
Mobil Prabu meninggalkan halaman rumah sakit itu walaupun masih hujan lebat. Vina yang nampak kesal dengan suaminya hanya membuang tatapannya ke arah luar jendela memandangi pemandangan jalanan yang di lewati mereka.
" Mah!." panggil Prabu ke arah istrinya yang tidak ingin berbicara dengannya.
" Mah! Dengerin Papa dulu." ucap Prabu lagi.
" Apa maksud perkataan Papa ke arah Aiden? Ai saja marah sama Papa apalagi Mama." ucap Vina menoleh ke arah suaminya yang masih saja nampak kesal.
" Papa bukan bermaksud memisahkan mereka! Cuma Papa ingin Anna menemukan Ayah kandungnya dulu." ucap Prabu mencoba menjelaskan.
" Papa sama saja, pokoknya Papa nggak boleh mengatur kehidupan mereka. Mama yang bakal mengatur pernikahan mereka." ucap Vina.
" Tapi_." ucapan Prabu langsung di potong oleh Istrinya.
" Seminggu atau selamanya tidur di luar?." tanya Vina ke arah Suaminya. Membuat Prabu tidak bisa berkata-kata lagi.
" Ya ampun." gumam Prabu.
" Apaa?." tanya Vina.
" Mama cantik." ucap Prabu.
" Ngeless." ucap Vina kembali menoleh ke luar jendela.
" Hehehe." Prabu yang tertawa kecil melihat tingkah istrinya.
🌳🌳🌳
2 Jam Berlalu
Aiden terbangun dari tidurnya melihat sekeliling ruangan itu yang berchat putih.
" Anna!." ucap Aiden yang teringat kekasihnya.
Aiden berdiri mencari Anna yang tidak terlihat di kamarnya.
" Anna." panggil Aiden sambil mengetuk pintu kamar mandi. Namun, tidak terdengar suara dari dalam kamar mandi, Aiden mencoba membuka yang ternyata tidak terkunci. Aiden mencari keberadaan Anna di dalam kamar mandi itu, tetapi sosok yang di carinya tidak berada di kamar itu membuat Aiden cemas.
" Anna." panggil Aiden kembali.
" Kak Ai sudah bangun?." tanya Anna yang muncul dari balik pintu sambil membawa mapan yang terisi makanan.
" Anna! Kamu dari mana saja? Ini apa?." tanya Aiden tanpa menjawab pertanyaan Anna sambil membantu Anna membawa mapan.
" Nggak usah kak Ai, Anna bisa. Ini makanan lah Kak! Aku sudah lapar." jawab Anna sambil meletakan mapan di atas meja.
" Seharusnya bangunin Kakak." ucap Aiden.
" Aku nggak tega bangunin Kakak yang sedang tertidur nyenyak. Ayo makan!." ajak Anna ke arah Aiden.
" Bentar, Kakak ke kamar mandi dulu." ucap Aiden melangkah ke arah kamar mandi yang berada di kamar itu.
__ADS_1
Tok tok tok
Terdengar pintu di ketuk dari luar membuat Anna menoleh ke arah pintu yang mulai terbuka. Pria itu muncul dari balik pintu menoleh ke arah Anna yang ternyata Ayahnya.
" Papa!." panggil Anna dengan bahagia melihar kedatangan Ayahnya.
" Apa kabar sayang?." tanya Dian ke arah putrinya yang sedang menyalami tangannya.
" Baik Pah! Mama nggak ikut ya Pa?." tanya Anna.
" Nggak, besok Anna sudah bisa keluar ya?." tanya Dian mengalihkan pikiran Anna yang kembali bertanya.
" Iya Pah." jawab Anna.
" Baguslah, Papa yang jagain kamu malam ini." ucap Dian.
" Ya Pa! Kak Bram mana?." tanya Anna yang belum melihat kedatangan kakaknya.
" Masih ikut rapat penting, katanya mau menyusul nanti ke sini." ucap Dian.
" Ya Pah!." ucap Anna.
Ceklek
Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka yang memperlihatkan Aiden yang keluar dari dalam kamar mandi. Aiden menoleh ke arah mereka berdua yang terlihat ayahnya Anna yang terkejut melihat Aiden.
" Papa." sapa Aiden.
Dian terkejut dengan panggilan Aiden kepadanya. Anna tersenyum manis ke arah Aiden yang begitu senang Aiden memanggil Ayahnya " Papa".
" Ya Pah! Temenin Anna." jawab Aiden.
" Padahal Anna bukan anak kecil lagi di temenin." ucap Dian menggoda putrinya.
