
Di dalam mobil 2 orang pria sedang duduk yang satunya sedang memandangi rumah megah yang ada di hadapannya dan pria yang satunya menunggu perintah sang tuannya. Rasa rindu yang Ia pendam pada sosok kekasih yang sangat dia cintai, baru beberapa hari bersatu kembali, kini mengahadapi ujian yang begitu besar. Cinta dan kasih sayang harus di uji dengan cara memisahkan mereka, seorang ayah yang dulu begitu merestui kini menolak pernikahan mereka berdua.
" Apa sudah benar keputusanku Stave?." tanya Pria itu yang bernama Aiden.
" Tapi ini akan menyakitkan untuk Nona." jawab Stave.
" Selama aku melakukan sandiwara ini, kau harus mencari bukti-bukti itu sebelum perjodohan kami terjadi." ucap Aiden yang masih menatap lurus ke arah rumah itu.
" Ya Tuan." jawab Stave.
" Oh iya! Apa semua sudah kau atur untuk besok?." tanya Aiden teringat rencananya.
" Sedikit lagi." jawab Stave.
" Aku harap semua harus sempurna." ucap Aiden.
" Baik Tuan." jawab Stave.
Tiba-tiba ponsel Aiden berdering, Aiden menatap layar ponsel melihat nama kontak yang membuat rahangnya mengeras. Dengan terpaksa Ia menggeser notif hijau itu menerima panggilan dari ayahnya.
" Kamu di mana?." tanya seseorang dari seberang ponselnya.
" Kenapa Pah?." tanya Aiden tanpa menjawab pertanyaan ayahnya.
" Aku sudah katakan kau harus mengajak Nena untuk jalan-jalan." ucap Prabu dengan suara meninggi.
" Aku sibuk pah!." ucap Aiden sambil memutuskan hubungan itu.
" Ai! Aiii! Shith! Lihat Mah! anak kesayanganmu sudah tidak menghormatiku lagi. Dia sudah sembarangan mematikan telfonnya sebelum aku selesai berbicara." ucap Prabu ke arah istrinya yang sedang duduk di kursi sofa di ruang tamu.
" Om! Kak Ai kenapa menghindari Nena?." tanya Nena ke arah Prabu.
" Aiden lagi sibuk Nena." jawab Prabu sambil mendekati Nena.
" Nena!." panggil Vina membuatnya menoleh.
" Ya Tan?." jawab Nena.
" Aiden punya tunangan yang sangat dia cintai, aku harap kau menolak dengan perjodohan ini." ucap Vina membuat Prabu dan Nena terkejut.
" Nena tau, kalau Tante tidak suka sama Nena tapi hati Nena cuma untuk Kak Ai." ucap Nena membuat Vina menatap tajam ke arah Nena.
" Mah!." ucap Prabu menghentikkan tatapan istrinya ke arah Nena.
Dengan rasa kecewa Vina meninggalkan mereka berdua yang hanya bisa memandangi kepergiannya.
__ADS_1
" Jangan perdulikan perkataan istriku, aku yakin Ai akan jatuh cinta kepadamu." ucap Prabu mencoba mengalihkan pikiran Nena.
🌳🌳🌳
Waktu terlalu cepat berputar, gadis yang sedang berdandan rapih tidak henti-hentinya mengembangkan senyuman semenjak bangun pagi. Teringat dengan ajakan calon suami untuk jalan-jalan pagi ini membuatnya tidak bisa tidur nyenyak semalaman.
" Cantik! Apa yang kurang lagi ya?." gumamnya sambil mengamati tampilannya yang berada di dalam cermin.
" Sudah cantik sayang." ucap seseorang yang baru saja memasuki kamar Anna membuat gadis itu terkejut.
" Papa!." sapa Anna membalikkan tubuhnya ke arah Leo yang sudah berada di hadapannya.
" Pagi-pagi begini mau kemana?." tanya Leo sambil mengelus ujung kepala putrinya.
" Hhmm itu!." ucap Anna ragu-ragu.
" Itu apa? Pasti mau jalan-jalan sama Aiden?." ucap Leo menebak.
" Kok Papa tau?." tanya Anna menatap wajah ayahnya.
" Iya sayang, kan Aiden sendiri yang minta ijin sama papa buat ngajak putri papa yang cantik jelita ini untuk jalan-jalan." jawab Leo.
" A_apa? Kak Aiden??." tanya Anna dengan terkejut.
" Dia di bawah menunggumu." jawab Leo membuat Anna terlonjak bahagia.
" Ya Pah!." jawab Anna sambil menyelesaikan dandanannya.
