
" Iya Liora."
"Kenapa nama itu tak asing bagiku? Nama itu kadang sering terdengar di ingatanku, tapi dimana?." batin Gladis.
" Dis." panggil Eris hingga menyadarkan Gladis dari lamunannya.
" Kamu kenapa? Kamu kenal dengan nama itu?." tanya Eris.
" Nama itu_." balas Gladis namun ucapannya terputus karena ponsel Eris berdering.
" Bentar." ucap Eris segera meraih ponselnya yang terletak di atas meja di hadapannya.
" Paman?." ucap Eris setelah melihat nama kontak yang tertera di layar ponselnya.
" Bentar, Mba angkat telfon paman dulu ya Dis?." ucap Eris ke arah Gladis.
" Ya Mba." balas Gladis.
Eris menggeser warna hijau yang di layar ponselnya itu." Assalamu alaikum, paman apa kabar?." tanya Eris yang begitu bahagia mendapatkan telfon dari pamannya.
" Waalaikum salam, baik sayang. Gimana denganmu dan Reya, apakah kalian baik-baik saja di sana?." tanya suara seorang pria yang nampak cemas dengan keadaan keponakannya itu.
" Baik kok paman dan Reya juga Alhamdulillah baik, paman kapan balik ke sini?." tanya Eris.
" Secepatnya sayang." ucap pria itu.
Gladis yang hanya menjadi pendengar, hanya bisa menatap wajah Kakaknya. Andai saja Ia mengingat keluarganya, mungkin saat ini Ia seperti Eris yang begitu bahagia pamannya mengabarinya.
" Oh iya paman, gadis yang aku tolong itu ada di sini. Paman ingin kenalan dengannya kah?." tanya Eris.
" Oh yah! Mana? Paman ingin mengenalnya." Ucap paman.
" Gladis, sini paman ingin berkenalan."ucap Eris.
" Baik Mba." ucap Gladis sambil tubuhnya di geser lebih dekat dengan Eris.
" Bentar, paman hubungi melalui video call biar bisa melihat wajah kalian." ucap pria i
" Baik paman." ucap Eris.
Sambungan video call pun berlangsung, terlihat wajah pria paruh baya menatap ke arahnya.
" Gladis sini." ucap Eris menarik lengan Gladis sehingga wajah Gladis langsung terlihat di layar ponsel pamannya.
__ADS_1
Pamannya yang melihat wajah gadis itu sontak terkejut, tanpa sengaja Ia menjatuhkan benda yang berada di genggamannya.
Praaangghh
" Claraa."
🌳🌳🌳
Tak tak tak
Terdengar suara sepatu yang sedang melangkah memasuki sebuah perusahaan yang begitu terkenal. Di setiap karyawan yang di temui memberikan hormat kepadanya sebagai pemilik perusahaan itu yang bernama Prabu Bramantyo.
Setelah sampai di ruangan putranya ternyata di ruangan itu kosong, Prabu menghubungi Asisten putranya itu yang bernama Steve.
" Keruangan Aiden sekarang juga.
" Baik Tuan." ucap suara seseorang dari seberang ponsel Prabu.
Tidak berapa lama, datanglah Stave keruangan Aiden. Terlihat Prabu sedang berdiri menghadap ke arah luar jendela memperhatikan keindahan di pegunungan yang terlihat di sana.
" Tuan." ucap Stave sambil menunduk di hadapan Prabu.
" Selama ini Aiden kemana?." tanya Prabu tanpa basa basi.
Klaien Aiden menghubungi Prabu karena Aiden tidak mau mengangkat telfonnya. Padahal kesepakatan kerja sama mereka butuh tanda tangan Aiden yang sudah 3 hari menghilang.
" Tuan muda." Ucap Stave.
" Ada apa Stave? Katakan!." ucap Prabu berbalik menatap ke arah Asisten Putranya itu.
" Tuan muda 3 hari yang lalu sempat datang ke kantor. Tapi di saat Ia kembali ke rumah sakit, saat itu juga Tuan muda tidak kembali lagi. Karena_." ucap Stave.
" Karena apa Stave?." tanya Prabu mendekati Stave.
" Nona Anna maksud saya Non Gladis kembali sakit kepala karena Tuan muda memaksa Nona untuk mengingat masa lalunya. Namun, non Anna pingsan tidak sadarkan diri. Sehingga, Dokter Eris melarang Tuan muda untuk mendekati Nona demi kesembuhan Nona Anna. Tuan muda begitu sedih, selama nona di rumah sakit, Tuan muda menemaninya walaupun hanya dari jauh. Dan saat keluar dari rumah sakit, Tuan menyewa apartemen di sebelah rumah Dokter Eris demi nona juga dan untuk mengintai Nona dari jauh." ucap Stave.
