
Setelah Aiden menyelesaikan cerita dan memperlihatkan rekaman itu, mereka begitu terkejut mendengar kenyataan itu. Gadis yang mereka kubur bukanlah Anna melainkan Cantika putri dari Pak Riko dan Bu Winda yang satu kampus bersama Anna. Tangisan Winda pecah di pelukan Suaminya yang ikut menangis mendengar putri semata wayang mereka sudah tiada. Hardian juga begitu terkejut dan bahagia putrinya masih hidup, namun di sisi lain Ia juga ikut bersedih melihat sepasang suami istri yang kehilangan putri kesayangan.
" Kami akan mengurus kembali makam itu untuk menggantikan nama di batu nisan, apabila Pak Riko ingin memindahkan makam Putri anda? Kami siap dan bersedia memindahkannya." ucap Aiden ke arah Riko dan Winda.
" Nggak usah nak Aiden, cukup ganti namanya saja. Semoga Cantika tenang." ucap Riko yang masih di liputi kesedihan.
" Bisakah kami melihat makam putri kami?." tanya Winda.
" Bisa Bu! Saya yang akan mengantarkan Ibu dan Bapak ke makam." ucap Bram.
" Kalau begitu saya permisi dulu." ucap Aiden berpamitan yang mulai bangkit dari duduknya.
Dian mencoba bertanya kembali tentang keberadaan Anna yang lolos dari kecelakaan itu." Ana di mana sekarang?." tanya Dian ke arah Bram dan Aiden.
" Pah, kami masih mencari keberadaan Anna.Papa tunggu saja info dari Aiden dan berdoa semoga Anna bisa di temukan secepatnya." Ucap Bram.
" Benar yang di katakan Bram, Aku juga bakal berusaha mencari keberadaan Anna." ucap Aiden.
" Aamiin. Semoga Nak, terimakasih. Maafkan Paman sering merepotkanmu Aiden?." ucap Dian.
" Nggak kok Paman! Ini sudah menjadi kewajiban saya karena Anna adalah calon istriku." ucap Aiden tegas.
Bram dan Dian tersenyum mendengar ucapan Aiden yang menegaskan Anna adalah calon istrinya." Ya sudah hati-hati ya! Bram antarkan Mereka ke pemakaman putrinya." ucap Dian.
" Iya Pah!. Kami pamit dulu Pah! Ayo Pak, Bu." ucap Bram mengajak orang tua Cantika.
__ADS_1
Mereka pun berangkat meninggalkan Dian sendiri, Aiden pun juga ikut berangkat ke Perusahaannya. Karena urusan Perusahaannya belum terselesaikan akibat membatalkan keberangkatannya ke Amrik.
Dian memasuki ruangan keluarga,di sana sudah tak terlihat lagi istrinya. Ia melangkah ke arah kamarnya, pikirnya istrinya mungkin sudah masuk ke kamar. Setelah berada di kamarnya tak terlihat sosok istrinya berada di sana. Ia mendekati kamar mandi namun juga tidak terlihat keberadaan yang di carinya.
Setelah mencari Istrinya di kamar, tetap saja tidak menemukan keberadaan istrinya. Membuat Dian memanggil seorang pelayan yang bekerja di rumahnya. Namun para pelayan tidak tahu menahu keberadaan Istrinya. Ia pun melangkah menuju ke arah kamar putrinya yaitu Rissa. Terdengar dari dalam kamar suara tangisan seseorang yang Dian tahu tangisan putrinya.
Dian sejenak berhenti di ambang pintu kamar, ingin sekali rasanya Dian memeluk dan menenangkan putrinya itu. Namun, sekuat tenaganya Ia menahan tangannya untuk mengetuk pintu kamar putrinya. Ia juga begitu sedih dan sakit hatinya mengingat perlakuan istrinya terhadap Anna yang begitu baik kepada mereka.
Kenapa Jenie berbuat sampai melenyapkan nyawa orang? Istrinya sudah menjadi orang jahat yang tega menghalalkan sebuah cara demi tujuannya. Istrinya tidak tahu perbuatannya membuat menghancurkan dirinya dan keluarga.
Tangan Dian yang tergepal sedang menggantung kini turun perlahan, Ia berbalik membiarkan putrinya untuk menenangkan diri. Di saat Ia menuruni anak tangga, tiba-tiba ponselnya berdering tanda sebuah panggilan di ponselnya. Ia merogoh ponsel yang berada dalam sakunya, di saat Ia melihat layar ponselnya tertera nama panggilan yang tidak begitu asing di matanya.
