Si Gadis Cantik Bertopeng

Si Gadis Cantik Bertopeng
Alamat Palsu


__ADS_3

Setelah kepergian Anna, mereka berdua hanya berdiam membuat Aiden canggung di hadapan ayah Anna.


" Sepertinya kita pernah bertemu, tapi di mana ya?." tanya Leo ke arah Aiden.


" Di rumah sakit O_om." jawab Aiden terbata-bata takut salah memanggil.


" Oh iya ya! Nama lengkapmu siapa? Panggil saja om." ucap Leo.


" Aiden Bramantiyo." jawab Aiden.


" Bramantiyo?." tanya Leo yang teringat seseorang yang begitu mirip dengan nama belakang Aiden." Prabu Bramantiyo nama ayahmu?." tanya Leo yang semakin penasaran asal usul Aiden.


" Ya Om." jawab Aiden membuat Leo begitu terkejut. Senyum ramah Leo yang begitu mengembang terlihat pelan-pelan memudar.


" Prabu!!." ucap Leo.


" Om mengenal ayahku?." tanya Aiden ke arah ayah Anna.


" Minuman segar dan cemilan datang." suara Anna membuat mereka berdua teralihkan.


Anna meletakan minuman dan cemilan untuk mereka yang terlihat kembali terdiam. Leo berdiri ingin beranjak pergi membuat Anna dan Aiden menoleh ke arahnya." Papa mau kemana?." tanya Anna setelah meletakan semua yang di bawanya.


" Papa ingin ke ruang kerja."jawab Leo setelah itu pergi tanpa menoleh ke arah Aiden.


" Papa kenapa?." tanya Anna sambil memandangi kepergian ayahnya.


" Nggak tau, mungkin_."


" Mungkin apa?." tanya Anna.


" Mungkin ayahmu kenal dengan ayahku." jawab Aiden.


" Benarkah?." tanya Anna.


" Aku bertanya soal itu, tiba-tiba kau datang, tapi aku sempat mengatakan nama ayahku. Mendengar itu raut wajah om berubah seperti tidak menyukainya." ucap Aiden.


Anna yang mendengar ucapan kekasihnya hanya terdiam." Apa ada sesuatu yang di sembunyikan papa dariku?." gumam Anna.


" Ayo minum Kak!." ajak Anna ke arah Aiden.


" Ya sayang, terimakasih." jawab Aiden sambil meraih minumannya.


" Sama-sama." balasnya sambil mengembangkan senyumannya ke arah Aiden.


" Enak sayang." ucap Aiden setelah mencicipi hidangan dan minumannya.


" Pasti kak! kokinya hebat membuat cemilan enak kayak gini, bukan Anna yang membuatnya hehehe." ucap Anna membuat Aiden kecekikan.


" Tapi Anna yang membawanya dengan kasih sayang kan?." ucap Aiden.


" Au ah." ucap Anna yang kesal memanyumkan bibirnya membuat Aiden terkekeh.

__ADS_1


" Pacarku ngambek." ucap Aiden sambil mencubit pipi Anna. Terlihat dari lantai atas ayah Anna mengamati kedua insan yang sedang bercanda gurau itu. Setelah mengetahui Aiden adalah putra Prabu yang dulu sempat menjadi sahabat berubah menjadi musuhnya sampai sekarang.


" Aku tidak mungkin memisahkan Anna dan Aiden, Aiden adalah kebahagiaan putriku, kebahagiaan putriku yang paling utama bagiku. Clara, aku akan berusaha menjaga putri kita tetap tersenyum bahagia." gumam Leo sambil menatap putrinya.


" Paman." panggil Eris melihat pamannya yang sedang berdiri menatap ke arah lantai bawah yang di mana terlihat Anna dan Aiden.


" Eris!." sapa Leo setelah menoleh ke arah yang memanggilnya.


" Paman sedang apa?." tanya Eris yang sudah berdiri di samping pamannya itu.


" Melihat senyum bahagia putri paman, oh iya! kapan kau membawa pacarmu dihadapan paman untuk melamarmu? Lihat adikmu sudah punya calon dan kau kapan sayang?." tanya Leo menatap wajah keponakannya itu.


Eris hanya bisa tersenyum dengan pertanyaan pamannya mengungkit soal jodoh untuknya." Mungkin jodohku masih mampir ke alamat palsu paman." jawab Eris.


" Hahaha.. kenapa di beri alamat palsu sayang? Bagi paman, siapapun jadi jodoh Eris, paman akan merestuinya akan tetapi syaratnya harus menyayangimu dan menjagamu sampai akhir khayatnya. Semoga jodohmu mendapatkan alamat asli dan segera melamarmu." ucap Leo membuat Eris tersenyum kecil ke arah pamannya.


" Aamiin, makasih paman." ucap Eris sambil memeluk tubuh pamannya itu yang sudah di anggap seperti ayah kandungnya.


