
Di sebuah kamar yang hanya terlihat satu lampu tidur yang sedang menyala menemani gadis yang sedang duduk menatap ke arah luar jendela. Gadis itu terlihat tanpa semangat, air matanya terus keluar mengingat kenangan indah bersama tunangannya itu.
Walaupun terlihat dari luar begitu tegar akan tetapi hatinya begitu sakit menahan luka yang di tusuk seperti panah yang merobek tubuhnya. Kecewa? Iya, Sakit? Bangeett, Siapa yang nggak sakit hati tunangannya yang malam itu melamarnya tidak di sangka menjadi tunangan orang lain esoknya.
Belum lagi, keluarganya ingin menjodohkannya dengan seorang pria yang sudah di anggapnya sebagai kakak kandungnya. Apa Ia bisa menikah dan mencintai kakaknya itu? Apa Ia bisa menjalani pernikahan tanpa cinta?.
" Ma!!." Gumam gadis itu sambil mendongakkan wajahnya menatap langit gelap yang di penuhi kerlap-kerlip bintang yang memancarkan cahayanya.
" Apa aku bisa mencintai kakakku sendiri? Apa yang harus aku jawab?." gumamnya lagi.
Tok tok tok." terdengar pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang dari luar kamarnya.
Anna yang mendengarpun langsung mengusap sisa-sisa air matanya yang berada di wajah dan bangkit berdiri dari duduknya.
" Siapa?." tanya Anna yang menoleh ke arah pintu kamarnya.
__ADS_1
" Ini kakak." jawab seseorang dari luar yaitu Bram.
Anna hanya terdiam mendengar suara kakaknya itu, ingin sekali Ia membuka pintu kamar dan mengadu kesedihannya itu. Namun, mengingat perjodohan mereka berdua membuatnya tidak ingin bertemu.
" Anna, Kakak tahu pasti kamu di lema saat ini! Ijinkan kakak masuk. Masalah tak ada jalan keluarnya kalau Anna tidak mau berbagi dengan orang lain." pinta Bram dari luar.
Benar yang di katakan kakaknya saat ini, saat ini Ia butuh orang untuk mendengar keluh kesahnya. Hanya kakaknya yang bisa membantunya, dengan terpaksa Anna melangkah ke arah pintu kamarnya. Anna meraih handel pintu dan di buka dengan pelan-pelan.
Tatapan mereka bertemu, dengan cepat Anna mengalihkan tatapannya ke arah lain.Bram yang melihat mata Anna bengkak, Ia tahu adiknya itu habis menangis. " Apa kakak bisa masuk?." tanya Bram ke arah Anna yang tidak ingin di tatap oleh kakaknya itu.
" Kak!." ucap Anna yang melangkah mendekati kakaknya.
" Lebih baik, kita berdua duduk di balkon saja." pinta Bram.
" Baiklah kak!." jawab Anna berbalik menuju ke arah balkon.
__ADS_1
Mereka berdua duduk sudah 5 menit tanpa ada satupun yang mau mengawali obrolan mereka. Bram menoleh ke arah adiknya yang hanya menatap kosong ke arah depan.
" Anna bisa menolaknya." ucap Bram mengawali obrolan mereka.
Anna menoleh ke arah kakaknya, Bram tahu Anna menunggu lanjutan ucapannya.
" Kakak tahu, di dalam hati Anna hanya Aiden seorang, Anna tidak ingin menikah tanpa cinta. Kakak mengerti apa yang di rasakan adik kecil kesayangan kakak." ucap Bram panjang lebar.
" Tapi bagaimana dengan Papa Leo dan Papa melihat putrinya yang terlihat tegar tetapi dalam hatinya menyembunyikan luka?." tanya Bram menoleh ke arah adiknya. Seketika air mata Anna keluar mengalihkan tatapannya ke arah lain. Ia tidak ingin kakaknya tahu bahwa Ia menangis.
" Menangislah!! Bahu ini selalu ada untuk adik kecil kakak, apapun itu kau tetap adik kecil kakak yang selalu menangis di bahu kakak." ucap Bram, Anna yang mendengar ucapan kakaknya dengan cepat tubuhnya memeluk kakak dengan di ikuti tangisannya.
" Kakak, hiks...hiks...hiks..Aku bodoh jatuh cinta kepada pria brengsek itu. Aku sangat mencintainya, sangat dan sangat." ucap Anna di sela-sela tangisannya.
Jleebb
__ADS_1