Tanpa ragu-ragu Ia mengangkat panggilan yang sudah menghubunginya ." Hallo." jawab Dian.
" ...."
"...".
Tut
Dian memutuskan panggilan tanpa menjawab ucapan orang yang di seberang ponselnya. Dengan langkah kaki tergesa-gesa, Dian sampai di parkiran mobilnya. Tanpa menunggu lama lagi Dian pergi mengemudi mobilnya dengan membelah keramain kota itu.
Beberapa menit kemudian mobil yang di kendarai Dian telah sampai di tempat seseorang yang menghubunginya lima menit yang lalu dan ternyata tempat itu kantor polisi. Dian memasuki ruangan itu, sudah terlihat dari jauh sosok yang sempat Ia cemaskan ternyata berada di sini. Apa yang di lakukan Istrinya di kantor polisi? pikirnya sambil melangkah mendekati Istrinya yang nampak berdiam diri.
" Mah!." Sapanya melihat istrinya yang sedang melamun. Terlihat dari wajah istrinya rasa penyesalan atas perbuatannya terhadap Anna. Tapi apa bisa Ia perbuat? Apa waktu bisa memutar waktu kembali? Dan apakah istrinya datang ke kantor polisi untuk menyerahkan dirinya? masih nampak Dian berpikir tentang istrinya.
__ADS_1
Jenie mendongak wajahnya ke atas, melihat raut wajah suaminya yang nampak khawatir. Ia tahu suaminya khawatir tentangnya karena tanpa pamit Ia pergi dari rumah dan menyerahkan dirinya masuk penjara.
" Mama ngapain di sini?." tanya suaminya yang duduk di samping Istrinya. Jenie yang tak kunjung menjawab hanya bisa meneteskan air matanya.
Dian langsung memeluk Istrinya, Ia pun tidak tega membenci atau memarahi Istrinya. Memang hati siapa yang tidak marah kalau Istrinya sendiri tega melenyapkan nyawa seseorang dan orang itu anaknya sendiri? Namun rasa cinta meruntuhkan amarahnya, Ia sudah sangat mencintai Jenie walaupun mereka kadang sering bertengkar.
" Pah, maafin Mama!." ucap Istrinya dalam pelukan suaminya.
" Mama sudah gelap mata, Mama seharusnya dengerin Papa sama Bram. Tapi karena ke egoisan Mama ingin Rissa mendapatkan Aiden, Mama tega merencanakan kecelakaan itu." ucap Jenie.
" Mama sudah siap masuk penjara Pah! Tapi Mama mohon jangan beritahukan ke publik kalau Mama dalang kejadian itu. Kasihan Rissa Pah! Kariernya bakal hancur kalau publik sampai tahu, Ibunya masuk penjara gara-gara melakukan kejahatan." ucap Jenie.
" Iya Mah, Maafin Papa atas perbuatan Papa selama ini terhadap Mama. Papa belum bisa kasih yang terbaik buat Mama." ucap Dian menatap wajah Istrinya. Dian menatap manik mata Istrinya begitu dalam, Ia merasakan kesedihan istrinya yang begitu dalam.
Terdengar dari jauh suara sepatu seseorang yang sedang berlari ke arah mereka. Dian dan Jenie menoleh ke arah laki-laki yang nampak kelelahan karena berlari. Jenie tersenyum ke arah orang itu yang ternyata putranya sendiri. Sebelum Jenie datang ke kantor polisi untuk menyerahkan diri, Ia sudah menghibungi pengacaranya untuk menganangi masalahnya. Sehingga pengacaranya menghubungi suami dan putranya untuk memberi dukungan terhadap Jenie.
🌳🌳🌳
" Auuhh, Sakiit!." ucap seorang gadis bangun dari tidurnya sambil memegang kepalanya.
" Kau sudah sadar Nak?." tanya wanita paruh baya yang telah menolongnya.
" Saya di mana?." Tanya gadis itu.
" Kamu di rumah saya Nak! Kamu tadi pingsan di taman, lalu saya menyuruh orang membawa kamu ke sini. Karena, kami nggak tahu rumahmu di mana? Dan Tante juga baru kali ini melihatmu berada di sini." ucap wanita itu.
__ADS_1
" Astaga pasti Kak Eris dan Reya nyari aku!." ucapnya tersadar. Ia bangkit dan melangkah ingin meninggalkan tempat itu. Namun, sebelum Ia pergi masih sempat mengucapkan terimakasih kepada wanita itu yang sudah menolongnya.