Si Gadis Cantik Bertopeng

Si Gadis Cantik Bertopeng
Bertemu Dian


__ADS_3

" Aku yakin kau mengerti yang aku ucapkan." ucap Leo setelah itu pergi meninggalkan Mei yang terdiam.


Mei hanya bisa melihat kepergian Leo tanpa berkata-kata, dari sudut matanya terlihat bulir-bulir air mata hingga menetes di pipi mulusnya.


" Benar yang Kak Leo katakan, cinta nggak bisa di paksakan. Aku harus meninggalkan tempat ini, semua ini hanya membuat hatiku sakit."batin Mei.


Mei melangkah ke kamar Sandra, terlihat Leo dan dokter sedang mengobrol sesuatu. Namun, ia tidak mempedulikannya. Mei membuka pintu kamar Sandra, Sandra dan suaminya berada di kamar itu begitu terkejut dengan kedatangan Mei.


" Mei!." sapa Sandra.


" Tan, Mei pulang dulu." ucap Mei.


" Kok cepat sih? Temani Tante dulu ya?." tanya Sandra.


" Maaf Tante, Mei pergi dulu." jawab Mei yang kemudian menyambar tasnya yang berada di meja di kamar itu.


" Mei!." panggil Sandra yang mencoba menghentikan Mei untuk pergi.


Mei tidak mempedulikan Sandra yang memanggilnya yang melewati Leo dan Dokter yang sedang mengobrol.


" Meii kembali!." panggil Sandra yang masih saja di dengar Mei.


"Maafkan Mei Tan!." batin Mei yang meneteskan air matanya.


🍁🍁🍁


Leo masuk ke dalam kamar Ibunya setelah mengantar dokter pergi.


" Apa yang kamu katakan sama Mei, membuatnya pergi meninggalkan Mama Leo?." tanya Sandra yang melihat Putranya baru saja masuk ke kamarnya.


" Aku hanya menasehatinya Mah!." jawab Leo.


" Menasehati apa? Mama yakin, kamu sudah mengusirnya." ucap Sandra.


" Aku tidak mengusirnya Mah!." jawab Leo yang masih bersikukuh.


" Bohong!."bentak Sandra.


" Cukuupp!." pekik Herman yang kesal dengan Istrinya.


" Kenapa Papa membentak Mama?." tanya Sandra yang kaget dengan bentakan suaminya.


" Mama pantas di bentak, Papa tidak suka dengan sifat Mama mencampuri urusan asmara Leo. Papa tidak mau seperti Libi, Mama sadar nggak? Anak-anak yang kita jaga dan sayangi dari kecil sampai besar tapi meninggalkan kita dan rumah ini. Anak sendiri menganggap kita seperti musuh." ucap Herman.


" Mama hanya ingin mereka punya masa depan yang baik Pah! Mama nggak suka mereka punya istri yang tidak sepadan sama kita." ucap Sandra.


" Mama nggak ingat, Mama juga berasal dari sana?." tanya Herman.


Sandra terkejut dengan yang di katakan suaminya membuat Leo ikut terkejut pula. Leo beranjak pergi meninggalkan kedua orang tuanya tanpa berpamitan.Sandra yang melihat Leo pergi kembali menghentikannya.


" Leo, dengerin Mama dulu!." panggil Sandra ke arah Leo yang sudah melangkah pergi.


Leo masih dapat mendengarnya, tapi Ia paling tidak suka mengurus pertengkaran kedua orang tuanya.


" Pah! panggil Leo!." ucap Sandra.


" Biarkan Leo pergi, biar Mama menyadari kesalahan sendiri." ucap Herman yang juga ikut meninggalkan istrinya.

__ADS_1


" Pah!." panggil Sandra ke arah suaminya mencoba menghentikannya.Herman tetap saja melanjutkan langkahnya.


🍁🍁🍁


2 minggu kemudian


Leo semakin tidak terurus, semenjak pertengkaran itu Leo tidak kunjung menjenguk kedua orang tuanya. Kesibukannya setiap hari hanya mencari jejak istri dan putrinya itu yang tidak kunjung di temukan.


Sahabat dan juga bekerja di perusahaannya itu juga tidak menghubunginya. Leo singgah ke kedai abangnya yang terlihat begitu ramai. Leo menoleh ke arah Eris yang sedang sibuk bermain.


" Hallo sayang." sapa Leo ke arah Eris.


" Pamaaan." panggil Eris bangkit dan berlari ke arah Leo


Mereka berdua berpelukan" Paman, kenapa baru mengunjungi Elis?." tanya Eris yang bercoloteh anak kecil.


" Paman sibuk sayang." jawab Leo.


" Sibuk itu apa paman?." tanya Eris.


" Coba lihat Papa sama Mama ngapain?." tanya Leo ke arah Eris.


" Papa sama Mama kelja bialin Elis sendili." jawab Eris.


" Nah, seperti itu sibuk sayang, sibuk kerja melayani orang. Biar Eris nggak sendiri paman temenin main mau?." tanya Leo.


