
" Brruukkhh."
" Akh" ucap seorang waiters yang tak sengaja menjatuhkan mapan yang di dalam genggamannya karena di tabrak oleh Risa.
" Astaga! kamu punya mata nggak?" bentak Risa dengan suara agak meninggi hingga para tamu pun menoleh ke asal suara itu.
Risa yang menyadari kesalahannya langsung merubah wajahnya yang kesal kembali tersenyum ke arah tamu.
" Maaf, mm aku minta maaf, lanjutkan saja pekerjaanmu" ucap Risa dengan lembut ke arah waiters itu.
" Saya yang harus minta maaf nona, maaf kan saya" ucap waiters itu dengan rasa bersalah dalam kegugupannya.
" Iya nggak apa-apa, saya juga yang salah. Ya sudah lanjutkan pekerjaanmu." ucap Risa dengan lembut. Kemudian ia melangkah pergi meninggalkan waiters itu dengan rasa kesalny karena merasa malu dengan kejadian itu.
" Dia selalu membuat kericuhan di semua tempat, kalau bukan urusan perusahaan,aku nggak akan terima dia menjadi model di perusahaanku." gumam Aiden menatap Risa dari jauh.
Aiden kembali menyalami para tamu yang baru saja datang tanpa peduli kepada Risa yang butuh perhatiannya.
*************
Setelah beberapa menit, akhirnya mobil keluarga Pramudita memasuki kediaman yang melangsungkan acara itu. Ana yang melihat para tamu yang begitu banyak nampak gugup. Keringatnya mengalir tanpa henti dan tangannya semakin kedinginan menahan takut.
Bram melirik ke arah kaca depan mobilnya yang nampak terlihat Ana yang sedang menunduk seakan gugup untuk mengangakat wajahnya.
" Akhirnya kita sampai juga,ayo keluar" ucap Dian tersenyum bahagia.
Mereka pun keluar dari mobil, tapi Ana tak bergeming dari tempat duduknya. Bram dan Dian menyadari atas diamnya Ana yang tak mau keluar dari dalam mobil. Dian pun datang menghampiri Ana yang masih tak bergeming.
" Sayang, ayo keluar" ucap Dian ke arah Ana sambil mengulurkan tangannya.
Ana melirik ke arah ayahnya yang tersenyum sambil mengulurkan tangan ke arahnya. Namun Ana menggelengkan kepalanya, wajahnya terlihat pucat karena kegugupannya. Bagaimana Ana tak gugup ini adalah pertama untuknya memperlihatkan dirinya di tempat umum, dari kecil ia hanya bisa bersembunyi dan menghindari tempat ramai karena wajahnya yang tak sempurna. Di restoran tempat Ana bekerja hanya di bagian dapur saja, kalaupun sepi ia akan membersihkan meja-meja yang nampak kotor di tinggalkan para tamu yang datang.
Janie merasa kesal dengan kelakuan Ana yang masih duduk dalam mobil. " Kalau Ana nggak mau? nggak usah di paksakan. Kita masuk saja bikin malu aja" ucap Janie dengan kesal.
Dian melirik ke arah istrinya dengan tatapan tajam yang tak menyukai ucapannya. Janie yang melihat pun hanya membuang wajahnya ke arah lain dengan rasa kesalnya.
" Pa, biar aku saja" ucap Bram.
__ADS_1
Dian pun mengangguk dan memberikan jalan buat Bram untuk membujuk Ana untuk keluar.
" Ayo Ana, kakak ada disini, jangan gugup" ucap Bram dengan lembut. Ana menoleh ke arah Bram yang tersenyum tulus kepadanya. Ana pun membalas uluran tangan Bram dan beranjak keluar dari dalam mobil.
" Ya Allah ini yang pertama buatku memperlihatkan wajahku yang memakai topeng, kalau bukan karena papa dan kakak aku tak ada di sini." batin Ana.
" Ayo" ucap Dian ke arah istri dan kedua anaknya.
Mereka pun memasuki ke tempat di mana acara berlangsung. Ana yang masih nampak gugup sedang menunduk sambil merangkul di lengan kakaknya. Bram yang mengetahui kegugupan Ana, langsung menggenggam tangannya memberikan semangat buat Ana.
" Pak Hardian" sapa seseorang ke arah Dian yang memasuki ruangan itu. Dian pun menoleh ke arah orang yang menyapanya.
" Selamat datang di kediaman kami dan terima kasih sudah menerima undangan kami" ucap orang itu kembali bersama istrinya.
" Sama-sama pak, maaf kami terlambat 5 menit dan saya mohon jangan panggil pak" ucap Dian yang merasa tak enak hati.
" Hahaha kau ini, kita sudah lama berteman sifatmu masih sama seprti dulu. Nggak apa-apa Dian, ini keluargamu?" ucap orang itu.
" Iya, perkenalkan ini istriku Janie, ini Bram anak pertama dan ini Ana anak ketigaku" ucap Dian memperkenalkan keluarganya.
Mereka pun saling menyalami memperkenalkan diri tapi beda dengan Ana yang semenjak memasuki ruangan itu hanya menunduk tanpa melihat sekitarnya. Bram yang menyadari sikap Ana langsung membisikkan sesuatu ke telinga Ana.
Ana pun mencoba mengangkat wajahnya ke arah teman ayahnya dengan tersenyum lembut. Ana pun mengulurkan tangannya dan tersenyum kearah mereka.
