Si Gadis Cantik Bertopeng

Si Gadis Cantik Bertopeng
Maafkan Aku Anna


__ADS_3

Buughh


" Apa-apaan kamu?." tanya Rudi ayah Nena yang begitu terkejut melihat Aiden di tonjok oleh seorang pria yang datang tiba-tiba.


" Kak Ai!." panggil Nena mencoba membantu Aiden yang meringis kesakitan di sudut bibirnya akibat ulah Bram.


" Brengsek kau Aiden, kau adalah tunangan adikku. Tapi kenapa kau malah bertunangan dengan gadis lain?." tanya Bram dengan amarahnya mencoba mendekati Aiden untuk memukulnya kembali.


" Berhentii!!." pekik Prabu mendekati Bram.


Bram menoleh ke arah Prabu." Aiden bukan lagi tunangan adikmu, apa mereka tidak mengatakannya padamu?." tanya Prabu menoleh ke arah Leo yang geram melihat Aiden bertunangan dengan gadis putri sahabatnya itu.


Anna begitu terkejut dengan ucapan ayah Aiden membuat hatinya terluka." Seharusnya putrimu malu, menganggap Aiden masih tunangannya. Padahal Aiden sudah punya calon tunangan." ucap Prabu membuat Leo tambah geram ingin memukul Prabu. Kalau bukan karena Dian menahannya, Prabu sudah mendapatkan bogeman mentah darinya.


" Lepaskan aku Dian, aku ingin sekali memberi pelajaran pada pria brengsek itu." ucap Leo.


" Tenang Leo, kamu nggak lihat apa? Di sini banyak orang, kasihan Anna akan lebih malu lagi!." ucap Dian membuat Leo terdiam dan mencari putrinya di kerumunan orang-orang.


Matanya terpaku menatap putrinya yang juga menatapnya berurai air mata, rasa hancur di alami putrinya itu membuatnya juga ikut hancur. Ingin sekali mendekap tubuh putrinya itu, Anna mengalihkan tatapan dari ayahnya berpindah ke tangannya yang sedang gemetaran.


Mendengar perkataan Prabu yang begitu menyakitkan, Anna mencoba melepaskan cincin pertunangan mereka. Air matanya mulai membanjiri di pelupuk matanya. Setelah terlepas Anna melangkah naik ke atas panggung membuat Aiden begitu terkejut.


" Dengar_." ucap Bram terhenti karena Anna menghentikannya.


" Kak Abra!!." panggil Anna mendekatinya.


" Anna!." panggil Bram membalikkan tubuhnya ke arah Anna.


Anna tetap saja melangkah melewati Bram yang mencoba menghalanginya." Kak Ai, se_selamat ya!." ucap Anna terbata-bata mencoba menahan tangisannya.


" Aku lupa mengembalikkan cincin ini." ucap Anna menyerahkan cincin pertunangannya.

__ADS_1


Anna membalikkan tubuhnya mencoba melangkah mendekati ayah Aiden." Om, maafkan Kak Abra!." ucap Anna sambil menarik lengan Bram.


Mereka berdua menuruni panggung itu, tamu-tamu yang berada di ruangan itu terdiam memandangi kepergian mereka." Ayo Pah!." ajak Anna sambil menarik lengan Leo.


Setelah mereka keluar dari gedung itu, mereka memasuki mobilnya masing-masing. Bram mengajak Anna semobil dengannya, Ia begitu mengkhawatirkan keadaan adiknya itu.


Anna masih mencoba menoleh ke arah pintu keluar gedung itu, Ia ingin memastikan kalau Aiden tidak perduli lagi dengannya. Dengan berat hati, akhirnya Anna memasuki mobil kakaknya. Tatapannya masih menunggu seseorang datang mengejarnya dan menjelaskan semua yang terjadi melalui kaca spion mobil itu.


Mobil semakin menjauh, orang itu tidak kunjung mengejarnya." Jadi benar Kak Ai sudah tidak mencintaiku lagi." pikirnya yang mulai menjauh dari halaman gedung itu.


🌳🌳🌳


Setelah kepergian mereka, Aiden meninggalkan panggung itu dengan rasa bersalahnya. Ingin sekali Ia mengejar Anna dan menjelaskan semua ini. Tapi apa bisa? Sebelum mendapatkan bukti-bukti itu, Ia harus drama menuruti semua keinginan ayahnya.


Prabu tersenyum bahagia melihat kesedihan putri dari musuhnya itu, Ia belum puas melihat Anna yang sudah tersakiti.


" Ini belum seberapa Leo!." ucap Prabu dengan senyum liciknya. Vina hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya. Ingin sekali Vina mengejar Anna untuk meyakinkan kalau cinta Aiden hanya untuk Anna seoramg.


