
Dengan amarah Bram meninggalkan tempat itu, Ia begitu murka mengetahui kenyataan ini. Bahwa Ibunya tega merencanakan untuk membunuh Adik Tirinya. Mobil yang di kendarai Bram memasuki pekarangan rumahnya, Ia keluar dari mobilnya dengan langkah tergesa-gesa. Di saat memasuki ruang keluarga terlihat Ibunya sedang mengobrol dengan Ayahnya, Ia teringat waktu sarapan pagi sifat Ibunya berubah baik di depan mereka. Ternyata di balik kebaikannya tersimpan rencana jahat.
Bram mendekati Ibu dan Ayahnya, mereka menoleh ke arah Bram yang terdengar langkah kaki mendekati mereka.
" Bram, kau sudah pulang sayang?." sapa Ibunya bangkit dari duduknya mendekati Bram.
" Ma, jawab pertanyaanku?." ucap Bram mengabaikan pertanyaan Ibunya kepadanya.
" Pertanyaan apa sayang?." tanya Jenie yang bingung terhadap putranya. Dian menoleh ke arah putranya yang nampak menahan amarah.
" Apa benar Mama yang sudah merencanakan untuk menyingkirkan Anna?." tanya Bram.
Jenie yang mendapatkan pertanyaan dari putranya membuatnya terkejut dan menjadi gugup. Tubuhnya terasa lemas dan wajahnya nampak pucat. Dian juga pun terkejut, Ia menoleh ke arah Istrinya menunggu jawaban dari mulutnya.
" Aapa yang kau katakan Bram? Kkau nuduh Mama? Apa buktinya? masa Mama tega bunuh Anna yang sudah seperti Anak kandung Mama sendiri?." ucap Jenie yang terbata-bata akibat kegugupannya.
" Bram apa maksudmu? kenapa Kau nuduh Mama?." tanya Dian ke arah putranya.
__ADS_1
" Papa nggak ingat di saat hari terjadinya kejadian itu, sifat Mama berubah?." ucap Bram.
Dian pun teringat di hari itu sifat Istrinya yang tiba-tiba berubah. Dia menoleh ke arah Istrinya untuk meminta penjelasan apa maksud dengan kejadian hari itu?.
Jenie yang mengerti tatapan tajam suaminya Ia semakin ketakutan, Ia tak ingin kejahatannya di ketahui oleh suaminya. Jenie takut suaminya mengusir dan menceraikannya.
" Pah, ini nggak benar! jangan dengarkan ucapan Bram! Mama nggak mungkin tega melenyapkan Anna!." ucap Jenie yang ingin menyangkal ucapan putranya.
" Bram kamu kok tega nuduh Mama? Mama adalah Mama kandung kamu, yang sudah mengandung, melahirkan dan menjagamu." ucap Jenie.
" Iya Mama Ibu kandungku tapi Aku tidak ingin punya Ibu yang berhati Iblis!." ucap Bram dengan tegas. Jenie yang mendengar ucapan putranya membuatnya tanpa sadar berkata.
Mereka berdua pun begitu kaget atas pengakuan Jenie yang ternyata dialah dalang dari semua kejadian ini. Dian menarik pundak Istrinya dan melayangkan tamparan ke arah Istrinya.
Plaaaakkhh
" Pah!." teriak seseorang dari arah anak tangga melihat Ibunya di tampar oleh Ayahnya.
__ADS_1
Jenie merasakan nyeri dan panas di area pipinya akibat tamparan yang keras dari Suaminya. Ia menoleh ke arah Suaminya yang nampak matanya mulai berkaca-kaca.
" Papa tega tampar Mama?." tanya Jenie ke arah Suaminya.
" Iyaa karena Mama sudah melakukan kejahatan yang membuat Papa marah sama Mama! Kenapa Mama tega melenyapkan Anna? Mama selalu di sayangi, di bela dan Anna juga menyembunyikan kelakuan Mama dan Rissa terhadapnya selama ini? Anna nggak pernah mengadu sama Papa tentang uang jajan dan uang untuk kuliahnya yang selalu di rampas Mama dari tangannya?." bentak Dian dengan amarahnya yang melundak.
skakmat
Jenie terdiam mendengar ucapan Suaminya yang ternyata tahu kelakuannya selama ini terhadap Anna. Rissa pun juga ikut terkejut mendengar ucapan Ayahnya yang mengatakan sifat mereka selama ini terhadap Anna.
" Kenapa? Mama kaget karena Papa tahu? Papa tahu Mah! Tapi Anna selalu melarang Papa untuk tidak marah sama Mama karena Anna sangat menyayangi Mama yang sudah di anggap Anna Ibu kandungnya!." bentak Dian.
Jenie mendengar kenyataan ini begitu sedih dan hancur hatinya. Tubuhnya terhempas ke sofa dekat dengannya berdiri sehingga Jenie tidak terjatuh kelantai. Tubuhnya tak bertenaga mengingat kelakuannya terhadap Anna yang begitu jahat dan sampai merencanakan pembunuhan itu.
" Hallo kantor polisi!."
...****************...
__ADS_1
Nah siapa nih yang sudah tega menelfon kantor polisi? dah tegang2nya nih saking tegangnya lupa minta komen am likenya hehehe di tunggu ya