" Ana" ucap Ana dengan cepat menutupi rasa kegugupannya.
" Saya Prabu dan ini istri saya Vina" ucap Prabu. Vina melirik kearah seseorang seperti di kenalnya.
" Bukankah kita pernah bertemu?" tanya Vina ke arah Janie.
Jenie melirik ke arah Vina dan mencoba mengingat sesuatu tentang kejadian yang terjadi di tempat salon tadi. Janie nampak wajahnya berubah pias setelah mengingat kejadian itu. Dian melirik ke arah istrinya yang nampak ingin bertanya, Janie yang seakan tahu lirikan suaminya dengan cepat menampilkan senyumnya.
" Maaf, saya nggak sengaja menabrak Mba Vina. Saya terlalu terburu-buru, sehingga saya tidak memperhatikan Mba Vina yang menuju ke arah saya" ucap Janie yang merasa bersalah mengingat kelakuannya ke Vina.
" Iya tidak apa-apa, saya juga merasa bersalah hanya memperhatikan pakaian saya juga." ucap Vina dengan senyumnya menawan. Vina melirik ke arah Ana yang juga mengingat kejadian yang hampir saja menabraknya.
" Mmm kau gadis itu kan?" ucap Vina ke arah Ana. Mata mereka beralih ke arah Ana yang menunggu jawaban Ana. Ana mendongakkan kepalanya ke arah Vina dan melirik ke arah yang lainnya menunggu jawabannya. Ana pun menganggukan kepalanya karena sempat mengingat kejadian tadi di tempat salon kecantikan di saat obrolan Vina bertanya kepada Janie.
__ADS_1
" Ternyata namamu Ana ya?" tanya Vina yang mendekati Ana.
" Iya nyonya" ucapnya.
" Jangan panggil aku nyonya Ana, panggil tante saja. Aku teman ayahmu juga" ucap Vina yang merangkul Ana, Ana terkejut dengan Vina yang merangkulnya. Ia melirik ke arah kakak dan ayahnya namun, mereka hanya menampilkan senyuman ke arah Ana.
" Iya tan-tante" ucap Ana yang merasa canggung.
" Ma, kita ajak mereka duduk dan berkenalan dengan anak-anak kita" ucap Prabu.
"Iya pa Mari, ada tempat duduk khusus untuk kalian" ucap Vina yang mengajak keluarga Hardian yang masih merangkul Ana.
Mereka pun melangkah menuju ke arah yang sudah di siapkan. Kedua keluarga itu pun masih dalam obrolan kecil tentang bisnis mereka. Vina beranjak dari duduknya menuju ke arah kedua anaknya yang masih menyalami para tamu yang baru datang.
" Aiden, Abi" nyapa Vina ke arah kedua anaknya. Keduanya pun melirik ke arah ibunya yang menghampiri mereka.
" Ya ma, ada apa?" tanya Aiden.
" Serahkan dulu sama Steve, ikut mama sebentar ya?" ucap Vina. Mereka berdua pun menganggukan kepalanya dan mengikuti ibunya.
" Perkenalkan ini kedua anak saya" ucap Vina yang memperkenalkan kedua anaknya ke arah keluarga Dian. Mereka pun melirik ke arah kedua anak Prabu yang begitu tampan. Namun, beda dengan Ana yang tak melirik ke arah keduanya. Iya masih belum bisa percaya diri untuk melihat sekelilingnya yang memakai topeng di depan umum.
" Ini anak saya yang pertama, namanya Aiden dan ini anak kedua saya namanya Abian" tutur Vina. Aiden dan Abi pun tersenyum sambil menyalami keluarga Hardian. Aiden mengulurkan tangannya ke arah Ana, namun tak di balas Ana yang masih menunduk.
Bram yang melihat pun menggenggam jemari Ana untuk mengulurkan tangannya ke arah Aiden. Ana pun melirik ke arah kakaknya dan beralih ke arah Aiden yang terkejut dengan tangan Ana yang begitu dingin saat di genggamnya. Hingga tatapan mereka bertemu dan terkejut dengan pertemuan mereka kembali. Abi pun yang melihat Ana terkejut juga dengan kehadiran Ana yang selalu menghantui pikirannya.
" K_kkaauu" ucap Ana yang masih terkejut dan menyadari tangannya masih di genggam erat Aiden, dengan cepat Ana melepaskan genggamannya. Aiden juga terkejut namun dalam hatinya senang karena bertemu Ana kembali yang sempat menghantui dalam pikirannya semenjak pertemuan mereka di makam.
Mereka melirik ke arah keduanya yang ingin minta penjelasan dari mereka yang sudah pernah bertemu. Abi juga mengulurkan tangannya ke arah Ana.
" Aku Abi dan tadi kakakku Aiden, salam kenal Ana, kita juga pernah bertemu kan?" ucap Abi ke arah Ana yang masih kaget dengan pertemuan yang tak pernah di pikirkan olehnya.
Ana menganggukan kepalanya tanpa mengucapkan sesuatu karena ia masih belum bisa percaya dengan pertemuannya kembali dengan kedua pria yang ingin dia hindari.
" Mama" panggil seseorang yang baru saja datang menghampiri mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Terima kasih yang masih setia dengan ceritaku ini. Semangat ya semua, jangan lupa Like dan tinggalkan jejak kalian..
Terima kasih