Si Gadis Cantik Bertopeng

Si Gadis Cantik Bertopeng
Gladis masuk Ruang UGD


__ADS_3

" Sangaaat." ucap Aiden.


" Maaf." ucap Gladis yang kemudian meniup pipi Aiden. Gladis yang semakin dekat dengan wajah Aiden nampak jantungnya berdetak kencang seperti Ia sedang berdekatan dengan Anna.


Deg deg deg


Terdengar suara jantungnya membuat Aiden bersemu merah ketika Gladis menatap ke arah matanya. Pandangan mereka bertemu seakan Gladis mengenal wajah ini tapi di mana?" pikirnya yang mulai melayang.


Deg deg deg


Jantung Gladis pun berdetak seakan Aiden adalah cinta pertamanya yang sudah lama Ia rindukan, tapi kenapa Ia tak ingat dengan wajah ini? pikiran Gladis yang masih saja melayang.


Tiba-tiba bayangan itu kembali menyerangnya seorang pria yang sedang memasang cincin di jari manisnya yang di hadiri banyak orang. Namun bayangan itu masih gelap belum begitu terlihat wajah mereka. Gladis menggelengkan kepalanya untuk membuang bayangan itu. Ia takut kembali di serang sakit kepala, Aiden yang melihat itu merasa ada sesuatu.


" Apa kau baik-baik saja?." tanya Aiden melihat Anna memundurkan wajahnya.


" Iya, saya baik-baik saja, is okey." ucapnya.


" Apa masih sakit?." tanya Gladis balik.


" Sudah meningan, tamparanmu seperti tamparan tangan raksasa saja." ucap Aiden.


" Maaf, kita tidak saling mengenal kau tiba-tiba saja memelukku. Membuat aku begitu terkejut dan sampai menamparmu." ucap Gladis.


" Hehehe aku juga minta maaf, kau mengingatkanku pada seseorang." ucap Aiden.


" Seseorang?." tanya Gladis.


" Ya, tunanganku." ucapnya.


" Tunangan? Hmm..maaf aku sepertinya banyak bertanya seperti detektif saja. Aku lupa kau kesini pasti mau bertemu dengan Dokter Eris?."


" Iya, mau mengambil hasil laporan pemeriksaan Ayahku." ucap Aiden.


" Oh, mungkin amplop itu, sebentar saya ambilkan." ucap Gladis yang ingin melangkah tiba-tiba terhenti mendengar suara dering ponsel Aiden.


Dari jauh terlihat sebuah kamera sedang mengintai gerak-gerik mereka berdua tanpa mereka sadari. Dan ternyata kamera itu adalah CCTV terhubung dengan dua orang parubaya yang sedang menonton mereka seperti adengan film-film.


" Nggak seru Ma, pemeran utamanya nggak kenal sama pujaannya." ucap sang suami siapa lagi kalau bukan sang sutradara yang menyusun rencana mereka yaitu Prabu.

__ADS_1


" Pah sabar, ini baru awal." ucap Istrinya.


Melihat Aiden setelah menerima telfon pergi begitu saja tanpa berpamitan kepada Gladis membuat sepasang suami istri itu nampak terkejut.


" Pah, kenapa sama Aiden?." tanya Istrinya ke arahnya.


" Papa nggak tau Ma." ucap Prabu yang juga tidak tahu apa-apa.


" Yah kalau gitu bersambung dong!." ucap Vina.


" Ayo kita lanjutkan." ucap Prabu bangkit dari duduknya.


" Kemana?." tanya sang istri menatap ke arah suaminya.


" Ketempat tidur." ucap Prabu yang langsung menggendong istrinya.


" Papa ini masih pagi, nggak mau balik ke kantor kah? Nanti Aiden ngamuk lo!." ucap Vina.


" Kalau soal ini nggak mengenal pagi siang malam, Aiden nggak bakal ngamuk kok Ma! Papa kan bosnya." ucap Prabu yang meletakan Istrinya di ranjang. Sebelum istrinya menjawab ucapannya Prabu langsung membungkam istrinya dengan bibirnya. Akhirnya adegan itu di lanjutkan dengan panas-panas berkeringat di atas ranjang.


Kembali ke tempat di rumah sakit Aiden yang sedang berjalan di lorong-lorong rumah sakit kembali terhenti. Sebelumnya Ia mendapatkan telfon dari Asistennya yang ternyata memberitahukan atas penyeledikannya tentang Anna yang ternyata Dokter Eris lah yang sudah menolongnya.


