Si Gadis Cantik Bertopeng

Si Gadis Cantik Bertopeng
Salon


__ADS_3

Malam yang semakin larut hingga obrolan keluarga itu pun terhenti walaupun banyak cecokkan antara ayah dan anak tak membuat mereka terpecah. Rasa cemburu Prabu kepada anaknya tak membuat kasih sayang seorang ayah ke anaknya menjadi pudar.


Abian yang menatap langit-langit kamarnya nampak melamun memikirkan gadis yang belum sehari kenal dengannya.


" Kenapa gadis itu selalu ada dalam pikiranku? Astaga Abian, lebih baik aku cepat tidur." gumamnya sambil menggelengkan kepalanya dan menutup matanya hingga ia terlelap dalam tidurnya.


****


Pagi hari menjelang, mentari memancarkan keindahan cahaya yang membuat seorang wanita tersenyum dengan semangatnya. Ana yang sedang bekerja menyiram tanaman nampak tersenyum melihat keindahan taman bunga yang bermekaran.


" *Sangat indah, andai aku seperti bunga yang selalu memberikan keindahan untuk orang-orang" gumamnya yang mencium bunga mawar.


" Kau sudah seperti bunga kok" ucap seseorang mengagetkan Ana*.


Ana menoleh ke asal suara itu dan menyembunyikan wajahnya yang nampak malu-malu.


" Kak Abra masih pagi sudah bangun?" tanya Ana.


" mmm..kakak mau lari pagi, kenapa masih saja menyembunyikan wajah Ana ke kakak?" tanya Bram.


" Mmm nggak apa-apa kak, Ana masuk dulu ya?" ucap Ana beranjak pergi tanpa menunggu jawaban Abra.


" Kenapa Ana selalu menghindariku semenjak aku datang? Apa ada sesuatu yang aku nggak tau?" pikirnya.


Bram menatap kepergian Ana yang selalu menghindarinya ketika ia di samping Ana.


" Maaf kak Abra, entah kenapa dengan diriku bila melihatmu?" batin Ana yang sedang melangkah ke arah dapur.


" Brrruukkh"


" Astaga,bisa lihat nggak sih?" bentak Risa.


" Maaf kak Risa, aku nggak sengaja" ucap Ana yang ketakutan.


" Nggak sengaja kamu bilang? lihat baju yang aku pakai rusak kayak gini" bentak Risa yang memperlihatkan bajunya yang kena kotoran dari tangan Ana.


Risa langsung menarik tangan Ana ke arah dapur dan langsung mendorongnya ke lantai. Ana yang ketakutan dengan ulah Risa hanya bisa menahan sakit di bagian pantatnya yang jatuh. Risa mengambil gunting dan di arahkan ke Ana, Ana yang melihatpun sangat ketakutan.


" Kak Risa mau ngapain?" tanya Ana yang mundur perlahan melihat Risa semakin mendekatinya.


" Aku sudah lama belum bermain-main denganmu, sekarang aku perlihatkan kemarahanku." ucap Risa dengan senyum liciknya.


" Risaa" teriak seseorang dari arah belakang Risa.


Risa langsung menjatuhkan benda yang di pegangnya ke arah Ana. Risa berbalik menatap orang yang sudah menggagalkan rencananya.


" Apa yang kamu lakukan terhadap Ana?" tanya Bram yang berjalan ke arah Ana dan Risa. Ana langsung berhamburan di pelukan Bram yang ketakutan atas ulah Risa.


" Kakak mau tau apa yang di lakukan si buruk rupa? lihat bajuku kotor gara-gara ulahnya." bentak Risa sambil menunjuk Ana.


" Kamu bisa beli atau pakai baju yang lain menggantikannya. Bajumu banyak, yang lain saja nggak kau pakai" ucap Bram.


" Baju ini kesayanganku kak" ucap Risa yang kesal kepada Bram yang selalu membela Ana.


