
" *Braakhh"
" Aanaaa*" teriak seseorang dari jauh.
Orang-orang datang mendekati ketempat kejadian itu. Seseorang tengah berlari untuk melihat orang yang sempat Dia panggil namanya.
" Semoga itu bukan kamu Ana" gumamnya.
Langkahnya semakin dekat untuk memastikan apa yang dia lihat. Namun, langkahnya berhenti melihat sesuatu yang membuatnya terkejut.
" Kamu nggak apa-apa?" tanya seorang wanita kearah seorang pria yang sedang terluka lecet di bagian lengannya.
" Aku nggak apa-apa Ana, ini hanya luka lecet saja. Gimana denganmu?" tanya pria itu.
" Aku nggak apa-apa Kak Aiden" balasnya sambil memperhatikan luka Aiden.
" Anaa, kau nggak apa-apa kan sayang?" tanya pria itu yang sempat berteriak memanggilnya disaat mobil hendak menabraknya.
" Ana nggak apa-apa Kak Abra. Tapi, Kak Aiden yang terluka gara-gara menolong Ana." ucap Ana yang merasa bersalah. Andaikan Dia mendengar teriakan orang-orang pasti kejadian ini tidak akan terjadi.
" Syukurlah, Kakak begitu cemas tadi. Den, apa lukanya parah?" tanya Bram yang mengamati luka Aiden.
" Nggak terlalu parah,ini hanya luka lecet. Jangan khawatirkan Aku, ini sudah biasa." balas Aiden.
" Den,Terimakasih sudah menyelamatkan Ana." ucap Bram.
" Nggak usah berterimakasih, ini sudah kewajibanku untuk melindungi calon istriku".Ucap Aiden sambil tersenyum ke arah Ana.
" Kak_" Ana yang sempat berkata terpotong karena kedatangan Asisten Aiden yang sedang membawa kotak P3K.
" Tuan ini obatnya." ucap sang Asisten.
__ADS_1
" Den, lebih baik kerumah sakit untuk mengobati lukamu ini. Aku nggak mau lukamu nanti terinfeksi." ucap Bram.
" Ya benar kata Kak Abra, Kak Aiden harus ke rumah sakit." ucap Ana.
" Ini hanya luka lecet, Aku nggak apa-apa. Yang terpenting adalah acara pertunangan kita Ana." ucap Aiden yang meraih tangan Ana.
" Ana, Kak Aiden mohon ya!." ucap Aiden sambil memohon. Ana melirik kearah Bram untuk meminta pendapat atas permintaan Aiden. Bram menganggukkan kepalanya sesaat memberikan persetujuan kepada Ana untuk menerima kembali Aiden.
" Ya Kak, tapi luka Kak Aiden harus secepatnya di obati." balas Ana.
" Alhamdulillah, ya sayang. Tapi, Aku mau Ana yang obatin." ucap Aiden. Ana menganggukan kepalanya sesaat untuk menerima permintaan Aiden untuk mengobatinya.
Bram yang menatap kearah Adiknya sambil mengobati luka Ana terlihat begitu sedih. Hatinya begitu tak menyukai kedekatan mereka , tapi Ia selalu menenangkan hatinya untuk tidak berbuat yang tidak baik kepada mereka. Toh, Ia tau mereka saudara kandung seAyah. Dia hanya menyukai Ana karena Ana gadis lembut dan patuh kepada siapapun. Bram berdiri ingin meninggalkan mereka berdua. Namun, baru saja melangkah seseorang datang menghampiri mereka.
" Kak Aiden." panggilnya mendekati mereka.
" Apa yang terjadi Kak?." ucapnya melihat luka lecet di lengan Kakaknya.
" Ana, kau nggak apa-apa?." Tanya Abian.
" Ana_."
" Ana nggak apa-apa Bi." balas Aiden yang secepatnya menjawab sebelum Ana menjawabnya.
" Gimana sih kejadiannya sampai terjadi seperti ini?." Tanya Abi yang penasaran. Sehingga Bram pun berbalik ke arah mereka untuk menunggu cerita kejadian yang sempat membuatnya ketakutan.
" Kakak melihat Ana berlari tanpa tujuan, dan saat menyusulnya tiba-tiba melihat mobil yang sedang melaju ke arah Ana. Kakak yang sedang berlari menambah kecepatan untuk mendahului mobil itu. Dan Syukurlah Kakak dengan cepat menarik Ana kepelukan Kakak. Tapi nggak sempat mengimbangi tubuh Ana yang terkejut karena Aku menariknya.Sehingga membuat kami berdua terjatuh." ucap Aiden.
" Syukurlah kalau gitu, kalau nggak, mungkin_." ucap Aiden." Trus, mobil itu mana?." tanya Abi kembali.
" Sudah di bawa kebengkel, remnya blong." ucap Aiden.
__ADS_1
" Aku kira dia sengaja mau menabrak Ana." ucap Bram yang kembali bersuara.
" Nggak, memang tadi sempat warga ingin memukulnya. Tapi Istrinya mengatakan kalau rem mobil mereka blong. Dan salah satu warga memeriksanya ternyata benar." ucap Aiden.
" Untung saja, kalau nggak sudah Aku laporin." ucap Abi.
Kring kring kring" suara handpone Aiden.
Aiden mengambil handponenya yang berada di saku celana dan, melihat nama panggilan di layar handpone itu.
Klik
" *Halo, Aiden gimana?" tanya seseorang dari seberang.
" Ana sudah bersama Aiden Pah". balas Aiden.
" Alhamdulillah, kalian berdua secepatnya kembali. Acara akan di segera di mulai." ucap Prabu.
" Iya Pah, sekarang kami akan menuju ke sana." ucap Aiden.
" Ya sudah, Papa tunggu."
" Ya pah."
Klik*
" Ayo kita berangkat, Papa dan yang lainnya sudah menunggu." ucap Aiden. Ana terdiam karena masih mengingat kejadian yang sempat mempermalukan Aiden dan Keluarganya. Aiden memandang Ana dan mengerti apa yang di pikirkan Ana.
" Hei, sudah nggak apa-apa. Ayo!." ucap Aiden meraih genggaman Ana.
Ana berdiri dan melangkah bersama dengan mereka menuju ke arah mobil yang sudah menunggu dari tadi.
__ADS_1