" Sama-sama sayang." ucap Leo sambil mengecup puncak kepala Eris.


Leo mengendurkan pelukannya menatap wajah Eris," Paman mau keruang kerja dulu, takut mengganggu mereka pacaran." ucap Leo.


" Ya paman, Eris juga mau kembali ke kamar." sambil melepaskan rangkulannya di tubuh pamannya.


" Ya sudah, cepat tidur ya?." ucap Leo.


" Ya paman." ucap Eris sambil mengganggukkan kepalanya sesaat. Leo pergi meninggalkan Eris, setelah itu Eris pun pergi ke arah kamarnya.


🌳🌳🌳


" Anna." panggil Bram di depan pintu kamar Anna.


Tok tok tok" suara ketukan pintu.


" Anna, ini kakak, buka pintunya." panggil Bram sambil mengetuk pintu kamar Anna.


" Bram." panggil Ayahnya yang berada di belakangnya.


" Papa." sapa Bram setelah menoleh ke arah ayahnya.


" Anna tidak ada." ucap Dian.


" Kemana?." tanya Bram.


" Dia ikut dengan Leo." ucap Dian.


" Om Leo?? Papa membiarkan Anna pergi dengan om Leo?." tanya Bram.


" Bram, Leo adalah ayah kandung Anna, tidak mungkin Papa menahan Anna untuk tetap tinggal di sini." jawab Dian membuat Bram gusar.


" Aku mau menjemput Anna dulu Pah!." ucap Bram yang ingin melangkah pergi. Namun, lengan Bram di tahan oleh ayahnya membuat Bram menoleh.

__ADS_1


" Apa kau punya hak untuk membawa Anna kembali ke rumah? Anna, memang sempat menolak tidak ingin pergi meninggalkan papa. Tapi, Papa memberinya pengertian, ayahnya juga butuh Anna berada di sampingnya. Apalagi mereka berpisah sudah sejak lama, Anna berhak merasakan kasih sayang ayah kandungnya Bram." ucap Dian membuat Bram teringat masa-masa di mana Anna butuh kasih sayang dari seorang Ayah.


" Ya Pah!." ucap Bram pasrah berbalik melangkah ke arah kamarnya.


Dian menitikkan air mata setelah Bram meninggalkannya." Rumah ini menjadi sunyi merindukan kalian!." lirih Dian mengingat keluarga kecilnya.


🌳🌳🌳


Beberapa jam kemudian, Aiden pergi meninggalkan kediaman Anna yang baru. Setelah mencurahkan kerinduannya terhadap Anna yang sudah beberapa hari tidak bertemu, Aiden berpamitan kembali kerumahnya.


Anna memasuki ruang kerja ayahnya, membuat aktivitas Leo terhenti dan menoleh ke arah putrinya itu.


" Apa Anna mengganggu kesibukkan Papa?." tanya Anna yang sudah berdiri di hadapan ayahnya yang di batasi meja kerja Leo.


" Tidak sayang, ada apa?." tanya Leo sambil menutup leptopnya.


" Apa ada sesuatu yang di sembunyikan Papa dari Anna?." tanya Anna menatap wajah Leo.


Leo menyandarkan tubuhnya di kursi besar sambil menatap wajah putrinya yang begitu serius memberi pertanyaan ke arahnya.


" Apa terlihat sesuatu di wajah Papa?." tanya balik Leo tanpa menjawab pertanyaan putrinya itu.


" Ais Pah! Anna bertanya serius." jawab Anna.


" Sini sayang!." ajak Leo membuat Anna menurut dan mendekati ayahnya.


" Kenapa Anna sampai bertanya seperti itu?." tanya Leo ke arah putrinya itu.


" Papa pergi begitu saja meninggalkan kami." jawab Anna sambil mendudukan bokongnya di atas pangkuan ayahnya itu.


" Jadi itu, membuat Anna memberi pertanyaan begitu banyak kepada Papa?." tanya Leo yang di balas anggukan oleh Anna.


Leo membelai rambut putrinya itu sambil menyelip rambut di telinga putrinya itu yang sering melambai mengganggu di wajah Anna.


" Papa tidak ingin mengganggu kemesraan kalian, kalau papa di sana mungkin tunanganmu itu jadi batu terus." ucap Leo membuat Anna terkekeh.


" Apaan sih Papa!." jawab Anna.


" Oh iya! Aiden sudah pulang ya?." tanya Leo.


" Sudah Pah! Kak Ai ingin pamit sama Papa tapi mengingat tingkah papa tadi, Kak Ai jadi takut." jawab Anna.


" Ya udah! Sekarang Anna tidur, itu sudah larut." ucap Leo.


" Ya Pah! Malam pah!." ucap Anna sambil mengecup pipi ayahnya itu.


" Malam juga sayang." ucap Leo.


" Papa janga telat tidur ya?." ucap Anna sambil turun dari pangkuan Leo.


" Iya sayang." jawab Leo menatap kepergian putrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2