
" Apa kabar? Kau di sini juga? Gimana dengan kehidupanmu?." tanya Eris bertubi-tubi.
" Hahaha..satu-satu Ris, kau bertemu denganku pertanyaanmu sudah sehalaman buku saja." ucap Bram.
Eris hanya bisa tersenyum ke arah Bram, Ia tidak menanggapi ucapan Bram kepadanya.
" Kau lihat aku baik-baik saja, semenjak kelulusan dan perpisahan itu aku kuliah di luar daerah. Dan kehidupanku sekarang, syukurlah baik tapi hanya ada kekurangan." ucap Bram.
" Kekurangan? Apa?." tanya Eris.
" Senyummu." ucap Bram sambil mencubit pipi Eris yang membuatnya gemesh.
" Bram, sifatmu tidak pernah berubah, kau masih seperti dulu di mana kita selalu bersama dari sekolah dasar sampai kita berpisah. Bram, andai kau tahu? Aku sudah jatuh cinta kepadamu di saat kau sudah menyelamatkanku dari tenggelamnya di sungai. Apa aku bisa mengungkapkan perasaan ini kepadamu? Kalau kau tahu apakah kau masih sedekat ini denganku? Mungkin cintaku takkan pernah terbalas." batin Eris menatap wajah Bram yang tersenyum ke arahnya.
" Hahaha..Aku bercanda." ucap Bram di sela-sela tawanya. Eris pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya sesaat.
" Hhmm..kabar adik-adikmu gimana?." tanya Eris yang seingatnya dulu bila Bram bermain ke taman Ia mangajak Adik-adiknya yang bernama Anna dan Rissa.
Sebelum Bram menjawabnya seseorang menghampiri mereka yang ternyata seorang sipir wanita yang menjaga Ibunya.
" Pak Bram." sapa wanita itu. Bram menoleh ke arah wanita yang sudah berdiri di sampingnya.
" Gimana keadaan Ibu?." tanya Bram kearah sipir wanita itu.
" Alhamdulillah, Ibu anda baik-baik saja. Tadi sudah di tangani oleh dokter, penyebab Ibu anda pingsan karena Ia tidak makan semalaman dan mengalami tekanan batin." ucap sipir itu.
" Mama." gumam Bram merasa bersedih mendengar keadaan ibunya yang mendapatkan tekanan. Bram melangkah ke arah kursi yang tidak jauh darinya.
" Ibu anda sedang istirahat, kalau begitu saya kembali ke kamarnya dulu." ucap sipir itu.
" Terimakasih." ucap Bram dan Rissa bersama.
Sipir wanita itu meninggalkan mereka berdua, Eris menoleh ke arah Bram yang nampak menunduk mengurai air matanya. Eris mendekati Bram dan duduk di sampingnya sambik menepuk pundak Bram.
" Bram, kau harus kuat. Kasihan Tante pasti bersedih melihat putra kesayangannya menangis seperti ini." ucap Eris.
" Ris_." ucapan Bram terhenti karena Eris memotong pembicaraannya.
" Aku nggak tahu apa masalah kalian, tapi kamu harus kasih semangat buat tante untuk melalui ujian ini. Bram, lihat aku, kedua orang tuaku meninggalkan aku bersama adik, dari kecil kami tidak merasakan kasih sayang mereka seperti anak-anak yang lainnya yang punya Ayah dan Ibu. Aku memperlihatkan ketegaran dan semangat buat adikku agar Ia tak berlarut dalam kesedihan karena kehilangan Mama dan Papa. Untung saja ada paman datang memberikan kasih sayang dan merawat kami sampai sekarang seperti ini." ucap Eris.
Bram yang mendengar perkataan Eris yang mencoba menenangkannya kini berpikir benar yang di ucapkan Eris kepadanya. Ia tidak boleh terlihat lemah di mata Ayah, Ibu dan Adiknya. Ia adalah motifasi mereka untuk berjuang memberikan suport kepada mereka, pikir Bram.
" Terimakasih Eris." ucap Bram tanpa sadar memeluk Eris, terasa tenang dan nyaman hati Bram di saat memeluk Eris sahabatnya dari kecil.
" Kakak." panggil seorang gadis yang berlari mendekati mereka, sontak Bram melepaskan pelukannya bersama Eris.
" Bram." panggil laki-laki paruh baya yang sedang berjalan bersama gadis yang sempat memanggilnya yaitu Ayahnya Dian dan adiknya Rissa.
" Rissa, Papa." ucap Bram bangkit dari duduknya, Eris pun bangkit berdiri sejajar bersama Bram.
__ADS_1
" Bagaimana keadaan Mama, Kak?." tanya Rissa yang sudah di hadapannya yang berlinangan air mata. Di belakangnya terlihat Alex yang sedang berlari menyusul mereka yang nampak ngos-ngosan.
" Mama baik-baik saja, untuk sementara biarkan Mama istirahat dulu." ucap Bram.
" Alhamdulillah." ucap Ayahnya dan Rissa.
" Eris, perkenalkan ini Ayahku dan Rissa." ucap Bram memperkenalkan keluarganya.
" Pah, Sa, perkenalkan ini dokter Eris." ucap Bram lagi memperkenalkan Eris kepada Ayah dan Adiknya.
" Eris." ucap Eris sambil mengulurkan tangannya ke hadapan mereka.
" Dian, panggil om saja." ucap Dian membalas uluran tangan Eris. Eris pun dengan senyumnya sambil mengangguk sesaat dan kemudian uluran tangannya ke arah Rissa setelah terlepas dari Ayahnya Bram.
" Rissa." ucap Rissa yang juga membalas uluran tangan Eris.
