
Aiden baru saja tiba di rumah besar orang tuanya, setengah jam yang lalu ibu Aiden menelfonnya ingin bertemu dengan Aiden. Aiden melangkah ke arah ruang keluarga di mana ibu dan ayahnya sedang menunggu kedatangan putranya itu.
" Malam Ai!." sapa Ibunya melihat Aiden yang baru memasuki ruangan itu.
" Malam juga Mah!." balas sapa Aiden yang hanya mengacuhkan keberadaan ayahnya itu sambil mengecup pipi ibunya.
" Seharusnya kau sudah tiba sejak sore hari." ucap Prabu yang mengamati tingkah putranya itu.
" Ternyata papa sedang mengawasiku." jawab Aiden membalas tatapan ayahnya sambil mendudukkan bokongnya di samping Vina.
" Kau berhak di awasi, karena kau sudah calon tunangan Nena." ucap Prabu.
" Pah!_." sontak Aiden berdiri dengan pernyataan ayahnya itu.
" Ai, dengar apa yang di katakan ayahmu!." ucap Vina yang juga bangkit dari duduknya untuk menenangkan putranya itu.
" Mah! Ai tidak ingin menikah atau pun di jodohkan dengan orang lain kecuali Anna. Anna adalah calon istriku dan masa depanku. Papa tidak berhak menentukan kebahagiaanku." ucap Aiden dengan tegas membuat Prabu bangkit dari duduknya.
" Kau tau siapa ayah dari gadis yang kau cintai itu? Dia adalah musuh papa yang sudah menikam papa dari belakang, dialah yang membuat kita menderita di saat kau butuh biaya sekolah, butuh makan, dan semua keperluan kalian sehari-hari. Apa kau lupa rasanya makan nasi bekas yang sudah di buang di tong sampah? Kalau bukan Rudi yang memberikan modal untuk papa, tidak mungkin kita sesukses ini Ai. Kau harus menikah dengan Nena, kalau kau menolak? Jangan harap papa mengakuimu putraku." ucap Prabu yang geram setelah itu meninggalkan Aiden dan istrinya yang masih terkejut.
" Mah!." panggil Aiden meminta penjelasan dari ibunya, sebelum Ia pergi ke luar negri ibunya bersikukuh tetap membelanya. Kini, Vina tidak lagi membelanya, bahkan hanya terdiam sambil menepuk bahu putranya itu.
Vina menatap wajah sendu putranya itu, menunggu penjelasan darinya. " Mama akan cerita, kita ke taman." ajak Vina ke arah putranya.
🌳🌳🌳
Malam panjang itu pun telah berlalu, terdengar langkah kaki seorang gadis yang sedang menuruni anak tangga menuju ke ruang tamu yang terdapat beberapa orang yang sedang menunggunya.
" Pagi semua, pagi papa." sapa gadis itu ke arah semua orang setelah tiba di ruang tamu.
" Pagi Anna." ucap mereka bersamaan yang terdapat kedua orang tua Cantika, Abraham dan juga Hardian.
" Pagi sayang." sapa Leo ke arah putrinya." Duduklah!." ucap Leo kembali ke arah putrinya.
__ADS_1
" Ya Pah!." jawab Anna sambil mendudukkan bokongnya di samping ayahnya.
" Ini_." ucapan Anna terpotong saat melihat kedatangan kedua orang tua Cantika.
" Anna, mereka ingin tahu penyebab kecelakaan itu yang mengakibatkan putrinya meninggal." ucap Papa Dian ke arah Anna dengan hati-hati, takutnya Anna kembali di serang sakit lagi.
Anna mencoba mengingat kembali kejadian sebelum kecelakaan itu dengan memijat pelipisnya." Jangan di paksa bila memang Anna belum bisa mengingatnya." ucap Ayah Cantika ke arah Anna.
" Anna sudah mengingatnya, kejadian itu.."
Flashback
Setelah Anna memasuki mobil, supir itu pun mengemudi meninggalkan kediaman Pramudita. Di dalam mobil, hati Anna terasa resah seperti ada yang mengganjal dalam hatinya. Namun, Anna berusaha mengalihkan pikirannya dengan melirik keluar jendela menikmati suasana yang lewati mobil itu. Di saat mobil itu menuju ke arah jalan tol, Ia melihat Cantika yang sedang menunggu mobil Bus untuk di tumpanginya ke kampus.
Cantika juga kuliah di kampus yang sama dengan Anna, Anna memerintahkan supir itu menghentikan mobilnya di hadapan Cantika. Cantika yang berdiri memandangi mobil yang berhenti di hadapannya itu sambil menunggu seseorang yang berada di mobil itu untuk keluar. Anna menurunkan kaca mobilnya." Cantika, kau mau ke kampus ya?." tanya Anna menoleh ke arah Cantika.
