
Dave kembali keluar dari dalam kamar mandi tapi kali ini tidak langsung mengambil pakaian kerjanya. Dave malah membaringkan tubuhnya diatas pembaringan.
Nadia yang masih ingin menanyakan beberapa hal pada Dave segera berdiri tatkala melihat Dave terbaring sambil memegangi kepalanya.
"Apa hari ini suamiku tidak bekerja?," tanya Nadia.
"Kerja, tapi tiba-tiba kepalaku terasa pusing," balas Dave sedikit memijit kepalanya.
"Kalau begitu, suamiku tiduran saja biar Aku memanggil paman Goyun kemari,".
Belum juga Nadia melangkah, Dave sudah mencegahnya.
"Tidak usah, mungkin ini hanya sakit kepala biasa," Dave mencoba bangun dari tempat tidur lalu duduk di sudut pembaringan.
Tampak pria tampan itu menunduk. Nadia yang berdiri tak jauh
darinya terus saja memperhatikanya dan tak bisa berbuat banyak.
Ada sekitar lima menit Dave duduk pada posisi yang sama hingga akhirnya dia mencoba untuk
berdiri.
Belum juga dia melangkah, tiba-tiba tubuhnya terasa oleng. Nadia yang melihat hal itu dengan sigap menangkat tubuhnya yang hampir terjatuh.
"Suamiku, ada apa denganmu?," Nadia dengan raut wajah cemas lalu membantu Dave untuk kembali berbaring.
"Kepalaku tiba-tiba pusing!, mungkin karena habis begadang semalam?,"
"Makanya jangan suka merusak barang orang, nah beginikan jadinya. Sekarang tidak usah banyak bergerak. Mari, biar Aku pijit, siapa tahu dengan ini, rasa pusingnya akan segera hilang,".
Dave pun mengangguk pelan. Nadia mulai memijit bagian kepala Dave, mulai dari pelipis, kening sampai alis hingga pria tampan itu terlihat menutup mata.
"Sepertinya dia yang menenangkanku setiap kali Aku mengigau, bukanya Goyun. Sentuhanya sama persis dengan sentuhan Ayah. Ya TUHANku, apa benar ENGKAU mengirim dia sebagai pengganti kelembutan kedua orang tuaku?," gumam Dave dalam hati.
"Apa rasa pusingnya sudah mulai hilang?," tanya Nadia masih memijit area wajah Dave.
"Iya, ini sudah mendingan," balas Dave singkat.
"Kalau begitu, suamiku istirahatlah dulu biar Aku membuatkan air jahe dan juga bubur buat suamiku,".
Dave hanya mengangguk pelan dengan mata memandang teduh pada Nadia.
Nadia kemudian berdiri dari tempat duduknya dan melangkah kearah pintu keluar.
Setelah membuka pintu, Nadia tidak lupa menutupnya kembali.
Nadia melanjutkan langkah kakinya menuruni anak tangga lalu menuju kearah dapur.
Belum juga Nadia menginjakkan kaki di ruang itu, Goyun yang melihat Nadia segera berlari kecil menghampirinya.
__ADS_1
"Selamat pagi Nyonya, Kalau boleh tahu ada keperluan apa Anda ke kedapur?,".
"Selamat pagi paman Goyun, Aku kemari ingin membuat air jahe buat Tuan Dave sekalian membuat bubur untuknya. Apa Aku boleh melakukan ya?," tanya balik Nadia.
"Boleh saja tapi, sebaiknya jangan, biarkan para koki dalam mension ini yang melakukanya, Kalau boleh Saya tahu apa yang terjadi pada Tuan Dave, kenapa tiba-tiba beliau ingin minum air jahe?, Setahu saya hanya almarhum Tuan besar yang suka dengan minuman itu kalau Tuan Dave kurasa beliau kurang menyukainya,".
"Tuan Dave tadi sedikit pusing tapi sekarang sudah mendingan, mungkin beliau lagi masuk angin jadi Aku berniat untuk membuatkan air
jahe sekalian bubur untuk sarapan paginya. Boleh ya paman, kali ini saja!," Nadia sedikit memohon.
Lama Goyun berpikir hingga akhirnya dia mengangguk juga.
"Baiklah, mari ikut saya Nyonya,".
Keduanya pun melangkah memasuki dapur. Melihat kedatangan Nadia dan Goyun, para Koki segera menghentikan aktifitasnya dan memberi salam dan hormat pada mereka berdua.
"Selamat pagi Nyonya muda dan pak Goyun,". Sambut enam koki yang ada di ruangan itu.
"Pagi," balas Nadia dan Goyun juga bersamaan.
"Nyonya Nadia ingin membuat air jahe dan juga bubur buat Tuan Dave jadi, Saya harap kalian bisa membantunya menyiapkan alat dapur dan juga bahan-bahanya," perintah Goyun pada keenam koki yang berada disana.
