Si Gadis Cantik Bertopeng

Si Gadis Cantik Bertopeng
Mendapatkan Ide


__ADS_3

" Apaa? Rissa hamil?."


" Bu bukan Pah! maksud Rissa, umpamanya aja Pah." ucap Risaa dengan gugupnya.


" Oh Papa kira anak papa yang cantik ini hamil? Jangan salah langkah ya sayang? Tunggu nanti di halalin, putri Papa bisa rasakan surga dunia itu nanti." ucap Ayah Rissa.


"Andai Papa tau, kalau aku sudah hamil sekarang Pah! Apa Papa bisa menerima aku menjadi putri Papa yang terbaik? Maafkan Aku Pah!." batin Rissa yang menatap wajah Ayahnya yang tersenyum kepadanya.


Dian melihat wajah sendu putrinya, senyumnya mulai memudar melihat manik mata putrinya yang terlihat kesedihan.


" Apa ada sesuatu yang Rissa sembunyikan dari Papa?." tanya Dian.


Rissa yang mendengar pertanyaan Ayahnya, Ia memalingkan wajahnya dan mengusap bulir bening di sudut matanya. Ia tak ingin Ayahnya mengetahui kesedihannya dengan cepat Ia menyangkal tentang dirinya yang sedang bersedih.


" Haa? Nggak kok Pah! Oh iya, Mama udah tidur ya Pa?." tanya Rissa mengalihkan topik pembicaraan mereka.


Dian terdiam, tidak bisa menjawab pertanyaan putrinya. Rissa yang melihat Ayahnya tidak menjawab pun merasa ada sesuatu yang Ia tidak tahu.


" Apa Mama baik-baik saja Pah?." tanya Rissa lagi yang semakin penasaran tentang Ibunya.


" Mama, Mama menyerahkan dirinya ke kantor polisi Sa!." ucap Dian.


" Apaa?." Rissa terkejut, terlihat air mata keluar dari sudut matanya." Kok bisa Pah? Hiks hiks Maa!." ucap Rissa dengan meluapkan kesedihannya.


" Sssttt, Mama meminta agar Rissa jangan bersedih. Sayang, ini sudah menjadi keputusan Mama sayang." ucap Dian mendekap tubuh putrinya yang sedang menangis.


" Kasihan Mama Pah! Mama bakal tidur di tempat yang jorok, nggak punya AC, makanan enak, kedinginan dan yang lainnya Pah. Mama nanti bakal sakit Pah!." ucap Rissa.


" Tenang sayang, Papa yakin Mama bisa Sa!. Doain Mama bisa bersabar melalui ujian ini, Mama sudah tega melenyapkan Anna yang tidak pernah membencinya" ucap Dian meyakinkan putrinya.


" Apa Papa marah sama Mama?."


" Papa pasti marah dan kecewa sama Mama, tapi apa dengan amarah Mama bisa memutar kembali waktu dan mengembalikan nyawa mereka?." ucap Dian.


" Tidak Pah!." Ucap Rissa dengan suara parau mendengar ucapan Ayahnya. Benar apa yang di katakan Ayahnya bahwa Ibunya sudah melakukan kejahatan yang sudah melenyapkan Adik tiri dan sang supir, pikirnya.


" Biarkan Mama menyesali perbuatannya yang selama ini dia lakukan terhadap Anna." ucap Dian kearah putrinya.


" Iya Pah!." ucap Rissa.


" Sudah mau gelap, ayo kita masuk." ucap Dian mengajak putrinya. Rissa mengangguk sesaat mendengar ajakan Ayahnya untuk masuk ke rumah.


" Rissa sudah makan?." tanya Dian sambil merangkul putrinya melangkah ke dalam rumah mereka.

__ADS_1


" Belum Pah!." ucap Rissa baru teringat belum makan semenjak dari siang tadi.


" Ya sudah kita makan dulu, panggil Kakak kamu. Papa tunggu di meja makan." ucap Dian.


" Iya Pah!." ucap Rissa yang kemudian mereka berpisah, Rissa yang menuju ke lantai atas menuju kamar Kakaknya dan Ayahnya menuju ke meja makan.


Beberapa saat kemudian,mereka bertiga sedang makan malam namun di meja makan terlihat hening tanpa pembicaraan apapun. Dian melihat kedua Anaknya yang hanya diam Ia mulai berpikir untuk membuat kedua anaknya untuk tidak selalu larut dalam kesedihan.


" Rissa, kenapa makanannya hanya di aduk-aduk saja? Ayo makan." ucap Dian.


" Iya Pah." ucap Rissa mencoba memasukan makanan ke dalam mulutnya.


" Bram." ucap Dian.


" Iya Pah!." ucap Bram juga yang mulai menyendok makanan.


" Kalian nggak mau kan melihat Mama sedih melihat kalian seperti ini? Jadi Papa harap kalian makan ya!." ucap Dian.


