Si Gadis Cantik Bertopeng

Si Gadis Cantik Bertopeng
103


__ADS_3

" Aku_"


" Hahaha... Ris kenapa sih serius banget? Aku hanya mengikuti dramamu saja, jawabanku membuat kamu baper banget." ucap Bram di sela-sela tawanya melihat wajah Eris yang terlalu serius mendengar jawabannya.


Eris mendengarpun seketika lemas dengan ucapan Bram, Ia mengira jawaban Bram barusan benar adanya. Ternyata, hanyalah drama Bram saja. Hatinya begitu sakit mendengar jawaban Bram barusan.


Melihat wajah Eris yang berubah sendu membuat Bram berhenti tertawa dan kembali berucap." Jangan sedih, banyak kok laki-laki tampan di luar sana yang bisa mendapatkan hatimu itu. Buat apa kamu susah-susah menunggu pria yang tak pernah memandang hatimu sebentar saja. Ris! Kamu cantik,kamu juga seorang dokter lagi apa sih yang kurang dari kamu? Aku yakin pasti pria itu akan menyesal nanti menolak gadis secantik kamu." ucap Bram panjang lebar untuk mencoba menghibur Eris.


Eris mendongakkan wajahnya menatap Bram." Bagaimana kalau laki-laki yang aku cintai adalah kamu?." ucap Eris dengan gugup menunggu jawaban Bram.


" Haa??..."


" Kak Eris!!." ucap suara keras seseorang dari arah pintu membuat mereka berdua terkejut.


" Reya!." ucap Eris bangkit dari duduknya menatap adiknya yang sedang melangkah ke arah mereka.


" Kak, yuk balik!." ajak Reya sambil menarik lengan kakaknya yang tidak menghiraukan keberadaan Bram.


🌳🌳🌳


" Apa maksud Papa?." tanya Aiden dengan suara keras.


" Minggu ini kalian harus menikah dan besok pagi ada jumpa pers kalian harus mengumumkan pernikahan kalian." ucap Prabu dengan tegas.


" Apa?." ucap Aiden yang begitu terkejut dengan keputusan ayahnya tanpa bertanya pendapatnya.


" Maaf Pah!." ucap Aiden meninggalkan mereka yang hanya bisa menatapnya.

__ADS_1


" Lihat putramu yang tidak ada sopan santunnya." ucap Prabu ke arah istrinya yang hanya diam tanpa memberi tanggapan.


🌳🌳🌳


Suara bising kenderaan yang berlalu lalang membuat seorang gadis yang sedang tertidur pulas di ranjangnya terbangun. Ia mengucek kedua matanya yang penglihatannya masih buram, Ia bangkit dari tidurnya dan mengambil remot TV. Seketika Ia begitu terkejut melihat ke arah layar TV yang menayangkan orang-orang yang sangat dia kenal.


Gadis itu begitu tercengang mendengar yang di katakan laki-laki mantan calon mertuanya itu. Ia segera mematikan TV, kedua telapak tangannya menutup wajahnya yang sudah berlinang air mata. Begitu terluka hati gadis itu, Ia selalu mencoba menutupi sakit hatinya dari orang lain. Andai orang tahu, hati gadis itu begitu terluka di sakiti oleh orang yang begitu sangat dia cintai.Ia selalu mencoba menutupi suara tangisannya yang begitu meyayat hati mendengarnya.


Setelah beberapa menit berlalu, gadis itu bangkit dari ranjangnya menuju ke arah kamar mandinya. Ia memandang wajahnya di hadapan cermin, melihat kelopak matanya bengkak akibat menangis.


" Aku nggak boleh menangis, hanya gara-gara pria itu." ucapnya di sela-sela air matanya kembali jatuh.


" Kau pria brengsek kak Ai, hiks..hiks..hiks.. Kenapa kau melukaiku?." ucap gadis itu yang bernama Anna.


Gadis itu kembali menangis mengingat kenangan manisnya bersama Aiden. Di tempat berbeda, namun masih serumah seorang pria begitu terkejut setelah melihat layar ponselnya yang menayangkan dua orang yang sangat dia kenal. Ia bangkit dari duduknya ingin melangkah pergi, akan tetapi seseorang menghentikannya.


" Pah! Baca ini." ucap Bram sambil menyerahkan ponsel ke arah ayahnya.


" I_ini?." ucap Ayahnya terbata-bata karena terkejut.


" Bram, ingin lihat Anna dulu Pah! Bram nggak ingin Anna melihat berita ini." ucap Bram.


" Ya sudah, temui adikmu." ucap Ayahnya kembali menyerahkan ponsel putranya.


" Ada apa?." tanya seseorang yang baru saja datang. Mereka berdua menoleh ke arah pria itu.


" Leo".

__ADS_1


" Om".


" Ada apa? Kalian berdua begitu tegang?." tanya Leo melihat raut wajah keduanya yang sedang mencemaskan sesuatu.


" Begini_."


" Papa, ayah, Anna mau menikah dengan Kak Bram." ucap seorang gadis yang berdiri di atas tangga.


Mereka bertiga menoleh ke arah gadis itu setelah mendengar keputusannya.


" Benarkah?". tanya Dian memandang putri angkatnya itu.


" Iya Pah." jawab Anna sambil mengangguk.


" Akhirnya." ucap ayah Anna sambil memeluk keduanya bergantian.


Dari jauh, seorang gadis berlinangan air mata mendengar ucapan Anna.


" Kak Ris, kenapa hanya berdiri di sini? Ayo!." ajak Reya yang baru saja menyusul mereka berdua.


Eris mengusap air matanya menyembunyikan kesedihan dari adiknya itu. Reya yang peka menoleh ke arah kakaknya itu." Kak, ada apa?." tanya Reya.


" Selamat Bram, gimana kalau pernikahan ini di percepat?." tanya Dian membuat Reya menoleh ke arah mereka.


Reya menoleh ke arah Kakaknya yang kembali mengusap air matanya. Ia mengerti kenapa kakaknya menangis. Eris berbalik ingin meninggalkan tempat itu.


" Eris!!." panggil seseorang.

__ADS_1


__ADS_2