" Mau Om." jawab Eris dengan bahagia.


" Ya sudah, ayo main." ucap Leo mengajak Eris.


Dari kejauhan Libi tersenyum bahagia melihat adiknya dan putrinya akrab banget. Walaupun Libi dan istrinya begitu sibuk melayani, Eris selalu dalam pantauan mereka. Sebenarnya Libi pernah mempunyai Baby sister untuk menjaga putrinya, namun putrinya tidak menyukainya. Sehingga mereka memutuskan tidak memperkerjakan Baby sister lagi.


" Ya sayang, ada apa?." tanya Leo.


" Apa Nenek sama Kakek, olang tua paman?." tanya Eris kembali sibuk mengatur mainannya.


" Nenek dan Kakek?." tanya Leo terdiam tangannya yang juga sedang mengatur mainnya.


" Ya paman, Nenek sama Kakek datang ke sini mau menjeput Elis, tapi Papa nggak ijinin." ucap Eris.


" Eh ada paman yang temenin putri cantik papa ya?." tanya Ayahnya yang memecahkan lamunan Leo.


" Iya Ayah, abis Elis sendili belmain." jawab Eris ke arah Ayahnya yang tersenyum.


" Eris sayang, Mandi dulu ya?." panggil ibunya melangkah mendekati mereka.


" Ya Mama, paman tunggu sebental ya? Elis mau mandi dulu." ucap Eris.


" Iya sayang." balas Leo sambil mengelus ujung kepala Eris.


Eris dan ibunya pergi meninggalkan mereka berdua yang memandangi tingkah gadis kecil itu.


" Papa sama Mama kesini." ucap Libi sesaat.


" Apaa? Papa sama Mama ke sini?." tanya Leo tidak percaya.


" Hmmm...mereka meminta maaf dan mengajak kami untuk kembali." jawab Libi.

__ADS_1


" Abang mau?." tanya Leo.


" Aku belum memutuskannya." jawab Libi.


Mereka berbincang-bincang sesaat setelah itu gadis riang itu mengganggu mereka dengan colotehnya. Setelah lama berada di sana, akhirnya Leo kembali ke apartemennya.


🌳🌳🌳


Pagi yang cerah terdengar nyanyian burung yang begitu merdu di beberapa pohon rindang yang membuat halaman itu menjadi indah dan sejuk.


Di bawah pohon itu terlihat seorang perempuan yang sedang menggendong seorang balita perempuan.


" Kue, kue, kue panas." teriaknya membuat putrinya tertawa.


" Putri Mama senang ya? Mendengar Mama teriak-teriak?." tanya Clara ke arah putrinya itu.


Putrinya yang belum tahu menjawab pertanyaan Ibunya hanya tersenyum ke arahnya karena Ia sudah sedikit-sedikit mengerti.


" Kita istirahat dulu sayang." ucap Clara sambil meletakan bawaannya.


Sebuah mobil melintas di depan mereka dan berhenti di hadapannya. Pria itu keluar dari mobilnya yang hanya memperhatikan bawaan perempuan itu.


" Bu, saya mau beli kue." ucap Pria itu.


" Kue apa?." tanya Clara menoleh ke arah pria itu.


" Claraa!." sapa pria itu yang begitu terkejut melihat Clara.


" Mas Dian." ucap Clara yang juga terkejut.


Clara bangkit dari duduknya melihat Dian yang di hadapannya.


" Kau jualan Cla?." tanya Dian.


" Iya Mas, aku jualan kue untuk menghidupi kami berdua." balas Clara.


" Apa Leo tidak mencari kalian?." tanya Dian ke arah Clara.


" Nggak Mas, aku sama Mas Leo sudah bercerai." jawab Clara.


" Seharusnya Leo tidak menyia-nyiakan gadis baik seperti kamu Clara." ucap Dian.


" Sudahlah Mas, semua sudah berlalu pasti Mas Leo sudah bahagia bersama gadis pilihan ibunya. Oh iya, Mas mau beli kue berapa?." tanya Clara.


" Aku borong semuanya." jawab Dian.


" Lah! Emang perutnya mampu di isi kue sebanyak ini?." tanya Clara.


" Nggak bisa Clara, aku borong buat pegawai aku di kantor, kami ada acara kecil-kecilan." jawab Dian yang membuat Clara ber"oh" ria.


Setelah itu Clara mengemasi semua kue jualannya ke dalam tas untuk di bawa Dian.


" Di mana kau tinggal sekarang?." tanya Dian.


" Tidak jauh dari sini Mas, ad rumah kecil di dekat pohon besar itu." jawab Clara.


" Kalau aku tidak terburu-buru, mungkin aku ingin sekali mampir." ucap Dian.

__ADS_1


" Lain kali Mas mampir ya?." ucap Clara.


" Ya Cla, eh baru sadar aku, ternyata ada gadis cantik yang menatapku. Ini putri kalian?." tanya Dian baru melihat bayi mungil itu yang sedang menatapnya sejak tadi.


__ADS_2