Kedua anaknya menganggukkan kepala sesaat dan mulai makan tanpa berbicara lagi. Dian yang melihat kedua anaknya yang sedang makan Ia tersenyum lega dan kembali menyendok makanan ke dalam mulutnya.


🌳🌳🌳


Beda dengan tempat kediaman Prabu yang kini sedang menunggu kedatangan Dokter Eris, sebuah mobil memasuki halaman kediaman Prabu. Terlihat sosok wanita yang cantik dengan memakai dres berwarna maron sedang keluar dari mobil miliknya. Ia berjalan ke rumah besar itu, terlihat sepasang suami istri menyambutnya siapa lagi kalau bukan tuan rumah besar itu.


" Waalaikum salam Eris." ucap mereka bersamaan membalas salam Eris." Ayo masuk Nak." ucap Vina mengajak Dokter Eris masuk ke dalam rumahnya.


Setelah di persilahkan untuk duduk, Eris pun di suguhkan dengan minuman dan cemilan. Vina dan Prabu sudah menganggap Eris seperti anak mereka, walaupun dalam hati mereka ingin menjodohkan dengan Eris dengan putranya. Namun, Dokter Eris selalu menolaknya karena Ia masih mencintai seseorang dan berharap bisa bertemu dengannya kembali.


" Silahkan di minum Nak Eris." ucap Vina.


" Ya Tante." balas Eris meraih segelas jus yang terletak di atas meja di hadapannya dan Eris pun meminumnya. Setelah minum minumannya Eris kembali meletakan gelas itu di meja.


" Nak, Om langsung saja ya?." ucap Prabu.


" Ya Om." ucap Eris.


" Begini Nak Eris, Om mau bertanya, apa Gladis saudara kandung Nak Eris?." tanya Prabu dengan hati-hati. Eris terkejut dengan pertanyaan Omnya kepadanya yang ternyata di luar pikirannya yang sempat mengira bertanya tentang kesehatannya.


" Apa Om dan Tante mengenal Gladis?." balik tanya Eris yang belum memberi jawabannya.


" Begini Nak Eris, Tante dan Om merasa kenal. Jadi, menanyakan sama Nak Eris apa benar Gladis bukan adik kandung kalian?." ucap Prabu.


" Bukan, Gladis adalah wanita yang di temukan Reya dan_."ucapan Eris terhenti melihat raut wajah keduanya.

__ADS_1


" Dan apa?." tanya mereka serempak yang penasaran kelanjutannya.


"Hilang ingatan."ucap Eris bersuara kecil namun masih di dengar oleh Prabu dan Vina.


" Jadi? Anna kehilangan ingatan?." tanya Prabu yang penasaran tentang Anna.


" Anna?." tanya Eris ke arah keduanya.


" Hhmm begini Nak Eris." ucap Prabu tapi kembali Istrinya bersuara ke arah Eris.


" Dokter, lanjutkan ceritanya soal pertanyaan tadi kami bisa menjawabnya kembali setelah mendengar tentang gadis itu." ucap Vina ke arah Eris.


" I_iya Tante." ucap Eris.


Akhirnya Eris pun menceritakannya walaupun sebagian sudah di ketahui Prabu dan Vina. Tapi mereka ingin mendengar lebih jelasnya tentang peristiwa itu dan kenapa Gladis sudah tidak memakai topeng lagi yang ternyata Eris sudah mengoperasi wajah Gladis menjadi gadis yang sangat cantik.


" Begitu Tante, Om." ucap Eris setelah menceritakan semua tentang Gladis.


" Pah! Anna hilang ingatan, apa mungkin Anna bisa mengingat kembali Anak kita Pah?." tanya Vina yang terlihat sedih setelah mendengar keadaan Anna yang saat ini.


" Papa yakin Anna bisa mengingat Aiden kembali tapi kita harus menyusun rencana untuk mendekati mereka." ucap Prabu.


" Anna?." tanya Eris.


" Eh? Hmm begini Nak Eris. Gladis yang di temukan Nak Reyya adalah menantu kami yang bernama Anna." ucap Prabu.


" Begini_." ucap Prabu yang bercerita tentang Anna menantu mereka dan memperlihatkan bukti-bukti yang sudah dia dapatkan dari suruhannya.


" Jadi?." ucap Eris yang begitu terkejut.


" Iya Nak Eris, kami mohon bantuan Nak Eris untuk mengembalikan ingatan Anna agar dia bisa mengingat kembali Aiden dan keluarganya." ucap Prabu.


" Caranya Om?." tanya Eris.


Prabu mendapatkan ide untuk mendekatkan putranya dan mengembalikan ingatan Anna. Hingga mereka bertiga menyusun rencana agar keduanya kembali bersama.


" Apa ini bisa berhasil Pah?." tanya Vina ke arah suaminya.


" Papa yakin rencana kita pasti berhasil." ucap Prabu meyakinkan istrinya.


" Okelah kalau gitu. Semoga rencana kita berjalan baik dan berhasil." ucap Vina.


" Aamiiin." ucap Prabu dan Eris serempak.

__ADS_1


__ADS_2