Si Gadis Cantik Bertopeng

Si Gadis Cantik Bertopeng
69


__ADS_3

" Hiks.. Anna_."


" Anna kenapa Eris?." tanya Aiden yang semakin khawatir mendengar nama pujaannya itu.


" Den, pokoknya kau datang sekarang."ucap Eris.


" Baik, aku segera menuju ke sana." ucap Aiden yang pergi meninggalkan kamarnya.


Aiden melangkah menuruni tangga, kedua orang tuanya dan Abi yang masih mengobrol di ruang keluarga menoleh ke arah Aiden yang sedang tergesa-gesa.


" Ada apa Den?." tanya Ibunya.


Aiden menoleh sesaat ke arah Ibunya yang bangkit dari duduknya." Ma, Pa, Ai pamit dulu." ucap Aiden.


" Sayang, kamu baru saja datang, mau kemana lagi?." tanya Vina.


Aiden tidak menjawab ucapan Ibunya, dalam pikirannya saat ini adalah Anna. Mendengar suara Eris yang begitu ketakutan membuat hatinya tidak begitu tenang.


" Ai, Ai." panggil Ibunya.


" Mah, biarin Ai pergi." ucap Suaminya.


" Aku susul Kakak ya Mah!." ucap Abi yang bangkit dari duduknya menyusul Kakaknya.


" Iya sayang, hati-hati ya!." ucap Ibunya.


" Iya Ma!." ucap Abi yang sudah makin menjauh.


🌳🌳🌳


Sebelum kejadian,


" Clara." ucap seseorang memandangi wajah gadis yang muncul di layar ponselnya dengan VC.


" Paman, kenalin dia Gladis." ucap Eris yang juga wajahnya di perlihatkan di samping Gladis.


Tiba-tiba pamannya langsung memutuskan video call membuat Eris bingung." Loh, kok di matiin sama paman?." ucap Eris yang kembali menghubungi pamannya.


Namun, panggilan itu pun tidak di jawab-jawab oleh pamannya." Apa paman baik-baik saja kah?." gumam Eris sambil menghubungi pamannya.


" Mba, mungkin paman ada pekerjaan mendadak kali ya?." ucap Gladis.


" Mungkin juga sih!." ucap Eris yang masih saja menghubungi pamannya karena khawatir.


" Mba, ini apa ya?." tanya Gladis melihat sebuah foto yang terlihat terjepit di antara lembaran-lembaran buku itu.


Eris yang masih mencemaskan pamannya tidak mendengar pertanyaan Gladis kepadanya. Gladis pun mengambil foto itu dan di baliknya, terlihat seorang gadis yang sedang berselfi bersama putrinya yang sudah berusia 3 tahun. Gladis memperhatikan wajah wanita itu yang begitu familiar di matanya. Tiba-tiba sekelebat bayangan kembali muncul, bayangan di mana seorang Ibu sedang menangis karena anaknya.

__ADS_1


Suara mungil yang sedang merengek karena kesakitan, Ibunya menangis melihat putri semata wayangnya sedang menangis. Bayangan demi bayangan muncul semakin terlihat jelas, di mana di hari itu juga Ia terakhir melihat Ibunya.


Bayangan itu terputar seperti video begitu cepat, namun belum begitu terlihat jelas. Gladis yang semakin ingin mengingat kembali masa lalunya, Ia kembali memikirkan bayangan-bayangan yang selalu saja membayanginya itu.


" Malam Kak." sapa Reya yang baru saja pulang di antar oleh Abi.


" Malam Re." ucap Gladis yang menoleh ke arah Reya.


" Aku ke kamar dulu ya Kak? Reya capek banget." ucap Reya.


" Iya Re." ucap Eris, Reya pun meninggalkan Gladis menuju ke kamarnya.


Gladis kembali memperhatikan foto itu, tiba-tiba ingatannya pernah melihat foto itu di Album yang pernah Ia lihat. Gladis bangkit dan mencari album itu, terlihat dari tumpukan buku-buku ada album itu terletak di sana. Gladis membuka dan mencari foto itu, halaman demi halaman di lihat oleh Gladis. Sampai akhirnya matanya begitu terkejut, wanita itu sambil memeluk putrinya. Bayangan itu kembali terlihat tetapi belum begitu terlihat jelas, tanpa sengaja Gladis menjatuhkan album itu sehingga foto-foto yang berada di dalam album itu berhamburan jatuh keluar.


