Si Gadis Cantik Bertopeng

Si Gadis Cantik Bertopeng
19


__ADS_3

Plaakhh


Pipi Ana memerah dan terpampang jelas bekas tamparan Jenie.


" Nyonya, apa salah saya?" ucap Ana yang bingung dan matanya mulai mengeluarkan bulir-bulir air mata. Seingatnya Ia tak pernah lalai dalam pekerjaannya. Tapi kenapa, Jenie sangat marah dan menamparnya.


" Kamu mau tanya, apa salah kamu? Salah kamu tuh sudah hidup di keluarga saya." ucap Jenie yang sangat marah sambil menjewer telinga Ana.


" Aduh sakit Nyonya" ucap Ana yang kesakitan.


" Apa katamu, sakit? Sini kamu." ucap Jenie sambil menarik tangan Ana ke dalam ruangan.


Jenie mendorong Ana ke lantai dan mengambil sesuatu dari arah luar. Ana yang melihat Jenie yang ke luar begitu gugup. Ana begitu takut karena merasakan kembali siksaan dari Jenie. Jenie kembali dan membawa sesuatu yang membuat Ana ketakutan.


" Nyo_Nyonya ampun" ucap Ana yang mulai menetaskan air matanya sambil memundurkan tubuhnya.


" Aku sudah katakan padamu jangan pernah mengambil apa yang di sukai Rissa? Kalau nggak kamu merasakan benda ini kembali" Ucap Jenie.


" Aaku mengambil apa Nyonya? Aaku tak pernah merampas apa yang di sukai Kak Rissa" ucap Ana yang berusaha membela.


" Oh kamu nggak merasakan apa yang kamu ambil dari Rissa? Kamu nggak tau ya Aiden itu pacar Rissa anakku?" bentak Jenie.


Cetaaarr

__ADS_1


" Aakkhhh, sakit Nyonya" ucap Ana yang kesakitan karena cambukan yang mengenai punggung belakangnya.


" Apa kamu bilang, sakit? Anakku yang sakit gara-gara kamu. Rasakan sakit hati anakku ini" bentak Jenie.


*Cetaarr


Cetaar


Cetaarrr


" Aakhh hiks hiks" tangisan Ana*. Punggung Ana yang terkena cambukan terlihat darah keluar.


" Sakiitt" ucap Ana yang mulai melemah.


" Bram " ucap Jenie yang kaget karena keberadaan Bram.


" Apa yang mama lakukan sama Ana? Mama bisa masuk penjara karena mama melakukan kekerasan sama Ana." bentak Bram yang mendekati Jenie.


" Bram, kamu nggak tahu? Anak ini sudah menyakiti Adik kamu" bentak Jenie yang tak mau kalah dari Bram.


" Apa yang Ana lakukan sama Rissa? Yang aku tau Rissa tak ingin kalah dari Ana. Ana nggak pernah melukai Rissa, justru Rissa yang melukai Ana ma." ucap Bram.


" Bram, kenapa kamu selalu membela anak haram ini dari pada adik kamu? Kamu kenapa cuma sayang sama anak ini di banding Rissa adik kandungmu?" bentak Jenie.

__ADS_1


" Aku membelanya karena aku tau sifat Rissa dari kecil Ma. Aku hanya membela yang benar bukan membela yang semena-mena sama Ana." ucap Bram.


" Benar apanya Bram? Gara-gara dia datang di keluarga kita, keluarga kita jadi kayak gini" ucap Jenie.


" Bukan salah Ana Ma, ini sudah takdir Allah. Mama harus menerimanya." ucap Bram.


" Terserah apa yang kau katakan Bram, yang pasti gara-gara dia,hidup kita hancur." ucap Jenie melangkah pergi meninggalkan Bram yang tak ingin lagi bertengkar dengan anaknya.


Bram memandangi kepergian Ibunya yang ingin Jenie sadar tentang perlakuannya salah selama ini terhadap Ana.


" Aakhh sakiitt" gumam Ana sambil mencoba berdiri. Bram pun melirik ke arah Ana dan langsung membantu Ana berdiri.


" Ma'afin mama ya Ana" ucap Bram yang begitu sedih melihat keadaan Ana yang terluka.


" Aku sudah ma'afin mama sebelum Kak Abra minta maaf" ucap Ana sambil mendudukan pantatnya di atas ranjang.


" Kamu nggak marah sama Mama?" tanya Bram yang begitu kaget atas ucapan Ana yang tak membenci Ibunya.


" Nggak Kak, aku justru bersyukur Allah masih memberikan aku seorang Mama walaupun hanya seorang Ibu tiri. Ana masih bisa merasakan kasih sayang orang tua. Kak Abra nggak tau apa? di luar sana banyak anak yatim piatu yang tak pernah merasakan kasih sayang orang tua seperti apa. Jadi, Kak Abra harus bersyukur karena masih punya mama sama papa yang sayang sama Kak Abra." Ucap Ana..


Abra yang mendengar ucapan Ana, begitu terharu.Hingga, tanpa di sadarinya ada bulir-bulir air mata yang keluar dari matanya.


" Andai Mama lihat Ana begitu menyayangimu Ma, hatinya begitu lembut tanpa ada dendam. Mama dan Rissa selalu kejam padanya. Tapi lihat Ana Ma, walaupun kalian begitu kejam dan menyiksanya, Ana selalu memaa'fkan kalian. Ya Allah apa jadinya, kalau aku yang berada di posisi Ana. Mungkin aku tak kan kuat dan baik terhadap orang-orang yang jahat padaku. Semoga suatu saat nanti ada kebahagiaan yang menantimu Ana, Kakak selalu berdoa yang terbaik untukmu." Batin Bram sambil memandangi Ana..

__ADS_1


__ADS_2