
Acara pertunangan pun di lanjutkan sampai selesai tanpa hambatan apapun. Ana tersenyum bahagia memandangi jari manisnya yang menampilkan sebuah cincin yang bermata berlian itu. Ana tak menyangka statusnya sekarang menjadi calon istri seorang Ceo terkenal di salah satu Perusahaan terbesar dinegara ini. Bagaikan seperti mimpi, Ia dulu yang tak pernah bercita-cita menjadi tunangan seorang Ceo kini menjadi takdir yang membuat Ana merasakannya. Apalagi dalam keadaannya sekarang yang setengah buruk rupa. Dari kecil tidak ada yang mau mendekatinya karena wajah buruknya. Ia selalu di hina oleh teman-teman sekolahnya. Walaupun teman sekolahnya tak menyukai Ana tak membuatnya berhenti sekolah, Ia selalu bersabar dan ikhlas menerima perlakuan teman-temannya sampai Ana lulus. Disaat melanjutkan Sekolah Lanjutan Pertama Ia bertemu dengan teman-teman dan menjadi sahabatnya sampai sekarang karena kepintaran Ana.
Dari jauh tatapan kemarahan seorang wanita tak pernah di terlepas dari Ana. Wanita itu terus menatapnya dengan dendam yang sangat menggebu-gebu." Ana, jangan senang dulu. Ini belum selesai, Aku akan membuatmu pergi dari dunia ini menyusul Ibumu di Neraka sana. Aku takkan pernah menginjinkan kamu bahagia. Kau harus membayar air mata Anakku yang jatuh karena kau merampas kebahagiaannya." batin Jenie. Jenie beranjak pergi menuju ke arah kamar Rissa, Rissa yang terlihat begitu berantakan membuat Jenie semakin membenci Ana.
" Saaa." panggil Jenie mendekati Rissa yang sedang memeluk erat sebuah bantal yang menutupi wajahnya yang sedang menangis.
" Sayang, ini Mama." panggil Jenie kembali menyentuh punggung Rissa.
Rissa bangun dan langsung memeluk Jenie. Dalam dekapan Jenie, Rissa masih sesegukan karena hatinya masih sakit mengingat perkataan Aiden yang menyakitkan kepadanya.
" Aiden jahat Ma." Ucap Rissa di sela-sela tangisannya.
" Sabar sayang, Mama akan membuat Aiden menyesal telah menolak Anak Mama yang cantik ini." ucap Jenie membantu menghibur hati Rissa yang sakit.
" Maksud Mama apa?." tanya Rissa yang melonggarkan pelukannya dan menatap wajah Jenie.
" Mama punya rencana yang akan membuat mereka berpisah sayang." ucap Jenie mengelus rambut Rissa.
" Mama punya rencana apa?". Tanya Rissa yang semakin penasaran.
" Rahasia sayang, yang pasti kau akan mendapatkan kebahagiaanmu." ucap Jenie.
" Baiklah, Aku akan tunggu Ma". balas Jenie.
" Sekarang jangan sedih lagi, Kamu harus bahagia. Anak Mama nggak boleh menangis." Ucap Jenie.
" Aku sedih kalau masih di sini melihat mereka bahagia Ma!." ucap Rissa yang menampilkan wajah kesedihan.
" Ya sudah, sana pergi keluar cari kebahagianmu. Ini ada kartu, kamu bisa pakai buat berbelanja yang kamu inginkan." Ucap Jenie menyerahkan sebuah kartu ke tangan Rissa. Rissa menerima kartu itu dengan perasaannya yang bahagia walaupun masih sedikit terasa sakit.
" Okelah Mah, Rissa siap-siap dulu." Ucap Rissa yang beranjak pergi meninggalkan Jenie yang masih duduk di tepi ranjang.
Beberapa menit kemudian Rissa keluar dari ruang ganti yang sudah menampilkan gaunnya yang begitu sexy. Jenie menatap kagum ke arah Rissa yang terlihat begitu cantik dan seksi.
