
Setelah Anna keluar dari kamarnya, dengan cepat Bram menutup kembali pintu kamar yang di banting dengan keras membuat Anna tersentak kaget.
Braakkhh
" Kakak pasti marah banget sama aku." gumam Anna menatap pintu kamar Bram yang tertutup rapat.
" Kenapa juga aku begitu lancang memasuki kamar kak Abra? Dasar bodoh kau Anna." ucap Anna sambil mengetuk-ngetuk kepalanya
" Anna!." panggil suara seseorang yang membuatnya menghentikan kelakuannya melukai kepalanya, Anna berbalik menoleh ke arah ayahnya.
" Papa!." sapa Anna melihat ayahnya mendekatinya.
" Apa sakit kembali?." tanya Dian sambil membelai rambut kepala Anna.
" Eh! Hhmm nggak kok Pa!." jawab Anna.
" Terus kenapa kepalanya di ketuk-ketuk kayak gitu?." tanya Dian.
" Hhmm tadi.. hmm kemasukan semut Pa!." jawab Anna.
" Semuutt?." tanya Ayahnya sambil mengerit keningnya.
" Eh! Papa mau kemana rapih banget?." tanya Anna ingin mengalihkan pembicaraannya.
" Oh iya! Anna nggak mau ikut sama Papa?." tanya Dian ke arah Anna yang teringat tujuannya menemui Anna.
" Kemana Pah?." tanya Anna.
" Ikut Papa dulu baru tau kemana kita pergi." jawab ayahnya.
" Ya udah, Anna ikut." ucap Anna dengan tersenyum bahagia.
" Ya sudah ayo?." mengajak Anna pergi.Anna mengangguk sesaat ke arah Ayahnya sambil mengikuti langkah Dian.
Di dalam kamar, Bram nampak berpikir tentang perilakunya terhadap adiknya terlalu keras. Bram menoleh ke bingkai besar itu yang selalu membuatnya tersenyum. Gadis kecil yang tumbuh dewasa bersamanya membuat tumbuh benih-benih cinta di hatinya yang sampai beranjak dewasa. Karena mereka kakak beradik sedarah dengan Ayahnya membuat Bram berusaha menghilangkan rasa itu. Semakin mengungkiri rasa itu semakin besar pula cintanya terhadap Anna hingga sekarang. Perjuangan Bram ingin mendapatkan Anna kini kembali lagi setelah mengetahui Anna bukanlah adik kandungnya.
" Anna! Adik kecilku." ucap Bram sambil menyentuh bingkai itu.
" Aku harus meminta maaf kepada Anna." ucap Bram membalikkan tubuhnya melangkah meninggalkan kamarnya.
Bram melangkah mencari keberadaan Anna, namun Ia tetap tidak juga menemukannya. Hingga langkahnya menuju ke ruang keluarga, Ia tidak sengaja melihat Bibi yang sedang membersihkan ruangan itu sambil bernyanyi.
La la la la
__ADS_1
" Bii!." panggil Bram yang tidak juga di dengar Bibi karena di telinganya sedang terselip aerphone mendengarkan musik.
Bram mendekati Bibi dan menepuk bahunya membuat Bibi tersentak kaget. Bibi membalikkan badannya dan melepaskan aerphone yang berada di telinganya.
" Eh! Den Bram, ada apa?." tanya Bibi ke arah Bram.
" Bibi melihat Anna nggak?." tanya Bram.
" Non Anna?."
" Non Anna sama Tuan pergi keluar." jawab Bibi.
" Keluar? kemana Bi?." tanya Bram lagi.
" Bibi juga nggak tau Den." jawab Bibi.
" Ya sudah, makasih Bi! Bibi lanjut saja bekerja." ucap Bram yang setelah itu berbalik meninggalkan Bibi yang kembali memasang aerphone di telinganya.
" Papa sama Anna kemana ya?." tanya Bram sambil berpikir.
🌳🌳🌳
Sebuah mobil sedang memasuki halaman parkir kantor polisi, gadis yang berada di dalam mobil nampak mengerut keningnya dan menoleh ke arah Ayahnya.
" Papa mau ngapain di kantor polisi?." tanya Anna.
" Ayo sayang." ajak Dian sambil meraih tangan Anna dan di genggam erat, membuat Anna bertambah bingung.
" Permisi, saya ingin menjenguk istri saya." ucap Dian ke arah sipir yang sedang menjaga tahanan.
Anna terkejut dengan yang di katakan Ayahnya, membuat Ia melangkah lebih dekat dengan Ayahnya." Apa maksud Papa?." tanya Anna dengan suara berbisik membuat Dian menoleh ke arah putrinya.
" Jawab Anna pah?." tanya Anna lagi membuat Dian tidak kunjung menjawabnya. Dian hanya bisa menundukkan kepalanya karena kesalahan istrinya, Dian tidak mampu menjawab pertanyaan Anna kepadanya.
