Si Gadis Cantik Bertopeng

Si Gadis Cantik Bertopeng
97


__ADS_3

Di kota yang penuh keramaian di saat pagi menjelang, di sebagian orang tengah kesibukkan masing-masing pekerjaan. Ada yang terburu-buru dengan aktifitasnya dan ada juga yang hanya biasa bersantai menikmati keindahan di pagi hari. Di suatu perusahaan besar, beberapa orang karyawan yang berlalu-lalang dengan aktifitasnya.


Terlihat sebuah mobil mewah yang baru saja memasuki halaman perusahaan itu,mobil yang mereka kenal sebagai pemilik perusahaan.Nampak, seorang gadis sedang bergelut manja di lengan kekasihnya yang sedang melangkah bersamaan di perusahaannya.


Para karyawan melihat kedatangan mereka hanya menunduk hormat ke arah sepasang kekasih itu yang baru semalam resmi bertunangan.


" Sebentar lagi aku nyonya Bramantiyo, semua orang pasti tunduk padaku." batin gadis itu yang bernama Nena.


" Pagi pak!." ucap seorang gadis cantik yang sebagai sekertaris Aiden. Nampak Nena memandang gadis itu dengan tatapan tajam tidak suka keberadaannya.


" Hhmm." jawab Aiden tanpa menoleh melewati sekertarisnya dengan beraura dingin.


Setelah memasuki ruangannya, Aiden melepaskan lingkaran tangan Nena yang berada di lengannya yang sangat tidak suka dengan sifat Nena yang begitu manja.


" Kamu tunggu aku disini." ucap Aiden singkat setelah itu ingin melangkah pergi. Namun, dengan cepat Nena kembali menarik lengannya dengan terpaksa Aiden menoleh ke arahnya.


" Aku bosan sendiri." ucap Nena.


Aiden menarik nafas panjang meluapkan kekesalannya melihat sikap Nena." Aku sudah katakan, jangan ikut denganku di kantor. Pagi ini aku ada Miti**ng dengan klaen besar, tapi tetap saja kau ikut." ucap Aiden dengan kesal.


Mendengar kata-kata Aiden yang tidak menyukainya ikut kekantor membuat Nena merasa sakit hati. Dengan terpaksa Ia melepaskan genggamannya di lengan Aiden.


Melihat raut wajah Nena berubah membuat Aiden merasa bersalah dengan ucapan yang Ia lontarkan." Maafkan aku, aku hanya miting sebentar. Kamu bisa membaca majalah atau berkeliling di kantor ini, aku panggil Lisa kesini untuk menemanimu." ucap Aiden ke arah Nena.


" Nggak usah!." ucap Nena dengan kesal sambil menghentakan bokongnya di kursi. Aiden melihatpun ingin rasanya marah, Stave yang biasanya bisa menghendel rapat hari ini tidak masuk kantor karena Aiden memberi tugas besar terhadap Stave. Sekarang Ia harus menghadapi sifat Nena yang begitu manja dan menghadiri rapat penting yang sudah di tunggu-tunggu sejak lama.


" Sa_sayang! Jangan marah dong! Kak Ai hanya sebentar pergi, nanti setelah rapatnya selesai kita berdua jalan-jalan." ucap Aiden yang dengan terpaksa membujuk Nena agar Ia bisa lepas dari Nena.


Mendengar ajakan Aiden membuat Nena berbinar bahagia." Benarkah?." tanya Nena ke arah Aiden.


" I_iya." jawab Aiden.

__ADS_1


" Oke sayang! Cepetan." ucap Nena dengan senyumannya.


" Ya sudah! Kak Ai pergi dulu." ucap Aiden berpamitan.


" Hhmm." jawab Nena sambil menganggukkan kepalanya.


Setelah kepergia Aiden, Nena bangkit dari duduknya mengamati ruang kerja Aiden yang luas itu.


Nena melangkah ke meja kerja Aiden yang terlihat sebuah bingkai yang berada di atas meja kerja. Sebuah foto yang terlihat seorang gadis tersenyum dengan memakai topeng menutupi wajahnya separuh.


" Ini siapa?." tanya Nena meraih bingkai itu.


" Jelek amat!." ucap Nena sambil membuang bingkai itu ke tempat sampah.


Setengah jam kemudian, akhirnya rapat pun telah selesai dengan hasil yang sangat memuaskan. Walaupun hati Aiden sedang sedih dengan asmaranya, Aiden masih bisa fokus dengan hal-hal bisnis tentang perusahaannya.