" Sayang, Kau begitu cantik." ucap Jenie.
" Anak siapa dong?." Ucap Rissa.
" hehehe. Hati-hati ya!, jangan pulang kemalaman." ucap Jenie.
" Oke Mah, Rissa pamit ya!."
" Ya sayang, lewat samping saja. Alex sudah menunggu disana." ucap Jenie.
"Oke." balas Rissa sambil melangkah meninggalkan Jenie yang masih berdiri menatap kepergiannya.
" Bii, bersihkan kamar ini." ucap Jenie yang beranjak pergi meninggalkan kamar Rissa setelah mendengar jawaban Bibi.
" Baik Nyonya." ucap Bibi.
Rissa tiba di samping pekarangan rumahnya, Rissa melihat mobil yang terparkir dari jauh dan melangkah mendekati mobil itu.
Alex melihat Rissa yang begitu cantik membuatnya tak bisa berkedip karena pesona Rissa. Jantungnya begitu berdebar melihat Rissa yang semakin mendekatinya.
" Lex, Aku mau jalan-jalan." Ucap Rissa yang membuat Alex sadar dari tatapannya ke Rissa.
" Baik Non." ucap Alex membuka pintu mobil untuk Rissa.
__ADS_1
Rissa masuk ke mobil dan mengambil benda pipih kesayangannya. Rissa mengetik mencari kontak dan kembali menghubungi seseorang.
" Halo Sa, ada apa?". tanya seseorang menerima panggilannya.
" Mega, yuk jalan-jalan denganku?." ajak Rissa.
" Tumben lu ajak gue? biasanya lu sibuk banget kalau mau di ajak." tanya Mega temannya Rissa.
" Iya maaf, tapi hari ini Aku nggak sibuk, jadi aku mau ajak kamu jalan-jalan." balas Rissa.
" Emang mau jalan-jalan kemana?". tanya Mega.
" Entahlah, Aku nggak tau tempat yang bagus untuk mengobati hatiku ini." ucap Rissa.
Alex melirik ke arah kaca di depannya yang menampilkan sosok Rissa yang selama ini sangat di kaguminya.
" Gimana kalau kita ke Barr aja pasti kau suka." ucap Mega.
" Oke, kirim ke Aku lokasinya dan tunggu Aku di sana." ucap Rissa.
" Okey." balas Mega kemudian menyudahi obrolan mereka.
Ting
" Lex, kita ke alamat ini ya?". ucap Rissa memperlihatkan alamat yang mereka akan tuju ke arah Alex.
Alex pun melajukan kemudinya menuju ke tempat mereka sudah janjikan.Beberapa menit kemudian mereka pun telah sampai.
Rissa keluar dari dalam mobil setelah melihat keberadaan Mega dari jauh. Alex melihat nama gedung yang di datangi Rissa. " Rissa mau apa kesini?." batin Alex.
" Gaa, apa kabar?". tanya Rissa kepada Mega yang terlihat mendekatinya.
" Ada-ada aja luh." ucap Rissa.
" Hahaha, ayo kita kedalam. Aku akan perkenalkan teman-temanku di dalam." ucap Mega menarik lengan Rissa.
" Non," panggil Alex ke arah Rissa yang mulai melangkah.
" Tunggu saja di sini Lex". ucap Rissa yang kembali melangkah mengikuti Mega.
" Ya Non." balas Alex.
" Sa, itu siapa?". tanya Mega.
" Itu supir pribadiku." ucap Rissa.
" Njiirr, tampan Sa. Kenapa nggak di pepet aja!". tanya Mega.
" Ogah, Dia hanya seorang supir. Nggak selevel denganku yang seorang model papan atas. Apa kata dunia nanti?." ucap Rissa.
" Ya elah luh, kalau gue yang penting macho bikin gue terkapar di ranjang." ucap Mega.