" Anna! Iya, aku mau ke kampus." jawab Cantika melihat Anna yang berada di mobil mewah itu.
Di saat perjalanan, Cantika melihat cincin yang di pakai Anna membuat Ia penasaran." Anna, cincinmu bagus banget." ucap Cantika membuat Anna menoleh ke arah jari manisnya yang terdapat cincin tunangan.
" Iya." jawab Anna singkat dengan senyum manisnya.
" Boleh aku pinjam?." tanya Cantika sambil melepaskan cincin dari jari Anna.
" Jangan Cantika, itu cincinku." ucap Anna sambil melepaskan genggaman tangan Cantika yang sedang berusaha melepaskan cincin di jari Anna.
" Aku pinjam bentar Anna." ucap Cantika sambil tarik menarik dengan Anna.
" Jangan!!." pekik Anna yang di dorong Cantika membuat cincin itu terlepas dari jari dan juga membuat Ia terbentur di pintu mobil.
Supir yang sedang mengemudi pun sudah tidak fokus mengendara karena Anna yang terbentur di pintu mobil atas ulah Cantika yang merebut cincin itu." Non! Apa Non tidak apa-apa?." tanya supir sambil melihat cermin di hadapannya yang sedang memantulkan Anna yang sedang kesakitan.
" Uh dasar! Aku sudah bilang aku mau pinjam, seharusnya kau kasih biar aku nggak sekasar itu sama kamu." ucap Cantika ke arah Anna sambil memegang cincin itu.
__ADS_1
Anna mengusap kepalanya yang terasa sakit, sedangkan Cantika memasang cincin Anna di jari manisnya membuat Ia tersenyum." Cincin sebagus ini, hanya cocok sama aku Anna. Seharusnya aku yang berhak mendapatkannya."ucap Cantika sambil memperlihatkan cincin itu ke arah Anna.
" Kau itu sudah jelek, miskin lagi, kenapa sih beruntung banget dapat cowok tampan dan kaya? Apa jangan-jangan kau sudah?." tanya Cantika ke arah Anna yang memikirkan hal yang tidak-tidak tentang Anna.
" Apaan sih? Kembalikan cincin itu." ucap Anna sambil meraih tangan Cantika.
" Sebentar!." ucap Cantika sambil menghalangi Anna.
Supir itu pun kembali terusik dengan kegaduhan mereka berdua, membuat supir itu kembali menoleh ke arah mereka berdua. Tanpa Ia sadari, sebuah mobil truk melaju sangat cepat kehadapan mereka.
Braakhh."suara tabrakan.
Tabrakan itu pun terjadi yang tidak terelakan, mobil itu berputar-putar tanpa sengaja supir menekan kunci pintu mobil sehingga terbuka. Anna yang berada di samping pintu itu pun terlempar dan terbentur ke pohon rindang itu. Mobil yang sudah tidak utuh itu pun masih saja berjalan hingga jatuh ke jurang dan menimbulkan ledakan hingga terbakar.
" Kak Aiden!." gumam Anna yang makin melemah, topeng yang Ia pakai sudah tidak berada diwajahnya. Kepalanya yang terbentur dan terluka itu pun keluar darah segar yang membuatnya semakin melemah dan hilang dari kesadarannya.
Malam itu pun tiba, langit yang biasa di hiasi bintang di setiap malam kini tidak terlihat hanya awan mendung yang begitu tebal menghitam menutupi langit malam itu.
Cetaarr
Suara halilintar menggelegar di langit gelap itu di sertai rintik hujan yang mengenai tubuh sang gadis yang terbaring di rerumputan. Hujan semakin lebat membuat gadis itu terbangun dari pingsannya yang di sudah basah di sekujur tubuhnya. Terasa begitu perih di tubuhnya karena tetesan air hujan yang mengenai luka yang terbuka dan basah itu. Air hujan yang mengenai di tubuhnya itu berubah menjadi kemerah-merahan karena air hujan yang bercampur darah. Anna bangkit walaupun dalam keadaan lemah, Ia berusaha berdiri dan melangkah mencari pertolongan.
Walapun hanya tertatih-tatih, Anna tetap berusaha sampai di jalan raya dengan hujan yang begitu deras. Pandangannya begitu buram, karena hujan deras dalam kegelapan dan Ia juga yang semakin melemah dan tiba-tiba.
Brraakhh." mobil yang menabraknya dan terbentur kembali membuat gadis itu tidak sadarkan diri.
" Hanya itu yang ku ingat." ucap Anna menyudahi cerita kejadian itu.
" Hiks..hiks..hikss Cantika." ucap Ibu Cantika di sela-sela tangisannya.
"Tenang Mah!." ucap suaminya sambil mengelus punggung Istrinya.
" Maafkan Anna, Tante, Om." ucap Anna yang ikut bersedih.
__ADS_1