Si Gadis Cantik Bertopeng

Si Gadis Cantik Bertopeng
Jadi Dia Bukan Anna?


__ADS_3

Di pagi yang begitu sejuk di kediaman Prabu yang begitu banyak tanaman menghias pekarangan rumahnya. Burung-burung berkicau dan berterbangan di kediaman itu hingga membuat suasana tempat itu terlihat begitu indah.


Seseorang menuruni anak tangga menuju ke arah meja makan yang sudah terlihat Ibu, Ayah dan juga Adiknya yang sedang sibuk dengan ponselnya.


" Pagii!." ucapnya menyapa mereka yang berada di sana.


" Pagi Boy." ucap sang Ayah.


" Pagi sayang, anak mama makin tampan." ucap sang Ibu tersenyum ke arah putra pertamanya yang sedang mendekati mereka.


" Pagi Bang." ucap sang Adik sambil menyimpan ponselnya.


" Terimakasih Mah!." ucapnya yang senang di puji oleh ibunya.


" Cih, biasa aja kok Mah!." ucap sang Ayah yang kesal mendengar pujian istrinya ke arah putra pertama mereka.


" Pah! Sayang mau makan apa? Bii, nasi goreng apa roti?." tanya Ibunya ke arah kedua putranya.


" Aku Roti aja Ma." ucap Putra pertamanya.


" Aku juga di samain sama abang." ucap putra keduanya. Ibunya pun mengangguk dan mengambil sepotong roti di olesi selai, setelah itu di letakkan ke piring putranya. Ia melakukan hal sama kembali atas permintaan putra keduanya.


" Papa mau makan apa?." tanya Istrinya ke arah suaminya.


" Samain sama Mama." ucap sang suami ke arah Istrinya dan di balas dengan anggukan kecil.


" Oh ya Aiden, Papa minta kamu ke rumah sakit temui Dokter Eris untuk meminta hasil pemeriksaan Papa kemarin soalnya Papa lupa membawanya paling tertinggal di meja Dokter Eris." ucap Prabu.


Aiden menoleh ke arah Ayahnya, nggak biasanya Ayahnya menyuruh ke rumah sakit hanya untuk mengambil hasil pemeriksaan. Paling Ayahnya menyuruh anak buahnya mengambil atau Dokter Eris yang datang mengantarnya. Aiden yang masih nampak melamun di kagetkan dengan panggilan Ayahnya.


" Den!." panggil Prabu.


" Ah! Hmm... kenapa bukan Abi yang ambil Pah atau suruh yang lain saja?." tanya Aiden.


" Abi ada rapat penting pagi ini, dan yang lainnya ada tugas penting yang Papa perintahkan kepada mereka. Jadi, satu-satunya hanya kamu yang bisa Papa suruh Son!." ucap Prabu tegas.


" Pah!." ucap Aiden.


" Sayang, hanya mengambil kan bukan menyuruh kamu lama-lama di sana?." ucap Ibunya.


" Iya Ma!." ucap Aiden yang tidak bisa menolak permintaan Ibunya." Aku harap Papa sama Mama nggak ada rencana apapun untuk menjodohkan Aku dengan Dokter Eris karena di hatiku hanya Anna seorang." ucap Aiden.


Uhuuk uhuk uhuk

__ADS_1


" Bii, ini airnya sayang." ucap sang Ibu langsung memberikan gelas air ke arah putranya yang tersedak.


" Makasih Ma." ucap Abi setelah meminum air dan batuknya reda.


" Sama-sama sayang, pelan-pelan makannya." ucap Ibunya.


" Kau nggak apa-apa Son?." tanya sang Ayah ke arah putra kedua mereka yang bernama Abian.


" Iya Mah, nggak apa-apa Pah" ucap Abi.


" Kau baik-baik saja kan?." tanya sang Kakak yang di sampingnya.


" Nggak apa-apa bang." ucap Abi.


" Ya sudah kita lanjut makan, nanti obrolannya kita lanjutkan setelah sarapan.


Setelah beberapa menit mereka pun telah usai sarapan, Abi berpamitan pergi meninggalkan mereka bertiga dan di susul sang suami juga pamit pergi ke kantor.


" Den, Papa tunggu di kantor." ucap Prabu sebelum dia berpamitan ke arah Istrinya.


" Ma, Aku juga pamit ya Ma!." ucap Aiden berpamitan.