" Rissa teman Kak Bram dari kecil yang satu sekolah itu ya?." tanya Rissa.
" Iya." balas Eris dengan senyumnya.
" Wah, Kak Eris." ucap Rissa berhamburan di pelukan Eris.
" Apa kabar Kak? Kakak kemana aja selama ini?." tanya Rissa mengendurkan pelukannya menatap Eris.
" Alhamdulillah baik Sa!." balas Eris." Kakak pulang ke tempat tinggal almarhumah Mama bersama paman." ucap Eris lagi.
" Mana ada Sa! Rissa kan banyak teman." ucap Eris." Oh iya mana Anna? Pasti dia sudah dewasa dan makin cantik." ucap Eris.
Dian, Bram dan Rissa terdiam saat Eris bertanya tentang Anna. Rissa pelan-pelan memundurkan tubuhnya di hadapan Eris membuat Eris menoleh ke arah mereka satu-persatu yang berubah raut wajah mereka di saat bertanya tentang Anna.
" Ada apa?." Tanya Eris ke arah mereka.
Alex yang berada tidak jauh dari mereka datang menghampiri Rissa yang nampak sedang mencemaskannya.
" Sa!." Panggil Alex yang sudah berada di samping Rissa.
" Aku baik-baik saja, Lex!." ucap Rissa yang tahu maksud Alex mendekatinya.
" Kak Eris, perkenalkan ini Alex sebagai asistenku." ucap Rissa yang memperkenalkan Alex tanpa membalas pertanyaan Eris kepadanya.
" Eris." ucap Eris.
" Alex." ucap Alex mengulurkan tangannya ke arah Eris, Eris pun membalas salamannya.
Terdengar pintu kamar rawat Ibunya Bram terbuka yang muncul seorang wanita sipir yang sempat menemuinya setengah jam yang lalu. Mereka menoleh ke arah pintu itu, terlihat sipir itu melangkah mendekati mereka.
" Ibu Jenie sudah sadar, tapi yang menjenguknya cukup satu orang saja. Karena kesehatan Jenie belum sepenuhnya baik." ucap sipir itu.
" Terimakasih." ucap mereka bersama.
__ADS_1
" Kalau begitu aku periksa dulu ya!." ucap Eris.
" Ya Ris." ucap Bram.
Eris pun menuju ke ruang rawat Jenie yang di ikuti sipir yang menemani Jenie. Beberapa saat kemudian Eris keluar dari ruangan itu setelah memeriksa kondisi Jenie.
" Tante, kesehatannya sudah baik-baik saja dan semuanya kembali normal. Tapi untuk menjaga kesehatan tante biar lebih baik lagi untuk sementara tante biarkan menginap beberapa hari di sini." ucap Eris.
" Baik Dok!." ucap salah satu dari mereka menjawab ucapan dokter Eris.
" Oh iya, sekarang bisa menjenguknya. Namun, hanya cukup bergantian dulu." ucap Eris.
" Terimakasih Dokter Eris, kalau begitu Papa temui Mama dulu." ucap Bram.
" Ya sudah, Papa masuk temui Mama dulu." ucap Dian yang berlalu meninggalkan mereka.
" Bram, Sa, aku pamit dulu untuk memeriksa pasien yang lainnya." ucap Eris pamit.
" Ya Dok! Terimakasih."
" Jangan formal begitu kalau hanya kita-kita saja." ucap Eris dengan tersenyum ke arah Bram. Bram pun membalas senyuman Eris, setelah itu Eris berbalik melangkah pergi meninggalkan mereka di sana.
" Sa! Duduk dulu." ucap Bram menyuruh Rissa untuk duduk.
" Kak!." panggil Rissa.
Bram menoleh ke arah Adiknya" Apa?."
" Kak Eris cantik ya?." tanya Rissa.
" Hmm." balas Bram dengan anggukan yang mebenarkan kalau Eris memang cantik.
" Apa Kakak tidak jatuh cinta sama Kak Eris?." tanya Rissa.
Sontak Bram menoleh ke arah Adiknya, dulu memang ada perasaan itu tapi di saat mereka masih sekolah lanjutan. Namun, perasaan itu hilang di saat Bram lebih dekat dengan Anna. Di mana Anna selalu di perlakukan tidak baik oleh Ibu dan Adiknya. Perasaan seorang Kakak berubah menjadi cinta, Bram menyadari dia telah jatuh cinta kepada Anna setelah Anna meninggal.
Jantungnya yang tiap saat berdetak di saat Ia berada di samping Anna, pernah Ia menepis perasaannya itu. Karena Ia tahu mereka Kakak beradik sekandung dengan Ayahnya, Ia masih menganggap perasaannya hanya sebatas Kakak beradik. Ia menerima usulan Ibunya untuk kuliah di luar daerah demi melupakan perasaannya. Namun, perasaan itu semakin besar hingga kadang terusik dalam pikirannya ingin saling memiliki.
Setelah mendengar Aiden melamar Anna, Bram sempat frustasi. Kadang Bram sempat memantau adiknya dari jauh dan mengikuti kemana Adiknya pergi.
" Kak!." panggil Rissa yang menyadari Kakaknya sedang melamun.
" Anna!." gumam Bram saat matanya tanpa sengaja melihat sosok yang terlihat jauh darinya.
...****************...
Eris sama Bram sama-sama jatuh cinta sama seseorang tapi cinta itu di pendam. Sama seperti aku yang mencintai seseorang tapi dalam diamðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜..senasib kita ya!
Cinta dalam diam itu sungguh sakit, ingin mengungkap takut di tolak, di pendam tapi akiiittt..attiiitt bangeeett..
__ADS_1