Si Gadis Cantik Bertopeng

Si Gadis Cantik Bertopeng
62


__ADS_3

" Doorr."


" Aaahh." teriak histeris Reya dan berlari ke dalam mobil Abi karena ketakutan.


Abi yang melihat Reya ketakutan karena di kagetkan olehnya begitu puas sehingga membuatnya tertawa bahagia bisa membalas perbuatan Reya kepadanya.


" Hahaha, dia lari terbirit-birit seperti melihat setan." ucap Abi di sela-sela tawanya. Ia menutup bagasi mobilnya dan kembali menyusul Reya yang berada di mobil.


Di saat Abi berada didalam mobil, Reya yang begitu ketakutan masih memeluk kedua kakinya. Sedang bergumam membuat Abi menoleh ke arahnya.


" Pergi hiks..pergi hiks..jangan dekati aku hiks." gumam Reya yang masih di dengar Abi.


" Re!." panggil Abi menyentuh pundak Reya.Reya sontak menjauhi tangan Abi dari pundaknya dengan tubuhnya bergetar karena ketakutan.Abi yang melihatpun begitu terkejut.


" Re, ini aku." ucap Abi.


" Pergii, jangan sakitin aku hiks." bentaknya yang masih menyembunyikan wajahnya. Abi yang melihatpun merasa bersalah, kelakuannya yang mengerjai Reya ternyata membuat seorang gadis itu menangis.


" Re, ini aku Abii." ucap Abi lagi, Reya pun mendongak ke arah Abi setelah mendengar nama seseorang.


" Hiks hiks, jangan tinggalkan aku, aku takut." ucap Reya berhamburan memeluk Abi.


" Maafkan aku." ucap Abi yang merasa bersalah, baru kali ini Ia membuat seorang gadis menangis karena ulahnya." Sekarang jangan menangis lagi ya! Kita pulang sekarang." ucap Abi sambil mengendurkan pelukan Reya. Abi mengusap air mata Reya di pipi mulusnya, kedua mata mereka bertemu saling bertatapan.


satu detik dua detik tiga detik, tiba-tiba Reya menjauhi wajahnya dari Abi. Abi pun kembali memperbaiki duduknya dan menyalakan mesin mobilnya walaupun jantungnya berdetak tak karuan.


" *Ada apa dengan jantungku, kok seperti sedang lari maraton saja." batin Abi.


" Dia sangat tampan." batin Reya sambil mencuri lirikannya ke arah Abi yang sedang fokus mengemudi*.


Tidak berapa lama mobil Abi telah sampai di apartemen Reya, Reya keluar dari mobil Abi dan di susul Abi pula.


" Terimakasih Kak, sudah antar Reya sampai disini." ucap Reya ke arah Abi.


" Hhmm." Abi mengganggukan kepalanya."Oh iya mobil kamu gimana?." tanya Abi.


" Oh itu? Ntar aku suruh kakakku untuk bawa ke bengkel." ucap Reya.

__ADS_1


" Oke kalau gitu, aku balik dulu." ucap Abi.


" Hati-hati ya kak." ucap Reya mendekati Abi. Tiba-tiba Reya mengecup pipi Abi, kemudian lari ke dalam apartemennya meninggalkan Abi yang terpaku.


Abi sontak terkejut dengan kelakuan Reya yang mengecup pipinya, pipinya bersemu merah karena baru kali ini di kecup oleh seorang gadis selain Ibunya. Setelah itu Abi melanjutkan langkahnya masuk kedalam mobil dan meninggalkan tempat itu dengan wajah berseri-seri.


Reya yang berlari memasuki rumahnya sedang senyum-senyum sendiri karena kelakuannya yang mengecup seorang pria. Betapa malu dirinya apabila bertemu kembali dengan Abi. Tiba-tiba di kagetkan dengan suara deheman seseorang.


"Ekheem."


" Kak Eris."


Sejam yang lalu Eris telah sampai di apartemen, namun tidak menemukan adiknya. Sehingga Ia menelpon Adiknya untuk bertanya keberadaan Adiknya itu. Beberapa kali dia menghubungi nomor Adiknya, namun nomor Reya tidak kunjung aktif yang membuatnya begitu khawatir.


Setelah lama menunggu terdengar suara pintu Apartemennya terbuka. Ia yakin itu Adiknya, Ia bangkit dari duduknya menuju ke ruangan yang terdapat Adiknya sedang tersenyum sendiri di ambang pintu.


" De' dari mana saja?." panggil Eris ke arah Reya yang terkejut melihat keberadaan Kakaknya.