Dalam percakapan mereka, sang Asisten memberi tahu bahwa Dokter Eris melakukan operasi wajah terhadap Anna dan yang paling di kejutkan Anna telah kehilangan ingatannya. Tanpa berbicara Aiden memutuskan obrolan mereka di ponselnya tanpa berpamitan kepada Gladis yang sedang menatapnya Ia meninggalkannya begitu saja.


Tapi di sana tidak terlihat dokter Eris membuat Aiden semakin gelisah, tiba-tiba dokter Eris keluar dari ruangan itu yang terlihat begitu kelelahan. Eris menoleh ke arah seseorang yang sedang berdiri menatapnya yang tidak jauh darinya.


" Kak Aiden." sapa Eris.


Aiden yang terlihat begitu dingin saat bertemu dengan orang lain kecuali keluarganya atau orang yang paling di dekatnya.


" Apa kau tidak lelah? Aku ingin berbicara denganmu." ucap Aiden.


" Tidak, apa ada sesuatu?." tanya Eris.


" Kita cari tempat yang aman untuk mengobrol." ucap Aiden.


" Baik, kita ke atap saja." ucap dokter Eris. Aiden menganggukan kepalanya tanda setuju, mereka berdua melangkah ke tempat tujuan yang aman.


Di tempat lain tapi masih satu atap, nampak seorang gadis mondar-mandir bagaikan setrika sedang menunggu kedatangan pria itu kembali. Karena pria itu melupakan amplopnya, lima menit yang lalu setelah pria itu menerima telfon pergi begitu saja tanpa berpamitan padanya.

__ADS_1


"Ais, kenapa aku gelisah menunggu pria itu kembali?." ucap Gladis bertanya tentang dirinya.


" Sudah lah, dia bukan siapa-siapa aku kenapa musti menunggunya? Tapi kenapa hatiku sedih seakan begitu merindukannya." ucap Gladis.


Tiba-tiba bayangan itu kembali menyerangnya, Ia berusaha mengingat pria itu namun nampak tidak berhasil sehingga dengan sekuat tenaganya ia ingin mengingatnya. Tetapi Ia tidak berhasil karena kembali di serang sakit kepalanya.


" Aahh sakiitt!." ucapnya yang sedang histeris sambil memegang kepalanya.


" Sakiit, tolooong." teriak Gladis.


" Aah sakiiiiiitt." teriaknya menahan rasa sakit.


Salah satu perawat yang mendengar teriakan seseorang dari luar segera membuka ruangan dokter Eris. Terlihat Gladis yang sedang histeris menahan sakit.


" Nona Gladis." panggilnya melihat Gladis yang di kenalnya.


" Toloong." teriaknya meminta bantuan kepada teman lainnya. Beberapa perawat lari keruangan dokter Eris setelah mendengar teriakan salah satu temannya yang membantu Gladis.


Gladis yang sudah tidak kuat menahan rasa sakit di kepalanya membuatnya jatuh pingsan. Perawat lainnya langsung membawanya ke ruang inap dan memanggil salah satu Dokter memeriksa Gladis.


Salah satu teman Eris mencarinya, namun tak kunjung bertemu dengannya. Ia bertanya keperawat lainnya tetap saja tidak ada yang tahu, baru saja teringat ada seseorang berjalan dokter Eris menuju ke lantai atas. Tanpa menunggu lama Ia melangkah menuju ke lantai di mana dokter Eris berada.


Dokter Eris dan Aiden pun telah sampai tanpa basa basi Aiden bertanya yang ada di dalam benaknya.


" Apa dokter Eris yang menemukan gadis yang kecelakaan di tiga bulan yang lalu?." tanya Aiden yang nampak tidak memalingkan wajahnya ke arah Eris.


" Aku_." ucap Eris terhenti saat pintu terbuka.


Nampak seorang pria yang di kenalnya nampak terburu-buru berlari ke arahnya." Eris." panggilnya saat melihat Eris berdiri menoleh ke arahnya.


" Ada apa?." tanya Eris yang terlihat begitu terkejut.


" Gladis, Ris!." ucap Pria itu.


Aiden dan Eris pun terkejut mendengar nama yang di ucapkan pria itu. Eris yang melihat gelagat temannya yang seperti ada sesuatu yang terjadi.


" Gladis." gumam Aiden.


" Kenapa dengan Gladis?." tanya Eris yang begitu cemas.

__ADS_1


" Gladis masuk ruang UGD." ucapnya.


" Apaaa?." ucap mereka serempak begitu terkejut.


__ADS_2