
" Ah gimana ini? Ini gara-gara Kak Aiden yang selalu mendesakku hingga nggak sadar menerima lamarannya."gumam Ana.
" Apa Aku layak menjadi istri seorang Ceo hebat seperti Kak Aiden?."ucap Ana bangkit dar ranjangnya menuju ke arah cermin besar yang terpampang di kamarnya.
" Wajahku buruk, nggak ada yang mau mendekatiku jika melihat wajahku ini" ucapnya kembali sambil membuka topeng yang melekat di pipinya. Mata Ana mulai berembun setelah melihat wajahnya yang terlihat begitu buruk. Orang yang melihat pasti jijik atau ketakutan setelah melihat wajahnya.
" Apa aku pantas? Hiks...hiks..hikss." ucap Ana yang mulai menangis.
" Kau bertanya apa pantas? Melihat wajahmu saja begitu menjijikan apalagi menikah denganmu! Aiden mungkin belum sadar bahwa orang yang dia lamar ternyata seorang wanita buruk rupa." ucap Jenie yang memasuki kamar Ana.
Ana yang mendengar suara yang begitu dia kenal langsung memakai topengnya kembali." Nyonya" ucap Ana mebalikkan tubuhnya ke arah Jenie yang berdiri tak jauh darinya.
" Harusnya Kau menolak lamaran ini, Kau nggak pantas. Hanya Rissa yang pantas berdiri di samping Aiden. Lihat wajahmu," ucap Jenie mendekati Ana dan menariknya menghadap ke arah cermin yang menampilkan mereka berdua.
" Lihat Kau dan Aku? dari tampilanmu saja kita sudah berbeda apalagi dengan melihat wajahmu! Apa kamu ingin mempermalukan keluargaku?." Bentak Jenie. Ana melihat tampilannya di cermin itu dan membadingkan dirinya dan Jenie.
" Jangan pernah bermimpi, gadis seperti dirimu ingin bersanding dengan Aiden yang terkenal di mana-mana. Pikirkan baik-baik dan tolak lamaran ini." ucap Jenie meninggalkan Ana yang terduduk di lantai.
" Hiks..hiks..hiks..aku ingin bahagia juga. Aku punya mimpi juga Bu, apakah nggak ada kebahagiaan untukku Bu?." ucap Ana yang semakin histeris.
" Ana". panggil seseorang yang mendekati dan langsung mendekapnya.
__ADS_1
" Aku nggak pantas kah untuk bahagia?."gumam Ana sambil mengeratkan pelukannya.
" Siapa yang bilang Ana nggak pantas?." tanya orang itu.
Ana sadar dengan suara yang berada di pelukannya," Kak Abra?" ucap Ana mendongakan kepalanya melihat wajah Kakaknya.
" Ada apa?" tanya Bram.
"Aku harus menolak lamaran ini Kak, Ana nggak pantas" ucap Ana.
" Siapa yang bilang kalau Ana nggak pantas menikah dengan Aiden?" tanya Bram. Ana tetap bungkam dengan pertanyaan Bram kepadanya.
" Bu_bukan" jawab Ana.
" Kakak tau pasti Mama kan?" tanyanya kembali. Ana menggelengkan kepalanya yang masih saja tak ingin jujur pada Bram.
" Ana, jangan dengerin kata Mama. Ana pantas menikah sama Aiden. Kalau soal wajah Ana, Kakak sudah punya solusi untuk menyembuhkannya." ucap Bram.
" Solusi? solusi apa Kak?" tanya Ana yang mulai tenang.
" Ana bakal operasi wajah" ucap Bram.
__ADS_1
" Benarkah? tapi_"ucap Ana yang mulai murung.
" Iya, tapi kenapa?" tanya Bram.
" Biayanya pasti mahal Kak!" ucap Ana yang kembali murung. Bram tersenyum simpul melihat Ana yang sedang memikirkan biaya oprasi.
" Tenang saja, Ana pokoknya tinggal mau saja untuk melakukan operasi ini. Kakak sudah lama menabung untuk ini." ucap Bram.
" Apa? jadi Kakak sudah menyiapkannya jauh-jauh hari?" tanya Ana yang terkejut.
" Iya Adik kecil Kakak" jawab Bram.
" Uh, terimakasih Kak Abra" ucap yang kembali memeluk Bram. Ana begitu bahagia dan terharu. Kakaknya begitu menyayanginya.
" Eh, Ana bikin Kakak cepat mati ya?" tanya Bram. Ana mendengar ucapan Bram langsung melonggarkan pelukannya.
" Eh maaf Kak, Ana terlalu bahagia" ucap Ana.
" Nggak apa-apa sayang" ucap Bram sambil mengusap ujung kepala Ana.
" Semoga Operasi ini berhasil" batin Bram.
__ADS_1