
" Maafkan Anna, Tante, Om." ucap Anna yang ikut bersedih.
Ayah Cantika menoleh ke arah Anna yang terlihat sendu ikut bersalah dengan kejadian itu." Kau nggak salah apa-apa Nak! Semua sudah jalan dan takdir Allah. Justru kami yang minta maaf atas perilaku Cantika yang kasar terhadapmu. Kami sudah terlalu memanjakannya, sehingga apa yang dia inginkan harus dia dapatkan." ucap Ayahnya Cantika ke arah Anna.
Beberapa saat kemudian, akhirnya mereka berpamitan setelah mengetahui kejadian sebenarnya dan menenangkan istrinya itu.
Anna duduk di kursi taman sambil melamun memikirkan kedua orang tua Cantika yang begitu kehilangan putri satu-satunya. Andai saja Ia tidak mengajak Cantika untuk naik mobil bersamanya mungkin, Ia yang mengalami kejadian naas itu. Dari kejauhan Bram mendekati adiknya itu yang tanpa Anna ketahui kedatangannya yang sedang menatap kosong.
" Jangan dipikirkan." ucap Bram mendudukan bokongnya di samping Anna, membuat gadis itu menoleh ke asal suara yang membuatnya terkejut.
" Kakak belum merasakan kehilangan seseorang yang sangat kita sayangi, apalagi itu adalah darah daging kita sendiri." ucap Anna yang kembali menoleh kedepan menatap lurus.
" Ternyata adik kakak sudah dewasa sudah ngomong kayak gitu sama kak Abra." ucap Bram.
" Aku sudah dewasa kak!." ucap Anna.
" Baguslah, kakak nggk repot lagi." ucap Bram membuat Anna menoleh ke arahnya.
" Maksud kakak apa?." tanya Anna.
" Hehehe teka teki sayang." ucap Bram sambil mengerjai adik kecilnya itu.
" Ish kakak!." ucap Anna dengan kesal sambil memberikan cubitan kepada Bram.
Di taman ada candaan dan suara tawa Anna, di tempat lain ada ketegangan di antara Aiden dan Prabu yang berada di meja makan.
" Hari ini ajak Nena untuk jalan-jalan." ucap Prabu santai membuat genggaman kuat tangan seseorang dengan rahang tegas ke arah sendok Aiden yang sedang mengunyah makanannya.
" Jangan pernah menolak apapun yang sudah menjadi keputusan Papa, kau tahu keselamatan Anna ada di tanganmu." ucap Prabu.
Vina yang juga duduk bersama mereka mengamati putranya itu sambil mengunyah roti coklat. " Ai_." ucapan Vina yang terpotong melihat putranya yang sudah bangkit dari duduknya.
" Ai sudah kenyang." ucap Aiden yang sudah bangkit dari duduknya.
" Habiskan sarapanmu son!." ucap Prabu mendongakkan wajahnya ke arah Aiden yang sudah berdiri.
" Stave! Siapkan berkasnya." ucap Aiden tanpa mempedulikan kata-kata ayahnya meninggalkan mereka yang masih di meja makan.
Vina hanya bisa terlihat sendu melihat putranya yang telah berubah, biasanya Aiden menyalami tangannya sebelum berangkat kerja. Sekarang, menyapa atau menyalami pun sudah tidak ada lagi. Meja makan yang selalu ada kehangatan dan canda tawa keluarganya kini hilang. Hanya ada aura dingin putranya itu, Prabu menoleh ke arah istrinya.
" Mah!." panggil Prabu membuat Vina menoleh ke arahnya.
" Cepat atau lambat, putra kita menyadari kalau ini yang terbaik untuknya." ucap Prabu.
Vina bangkit dari duduknya tanpa menanggapi ucapan suaminya, perasaannya begitu sedih melihat Aiden dan Prabu yang berselisih.
" Mah!." panggil Prabu ke arah istrinya yang terus melangkah pergi.
Prabu bangkit dari duduknya tanpa mengejar istrinya yang sudah pergi, Ia tidak ingin bertengkar lagi dengan Vina. Akhirnya, Prabu pergi ke kantornya tanpa berpamitan kepada istrinya.
__ADS_1
" Apa yang terjadi dengan keluargaku?." gumam Vina yang berada di atas balkon memandangi mobil suaminya yang sudah meninggalkan halaman rumah.
Prabu yang berada di dalam mobil menelfon seseorang." Temui Om di restoran XX dan ajak ayahmu." ucap Prabu singkat yang langsung memutuskan panggilannya.
" Leo, kau akan hancur melihat putrimu menderita." gumam Prabu sambil meremas benda pipih yang ada di genggamannya.
🌳🌳🌳
Setelah Bram pamit pulang, Anna masuk ke dalam kamarnya dan mendapatkan telfon dari seseorang. Setelah menyudahi obrolan singkat telfon itu, Anna menelfon ayahnya untuk di temani bertemu seseorang." Ada apa ya?." tanya sambil menggengam benda pipih itu.
Beberapa jam kemudian, Anna dan ayahnya tiba di restoran yang di ajak seseorang untuk bertemu.
" Apa ini tempatnya?." tanya ayahnya ke arah Anna.
" Iya Pah! Sesuai serlok yang di kirim sama aku." jawab Anna sambil mencari sekelilingnya.
