
" Apaa?."
" Kenapa Mba?." tanya Gladis saat melihat keterkejutan Eris mendengar kata-kata Gladis.
" Oh nggak apa-apa, Mba yakin kamu cepat pulih dan mengingat keluargamu." ucap Eris.
" Semoga Mba, terimakasih sudah merawat aku dan menyayangi aku seperti adik kandung Mba." ucap Gladis.
" Sama-sama, Mba sudah merasa kau adik kandung Mba." ucap Eris mengembangkan senyumnya ke arah Gladis.
" Ekheem." deheman seseorang mengagetkan mereka berdua.
" Reya." sapa Gladis melihat Reya melangkah mendekati mereka berdua.
" De'." sapa Eris melihat Adiknya.
" Kayaknya aku cemburu deh! melihat kak Gladis sama Kakak berduaan kayak gini." ucap Reya melihat tangan mereka saling menggenggam. Mata mereka pun di alihkan melihat mata Reya ke bawah dan ternyata mereka terkejut.
" Is mikirin apa kamu hah?." ucap Eris melempar kertas yang tadi di gulung oleh Eris ke arah Adiknya.
" Hahaha, aku ganggu romantis kalian hahaha." tawa Reya melihat mereka tambah terkejut atas ucapan Reya.
" Kakak masih normal sama dengan Gladis, pikiran jelekmu itu harus buang jauh-jauh. Benarkan Gladis?" tanya Eris ke arah Gladis.
" Iya Mba." balas Gladis.
" Noh dengerin, ayo siap-siap kita pulang." ucap Eris bangkit dari duduknya dan merapikan meja kerjanya mengalihkan perdebatan dengan Adiknya.
🌳🌳🌳
Di sisi lain di tempat berbeda tapi masih negara yang sama. Seseorang memasuki kediaman rumah besar itu menuju ke ruang kerja sang majikan atau di panggilnya" Tuan Besar". Setelah sampai di pintu ruangan majikannya Ia mengetuk pintu, setelah di ijinkan Ia membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan. Terlihat sang majikan duduk di kursi besarnya sedang menunggu kedatangannya yaitu sang Asisten.
" Bagaimana?." tanya sang majikan melihat kedatangannya. Sang Asisten membukuk memberi hormat kearah sang majikan yang memberi tugas kepadanya.
" Ini berkasnya Tuan." ucap sang Asisten menyerahkan map yang terisi berkas-berkas tentang Gladis. Majikannya menerima uluran map itu lalu Ia membukanya dan membaca detail tentang Gladis.
" Haa? ya ampun." gumam Prabu terkejut membaca sesuatu tentang Gladis. Tiba-tiba dia berpikir sesuatu tentang Putranya yaitu Aiden.
" Hahaha dasar putraku mencari gadis satu orang saja lama banget." ucap majikannya yang masih membaca laporan bawahannya.
" Oke, terimakasih atas kinerjamu hari ini. Bonus dan yang lainnya bakal aku kasih, Kelanjutannya nanti aku hubungi." ucap Sang majikan ke arah bawahannya. Sang Asisten pun begitu bahagia mendengar perkataan majikannya yang memberinya bonus Ia pun segera pamit untuk melanjutkan pekerjaannya.
Setelah kepergian sang asisten, Ia keluar dari ruangan kerjanya dan melangkah ke arah kamarnya. Di sana terlihat Istrinya sedang memakai skincare ke tubuhnya di depan cermin. Istrinya melihat ke datangan suaminya di pantulan cermin yang terletak di hadapannya. Ia berbalik melihat sesuatu yang di bawa oleh suaminya karena rasa penasarannya Ia melangkah mendekati Suaminya. Tanpa meminta Vina merampas dokumen itu dan membuka, membaca tiap halaman.
" Ternyata istriku lebih penasaran dengan yang aku bawa dari pada penasaran tentang yang aku punya." ucap Suaminya melihat istrinya merampas map yang di bawanya.
__ADS_1
" Is sudah tua masih saja mesum." ucapnya.
" Ternyata dugaan kita benar Pah!." ucap Istrinya melihat detail tentang Gladis siapa lagi kalau bukan Prabu dan Vina yang ingin tahu asal usul Gladis.
" Putramu kelamaan nyarinya." ucap Prabu.
" Dia putramu juga Pah!." ucap Vina tanpa mengalihkan tatapannya dari berkas yang di pegangnya.
Prabu hanya bisa menghela nafasnya mendengar ocehan Istrinya. Ia melangkah ke tepi ranjang dan duduk di sana.
" Pah, tapi kenapa Anna tidak kenal kita di saat bertemu?." tanya Vina ke arah suaminya.
