Si Gadis Cantik Bertopeng

Si Gadis Cantik Bertopeng
Kau Adalah Anna Tunanganku


__ADS_3

" Anna?." ucap Rissa menoleh ke arah di mana mata Bram tertuju, namun yang di lihat Rissa tak ada siapapun di sana.


Bram yang melihat sosok yang mirip wajah Adiknya bangkit untuk mengejar orang itu. Namun baru beberapa langkah saja, Ayahnya memanggilnya yang berdiri di ambang pintu di saat Ia sudah keluar dari ruangan kamar rawat Istrinya.


" Bram." panggil Dian melihat putranya.


Bram menoleh ke arah Ayahnya yang sedang menatapnya, Rissa mendekati Ayahnya setelah melihatnya.


" Mau kemana Bram?." tanya Ayahnya.


" Nanti aku kembali Pah!." ucap Bram kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan mereka yang masih berdiri di posisinya.


" Kakak kamu kenapa Sa?. " tanya Ayahnya ke arah Rissa.


" Entah Pa! Tadi sempat Rissa dengar Kakak menyebut nama Anna." ucap Rissa" Oh iya bagaimana keadaan Mama Pah?." tanya Rissa.


" Anna?" tanya Dian, dan di balas anggukan Rissa." Alhamdulillah,keadaan Mama sudah membaik." ucap Dian.


" Alhamdulillah, Rissa ingin menengok Mama dulu Pah!." ucap Rissa.


" Ya sudah, tapi jangan lama-lama ya?." ucap Dian.


" Iya Pah! Lex, aku masuk dulu." ucap Rissa.


" Ya Non." ucap Alex yang tidak jauh darinya.


Rissa pun masuk kedalam ruangan di mana Ibunya sedang terbaring, mendengar suara pintu yang di bukakan seseorang Jenie menoleh ke arah pintu itu. Terlihat putrinya Rissa sedang menatapnya yang terlihat sedih.


" Mama, Rissa merindukan Mama." ucap Rissa mendekati ranjang Jenie dan memeluk Jenie yang terbaring.


" Mama juga merindukanmu sayang." ucap Jenie matanya mulai berembun melihat putrinya.


" Maafkan Mama sayang, Mama bukan Ibu yang baik buat kalian." ucap Jenie lagi yang masih memeluk putrinya.


Rissa mendengar ucapan Ibunya mengurai pelukannya dan menatap mata Ibunya." Bagi Rissa, Mama tetap Ibu yang terbaik." ucap Rissa kembali memeluk Ibunya sambil menangis.


Di tempat lain seorang pria yaitu Bram sedang menelusuri koridor rumah sakit mencari sosok gadis yang mirip adiknya itu. Namun yang di temukan tidak kunjung di temukannya sehingga Ia menuju ke ruangan resepsionis bertanya tentang seorang pasien.


" Permisi." ucap Bram ke salah satu resepsionis yang berada di sana.


" Ya Pak, ada yang bisa saya bantu?." tanya gadis itu.


" Hhmm.. apa ada nama pasien yang bernama Anna?." tanya Bram.


" Nama lengkapnya apa Pak?." tanya gadis itu.

__ADS_1


" Alana liora gantari." ucap Bram.


" Mohon sebentar ya Pak, saya cek dulu." ucap gadis itu. Bram mengangguk sesaat membalas ucapan gadis itu.


" Mohon maaf Pak, nama yang anda cari tidak ada di sini."


" Boleh di coba lagi, mungkin nama Anna atau_." ucap Bram.


" Bentar ya Pak." ucap resepsionis kembali mencari nama yang di sebutkan Bram.


" Maaf, nama itu juga tidak ada di sini Pak".


" Terimakasih." ucap Bram yang begitu kecewa karena tidak menemukan keberadaan adiknya.


" Aku yakin, Anna berada di sini. Aku melihatnya dengan mataku sendiri, itu wajah Anna." ucap Bram.


" Bram." panggil pria paruh baya yang ternyata Ayahnya.


" Papa." ucap Bram.


" Bram, Papa sama Rissa mau pulang dulu." ucap Dian.


" Ya sudah hati-hati ya Pa, Sa." ucap Bram." Alex mana?." tanya Bram mencari sosok asisten Adiknya.


" Baiklah, hati-hati." ucap Bram.