" Ish Papa!." ucap Anna sambil melingkarkan tangannya di lengan Ayahnya.
" Oh iya, papa sudah makan?." tanya Anna mendongakkan kepalanya ke arah wajah ayahnya.
" Belum sayang, bentar Papa pesanin makanan dulu." ucap Dian sambil merogoh ponselnya di dalam saku celana.
" Nggak usah Pa! Anna sudah pesan makanan kok, ini sudah tersaji." ucap Ana sambil menunjuk ke arah meja.
" Iya Pah! Aku di biarkan tidur di ranjangnya dan pasien sebenarnya keluar beli makanan." ucap Aiden sambil mengacak rambut Anna.
" Ish! Aku sudah lapar, lama nunggu Kak Ai bangun." ucap Anna.
" Ya ampun, ya sudah kita makan." ucap Dian mendudukan bokongnya di kursi yang di ikuti Anna dan Aiden.
Anna mengambil makanan untuk ayahnya dan juga Aiden." Sayang, kamu nggak makan?." tanya Ayahnya.
" Anna mau di suapin Papa." jawab Anna.
__ADS_1
" Bayi besar Papa, hehehe." ucap Dian. Anna dan Aiden tertawa mendengar ucapan Dian.
Dian menatap wajah Anna yang tersenyum sambil menyendok makanan." Untung saja aku menghentikan Leo." batin Leo.
Beberapa jam yang lalu
Leo yang mengemudikan mobilnya dengan cepat, akhirnya sampai di parkiran rumah sakit yang di susul mobil Dian.
Leo keluar dari mobilnya, melangkah dengan terburu-buru membuat Dian dengan cepat menyusulnya.
Disaat menyusuri lorong rumah sakit menuju ruang rawat Anna, Dian dengan cepat menghalanginya membuat Ia nampak kesal.
" Dian, ada apa?." tanya Leo.
" Apa kamu sudah memikirkan untuk menemui Anna dan mengatakan kalau kau ayah kandungnya?." tanya Dian membuat Leo mengerit keningnya.
" Apa maksudmu Dian? Anna harus tau aku adalah ayah kandungnya." ucap Leo dengan tegas.
" Bukan soal itu, harusnya kamu pikirin keadaan Anna sekarang yang baru saja sembuh." ucap Dian membuat Leo tersadar.
Leo menarik nafas panjang, Ia memejamkan matanya menyadari dirinya hampir saja membuat kesalahan lagi. Ia tidak mungkin mengatakan semua pada putrinya, apalagi kondisi putrinya yang baru saja sembuh. Ia tidak ingin menambah masalah lagi dan membuat resiko besar.
" Aku akan berusaha mengatakannya pada putrimu." ucap Dian ke arah Leo.
" Iya Dian, maafkan aku." ucap Leo.
" Iya nggak apa-apa, sekarang kamu pulang. Nanti kamu sakit apalagi bajumu dalam keadaan basah kayak gini." ucap Dian.
" Iya, aku pulang dulu." ucap Leo berpamitan kembali membalikkan badannya melangkah pergi.
" Aku akan berusaha mengatakannya Leo, aku janji." ucap Dian yang masih menatap kepergian Leo.
" Pah!." panggil Anna ke arah ayahnya yang masih saja melamun.
" Papa." panggil Anna sekali lagi menyadarlan Dian dari lamunannya.
" Ya Anna?." tanya Dian yang terkejut dari lamunannya.
" Papa kenapa? Apa ada sesuatu yang papa pikirkan?." tanya Anna ke arah ayahnya.
" Nggak ada apa-apa sayang." jawab Dian membelai rambut putrinya.
" Kalau nggak apa-apa, Papa melamun kenapa?." tanya Anna.
" Papa hanya melihat wajah putri papa ini semakin cantik." puji Ayahnya.
" Apaan sih? Papa makan dulu." ucap Anna sambil menyerahkan piring yang berisi makanan.
Aiden tersenyum melihat Dian menggoda Anna sambil menyuapi makanan ke arah mulutnya.
" Katanya mau papa suapin?." ucap Dian.
__ADS_1
" Mau lah Pah!, aaa.." ucap Anna sambil membuka mulutnya.
Dian menyendok makanan menyuapi putrinya membuat Ia begitu terharu." Anna sudah papa anggap seperti anak kandung papa sendiri. Rasanya Papa tidak rela mengatakan kalau Anna bukan anak kandung papa." batin Dian menatap wajah Anna, terlihat di kedua sudut mata Dian keluar bulir air mata membuat Aiden menghentikan suapannya.