Si Gadis Cantik Bertopeng

Si Gadis Cantik Bertopeng
83


__ADS_3

" Duduk dulu." ucap Dian ke arah istrinya mendudukan bokongnya ke kursi yang di ikuti Anna dan Jenie.


" Mama kenapa sampai masuk penjara?." tanya Anna ke arah ibunya.


" Mama sudah melenyapkan dua orang nyawa Anna." ucap Jenie dengan rasa bersalah.


" Apaa?." ucap Anna yang begitu terkejut.


" Kecelakaan yang telah Mama rencanakan untuk menyingkirkan kamu tapi malah membuat orang lain kehilangan putri semata wayangnya." ucap Jenie.


" Jadi?." ucap Anna yang begitu terkejut, Ia belum bisa mengingat kecelakaan yang menimpanya. Ia hanya mengingat sebagian ingatannya saja. Walaupun di katakan dokter Anna sudah membaik namun masih di serang sakit kalau Anna memaksa mengingat kecelakaan itu.


" Apa Anna tidak ingat sesuatu saat kecelakaan?." tanya Jenie ke arah Anna membuat Dian menghentikan istrinya.


" Mah! Anna jangan di paksa untuk mengingat sesuatu." ucap Dian membuat Jenie menoleh ke arah suaminya.


" Apa yang terjadi dengan Anna pah?." tanya Jenie ke arah suaminya.


" Anna kehilangan ingatan, akibat benturan keras di kepalanya membuat Anna kadang di serang rasa sakit. Papa belum bisa bertanya lebih jauh tentang kecelakaan itu, ingatannya belum sepenuhnya." ucap Dian membuat Jenie kembali menitikan air mata. Rasa bersalah yang tidak mampu di maafkan.


" Mah!." panggil Anna meraih tangan ibunya dan di genggam erat.


" Maafkan Mama Anna." ucap Jenie manatap kedua mata Anna yang begitu persis dengan mata Clara.


" Anna sudah maafin Mama, Anna bakal berusaha membebaskan mama dari penjara." ucap Anna meyakinkan ibunya.


" Nggak usah sayang, ini hukuman yang pantas mama dapatkan yang sudah gelap mata." ucap Jenie.


Anna memeluk ibunya memberi kehangatan dan dukungan agar Jenie tidak sendiri menghadapi ujiannya. Anna membalas pelukan itu, membuat Ia begitu bahagia merasakan pelukan seorang ibu yang sejak lama ia nantikan.


Entah berapa lama mereka mengobrol tentang kehidupan Anna saat bangun dari koma. Setelah itu berpamitan untuk kembali ke rumah, di saat mobil itu memasuki komplex tempat tinggal mereka. Dian menoleh ke arah putrinya yang nampak berdiam diri.


" Apa yang di pikirkan gadis cantik kesayangan Papa? ." tanya Dian yang sedang mengemudi.


" Anna memikirkan Mama, Pah! Kasihan Mama di penjara." ucap Anna yang nampak begitu khawatir.


" Sayang, Papa dan Bram sering menemui Mama, jadi jangan di pikiran lagi ya!." ucap Dian membelokan mobilnya memasuki kediamannya.


Terlihat beberapa mobil terpakir di halamannya membuat Dian mengerit keningnya saat melihat mobil yang nampak tidak asing baginya.


" Pah! sepertinya ada tamu di rumah." ucap Anna ke arah Ayahnya.


Dian tidak menjawab perkataan putrinya yang sedang melepaskan sabuknya setelah memakirkan mobil. Anna juga mengikuti Ayahnya yang juga menatap ke arah mobil itu yang tidak begitu asing baginya.


" Kita kedalam."ajak Dian ke arah putrinya.

__ADS_1


" Ya pah!." jangan Anna sambil mengangguk.


Di saat memasuki rumahnya, Dian terkejut dengan kedatangan Leo yang sedang duduk menunggu kedatangan mereka.


" Mba Eris, Reya!."panggil Anna yang begitu bahagia melihat kedatangan mereka.


Anna berlari kepelukan Eris yang di sambut dengan senyum merekahnya. Yang juga di ikuti Reya yang berada di samping Eris.Mereka bertiga berpelukan, Eris membelai kedua kepala adik dan sepupunya itu.


" Anna kangen sama Mba dan Reya." ucap Anna mengendurkan pelukannya menatap wajah keduanya.


" Kami juga sangat merindukanmu, tapi ada juga yang lebih merindukanmu." ucap Eris membuat Anna mengerit keningnya.