" Baju kekurangan bahan gitu di bilang ke sayangan" ucap Bram. Risa yang mendengar ejekan kakaknya langsung beranjak pergi meninggalkan mereka.


" De,nggak apa-apa kan?" tanya Bram yang melonggarkan dekapannya dan menatap wajah Ana yang masih ketakutan.


" Nggak apa-apa kak, terima kasih" ucap Ana sambil melepaskan dekapannya dari Bram dan menghapus sisa air matanya.


" Kak Abra, aku mau lanjut kerja lagi" ucap Ana sambil beranjak pergi namun dengan cepat Abra menarik tangan Ana untuk tak pergi. Ana balik menoleh ke arah Abra yang memegang tangannya.


" Ada apa kak?" tanya Ana.

__ADS_1


" Ana seperti hindari kakak terus, ada apa?" tanya Abra.


" Nggak ada apa-apa kok kak! Aku hanya terburu-buru menyelesaikan pekerjaanku soalnya pagi ini, Ana mau kuliah kak" ucap Ana.


" Yasudah cepat nanti kakak yang antar Ana ke kampus." ucap Abra.


" Baik kak" ucap Ana meninggalkan Abra.


Bram kembali melangkah ke lantai atas untuk bersiap-siap untuk kekantor.


******


" Malam nanti jangan ada yang terlambat" ucap Dian setelah menyelesaikan sarapannya.


" Baik pa" ucap mereka.


" Risa, kamu nggak mau ikut sama kami?" tanya Janie.


" Nggak ma, aku di antar Johan asisten aku" ucap Risa yang sudah bersiap pergi.


" Aku pamit dulu" ucap Risa sambil menyalami tangan kedua orang tuanya.


" Hati-hati sayang" ucap Janie sambil menatap kepergian Risa.


" Aku sama kak Abra juga mau pamit ma, pa" ucap Ana sambil menyalami tangan ayahnya dan berpindah ke Janie namun uluran tangannya tak di balas.


" Hati-hati ya sayang" ucap Dian sambil menatap kelakuan Janie yang belum mebalas uluran tangan Ana.


Janie yang melihat tatapan suaminya dengan terpaksa mengulurkan tangannya. Ana langsung mengecup tangan Janie dan beranjak pergi bersama Abra.


" Kapan mama bisa berbagi menyayangi Ana?" tanya Dian.


" Maaf pa" ucap Janie yang berdiri membersihkan piring-piring kotor.


" Hati-hati ya pa" ucap Janie.


Dian pun berlalu pergi meninggalkan Janie yang masih membersihkan meja makan.


*********


Di kediaman Bramantiyo terlihat banyak kesibukan, acara yang di selenggarakan dilakukan dalam kediamannya. Seharusnya acara di lakukan di hotel atau di gedung mewah karena mereka mempunyai beberapa hotel mewah dan tempat-tempat mewah. Namun, karena permintaan istrinya acara pun di lakukan di kediamannya.


" Pa, mama seperti nggak punya duit aja, buat acaranya di sini. Lihat super sibuk, kita nih nggak di urus. Apalagi papa yang ada rapat bersama kolega bisnis, malah di cuekin." ucap Abian yang menatap gerak-gerik ibunya.


" Biarkan saja, yang penting kita bisa sarapan dan bisa melihat senyum mama" ucap Aiden yang menyuapi sepotong roti kemulutnya.


" Benar di bilang kakakmu, cepat habiskan sarapan dan kita akan berangkat ke kantor" ucap Prabu sambil mengunyah sarapannya.


" Maaf ya sayang, mama nggak bisa temenin kalian sarapan. Mama lagi sibuk, mama ingin acaranya lebih sempurna" ucap Vina yang datang menghampiri.


" Ma, papa nggak mau mama capek" ucap Prabu sambil melirik istrinya.


" Iya pa, nanti siang aku mama mampir ke salon" ucap Vina.