Di lantai bawah terlihat Aiden sedang menunggu kedatangan kekasihnya yang tak kunjung terlihat. Dalam hati Aiden masih merasakan kegugupannya saat bertemu dengan Ayah Anna dan meminta ijin mengajak Anna untuk jalan-jalan bersamanya. Setengah jam menunggu, akhirnya Anna keluar dari kamarnya bersama Leo yang sedang di rangkulnya.
Aiden tersigap melihat kecantikan Anna yang membuatnya tidak berkedip tanpa Ia sadari, Ia sudah berdiri sambil menatap Anna.
" Ekheem!!." batuk Leo membuat Aiden tersadar dari lamunannya.
Aiden menjadi salah tingkah karena di tatap tajam oleh ayahnya Anna. Anna tersenyum simpul melihat tingkah Aiden, jantungnya begitu berdebar-debar di saat di hadapan Aiden.
" Mau pergi jalan-jalan atau ngehabisin waktu saling bertatap-tatapan?." tanya Leo membuat keduanya tersadar.
" Ayo sayang! Om, kami pamit dulu." ucap Aiden berpamitan.
" Ya Kak! Pah, Anna pergi dulu." ucap Anna.
" Iya, hati-hati." ucap Leo.
Mereka pun pergi di mana tempat yang sudah di siapkan oleh Aiden." Sayang, mana ponselmu?." tanya Aiden sambil mengemudi mobilnya.
__ADS_1
" Buat apa?." tanya Anna menoleh ke arah Aiden.
" Mana sayang?." tanya Aiden sambil mengulurkan tangannya tanpa menjawab pertanyaan Anna.
Anna pun memberikan ponselnya tanpa curiga apapun yang di lakukan Aiden terhadap ponselnya. Aiden mematikan ponsel Anna setelah menerimanya." Kok di matiin Kak?." tanya Anna.
" Biar nggak ada yang mengganggu kencan kita." jawab Aiden, Anna hanya bisa tersenyum ke arah Aiden yang juga di balas oleh Aiden.
" T'rus kita kemana?." tanya Anna.
" Nonton, keliling belanja dan makan. Layaknya seperti anak muda jaman sekarang." ucap Aiden.
" Okeee!!." jawab Anna.
🌳🌳🌳
Di kediaman Prabu, terlihat sebuah mobil pink memasuki halaman rumah besar yang bagaikan istana itu. Seorang wanita yang begitu cantik turun dari mobilnya yang sedang memakai dres mini dengan memperlihatkan kulit putih mulusnya itu. Para pelayan pria memandangi gadis itu yang sedang melangkah memasuki kediaman Prabu.
" Cantik." ucap salah satu pelayan yang dapat di dengar Nena.
" Pagi Om, Tante!." ucap gadis itu yang telah tiba di ruang tamu yang melihat keberadaan calon mertuanya itu.
Vina dan Prabu menoleh ke asal suara itu, yang terlihat gadis itu melangkah ke arah mereka." Pagi Nena." ucap mereka bersamaan.
Nena melirik kesekelilingnya mencari keberadaan seseorang yang membuatnya kesal. Semalaman Aiden tidak menghubunginya dan meminta maaf kepadanya.
" Silahkan duduk Nena." ucap Vina.
" Iya Tante, terimakasih. Oh iya! Kak Ai kemana?." tanya Nena.
" Ai ke kantornya, mau minum apa?" jawab Vina.
" Oh, nggak usah repot-repot Tante. Oh iya! Acara nanti malam bagaimana? Apa om yakin Kak Ai takkan mempermalukan kita?." tanya Nena ke arah Prabu.
" Om yakin, Aiden akan hadir." balas Prabu meyakinkan Nena.
" Ya Om, Nena mau pamit dulu, mau siap-siap nanti malam." ucap Nena berpamitan.
" Iya Nena, hati-hati." jawab Vina yang juga di angguki Nena.
" Sini, om antar ke depan." ucap Prabu bangkit dari duduknya.
Setelah sampai di halaman depan Prabu berhenti dan membalikkan tubuhnya ke arah Nena." Kirim salam buat ayahmu yah!." ucap Prabu ke arah Nena yang sudah di berdiri sejajar dengannya.
" Ya Om, nanti Nena sampaikan, Nena pergi dulu." ucap Nena sambil membuka pintu mobilnya.
__ADS_1
Setelah kepergian Nena, Prabu melangkah ke ruang tamu yang terlihat Vina sedang menunggunya." Mama kecewa dengan Papa." ucap Vina setelah itu berlalu pergi memendam kekecewaan.