Anna yang melihat raut wajah ayahnya yang berubah kesedihan membuat Ia nampak berpikir sesuatu yang Ia tidak ketahui semenjak Ia menghilang.
" Papa!." panggil Jenie ke arah suaminya yang baru saja datang menemuinya.
Anna yang menunggungi Jenie membuatnya terkejut hingga melelehkan air mata mendengar suara Ibunya. Anna pelan-pelan membalikkan tubuhnya dan menoleh ke arah Jenie. Jenie yang tersenyum ke arah Dian begitu terkejut melihat wajah Anna di hadapannya yang sudah di anggap meninggal. Wajah Jenie memucat dan senyumannya memudar pelan-pelan hilang melihat Anna bangkit berdiri.
" Mama!." panggil Anna membuat Jenie menitikkan air matanya mendengar panggilan itu kepadanya. Hatinya merasa sakit karena mengingat perlakuannya terhadap Anna sampai merencanakan pelenyapan.
" A_anaa." panggil Jenie tenggorokannya terasa tercekik menyebut nama Anna.
__ADS_1
" Mamaa." panggil Anna lagi sambil berlari kepelukan Jenie.
Jenie yang terpaku begitu terkejut dengan Anna yang sudah memeluk erat di tubuhnya sambil menangis. Perlakuan kasarnya terhadap Anna kembali terbayang membuat Ia begitu merasa bersalah.
Jenie mencoba melepaskan pelukan Anna, hingga pelukan itu terlepas. Jenie menunduk dan menumpukan kedua lututnya kelantai membuat Anna dan suaminya terkejut.
" Mama." panggil serentak mereka ke arah Jenie.
" Ma_maafin Mama Anna." ucap Jenie memohon.
Tangisan Anna kembali pecah." Mama kenapa harus sujud seperti ini? Mama nggak salah apa-apa. Mama kenapa di dalam penjara?." tanya Anna ke arah Jenie yang juga menumpukan kedua lututnya di hadapan Jenie.
" Anna, ini pantas buat Mama, di penjara ini adalah tempat Mama yang sudah mencoba melenyapkanmu. Mama berhak menerima hukuman ini. Kamu pantas benci dan pukul Mama." ucap Jenie sambil meraih tangan Anna dan memukul ke arah tubuhnya.
" Ma! hentikan!." pekik Anna mencoba menahan tangannya agar tidak melukai Jenie.
Dian menitikkan air mata melihat putri dan istrinya, sungguh hati Anna bagaikan selembut sutra. Tidak ada dendam di dalam hatinya walaupun Ia hampir saja merenggang nyawa.
" Anna! Andai saja kau adalah anak kandungku betapa bahagianya diriku. Clara lihat anak gadismu yang begitu baik, hatinya seperti kau Clara. Betapa beruntungnya kau Leo." batin Dian.
" Mama pantas Anna." ucap Jenie di sela-sela tangisannya.
Anna melepaskan genggaman tangan Jenie dengan cepat Ia berhamburan memeluk ibunya menenangkan hati Jenie.
" Mah! Anna sudah maafin Mama, Anna sayang sama Mama, Anna nggak pernah benci sama Mama. Aku mohon Mama jangan seperti ini. Anna nggak kuat nyakitin Mama." ucap Anna di pelukan Jenie membuatnya berhenti memukul dirinya sendiri.
" Mah! Aku sayang sama Mama. Mama sudah seperti ibu kandungku." ucap Anna yang merasakan ibunya mulai tenang.
" Kenapa kau tidak membenci Mama yang sudah jahat sama kamu?." tanya Jenie.
" Aku nggak bisa benci sama Mama, karena Mama yang paling aku sayang." ucap Anna mengendurkan pelukannya menoleh menatap ibunya.
Jenie tersenyum dan membelai wajah Anna" Kamu sudah tidak memakai topeng lagi? Wajah Anna semakin cantik, bekas luka di sini sudah tidak ada lagi?." tanya Jenie.
Anna menganggukan kepalanya." Iya Mah! Karena Mama, Anna bertemu dengan orang-orang yang begitu baik sama Anna dan mengoperasi wajah Anna menjadi cantik lagi." ucap Anna.
Jenie tersenyum bahagia mendengar ucapan Anna." Maafin Mama ya?." ucap Jenie.
Anna meraih tangan Jenie yang sedang membelai wajahnya, tangan Jenie di genggam dan di kecupnya." Iya Mah!." jawab Anna.
" Hei! sampai kapan kalian duduk di sana dan mengacuhkan keberadaanku?." tanya Dian ke arah keduanya membuat mereka menoleh ke arahnya.
Anna bangkit membantu Jenie berdiri dan melangkah mendekati Dian yang juga berdiri tidak jauh dari mereka.
__ADS_1
" Pah!." panggil Jenie.
" Duduk dulu." ucap Dian ke arah istrinya mendudukan bokongnya ke kursi yang di ikuti Anna dan Jenie.