Si Gadis Cantik Bertopeng

Si Gadis Cantik Bertopeng
87


__ADS_3

" Pagi juga sayang." balas Leo.


" Kok Papa pagi-pagi di sini?." tanya Anna yang kemudian beralih menyalami Ayah Dian yang tersenyum ke arahnya.


" Papa ingin mengajak Anna tinggal di rumah." ucap Leo membuat Dian dan Anna terkejut.


Anna membalikkan tubuhnya menatap wajah Leo, yang kemudian beralih menatap Dian. Hati Anna tidak tega menolak ajakan ayah kandungnya. Namun, dia juga tidak ingin meninggalkan tempat di mana dia di besarkan dan orang-orang yang sangat menyayanginya selama ini.


Leo melihat wajah putrinya yang terlihat bahagia kini berubah menjadi sedih setelah mengatakan ajakannya itu. Dian hanya bisa berdiam, Ia tidak ingin menahan Anna untuk tinggal dengan ayah kandungnya. Ia tidak berhak lagi walaupun dalam hatinya tidak merelakan.


" Kalau Anna tidak mau tinggal bersama papa, tidak apa-apa sayang." ucap Leo membuat Anna mendongakkan wajahnya menatap ayahnya.


" Pah!Anna bukan menolak tetapi_." ucap Anna terhenti karena dalam di lema.


" Anna, duduk dulu sayang, biar enak mengobrol." ucap Dian yang kemudian di turuti oleh Anna duduk di sampingnya.


" Apa Anna ingin tinggal dengan Papa Leo?." tanya Dian sambil merangkul pundak putrinya itu.


Anna menganggukkan kepalanya sesaat sambil menunduk, Ia tidak ingin wajahnya yang terlihat sedih di lihat di hadapan kedua ayahnya itu." Lalu kenapa Anna menolak ajakan Papa Leo?." tanya Dian membuat Anna menoleh ke arah Dian.


" Lalu bagaimana dengan Papa?." tanya Anna membuat kedua sudut matanya keluar bulir air mata. Dengan lembut Dian mengusap air mata Anna dengan tersenyum ke arahnya.


" Dari kecil Anna tinggal dengan Papa, dari kecil juga Anna selalu bersama Papa. Kasihan Papa Leo tidak merasakan itu, tidak merasakan suara kecil Anna dan membawa Anna kemana-mana. Pergilah sayang, nikmatilah waktu yang pernah hilang bersama ayah kamdungmu" ucap Dian membuat Anna berhambur kepelukan ayahnya dengan berurai air mata.


" Terimakasih Papa hiks..hiks..hiks.." ucap Anna di sela-sela tangisannya membuat Leo ikut bersedih. Dian pun ikut menitikkan air mata tetapi hanya di sembunyikan dari mereka, Ia takut Anna mengetahuinya.


" Sama-sama sayang, jangan menangis lagi gadis kecil ayah masih cengeng." ucap Dian membuat Anna mengurai pelukannya menatap kedua bola mata Ayahnya untuk mencari kesedihan itu. Namun, Anna tidak menemukan apapun, hanya menemukan senyuman kebahagiaan ayahnya saja.


" Papa tidak sedih, Anna pergi?." tanya Anna membuat Dian menggelengkan kepalanya sesaat akan tetapi Ia tidak bisa membohongi hatinya yang bersedih.


" Buat apa Papa sedih? Malah Papa sangat senang, tidak ada lagi yang merampas makanan Papa." ucap Dian membuat Leo tertawa.


" Ish Papa!." ucap Anna yang kesal membuat Dian mencubit pipi cubi Anna yang terlihat gemesh.


🌳🌳🌳

__ADS_1


"Uhuk..uhuk..uhuk."batuk Bram yang tersedak gara-gara ungkapan Eris. Dengan cepat Eris menyerahkan air minum ke arah Bram yang langsung di teguknya.


Eris merasa bersalah, karena dialah Bram tersedak." Aku minta maaf Bram." ucap Eris ke arah Bram yang sudah nampak baik-baik saja.


" Kenapa minta maaf Ris?." tanya Bram menoleh ke arah Eris.


" Gara-gara aku, kau tersedak." ucap Eris.


" Nggak apa-apa, apa benar kau mencintaiku?." tanya Bram membuat Eris terkejut.


" A_aku hanya bercanda." ucap Eris terbata-bata yang terlihat gugup. Eris tidak ingin Bram mengetahui perasaannya selama ini. Ia bukan takut di tolak akan tetapi di jauhi oleh Bram.