Setelah melihat mobil Aiden meninggalkan kediamannya, Vina langsung merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya. Ia nampak menghubungi seseorang.


" Hallo, Assalamu alaikum." ucap seseorang dari sebrang ponselnya.


" Baik Tante." ucap suara sang gadis. Kemudian Vina memutuskan obrolan mereka di ponsel.


" Semoga berhasil." batinnya.


Di tempat lain, gadis yang baru saja menerima panggilan dari seseorang nampak menoleh ke arah gadis yang sedang duduk di sofa yang tidak jauh darinya. Gadis itu sedang membaca buku yang di berikan Eris kepadanya.


" Gladis." panggilnya.


" Ya Mba." balas gadis itu menoleh ke arah Kakaknya. Ia bangkit melangkah mendekati Kakaknya yang sedang menatap padanya.


" Mba, ada jadwal operasi pagi ini, bila nanti ada pasien yang datang mencari Mba, kasihkan ini padanya."ucap Kakaknya menyerahkan sebuah amplop ke arah Adiknya.


" Iya Mba." ucapnya.


" Ya sudah Mba pergi dulu." ucap Eris meninggalkan Gladis sendirian di ruangannya.


Beberapa menit kemudian terdengar ketukan dari pintu ruangan itu seseorang dari luar sedang mengetuk, Gladis menoleh ke arah pintu itu dan bangkit menuju membukakan pintu. Gladis meraih handel pintu dan membukanya, nampak seorang pria yang sedang membelakanginya yang sedang mengobrol salah satu perawat yang berada di rumah sakit itu.

__ADS_1


Mendengar suara pintu di buka, pria itu berbalik ke arah pintu yang sudah di buka oleh seorang wanita cantik. Alangkah terkejutnya Ia melihat gadis itu yang nampak tersenyum kepadanya.


" Silahkan masuk." ucapnya mempersilahkan Pria tampan untuk masuk.


Namun, ucapan gadis itu tidak di dengarnya karena masih sibuk menatap gadis yang sangat dia rindukan. Tanpa membuang waktu Ia menghambur memeluk gadis itu, alangkah terkejut gadis itu mendapatkan pelukan dari pria asing yang baru saja di kenalnya. Gadis itu meronta-ronta di pelukan pria itu.


" Sayang, aku sangat merindukanmu." gumam pria itu yang masih di dengar Gladis.


Dengan sekuat tenaganya Gladis melepaskan tubuhnya dari pelukan Pria asing yang tidak di kenalnya itu. Setelah terlepas, Gladis berbalik dan menampar Pria itu yang sudah lancang memeluknya.


Plaaakkhh


" Pria brengsek." bentak Gladis kearah pria itu yang sedang mengelus pipinya yang di tampar Gladis.


Pria itu sadar melihat gadis yang telah menamparnya nampak bukan sosok yang dia cari. Wajah gadis itu nampak sempurna tidak ada bekas luka di bagian pipinya yang biasanya tertutup oleh sebuah topengnya.


" Maaf saya salah orang." ucap pria itu yang nampak kecewa dan merasa bersalah.


Gladis yang mendengar ucapan maaf dari pria itu nampak juga merasa telah bersalah sudah tega menampar pria itu.


" Saya juga minta maaf." ucap Gladis.


Pria itu menganggukkan kepalanya menerima maaf gadis di hadapannya. Hatinya merasa yakin gadis ini pujaannya tapi kenapa gadis di hadapannya tidak mengenalnya." pikirnya.


" Silahkan duduk." ucap Gladis mempersilahkan pria di hadapannya untuk duduk di kursi sofa.


" Apa sakiit?." tanya Gladis.


" Sedikit." ucapnya.


" Bentar ya? Aku ambilkan salepnya." ucap Gladis.


" Nggak usah, ini sudah meningan." ucapnya.


" Sudah mendingan apanya terlihat banget tangan saya di pipi hhmm..nama anda siapa?."


" Nama saya Aiden." ucap Aiden.


" Aku Gladis." ucapnya memperkenalkan dirinya.


"Gladis? jadi dia bukan Anna?." batin Aiden yang masih menatap gadis di hadapannya.


Gladis mengambil salep dan di olesi kebagian wajah Aiden yang sedang memerah akibat tamparannya.

__ADS_1


*Auu


" Sakiit*?."


__ADS_2