" Iya ma, yasudah kami berangkat dulu" ucap Prabu yang beranjak dari duduknya.


" Hati-hati pa, hati-hati anak-anak mama" ucap Vina.


" Kami pergi dulu ma, jangan capek-capek" ucap Aiden mengingatkan.


" Iya sayang"balas Vina tersenyum lembut ke arah mereka.


Setelah kepergian suami dan kedua anaknya, Vina melanjutkan kesibukkannya membantu mendekorasi tempat acara.

__ADS_1


********


" Kriing..kriing..kriing" bunyi handpone Ana yang di dalam tasnya.


Ana yang sudah pulang kuliah sedang berjalan ke arah tempat dia bekerja. Tiba-tiba handponenya berbunyi dan tertera nama yang tak asing darinya.


" Halo, Asalamu Alaikum" ucap Ana.


" Waalaikum salam nak" balas ayahnya.


" Papa ada apa?" tanya Ana yang langsung the to point.


" Ana sudah pulang?" tanya ayahnya.


" Iya pa, tapi ada kuliah susulan" ucap Ana yang membohongi ayahnya. Karena selama ia bekerja tak ada yang tau bahwa setelah dari kampus ia mampir ke restoran paman untuk bekerja.


" Papa akan telfon Pak Dekan mau minta ijin untuk kamu pulang sekarang" ucap ayahnya.


" Ada apa pa? papa nggak usah telfon Pak Dekan, Ana akan minta ijin langsung"ucap Ana yang gugup.


" Ana pulang sekarang, nanti papa kasih tau di rumah" ucap Dian.


" Baik pa" ucap Ana


" Yasudah hati-hati ya sayang, asalamu alaikum" ucap Dian.


" Walaikum salam." balas Ana sambil menutup obrolan mereka.


" Aku harus bagaimana? aku minta ijin lagi" ucap Ana sambil memasuki tempat tujuannya.


" Ana, kau sudah pulang?" tanya Citra yang melihat kedatangan Ana.


" Maaf aku hari ini nggak bisa masuk" ucap Ana dengan sedih.


" Kenapa?" tanya Laila yang mendengar obrolan mereka.


" Ayahku telfon untuk aku cepat kembali kalau nggak ayah telfon Pak Dekan nanti aku ketahuan selama ini" ucap Ana yang sedih.


" Yasudah kamu pulang saja, nanti kita akan jelaskan pada paman ketidak hadiranmu" ucap Citra.


" Terima kasih semua, kalau begitu aku pamit dulu ya"ucap Ana yang beranjak pergi.Mereka pun hanya bisa menatap kepergian Ana.


Setelah beberapa menit Ana akhirnya sampai di rumahnya yang nampak terlihat sebuah mobil yang terparkir di halaman rumahnya.


" Asalamu alaikum" ucapnya sambil melangkah memasuki rumahnya.


" Waalaikum salam" jawab mereka yang berada di ruang keluarga.


" Papa kok sudah pulang?" tanya Ana yang melihat keberadaan ayahnya.


" Papa cepat pulang mau mengajak kamu sama mama ke salon" ucap Dian.


" Tapi pa_" ucap ana.


" Tak ada tapi-tapian, ayo sayang" ajak Dian beranjak menarik tangan Ana.


Janie yang melihat kelakuan suaminya nampak kesal, Janie kesal karena baru kali ini Dian mengajak ke salon tapi dengan Ana pula yang diajaknya.


Mereka pun pergi ke salon yang selalu membuat para wanita nampak menjadi cantik dan segar. Setelah menempuh beberapa menit akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.


Janie dengan gaya glamor sedang melangkah ke arah resepsionis. Tanpa melihat ke arah samping seseorang menuju ke arahnya hingga mereka bertabrakan.


" *Brrruukkh"

__ADS_1


" Akh*, bisa lihat nggak?" bentak Janie ke arah wanita yang tak di kenalnya.


__ADS_2