Dulu waktu masih sekolah menengah, Bram pernah di tembak cinta oleh seorang siswa satu sekolah dengan mereka. Bram dan gadis itu berteman baik, namun setelah gadis itu mengungkapkan perasaannya Bram menolak dan menjauhi gadis itu, hingga gadis itu berpindah sekolah.


" Hahaha." Bram tertawa melihat raut wajah Eris yang terlihat gugup membuat Eris memukul lengan Bram.


" Kau jahil Bram." ucap Eris yang kesal.


" Satu sama Ris! Kau telah membuat aku tersedak jadi aku membalasnya hahaha." ucap Bram di sela-sela tawanya.


" Aku ingin tahu hatimu Bram, apa ada gadis yang selama ini kau cintai?." tanya Eris membuat Bram menghentikan tawanya seketika.


Bram mengubah posisinya yang terlihat kembali dingin." Gadis?." tanya Bram.


" Iya, kenapa?."tanya Eris yang penasaran dengan jawaban Bram.


Pelayan datang membawa mampan pesanan mereka berdua, membuat Bram mencoba mengalihkan pembicaraan Eris.


" Permisi." ucap pelayan itu.


" Silahkan." ucap Bram.


Setelah meletakkan semua hidangan yang mereka berdua pesan, pelayan itu pun pamit pergi tinggalah mereka berdua yang terlihat hening. Eris yang merasa ada kecanggungan di antara mereka, Ia kembali bersuara memecahkan keheningan itu.


" Ayo Bram, aku sudah lapar." ajak Eris yang sudah kelaparan menunggu pesanannya. Bram menoleh ke arah Eris dengan menganggukan kepalanya sesaat menerima ajakan Eris yang juga sudah kelaparan.

__ADS_1


Eris dan Bram menyantap hidangan itu yang hanya terdengar suara sendok mereka berdua tanpa mengobrol apapun. Sampai santapan mereka habis tidak ada obrolan apapun kecuali, Bram yang berpamitan.


🌳🌳🌳


Sore hari mentari terlihat kemerah-merahan menambah pesona keindahan bandara itu, yang banyak berlalu lalang orang-orang yang datang dan menunggu pesawat. Seorang pria baru saja turun dari pesawat sedang melangkah tergesa-gesa membawa sebuket bunga indah. Para wanita yang berada di bandara itu melihat pria yang melewati mereka begitu tampan dan memukau bagaikan artis korea. Siapa lagi kalau bukan Aiden dengan senyuman pesonanya.


Mendengar suara Anna tadi pagi yang begitu merindukannya, dengan cepat Aiden menyelesaikan urusannya di kantor yang bermasalah itu. Dengan rasa tidak sabar Aiden menyuruh Stave menyiapkan pesawat untuk di naikki kembali pulang. Stave mengimbangi langkah Aiden karena takut tertinggal lagi.


Setelah Aiden dan Stave naik ke mobil itu, mobil itu pun berjalan membelah ke ramaian di jalan toll yang terlihat banyak kemacetan membuat Aiden mengumpat.


" Iisshh..kenapa macet sih!." gumamnya yang kesal membuat Stave menoleh ke arahnya.


" Tuan kan tahu di sini bakal macet bila sore hari karena jam pulang kantor." ucap Stave.


" Astaga, kenapa kau tidak katakan sejak tadi?." tanya Aiden ke arah Stave yang juga menatapnya.


" Tuan kan nggak nanya." ucap Stave santai.


" Memangnya harus bertanya dulu?." ucap Bram.


" Nggak juga." jawab Stave dengan santai.


" Issshh dasar kamu.!." ucap Aiden yang kesal.


" Hehehe, cinta membuat seseorang tidak sehat pikirannya." gumam Stave yang masih saja di dengar oleh Aiden.


" Biarin, dari pada kamu yang jomblo." ucap Aiden meledek.


" Lebih baik jomblo dari pada_." ucapan Stave yang terpotong karena Aiden menghentikannya.


" Stooopp." pekik Aiden ke arah Stave namun, matanya menangkap sosok yang di kenalnya yang berada di dalam mobil yang melewati mobil mereka.


" Anna?." gumam Aiden yang masih saja menatap kepergian seseorang yang begitu di kenalnya.


" Ada apa Tuan?." tanya Stave mengikuti tatapan Aiden ke mobil itu yang terlihat semakin menjauh.

__ADS_1


__ADS_2