
" Pagi semua" sapa Rissa kearah mereka yang duduk sambil menyantap sarapan.
" Pagi juga sayang" balas mereka.
" Rissa mau sarapan apa sayang?" tanya Jenie kearah putrinya yang mulai menduduki salah satu kursi disana.
" Aku mau sarapan roti aja ma, sama teh hangat" balas Rissa.
" Ini sayang" ucap Jenie sambil memberikan roti yang sudah di olesi selai ke arah Rissa.
" Rissa mama mau tanya boleh kah?" tanya Jenie ke arah putrinya.
" Boleh mam" balas Rissa sambil memasukan sepotong roti kedalam mulutnya.
" Aiden dekat ama kamu nggak?" tanya Jenie. Risa yang mendengar pertanyaan mamanya seketika tersedak.
" Uhuuk uhuuk uhuuk" batuk Rissa.
" Astaga sayang, cepat tehnya di minum" ucap Jenie sambil meraih teh hangat di berikan ke Rissa.
" Ma, kalau sedang sarapan jangan dulu bertanya apapun, lihat kan Rissa jadi batuk-batuk begini" ucap Hardian. Ana dan Bram hanya bisa terdiam melihat Rissa yang masih batuk-batuk kecil.
" Maaf pa" ucap Jenie yang merasa bersalah.
" Nggak apa-apa mam, aku baik-baik saja" ucap Rissa yang melihat raut wajah ibunya yang merasa bersalah.
" Lebih baik aku berangkat saja dari pada menjawab pertanyaan mama tentang Aiden, apalagi Aiden selalu dingin kepadaku. Kapan ya Aiden bertekuk lutut padaku?" batin Rissa.
" Maaf ma,pa, Rissa berangkat dulu ya? Ada pemotretan pagi ini" ucap Rissa yang bangkit dari duduknya.
" Ok sayang, hati-hati ya" ucap Jenie.
" Papa juga mau berangkat ke kantor" ucap Hardian yang menyudahi sarapannya.
" Aku duluan ya pa" ucap Rissa yang melangkah pergi.
" Pa, mama ikut sama papa ya? Mama ada arisan di restoran depan kantor papa" ucap Janie.
" Ya sudah ayo ma" ucap Hardian.
" Bentar ya pa, mama ambil tas dulu di atas" ucap Janie berlalu.
" Ana" manggil Hardian ke arah putrinya yang masih menghabiskan sisa sarapannya. Ana yang mendengar ada yang memanggilnya , ia pun menoleh ke arah Ayahnya.
" Ya pa" balas Ana. Bram menoleh ke arah ayahnya yang memanggil Ana.
" Tumben hari ini kamu diam sayang? Apa anak papa sakit?" tanya Hardian.
" Nggak kok pa, Ana baik-baik saja." balas Ana yang menutupi kesedihannya. Bram yang seakan tahu tingkah adiknya itu pun merasa ada yang di sembunyikan Ana.
" Alhamdulillah, semoga putri papa yang cantik ini sehat selalu dan segera mendapatkan jodoh" ucap Hardian memberikan senyuman ke arah Ana.
__ADS_1
" Aamiin, tapi Ana mau jadi sarjana dulu dan menjadi seorang wanita yang sukses papa. Ana belum mau memikirkan jodoh pa" ucap Ana.
" Ana jodoh dan rezeki Allah yang atur sayang, kalau jodoh sudah datang jangan di tolak sayang" ucap Hardian.
" Benar kata papa Ana" ucap Bram.
" Iihh kakak sama papa mau usir aku dengan halus ya di rumah ini?" tanya Ana dengan menampilkan raut wajah bersedih.
" Nggak sayang, ini tetap rumah Ana sampai kapanpun ini adalah rumah Ana. Oh iya sayang papa belum melihat Ana minta uang sama papa buat kuliah kamu lo sayang? Apa belum di bayar?" tanya Hardian mengingat Ana yang sudah berapa bulan tak meminta uang padanya. Ana pun bingung menjawab apa karena selama ini Janie selalu mengancamnya. Karena Ana tak mendapatkan uang dari ayahnya, Janie selalu merampasnya di saat Ayahnya memberikan uang itu.
" Ana"manggil Hardian kearah Ana yang nampak melamun.
" Ya pa" ucap Ana yang sadar dari lamunannya.
" Kenapa melamun sayang? Jawab pertanyaan papa" tanya Hardian.
