
" Hhhmm.. Kau adalah Anna tunanganku." ucap Aiden.Gladis terkejut atas ucapan pria yang baru saja begitu perhatian padanya.
" Namaku Aiden, kita berdua sudah bertunangan hampir 4 bulan yang lalu. Kau tau, dulu wajahmu tak seperti ini, ada topeng di wajahmu karena bekas luka itu." ucap Aiden. Gladis mengangkat tangannya meraba wajahnya, teringat Ia waktu bangun dari komanya sempat melihat wajahnya sebelah ada bekas luka.
" Topeng?." tanya Gladis ke arah Aiden yang menatapnya. Mata mereka bertemu, mata Aiden terlihat bayangan yang masih terlihat klise terputar seperti video. Semakin banyak bayangan itu, semakin pula Ia merasakan sakit kepalanya menyerang.
" Aaahh sakiiitt!." pekik Gladis yang menahan kesakitan membuat Aiden terkejut.
" Annaa! Apa kau baik-baik saja? Tatap mataku Annaa." ucap Aiden yang memegang wajah Anna agar Anna mau menatap kedua matanya.
Anna menurut menatap kedua mata Aiden, sakit yang menyerang Anna semakin menghilang. Namun, matanya mulai terpejam sehingga Ia hampir terjatuh karena pingsan. Untung saja tangan kokoh Aiden langsung menangkapnya.
" Annaa." panggil Aiden yang semakin cemas dengan keadaannya, Ia menepuk-nepuk kedua pipi Anna. Namun, Anna tak kunjung sadar juga sehingga Ia memanggil suster.
" Suuusss." panggil Aiden.
Beberapa suster yang melihatnya segera membantu Aiden, dan salah satu dari mereka memanggil dokter.
" Pak, tolong keluar dulu, biarkan dokter menangani pasiennya." ucap perawat mendorong Aiden keluar. Aiden hanya pasrah di dorong oleh perawat itu, ini salahnya karena dia, Anna kembali sakit.
" Aiden." panggil seorang wanita yang berlari ke arahnya yang ternyata Eris.
" Eris." ucap Aiden menoleh ke asal suara itu.
" Apa yang terjadi?." tanya Eris yang begitu mencemaskan Adiknya.
" Anna kembali sakit di kepalanya." ucap Aiden.
" Apa yang kamu lakukan Aiden? Apa kamu memaksakan ingatannya?." tanya Eris yang geram terhadap Aiden.
" Maafkan aku Eris." ucap Aiden yang merasa bersalah.
" Astaga Den! Aku sudah bilang sama kamu, kamu harus bersabar. Kita pelan-pelan menyembuhkannya, apa kamu ingin Anna nggak ingat kamu lagi?." pekik Eris yang begitu amarah.
" Dokter Eris." panggil salah satu perawat yang memperingatinya karena suaranya yang agak meninggi beberapa orang memandang ke arah mereka.
" Maaf." ucap Eris.
" Maafkan aku Ris." ucap Aiden.
" Aiden, mulai sekarang jangan temui Anna dulu. Biarkan dia pulih dulu." ucap Eris.
" Ris_." ucapan Aiden terhenti karena Eris kembali berbicara.
" Demi keadaan Anna, jauhi Anna dulu." ucap Eris dengan amarahnya memasuki ruang di mana Anna di rawat.
Aiden hanya bisa melihat pintu yang di tutup Eris, Aiden merasa begitu cemas mengkhawatirkan keadaan Anna. Sekarang, Ia hanya bisa pasrah karena keputusan Eris. Ia memang patut di persalahkan, karena ke egoisannya Ia tidak mempedulikan yang di ucapkan Eris sehingga Ia memaksakan Anna untuk mengingat ingatan di mana mereka bertemu.
__ADS_1
Setelah mendapatkan kabar keadaan Anna, Aiden di usir Eris dari rumah sakit. Eris juga tidak begitu tega melihat Aiden di luar menunggu Anna. Demi keadaan Anna, Eris terpaksa mengusirnya walaupun Aiden seorang anak dari saham terbesar di rumah sakit tempat Eris bekerja.
🌳🌳🌳
Beberapa hari kemudian terlihat seorang wanita keluar dari mobil yang terlihat perutnya semakin membuncit.
" Hati-hati, Rissa." ucap pria itu yang membantu membuka pintu mobil.
" Terimakasih Alex." ucap Rissa.
" Lex, tunggu di sini saja ya?." ucap Rissa di samping Alex.
" Ya Sa! Tapi kamu hati-hati kalau melangkah." ucap Alex yang begitu perhatian.