" Ya sudah, kita turun dulu." ucap Leo sambil melepaskan sabuknya yang juga sama di lakukan Anna.
Anna turun dari mobil mengamati sekelilingnya, namun tidak kunjung di temukan. Tiba-tiba ponselnya berdering singkat yang bertanda ada pesan masuk.
" Datanglah dimeja no 50." pesan singkat di baca Anna.
" Pah! Kita cari di dalam." ajak Anna yang di anggukan oleh ayahnya singkat.
Di saat hendak melangkah ponselnya kembali berdering yang ternyata Aiden menghubunginya." Kak Ai!." ucap Anna dengan mata berbinar menatap sebuah nama yang sangat Ia rindukan.
" Pah! Kak Ai menelfonku." ucap Anna ke arah ayahnya.
Anna menggeser menerima panggilan Aiden di ponselnya." Assalamu alaikum." ucap Anna.
" Waalaikum salam." balas suara Aiden dari seberang telfon.
" Tumben telfon Anna?." tanya Anna.
" Maaf sayang, Kak Ai sibuk baru bisa menghubungi Anna." jawab Aiden.
" Anna ngerti Kak!." ucap Anna.
" Anna di mana?." tanya Aiden.
" Hhmm itu ( Apa aku harus mengatakan kalau mau bertemu dengan Om_." batin Anna.
" Sayang!." panggil Aiden.
" Aku jalan-jalan sama Papa." ucap Anna berbohong.
" Oh gitu, nanti besok kita berdua jalan-jalan menghabiskan sehari penuh." ucap Aiden.
" Benarkah?." tanya Anna yang begitu bahagia di ajak kencan oleh Aiden.
__ADS_1
" Iya sayang." ucap Aiden.
" Anna tunggu ya Kak!." ucap Anna.
" Iya sayang, ya sudah kakak lanjut kerja dulu. Wasalam." ucap Aiden.
" Iya Kak! Waalaikum salam." setelah itu memutuskan obrolan mereka berdua.
" Apa sudah selesai mesranya?." tanya Leo ke arah putrinya membuat Anna begitu salah tingkah.
" Ayo Pah!." ajak Anna meraih lengan ayahnya sambil menunduk malu.
Di dalam restoran Prabu menunggu kedatangan seseorang yang sudah di ajaknya bertemu." Om, apa kabar?." sapa Anna yang sudah berdiri tidak jauh darinya.
" Baik, duduklah." ucap Prabu dingin tanpa menoleh ke arah mereka berdua.
" Kau masih saja sombong Prabu." gumam Leo yang meraih salah satu kursi untuk di duduknya d samping Anna.
" Om, perkenalkan ini papa kandung Anna." ucap Anna memperkenalkan ayahnya yang duduk di sampingnya.
Prabu mendongakkan wajahnya menatap ke arah Leo." Apa kabar Leo?." tanya Prabu yang mengacuhkan Anna.
" Ja_jadi, om sama papa sudah saling kenal?." tanya Anna ke arah mereka berdua.
" Iya sayang." jawab Leo ke arah putrinya." Baik, bagaimana denganmu?." tanya Leo ke arah Prabu.
" Seperti yang kau lihat, aku sangat baik lebih baik setelah kau hancurkan." ucap Prabu dengan rahang mengeras membuat Anna dan Leo terkejut.
" Apa maksudmu?." tanya Leo yang tidak mengerti atas ucapan Prabu kepadanya.
" Jangan berpura-pura bodoh! Kau ingin menjebakku lagi melalui putraku yang begitu mencintai putrimu itu?." tanya Prabu dengan emosi menatap tajam ke arah Leo.
" Prab, aku tidak mengerti apa maksudmu?." tanya Leo yang semakin tidak mengerti.
" O_om ada apa?." tanya Anna yang gugup melihat wajah calon mertuanya yang sudah memerah menahan emosi.
Prabu menoleh ke arah Anna membuat Anna menunduk takut karena tatapan tajam Prabu." Kau ingin menikah dengan putraku? Aku restui tapi dengan syarat, kembalikan sahamku yang sudah di curi oleh ayahmu itu." ucap Prabu yang semakin emosi mengingat masalalunya.
" Jangan kasar terhadap putriku Prab! Selesaikan denganku, jangan libatkan putriku yang tidak tahu menahu masalah kita." ucap Leo bangkit dari duduknya yang tidak terima putrinya di sakiti.
" Jadi benar kan?." tanya Prabu bangkit dari duduknya memberikan tatapan membunuh ke arah Leo.
" Aku tidak tahu maksudmu apa?." tanya Leo.
" Cih! Kau sok polos Leo!." ucap Prabu yang kesal meninggalkan mereka berdua yang mematung.
" Pah! Ada apa?.' tanya Anna, Leo menoleh ke arah putrinya yang sudah ketakutan. Leo meraih tubuh putrinya itu ke dalam pelukannya untuk menenangkan kegugupan Anna.
" Tidak apa-apa! Papa selalu menjaga Anna." ucap Leo sambil mengelus pundak putrinya.
__ADS_1
" Saham apa Pah?." tanya Anna menatap wajah ayahnya yang ingin mengetahui permasalahan masalalu mereka berdua.