" Mama nggak baca sampai kebawah? Anna kehilangan ingatannya, mana ada orang kehilangan ingatan masih ingat kita berdua." ucap Prabu.
" Haa? Ya ampun, trus gimana Pah?." tanya Vina yang cemas karena baru mengetahui calon menantu mereka hilang ingatan.
" Mungkin kecelakaan itu yang menyebabkan Anna kehilangan ingatan. Hmm, gimana kalau kita undang Dokter Eris ke rumah? Nanti kelanjutannya kita diskusi lagi. Kan Mama tau Dokter Eris yang merawat Anna selama ini, kemungkinan Dokter Eris mengetahui sesuatu." ucap Prabu.
" Benar Pah! Trus kapan undang Dokter Eris ke rumah?." tanya Vina ke arah Suaminya.
" Bentar, Papa telfon Dokter Eris dulu. Siapa tau dia nggak sibuk?." ucap Prabu.
" Iya Pah!." ucap Vina.
" Assalamu alaikum."
" Waalaikum salam, maaf Dokter, om sudah mengganggu kesibukan Dokter." balas Prabu.
" Tidak om, Eris juga baru saja sampe rumah. Apa ada yang bisa Eris bantu Om? panggil Eris aja om nggak usah Dokter karena Eris sudah berada di rumah." tanya Eris di seberang ponsel Prabu.
" Oh! Hhmm begini, boleh Eris datang ke rumah om? Ada sesuatu yang om sama tante tanyakan sama Eris." ucap Prabu.,
" Apa ini masalah serius om?." tanya Eris yang bingung karena selama dia merawat Prabu baru kali ini Eris di suruh datang menemuinya. Apalagi Eris di suruh kerumah Prabu, mungkin ada masalah sangat serius sehingga Eris di suruh menemuinya pikir Eris.
" Bukan Eris, nanti kita bahas di sini saja. Apa Eris ada waktu?." tanya Prabu.
" Ada Om, malam ini Eris bakal menemui om gimana?." tanya Eris.
" Boleh, lebih cepat lebih baik." balas Prabu.
" Ok om."
" Ya sudah Om tunggu, sampai ketemu malam ini Ris. Wasalamu Alaikum." ucap Prabu.
" Iya Om, Waalaikum salam." ucap Eris mengakhiri obrolan mereka.
__ADS_1
" Apa ada masalah sehingga Om menyuruhku menemuinya?." gumam Eris.
" Meningan aku siap-siap deh!." gumam Eris lagi bangkit dari duduknya menuju ke Bathroom.
🍂🍂🍂
" Pah, gimana? Apa Dokter Eris mau?." tanya Vina.
" Malam ini Eris ke sini Ma." ucap Prabu.
" Ah bagus, semoga malam ini kita bisa mengetahui tentang Anna ya Pah?." ucap Vina.
" Semoga Ma."ucap Prabu.
🌳🌳🌳
Sebuah mobil memasuki halaman kediaman Pramudita, keluar dua orang laki-laki yang nampak lesu tak bertenaga sedang melangkah. Mereka berdua duduk ketika sudah sampai di ruangan keluarga. Dian melirik ke sana-kemari seperti mencari sesuatu di ruangan itu. Tak kunjung terlihat Ia pun memanggil sang asisten yang bekerja di rumahnya.
" Bii." panggilnya.
" Ya Tuan." ucap salah asisten mendekatinya.
" Apa Rissa sudah bangun?.tanya Prabu.
" Sudah Tuan. Non Rissa duduk di halaman belakang." ucapnya.
" Ya sudah lanjutkan pekerjaanmu." ucap Dian.
" Baik Tuan." ucap Sang Asisten. Ia pun pergi meninggalkan mereka.
" Bram, Papa temui Rissa dulu ya?." tanya Dian.
" Iya pah." ucap Bram yang seperti tidak mempunyai semangat lagi.
Dian bangkit meninggalkan Bram yang masih duduk di kursi sofa. Ia melangkah ke halaman taman di belakang rumahnya.Terlihat dari jauh putrinya terlihat sedang melamun. Ia melangkah mendekati putrinya itu dengan perlahan. Putrinya tidak mengetahui keberadaan Ayahnya yang sudah di sampingnya.
" Rissa." panggilnya sambil menepuk bahu putrinya.
" Papa." ucap Rissa yang sadar dari lamunannya.
" Ada apa sayang?."tanya Dian.
" Pah! kalau Rissa hamil, apa Papa nggak akan marah?." tanya Rissa.
" Apa? Rissa hamil?."
__ADS_1