" Siapa?." tanya Anna membuat Dian menoleh ke arah Leo.


" Anna itu paman yang pernah kau lihat di foto." ucap Eris menunjuk ke arah Leo, Anna pun menoleh ke arah pria yang juga menatapnya sedari kedatangan mereka.


" Anna." panggil Dian menoleh ke arah Anna.


" Ya Pah!." jawab Anna yang melepaskan tangannya yang melingkar di tubuh Eris dan menoleh ke arah Ayahnya.


" Minum obat dulu." ucap Dian.


" Tapi_."


" Anna bisa kembali mengobrol dengan mereka tapi setelah di minum obatnya." ucap Dian yang memotong ucapan Anna ke arahnya.


" Ya Anna, kami tunggu di sini." jawab Eris.


Anna melangkah pergi meninggalkan mereka yang berada di ruangan itu. Dian mendekati Leo yang sedang menatap punggung Anna yang semakin jauh dari pandangannya.


" Apa maksudmu datang kesini?." tanya Dian membuat Leo terkejut.


Bram yang duduk di kursi sofa di hadapan Leo bangkit dari duduknya melihat emosi ayahnya ke arah Leo yang di ikuti Eris dan Reya.


" Aku hanya ingin menemui putri kandungku Dian." jawab Leo.


" Aku yakin kau datang ke sini ingin mengungkapkan semuanya ya kan?." tanya Dian.


" Aku ayahnya Dian, jadi aku berhak mengatakan pada Anna kalau aku adalah ayah kandungnya." jawab Leo dengan tegas.


" Apaa??." pekik suara seseorang yang tidak jauh dari mereka.


Mereka menoleh bersamaan ke arah asal suara itu yang nampak seorang gadis begitu terkejut mendapatkan kenyataan bahwa paman Leo adalah ayah kandungnya.


" A_anaa." gumam mereka bersama yang begitu terkejut.

__ADS_1


🌳🌳🌳


Di kediaman Prabu, seorang pria sedang memasukan baju-bajunya ke dalam kopor yang terletak di ranjangnya. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka membuat Ia menoleh yang ternyata adalah ibunya.


"Mama." ucap pria itu yang kembali memasukan barang-barang yang lainnya.


" Ai,mau perjalanan bisnis? " tanya Vina melihat kopor putranya yang terisi baju-baju putranya.


" Nggak Mah!." jawab Aiden membuat Vina menoleh ke arah putranya.


" Jangan bilang Ai mau pergi dari rumah ini." ucap Vina sambil mendekati putranya yang membuat Aiden menghentikan aktivitasnya.


" Mah!."


" Mama mohon, Ai jangan pergi." ucap Vina memeluk putranya.


" Mah!." ucap Aiden yang berusaha melepaskan pelukan ibunya.


" Mama mohon Ai." ucap Vina memohon.


" Ai nggak bisa Mah! Ai sangat mencintai Anna. Ai nggak bisa hidup tanpa Anna." jawab Aiden.


" Mama tau, tapi Ai jangan pergi. Mama bakal bantu sampai kalian berdua sampai menikah."ucap Vina.


" Apa Mama yakin? Papa tidak menyetujui hubunganku bersama Anna." ucap Aiden sambil mendudukan bokongnya di atas ranjang yang di ikuti Vina.


" Sayang." ucap Vina mendudukan bokongnya di tepi ranjang di samping putranya." Mama bisa mengatasi Papa, tapi dengan satu syarat." ucap Vina.


" Apa Ma?." tanya Aiden.


" Kamu harus tinggal di sini. "ucap Vina.


" Tap_."


" Titik."


" Tapi Mah!." ucap Aiden.


" Nggak ada tapi-tapian. Ai mau menikah dengan Anna atau tidak sama sekali?." tanya Vina bangkit dari duduknya.


" Mah!." panggil Aiden bangkit dari duduknya mengikuti langkah Vina yang ingin pergi keluar dari kamarnya.


" Iya, Ai mau." ucap Aiden membuat Ibunya berhenti melangkah, tinggal selangkah saja Vina akan mencapai ambang pintu kamarnya.


" Ini baru anak mama." ucap Vina sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Aiden.

__ADS_1


...****************...


Assalamu Alaikum..raydesku yang sudah setia membaca sampai ke tahap ini dan akan sampai tamat..aku bakal kasih hadiah walaupun hanya seadanya saja..kuyyy jgan lupa like komennya ya😉😙


__ADS_2