" Baik, Lex." ucap Rissa setelah itu meninggalkan Alex yang berdiri di samping mobilnya.
🌳🌳🌳
" Bu Jenie, ada tamu yang ingin bertemu dengan anda." ucap seorang polisi wanita itu.
Jenie yang mendengar ucapan sipir itu bangkit dari duduknya. Ia mendekati sipir itu yang sudah membuka pintu jeruji besi itu. Setelah itu Jenie mengikuti langkah sipir itu untuk menemui orang yang ingin menemuinya.
" Mama." panggil Rissa setelah melihat kedatangan Ibunya.
" Rissa, apa kabar sayang?." tanya Jenie yang mendekati putrinya.
" Baik Ma." ucap Eris memeluk Ibunya.
" Apaan sih Ma! Putri sendiri di katai gendut.Mama bagaimana? Sehatkah?." tanya Rissa.
" Hahaha.. sehat sayang." ucap Jenie mengendurkan pelukannya menatap wajah putrinya.
" Kita duduk Ma, Rissa membawa makanan kesukaan Mama." ucap Rissa mengajak Ibunya untuk duduk.
Rissa mengambil rantang yang terisi makanan kesukaan ibunya. Setelah mereka duduk, Rissa membuka rantangan itu yang di bawanya dari rumah. Terlihat makanan begitu lezat, membuat Jenie ingin sekali segera melahapnya.
" Rissa suapin ya Ma!." ucap Rissa.
" Ya sayang." ucap Jenie.
" Aaaa." ucap Rissa yang mulai menyuapi Ibunya.
" Putri Mama juga harus ikut makan bersama Mama." ucap Jenie mengambil sendok dan menyuapi putrinya.
Terlihat butiran bening yang keluar dari kedua sudut mata Rissa, Ia ingin sekali berbicara dengan Ibunya. Apa yang di alaminya sekarang, tapi Ia juga takut Ibunya akan kembali sakit.
" Ma! Maafin Rissa, Rissa bukan putri Mama yang terbaik. Andai saja waktu bisa di putar kembali,Mama pasti tidak masuk penjara seperti ini. Ini semua gara-gara Anna." batin Rissa yang berkecamuk.Setelah makanan itu habis, Rissa kembali membereskan rantangnya.
__ADS_1
" Ma, Rissa pamit ke bali, nanti Rissa kabarin Mama terus." ucap Rissa.
" Iya sayang, kamu hati-hati di sana." ucap Jenie.
" Rissa pamit Ma!." ucap Rissa.
" Dadah sayang!." ucap Jenie terlihat kedua sudut matanya keluar butiran bening. Rissa yang semakin menjauh, seorang polisi mendekatinya kembali membawa tahanannya.
" Ayo Lex." ucap Rissa yang memasuki mobilnya.
" Baik Sa!." ucap Alex menyalakan mesin mobilnya meninggalkan halaman kantor polisi itu.
🌳🌳🌳
Di tempat lain nampak seorang wanita sedang membuka lembaran foto album sedang duduk santai di ruang keluarga. Terdengar langkah kaki mendekatinya yang ternyata Gladis sambil mengendap-ngendap.
" Mau nakutin Mba ya?." tanya Eris tanpa mengalihkan pandangannya yang masih saja melihat-lihat foto satu persatu.
" Is kok Mba tahu sih!." ucap Gladis.
" Taulah." ucap Eris.
" Mba, sedang apa?." tanya Gladis.
" Mba, sedang melihat kenangan Mba bersama keluarga." ucap Eris.
" Oh ya? Aku juga ingin melihatnya Mba." ucap Gladis yang ikut duduk di samping Eris.
" Ini siapa Mba?." tanya Gladis.
" Ini Mama, Papa dan paman." ucap Eris melihat 3 orang dewasa yang sedang bergaya.
" Ini siapa?." tanya Gladis.
" Itu tante Clara, istrinya paman." ucap Eris.
" Oh ya? Aku belum bertemu paman Mba. Kemana saja?." tanya Gladis.
" Paman sibuk banget, mungkin bulan depan paman bisa pulang. Nanti Mba kenalin sama paman." ucap Eris di balas anggukan Gladis.
" Mba, ini siapa?." tanya Gladis melihat foto seorang pria sedang memeluk gadis yang sedang menggendong bayi kecil.
" Oh itu, ini putri mereka berdua." ucap Eris.
" Wah lucu banget, namanya siapa Mba?. tanya Gladis.
" Iya lucu banget, namanya Liora." ucap Eris.
__ADS_1
Sontak Anna mengangkat wajahnya." Lioraa?." tanya Gladis memastikan.
" Iya Liora."