" Dasar luh, emang udah berapa banyak yang sudah merasakan lubang surgamu?." tanya Rissa.
" Nggak banyak sih." balas Mega.
" Njiirrr."
__ADS_1
" Hahaha, yuk kita pesan minuman yang bisa melupakan kesedihanmu." ucap Mega.
" Kuy". ucap Rissa.Mereka berdua pun memesan minuman kesukaan Mega.
" Sa, coba minuman ini pasti membuatmu melupakan rasa sakit yang kau rasakan." ucap Mega meraih botol sambil menuang ke salah satu gelas dan di berikan ke Rissa.
" Benarkah? Aku coba ya?." ucap Rissa yang langsung meneguknya.
" Gimana?". tanya Mega kearah Rissa.
" Mantap Ga, tapi kok rasanya panas di tenggorokan Aku?". tanya Rissa yang kembali memberikan gelasnya untuk di tuang.
" Masih pertama begitu, tapi kalau lama-lama semakin enak rasanya Sa". Ucap Mega kembali memberikan gelas yang sudah terisi. Rissa kembali meraihnya dan meneguknya sampai habis.
" Rasain luh gue kerjain, minun terus Rissa. Aku akan membuatmu hancur." batin Mega.
Sejam kemudian telah berlalu, Rissa terlihat mabuk karena sudah menghabiskan minuman beberapa botol.
" Akhirnya lu tumbang juga, sekarang tinggal cari cowok yang bisa menikmati tubuh lu." ucap Mega denga senyum liciknya.
Dari jauh seseorang yang tengah mencarinya tengah melihatnya. " Nah itu Non, kayaknya sudah mabuk berat". gumam Alex yang mendekati Rissa.
" Non bangun, kemana teman Non tadi? kok Non di tinggal sendiri?." tanya Alex.
" Ya sudah kita berangkat ya Non," ucap Alex yang menarik lengan Rissa.
" Lex, gue mau minum lagi." gumam Rissa.
" Non kita pulang sekarang ya?." ucap Alex yang lansung menggedong tubuh Rissa.
" Lex, kau tampan sekali ya!." gumam Rissa yang mengangkat tangannya mengusap wajah Alex.
" Astaga Non, tangannya jangan nakal." ucap Alex yang mulai tak tahan dengan sentuhan Rissa yang menggodanya.
" Lex, bibirmu Sexy. ucap Rissa yang mulai mendekati wajahnya.
" Astaga Non." ucap Alex yang melajukan langkahnya ke arah mobilnya.
Pintu mobil pun di buka dan memasukan Rissa kedalam. Namun, Alex kaget dengan perlakuan Rissa kepadanya.
" Non _mmmhhppp" perkataan Alex terhenti karena mendapatkan serangan Rissa yang langsung menyambar bibir Alex.
Alex langsung mendorong tubuh Rissa dan langsung keluar menutup pintu mobil.
" Astaga kenapa dengan Non Rissa? Aku harus cepat-cepat bawa dia." ucap Alex yang langsung memasuki mobil kemudinya.
Alex mulai menjalankan mobilnya menuju ke tempat yang sudah ia pikirkan terlebih dahulu.
" Alex." ucap Rissa yang melangkah ke arah kursi depan di samping Alex.
" Apa yang Non lakukan?." ucap Alex yang melihat kelakuan Rissa.
Rissa langsung menyambar bibir Alex kembali. " Shiiitt".
" Astaga, Apa yang terjadi?." ucap Alex.
Rissa yang kembali membuka satu persatu kemeja Alex dan mulai mengecupnya memberikan tanda merah di sana.
__ADS_1
" Non jangan, Shiith. Ini membuatku nggak bisa konsen dalam mengemudi. Lebih baik kita kesana Non, kau sudah memperkosaku di dalam mobil". ucap Alex membanting stirnya ke arah gedung yang di lihatnya.