" Dasar bodoh." umpat Prabu setelah mengetahui kelakuan putranya.
" Lanjutkan pekerjaanmu, hendel semua pekerjaan Aiden yang terbengkalai untuk sementara waktu dan terimakasih Stave." ucap Prabu.
" Sama-sama Tuan." ucap Stave.
Setelah itu Prabu pamit dari Stave meninggalkan perusahaan putranya karena ada pertemuan yang harus di hadiri olehnya.
__ADS_1
🌳🌳🌳
Di suasana pantai yang begitu indah dan sejuk seorang wanita sedang duduk di kursi sedang menatap anak-anak yang bermain pasir pantai.
" Sayang, ayo masuk." ajak pria ke arah wanita itu yang masih tersenyum ke arah anak-anak itu.
" Sebentar Alex." ucap wanita itu.
" Nanti kamu masuk dingin, kasihan anak kita Rissa." ucap Alex memegang kedua pundak wanita itu.
" Sebentar saja Lex, Alex lihat anak-anak itu sangat lucu saat bermain." ucap Rissa membuat Alex menatap ke arah anak-anak yang masih setia bermain.
" Kamu suka?." tanya Alex menoleh ke arah Rissa. Rissa menganggukkan kepalanya sesaat membalas pertanyaan Alex kepadanya.
" Kalau begitu, ayo kita menikah." ajak Alex membuat Rissa tersentak kaget atas ucapan Alex kepadanya.
" Lex, kamu kira menikah itu gampang apa?."
" Kenapa Sa?."
" Lex, menikah itu harus ada cinta di antara kita berdua." ucap Rissa.
" Aku mencintaimu Rissa, sangaatt mencintaimu. Aku sudah katakan padamu hati aku dan jiwaku hanya untuk kamu." ucap Alex dengan tegas.
Rissa menggelengkan kepalanya," Aku tidak mencintaimu Alex, aku mencintai Aiden seorang." ucap Rissa.
" Aiden? Sa! Kamu kapan bisa sadar, Aiden hanya mencintai Anna. Kamu lihat, apa Aiden berpaling padamu saat Anna meninggal?." ucap Alex.
" Aku yakin Aiden akan mencintaiku, kalau bukan mengandung anak kamu, mungkin saat ini aku mengejar cinta Aiden Lex!." ucap Rissa.
" Sa! Hati Aiden hanya untuk Anna seorang.Kamu pikir baik-baik, Cinta memang pantas di kejar kalau dia mencintaimu. Kalau memang dia tidak mencintaimu, lebih baik melupakan dari pada di sakitin. Menantilah atau di terima cinta yang benar-benar tulus mencintaimu, kalau tidak kau akan menyesal nanti bila kau menolaknya. Jangan memaksa cinta seseorang kalau dia tidak mencintaimu" ucap Alex.
Setelah itu Alex meninggalkan Rissa yang terdiam, Alex begitu kecewa karena kembali di tolak oleh Rissa. Apa yang kurang dariku? Apa karena aku hanya seorang supir baginya?" pikir Alex.Kalau bukan karena kesalahan yang di lakukannya yang membuat Rissa hamil, mungkin Ia sudah mundur dari pekerjaannya itu.
Rissa yang masih saja terdiam, dalam hatinya apa yang di katakan Alex benar. Terlihat dari kedua matanya keluar air mata menetes di pipinya.
Tiba-tiba sebuah mantel di kenakan seseorang padanya membuat Rissa menoleh ke arah orang itu yang ternyata adalah Alex. Alex yang khawatir tentang keadaan Rissa yang berada di luar mengambil mantelnya dan di bawa kepada Rissa. Kedua mata mereka bertemu, seakan memberikan rasa yang kini mereka rasakan. Namun, Alex mengalihkan tatapannya ke arah lain dan berbalik hendak kembali ke dalam rumah.
Tiba-tiba lengannya di tahan oleh Rissa, membuatnya menoleh ke arah Rissa yang masih saja menatapnya.
" Maafkan aku Lex." ucap Rissa.
" Maukah kau membantuku untuk belajar mencintaimu?." tanya Rissa yang kembali berucap.
__ADS_1
Sontak Alex berbalik menghadap Rissa dengan tersenyum bahagia." Apa kamu yakin ingin mencintaiku?." tanya Alex.
" Aku yakin, aku ingin belajar mencintaimu." ucap Rissa membuat Alex membawa tubuhnya kepelukannya karena bahagia. Walaupun bukan cinta yang di ucapkan Rissa, Alex sudah bahagia mendengar Rissa ingin belajar mencintainya. Suatu saat nanti pasti Rissa membalas cintanya.