"Baik," balas keenamnya lalu memulai menyiapkan bahan dan alat dapur yang dibutuhkan Nadia.
"Terima kasih paman,".
"Silahkan,".
Setelah Goyun pergi, Nadia pun melangkah kearah dapur dimana semua alat masak serta bahan-bahan yang dia butuhkan sudah disiapkan oleh para.
Nadia mulai mengolah semua bahan yang sudah tersedia diatas meja.
Dengan lincah Nadia meracik jahe menjadi sebuah minuman.
Air jahe selesai dan sudah dituang kedalam gelas, Nadia kemudian melanjutkan membuat bubur ayam.
Para koki hanya memperhatikan Nadia dan sesekali memperlihatkan bahan dan alat masak yang dibutuhkan Nadia.
"Nyonya Nadia benar-benar hebat, selain cantik dia juga pandai memasak. Beda halnya dengan
Nona Nelza yang tahunya hanya makan dan berbelanja. Aku yakin Nyonya Nadialah yang layak mendampingi Tuan Dave,".
"Benar pak Agus, walau sudah jadi Nyonya muda beliau masih menyempatkan diri untuk terjun lansung ke dapur. Sungguh hal yang
sangat jarang di temui di zaman ini," balas Jhony.
Tidak berselang lama kemudian kini Nadia sudah menata bubur dalam sebuah mangkok berukuran sedang dan meletakkanya di sebuah nampan bersama dengan segelas air jahe yang baru saja dia buat.
Nadia kemudian membereskan semua peralatan dapur yang baru
__ADS_1
saja dia gunakan.
Melihat hal itu, dua koki segera maju dan menghampirinya.
"Nyonya, biar kami yang membereskan semuanya," ucap salah satu diantara mereka.
"Maaf kalau sudah merepotkan kalian," balas Nadia sedikit merasa tidak enak hati.
"Tidak apa-apa Nyonya, Ini sudah menjadi tugas kami,".
"Kalau begitu terima kasih, Aku permisi dulu, mau membawa ini untuk Tuan Dave," Nadia mengangkat Nampan berisi semangkok bubur
dan segelas air jahe.
"Silahkan," balas Agus.
Nadia melangkah meninggalkan tempat itu, belum juga dia menginjakkan kaki pada anak tangga pertama Elis dan Anita sudah datang menghampirinya.
"Bu, lihat si culun ini, dia benar-benar serasi menjadi pelayan di mension ini," Elis tertawa sambil menutup mulutnya.
"Harusnya tugasnya memang seperti ini, melayani Dave dan kita semua, menyiapkan semua kebutuh kita bukan menjadi nyonya besar dengan penampilan culun dan norak," sambung Anita.
"Coba lihat bu, minuman serta makanan yang dia buat, mirip muntahan kucing peliharaan Elis,".
"Namanya juga kampungan pasti selera koki juga rendahan,".
"Hay biawak hidup, Kenapa kalian terus saja mengusik ketenanganku sedangkan Aku tidak pernah sedikit pun mau apalagi ingin mengurus hidup kalian. Atau jangan-jangan kalian iri denganku?, Karena hanya orang irilah yang tidak akan bisa melihat orang lain senang. Orang lain membeli kulkas dianya membeku,". balas Nadia tidak mau kalah.
"Ibu iri dengan siculun?," tatap Elis pada Ibunya.
"Untuk apa ibu iri dengan si culun, dari gaya hidupnya saja sudah terlihat kalau dia ini hidup di garis kemiskinan jauh bedah dengan kehidupan kita, seorang bangsawan,". balas Anita sembari menertawai Nadia.
"Bangsawan numpang, Andai kalian itu tumbuhan, kalian di ibaratkan benalu. Menikmati fasilitas dari jeripaya orang. Sudahlah, Aku sama sekali tidak level berdebat dengan kalian. Sekelas singa dan macan saja Aku tidak takut apalagi concorag macam kalian berdua ini,".
"Berani sekali kamu menyamakan kami dengan cencorang, Elis tangkap dia,".
"Etss...setetas saja air dalam gelas ini tumpah maka tamat sudah riwayat kalian di tangan suamiku," Nadia sedikit menghindar.
Seketika Elis dan Anita terhenti.
"Bagus, kalau kalian mengerti. Kalau masih mau hidup tenang dirumah ini maka ramalah padaku,". Nadia melangkah ditengah-tengah Anita Dan Elis dan sengaja menyenggol kedua musuhnya yang sudah tidak berdaya.
"Apa pun yang kita lakukan pada si culun itu dia tetap saja punya senjata untuk menyerang balik,". ucap anita
"Suatu saat kita pasti bisa menemukan kelemahanya,". balas Elis.
TERUS DUKUNG CERITA INI DENGAN CARA COMENT, LIKE, DAN SHERE DAN DUKUNG "PEWARIS TERAKHIR SANG PRESDIR" DI YOUTUBE. TERIMA KASIH.
__ADS_1