Dian dan Rissa meninggalkan Bram yang masih berdiri menatap kepergian mereka. Setelah itu Bram kembali ke ruang rawat Ibunya yang sedang istirahat.


Di tempat berbeda namun, masih bearada di rumah sakit.Terlihat seorang pria menggendong seorang gadis dari kursi roda menuju ke ranjangnya. Gadis itu terlihat merona melihat dia begitu dekat dengan sosok yang sering jantungnya berdegub kencang.


Dug dug dug


" Ooohh, kenapa saat ini jantungku bedegub lagi? Apa dia mendengarnya?."batin gadis itu menatap wajah sosok yang baru di kenalnya.


Gadis itu di letakkan dengan hati-hati di atas ranjangnya," Terimakasih." ucap Gadis itu.


" Sama-sama, apa ada yang sakit?." tanya Pria itu.


Gadis itu menggelengkan kepalanya, gadis itu yang bernama Gladis dan pria yang sekarang bersamanya yaitu Aiden.


Sejam yang lalu Aiden yang menjaga Anna tertidur di samping ranjang Anna. Di saat pagi hari Anna bangun dari tidurnya, Ia menemukan seorang pria asing tidur di tepi ranjangnya sambil duduk.


Anna yang merasa tidak begitu tega melihat pria itu tidur dengan pulas, Ia sengaja membiarkannya. Karena di landa kehausan Gladis ingin meraih gelas air minum yang di atas nakas itu. Karena tangannya yang masih lemah gelas itu terlepas dari tangannya hingga jatuh ke lantai dan menimbulkan suara.


Prraanghkk

__ADS_1


Aiden kaget dari tidurnya setelah mendengar suara benda jatuh, membuatnya langsung melihat Gladis yang sedang menatapnya.


Aiden melirik ke lantai melihat pecahan gelas itu," Seharusnya kau bangunin aku." ucap Aiden bangkit dari duduknya mengambil gelas dan di isi air minum. Setelah itu Aiden memberikannya kepada Gladis yang masih saja menatap gerak-geriknya.


" Terimakasih." ucap Gladis menerima gelas itu kemudian di teguknya.


" Panggil aku saja, kalau kau butuh sesuatu." ucap Aiden.


" Sus." panggil Aiden.


" Ya Tuan." ucap suster itu yang masuk ke dalam ruangan Gladis mendengar Aiden memanggilnya.


" Sus, tolong bersihkan lantai ini." ucap Aiden ke arah suster itu.


" Ya tuan." ucap suster itu.


Beberapa menit kemudian setelah suster itu pergi, datang dokter memeriksa keadaan Gladis. Setelah itu Gladis di suapi Aiden untuk sarapan, Gladis memang ingin bertanya sosok laki-laki yang masih setia menemaninya itu. Namun, entah mengapa pertanyaan itu hilang di saat perasaannya begitu nyaman di samping Aiden.


Pria itu seperti ada di dalam bayangan yang selalu datang menghantuinya. Ia merasa laki-laki ini sangat mengenalnya. Tapi di mana?" pikirnya.


" Kita jalan-jalan ke taman ya?." ucap Aiden membawa kursi roda.


Gladis hanya bisa mengangguk, entah mengapa di saat dekat dengan Aiden suaranya seperti menghilang. Ia hanya pasrah kemana Aiden membawanya dan mengobrol yang bisa di jawabnya. Kadang Ia hanya menjawab dengan anggukan atau gelengan, kadang berkata"Ya". Entah apa yang di dalam pikirannya, perasaannya sekarang tercampur aduk.


" Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?." tanya Aiden ke arah Gladis yang nampak sedang melamun.


" Apa kita saling kenal?." tanya Gladis yang sudah ingin tahu.


" Kenal,dan sangat kenal." ucap Aiden.


" Apa? Kau mengenalku?."


" Hhmm, kita saling kenal dan paling dekat." ucap Aiden.


" Benarkah? Tapi kenapa aku nggak bisa ingat kalian?." tanya Gladis.


" Kamu kehilangan ingatan." ucap Aiden.


" Iya, kata Mba Eris aku kehilangan ingatan. Kalau kau kenal, emangnya siapa namaku sebenarnya?." tanya Gladis.


" Namamu adalah Anna." ucap Aiden.


" Anna?." tanya Anna yang ingin memastikan.


" Hhhmm.. Kau adalah Anna tunanganku." ucap Aiden.

__ADS_1


__ADS_2