Nena mendekati Aiden yang sedang duduk sambil membawa loyang kecil yang terisi air dingin untuk mengompres sudut bibir Aiden yang terluka.


" Kak Ai! Nena ingin mengobati luka di sudut bibir yang sudah membiru." ucap Nena yang mencoba mengobati Aiden.


Aiden bangkit dari duduknya pergi melangkah meninggalkan Nena." Kak Ai!." panggil Nena mencoba mengejar Aiden.


" Nena!!." panggil Ayahnya yang sedang menghampiri putrinya itu yang di ikuti oleh Prabu.


" Papa, om." ucap Nena setelah menoleh ke arah mereka berdua.


" Ada apa?." tanya Prabu.


" Kak Ai pergi begitu saja, padahal Nena ingin membantu mengobati lukanya saja." ucap Nena.

__ADS_1


" Sayang, Aiden pasti kembali. Mungkin Ia hanya shok saja." ucap Prabu yang mencoba menenangkan ke cemasan Nena.


🌳🌳🌳


Semilir angin malam yang begitu dingin membuat seorang wanita yang berada di balkon rumahnya tidak merasakan kedinginan. Hatinya begitu sakit dan kecewa, air matanya masih saja mengalir merasakan betapa hancurnya dia. Sepasang mata dari kejauhan menatapnya dengan sendu, apa yang di rasakan adiknya itu ia pun ikut merasakannya


Semenjak mereka tiba di rumahnya, Anna tidak mengeluarkan sepatah katapun. Bram memasuki kamar adiknya itu yang masih saja tidak di sadari Anna.


" Anna!!." panggil Bram ke arah Anna yang masih menatap lurus dengan tatapan kosong.


Bram duduk di samping Anna sambil mengelus ujung kepala adik kesayangannya itu. Anna masih saja tidak bergeming dengan keberadaan kakaknya itu.


" Kau boleh bersedih tapi jangan berdiam seperti ini! Anna yang selalu cerewet di hadapan kakak dan papa, kenapa berdiam seperti ini hanya gara-gara pria brengsek itu?." ucap Bram.


Anna menitikkan air matanya mendengar ucapan kakaknya itu." Anna!! Kasihan Papa Leo dan Papa begitu mencemaskanmu


. Adik manisku yang begitu cantik harus semangat, buat apa mengeluarkan air mata begitu berharga ini hanya untuk pria brengsek seperti itu?." tanya Bram membuat Anna mendongakkan wajahnya menatap kakaknya itu.


" Kak Abra nggak pernah merasakan jatuh cinta seperti apa dan patah hati juga!!." ucap Anna yang akhirnya bersuara.


" Oh ya? Kalau begitu ajarin kakak!." ucap Bram membuat Ia menoleh ke arah Anna yang juga menoleh ke arahnya. Wajah mereka berdua begitu dekat, Bram menatap wajah Anna yang begitu dekat dengannya. Mata Bram menatap kedua mata Anna yang kemudian menurun menatap bibir sexy Anna yang ingin sekali di cicipinya. Bram mencoba mendekatkan wajahnya ke arah Anna, tiba-tiba Anna menangis berhambur kepelukannya.


" Hiks..hiks..hikss sakit kak!! sangat sakit!!." ucap Anna di sela-sela tangisannya.


Mendengar Anna berucap membuat hati Bram ikut merasakannya. Alangkah hancurnya hati gadis ini yang sudah seperti adik kandungnya, ingin rasanya Ia mengobati hati adiknya ini.


" Ssuuhh suuhh..menangislah!! Kakak akan menemanimu di sini. Ini yang terakhir Anna menangis, Kak Abra nggak ingin mendengar Anna menangis lagi." ucap Bram.


Tidak lama kemudian, suara tangisan Anna sudah tidak terdengar lagi. Hanya dengkuran halus yang terdengar menandakan Anna yang sudah tertidur pulas di pelukan kakaknya.


Bram menyelimuti adiknya itu, Bram juga membiarkan Anna yang tertidur pulas di dada bidangnya. Ia ingin memberikan kenyamanan untuk adiknya itu yang sudah tertidur walaupun pinggulnya mulai kesakitan.

__ADS_1


Di luar rumah kediaman Anna tinggal, sebuah mobil tidak jauh sedang terpakir yang terlihat di dalam mobil seorang pria sedang mengamati salah satu kamar yang masih menyala lampunya. Ia yakin Anna berada di kamar itu bersama kakaknya.


" Maafkan aku Anna." ucap Aiden.


__ADS_2