Aiden memasuki ruang kerjanya, matanya mencari sosok wanita yang di tinggalkan setengah jam yang lalu berada di ruangan itu. Ia melihat Nena tertidur di kursi singgasananya itu dengan nyenyak. Melihat wajah polos Nena yang sedang tertidur membuat Aiden merasa bersalah meninggalkan gadis itu sendiri di ruangannya. Walaupun Aiden tidak ada perasaan terhadap Nena, Ia tetap memperlakukan wanita itu dengan baik.


" Tuan, sepertinya saya tidak bisa menemukannya. Semua buntu, hecker yang saya utus menyeledikinya juga tidak bisa mendapatkannya. Tapi saya menemukan informasi tentang Tuan Leo ayah Anna." ucap suara seseorang dari sebrang ponselnya.


" Informasi apa?." tanya Aiden yang penasaran.


" Saat Tuan besar mengalami kebangkrutan, beberapa bulan kemudian Tuan Leo hilang dan juga mengalami hal yang sama seperti Tuan besar." jawab pria itu.


" Cari terus, kamu harus men_."


" Sayang! Kau sudah kembali?." tanya Nena yang baru saja bangun dari tidurnya membuat Aiden terkejut.


" Eh!! Iya, apa aku membangunkanmu?." tanya Aiden membalikkan tubuhnya ke arah Nena yang sudah bangkit dari duduknya.


" Tidak sayang." jawab Nena sambil mendekati Aiden, Aiden memutuskan sambungan telfonnya dan kembali menaruh ponsel ke dalam saku celana.

__ADS_1


" Oh iya, bagaimana rapatnya?." tanya Nena sambil mengalungkan tangannya di leher Aiden.


Aiden terkejut dengan tindakan Nena yang semakin merapatkan tubuhnya membuat Ia risih dengan sikapnya. Aiden melepaskan tangan Nena dan menghindarinya menuju ke meja kerjanya.


" Bagus." ucap Aiden sambil melepaskan jas dan menggantungnya.


Nena merasakan Aiden sering menghindarinya, dengan sabar Nena kembali melangkah mendekati Aiden yang sudah duduk di kursi besarnya itu.


Nena meletakan tangannya di bahu Aiden membuat Aiden semakin geram, ingin rasanya menyingkirkan tangan itu.


" Sayang." ucap Nena sambil membungkuk mendekatkan wajahnya ke arah Aiden.


Namun, dengan cepat Aiden meraih tangan Nena dan di genggamnya." Biarkan aku bekerja sebentar saja, lalu kita makan siang dan jalan-jalan." ucap Aiden dengan cepat membuat Nena berbinar bahagia. Akan tetapi dalam hati Nena begitu sedih melihat Aiden yang begitu dingin dan menghindari sentuhannya.


Aiden membuka laptopnya dan fokus dengan pekerjaan yang sempat tertunda beberapa hari ini. Nena melangkah perlahan menuju ke kursi yang berada di ruangan Aiden, sekali-kali Nena menoleh ke arah Aiden. Namun, masih saja Aiden tidak pernah melirik sekali pun ke arahnya.


Setelah beberapa jam menyelesaikan pekerjaannya, Aiden sempat memperhatikan meja kerjanya. Aiden merasa ada yang hilang di atas meja kerjanya itu. Mata Aiden memperhatikan dari sudut ke sudut mejanya untuk mencari sesuatu, tanpa sengaja matanya melirik ke arah benda yang tidak asing baginya yang berada di tempat sampah.


Aiden meraihnya, betapa terkejut Ia melihat bingkai yang sudah di tempat sampah.Dengan hati amarah Aiden menoleh ke arah Nena yang sudah tertidur menunggunya.


Dengan meluapkan kekesalannya, Aiden menggebrak meja kerjanya dengan keras membuat Nena kaget.


Brraakkhh


" Kak Ai ada apa?." tanya Nena bangkit dari duduknya yang belum sadar seutuhnya.


Aiden menoleh ke arah Nena dengan raut wajah yang memerah menahan amarah. Ingin sekali menampar gadis yang sudah membuang bingkai pujaannya itu.


Sebelum mendapatkan bukti-bukti itu, Aiden menahan sikapnya untuk tidak melukai Nena.


" Aku mau ke toilet dulu." ucap Aiden setelah itu meninggalkan Nena yang masih berusaha mengumpulkan kesadarannya tanpa menunggu jawabannya.

__ADS_1


" Kak Ai kenapa ya?." gumam Nena yang memandang kepergian calon suaminya itu.


__ADS_2