan. Bukanya pesta ulang tahun yang kami inginkan malah pesta henim cipta yang ada,".
"Kamu ini memang paling pintar kalau beralasan," Dave memalingkan pandanganya.
__ADS_1
"Iya maaf,"
Tidak berselang lama kemudian kendaraan mereka tiba di depan toko kue Nadia.
"Kamu jangan ke mana-mana sebelum Ken datang, Aku takut kejadian yang tidak diinginkan terjadi padamu Dia. Aku sangat takut kehilangamu sayang," Dave mencium kening Nadia.
"Terima kasih Suamiku, karena kamu sudah menyayangiku setulis hatimu,"
"Sama-sama sayangku,".
Nadia keluar dari dalam mobil, tidak lama kemudian sedikit demi sedikit mobil yang di kemudikan sekertaris Ken meninggalkan toko kue Nadia.
Setelah mobil mewah itu hilang di pandangan mata, Nadia pun masuk kedalam toko.
"Hallo besti.....apa kalian sudah siap?,". Nadia sedikit meninggikan suara memanggil orang-orang yang sudah dia anggap sebagai keluarga.
"Sudah dong coba lihat penampilan bi Ona, cantik bukan?," ucap Rita yang saat itu keluar bersama bi Ona yang sudah dia dandani sedemikian rupa.
Mata Nadia membulat sempurna melihat perempuan parubaya yang keseharianya hanya memakai daster kini terlihat seperti ibu pejabat.
"Apa kamu yakin kalau dia ini bi Ona?," tanya Nadia dengan mimik kurang percaya kalau yang berdiri di depanya saat itu adalah bi Ona.
"Iyalah Nona, masa bi inem sih," balas Rita mengelilingi bi Ona yang saat itu hanya bisa menunduk malu.
"Cantik sekali, coba deh kita berdiri sejajar pasti kita dikurain adik kakak,".
"Betul kata Nona Nadia, kita benar-benar seperti adik kaka, mirip kera sakti. Kaka pertama( tunjuk Rita pada bi Ona) Kakak kedua ( tunjuk rita pada dirinya) kakak ketiga ( tunjuk Rita pada Nadia," .
"Kalian ini bisa saja, kalau begitu ayo kita berangkat sekarang," ajak bi Ona.
"Kata Tuan Dave, kita harus tunggu jemputan kalau tidak mall itu akan dia ratakan dengan tanah,".
"Apa diratakan dengan tanah?," bi Ona dan Rita bersamaan.
Nadia hanya mengangguk sebagai bentuk jawabanya atas kekagetan mereka.
__ADS_1
Mungkin akan sedikit lambat upload karena Author sibuk nulis di youtube. Mohon dukunganya ya dengan subcreber, like, coment dan nyalakan lonceng notifikasinya agar tidak ketinggalan video terbaru dari Author terimah kasih.