Gladis memungutnya, tanpa sengaja Ia melihat 2 lembar foto keluarga, di mana yang satu foto keluarga yang sudah lama seorang wanita yang sempat Ia lihat bersama orang-orang yang tidak di kenalnya yang sedang menggendong putrinya. Dan yang satunya foto yang belum terlalu lama, sebuah keluarga yang seakan di kenalnya. Pria yang sempat bertemu dan merawatnya juga berada di sana, tiba-tiba foto itu di anggapnya berubah.


Bayangan demi bayangan kembali muncul berputar di ingatannya. Semakin terlihat, semakin membuatnya merasa sakit.Namun, Ia tetap berusaha mengingat bayangan itu lagi sehingga semua semakin jelas.


" Aah sakiit." pekik Gladis yang merasakan kesakitan di kepalanya.


" Gladis." pekik Eris yang baru saja tiba dari depan dan melihat Eris yang sedang memegang kepalanya. Ruangan yang di tinggalkannya rapih kini sudah begitu berantakan.


" Gladis ada apa?." tanya Eris dengan panik.


" Mama, aahh sakiit."


" Ah sakiiiitt."


" Gladis hentikan sayang, nanti kamu tak ingat apa-apa." ucap Eris yang begitu panik.


" Kak ada apa sama kak Gladis?." tanya Reya yang baru saja keluar dari kamarnya karena mendengar suara kedua kakaknya.


" De' kamu temani kakak kamu, Mba telfon rumah sakit dulu." ucap Eris.


" Iya Mba." ucap Reya.


" Ah sakiitt." pekik Gladis.


" Kak Gladis, hiks hiks." Reya begitu sedih melihat Gladis yang kesakitan." Kak Eris cepat." panggil Reya yang panik.


Buugghh


" Kak Gladis." pekik Reya melihat Gladis jatuh pingsan.


" Ada apa De'?." tanya Eris yang baru saja tiba menelfon." Gladis." pekik Eris yang terkejut melihat Gladis tergeletak di lantai yang di bantu oleh Adiknya.


" Kak." ucap Reya yang juga begitu panik.

__ADS_1


" Gladis bertahan sayang." ucap Eris membantu Adiknya membangunkan Gladis.


" Kak Gladis bangun hiks hiks."


Terdengar suara sepatu memasuki rumah Eris yang ternyata Aiden sedang berlari saat melihat Gladis yang sudah pingsan di susul Abi yang berada di belakangnya.


" Anna, banguun." ucap Aiden berusaha membangunkan Gladis.


" Anna?." gumam Abi menoleh ke arah kakaknya bergantian menoleh ke arah gadis yang tak sadarkan diri.


" Aiden, kita harus bawa Anna sekarang juga." ucap Eris yang semakin khawatir dengan keadaan Anna.


" Ayo, bertahan Anna." ucap Aiden membawa Gladis ke dalam mobilnya.


Tidak berapa lama mereka telah sampai di rumah sakit, Anna yang tidak sadarkan diri membuat Aiden semakin sedih dan semakin khawatir dengan kondisi Anna. Setelah sampai di ruangan UGD, Eris mengikuti dokter yang lainnya menangani Anna.


" Bang, jelaskan ini semua?." tanya Abi.


Reya yang berada tidak jauh dari mereka berdua begitu terkejut melihat Abi dan Aiden." Kak Abi!." panggil Reya ke arah Abi membuat mereka berdua menoleh kearah suara itu.


" Kak Abi adiknya kak Aiden ya?." tanya Reya mendekati mereka berdua.


" Hhmm iya, kenapa? Reya kenal sama Abi?." tanya Aiden.


" Kau adik kak Eris?." tanya Abi ke arah Reya.


" Iya Kak." balas Reya.


" Tunggu, Bang jelaskan ini semua? Apa kondisi Anna tidak baik-baik saja?." tanya Abi yang terlihat mencemaskan keadaan Anna.


" Kau lihat sendiri, Anna begitu kesakitan." ucap Aiden.


" Anna itu siapa?." tanya Reya.


" Gladis adalah Anna tunangan Kakak." ucap Aiden membuat Reya terkejut.


" Haa?."


" Aiden, Abi." panggil seseorang yang sedang berlari ke arah mereka.


" Bram, paman." ucap Aiden.


" Bagaimana keadaan Anna?." tanya Bram yang begitu mengkhawatirkan Adiknya.


" Dia masih di dalam." ucap Aiden.


" Den, kenapa kau menyembunyikan Anna dariku sebagai Kakaknya?." tanya Bram yang begitu marah sambil menarik baju kerah Aiden.

__ADS_1


__ADS_2