" Maaf pa, mmm uang_"
" Pa ayo" teriak Janie yang melangkah mendekati mereka. Ucapan Ana terhenti mendengar teriakan ibu tirinya.
" Iya ma sebentar, uang apa sayang?" ucap Hardian yang penasaran ucapaan Ana yang terhenti.
" Aku yang sudah bayar pa" ucap Bram yang menjawab pertanyaan ayahnya terhadap Ana. Bram yang melihat kegugupan Ana di saat dekat dengan ibunya seakan tahu apa yang di rasakan Ana.
" Alhamdulillah kalau begitu, papa sama mama berangkat dulu ya? Bram antar Ana ke kampus ya?" ucap Bram yang bangkit dari duduknya.
" Iya pa" ucap Bram.
" Kakak tampan ya? Sehingga matamu ingin keluar dari cangkangnya" ucap Bram yang mencoba menjahili Ana.
" Tampan apaan? Seperti monyet gitu kok" ucap Ana yang kesal.
" Kalau kakak monyet berarti adiknya juga monyet" ucap Bram yang melangkah pergi sebelum di amuk oleh adiknya.
" Kakaaaaakk" teriak Ana yang menyadari ucapan kakaknya. Bram pun tertawa senang habis menjahili adiknya.
" Lah aku kan mau ke kampus kok di tinggal kakak sih" ucap Ana sambil buru-buru mengambil tasnya dan keluar menghampiri Bram.
" Kakaak " teriak Ana ke arah Bram yang mulai mengemudi mobilnya. Bram yang melihat Ana berlari kearahnya langsung menghentikan mobilnya.
" Kakak kenapa tinggalin aku sih?" tanya Ana yang ngos-ngosan karena berlari mengejar kakaknya.
" Maaf kakak lupa punya adik" ucap Bram. Ana yang mendengar ucapan kakaknya langsung meraih tasnya dan memukul kakaknya.
" Kakak jahat, masa aku di lupain" ucap Ana yang kesal.
" Aduh sakit, kakak minta maaf" ucap Bram yang kesakitan.
" Habis kakak dari tadi kerjain aku" ucap Ana dengan wajah kesal.
" Iya maaf,kakak minta maaf, mau berangkat atau?" tanya Bram ke arah Ana yang masih cemberut.
__ADS_1
" Iya Ana maafin, ayo berangkat nanti Ana terlambat kak" ucap Ana.
Bram pun mulai menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dari jauh sepasang mata selalu memantau mereka dan mengikuti mobik Bram.
Beberapa menit kemudian akhirnya Ana pun sampai dan meninggalkan mobil Bram yang masih terparkir menatap kepergian Ana. Bram pun kembali melanjutkan perjalanannya setelah Ana memasuki kampusnya. Tanpa rasa curiga bahwa mobilnya di ikuti oleh seseorang.
" Bos target dah memasuki kampusnya, trus apa selanjutnya?" tanya orang itu menghubungi bosnya.
" Aku suruh kamu mengawasinya, dasar punya anak buah oonnya minta ampun" ucap seseorang dari seberang telfon.
" Aku nggak oon bos, aku polos bos" ucapnya.
" Terserah kamu ngomong apa, yang jelas kau awasi terus dia" ucapnya langsung mematikan percakapan mereka.
" Lah kok di matiin? Bos seharusnya ngomong terimagaji" ucapnya. Dia pun turun dari mobilnya dan mulai memasuki area kampus.
🌷🌷🌷
" Ana " teriak seseorang dari jauh. Ana yang berjalan menuju keruangan kelasnya pun berhenti saat mendengar seseorang memanggilnya.
" Hai " sapa Ana melihat temannya yang melangkah kearahnya.
" Kau baru sampai? " tanya teman Ana.
" Iya" balas Ana.
" Di antar siapa?" tanyanya lagi.
" Di antar kakakku" balas Ana.
" Boleh aku datang kerumahmu?" tanyanya. Ana menatap temannya itu seakan tau tujuannya.
" Kenapa? nggak boleh ya?" tanya teman Ana.
" Boleh kok" ucap Ana.
" Makasih ya" ucapnya.
" Sama-sama, ayo kita masuk" ucap Ana.
Ana dan temannya pun membalikkan badan namun seseorang menabrak Ana tanpa di sengaja.
" Bruukk"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Haii baru update lagi..
semoga suka ya
Terimakasih
__ADS_1