" Kak Eris sudah lama pulang?." tanya Reya berbalik bertanya kepada Kakaknya tanpa menjawab pertanyaannya.


" Dari tadi Kakak menghubungi kamu De'? tapi nggak aktif-aktif. Kemana aja?." tanya Eris.


" Kenapa nggak di beli kursi roda saja?." ucap Eris sambil mendudukan pantatnya di kursi yang berada di ruangan itu.


" Is Kakak, Kak tolong si cantik ya! Kasihan si cantik aku tinggalin di parkiran hotel." pinta Reya dengan manjanya.


" Is gini nih kalau ada maunya, mobil kayak rongsokan aja di panggil cantik." ucap Eris membuat Reya kesal atas ucapan Kakaknya.


Hari ini sudah dua orang mengatai mobilnya jelek dan rongsokan. Kalau bukan karena meminta bantuan kepada Kakaknya Reya pasti sudah menjahilinya.


" Kak!." rengek Reya ke arah Kakaknya.


" Iya iya, tapi jawab dulu pertanyaan Kakak. Kenapa kamu senyum-senyum tadi?." tanya Eris menatap ke arah Reya menyelidik.


" Hhmm itu, aku lihat bule kak!." ucap Reya asal menjawab.


" Is De' kamu masih kecil jangan dulu pacaran." ucap Eris.

__ADS_1


" Iya Kak, aku ke kamar dulu ya! Aku sudah ngantuk dan capek kak!." ucap Reya yang mengalihkan pembicaraan Ia takut Eris bertanya lagi.


" Alasan saja kamu." ucap Eris.


Reya pun berlalu dari hadapan Eris yang masih saja menatapnya penuh menyelidik. Eris hanya bisa menghela nafas pelan-pelan melihat kelakuan adiknya yang pasti menyembunyikan sesuatu darinya.


Setelah kepergian Adiknya, Ia menghubungi seseorang untuk memperbaiki mobil Adiknya. Setelah itu Eris pergi ke kamarnya untuk tidur karena Ia begitu mengantuk akibat semalaman tidak bisa tidur nyenyak.


🌳🌳🌳


Di pagi hari suara burung berkicau di atas pepohonan yang rindang di samping ruangan yang berjeruji itu. Seorang wanita yang sudah nampak tidak muda mengerjap-ngerjap kelopak matanya. Rasanya Ia belum percaya kalau Ia benar-benar berada di sini, Ia bangun dari baringnya melihat teman-teman sekamar dengannya masih tidur pulas.


Wanita itu mulai bangkit dari duduknya, namun kepalanya terasa pusing. Matanya mulai buram lama-lama menjadi gelap sehingga membuatnya pingsan dan terjatuh tergeletak di lantai. Teman-teman yang sekamar dengannya kaget saat mendengar suara terjatuh, sontak mereka terbangun dan melihat teman mereka jatuh pingsan.


Salah satu teman mereka memanggil sipir untuk menolong teman mereka. Beberapa sipir mendengarpun langsung datang menghampirinya dan melihat salah satu napi jatuh pingsan. Kemudian sipir itu memanggil salah satu temannya membawa wanita yang pingsan itu ke rumah sakit.


Suara sepatu terdengar di ruangan koridor yang nampak seorang pria sedang berlari tergesa-gesa. Sebelumnya Ia mendapat kabar dari salah satu sipir yang menghubunginya bahwa Ibunya berada di rumah sakit. Di saat Ia mendekati ruangan di mana tempat ibunya di rawat tanpa sengaja Ia menabrak seorang gadis yang ternyata dia seorang dokter.


*Buugghh


Brakh*


Mereka berdua terjatuh, tubuh pria itu menindih gadis itu yang ternyata gadis itu terkejut di saat Ia menatap wajah pria yang menindihnya. Wajah yang nampak tak asing baginya, wajah yang selalu dia rindukan.


" Bram." ucap gadis itu membuat pria itu menoleh ke arah gadis di tindihnya yang ternyata pria itu adalah Bram.


" Eris." ucap Bram yang tidak percaya dengan gadis di hadapannya ini.


Mereka berdua saling menatap, terpancar dari bola mata Eris terpendam rasa rindu yang begitu dalam. Bram yang memandangi wajah gadis itu membuat jantungnya juga berdetak tak karuan.


Deg deg deg


" Bram beraat." rengek Eris mengadu kesakitan akibat Bram menindihnya.


Bram pun terkejut dan sontak bangkit, Bram membantu Eris bangun.


" Maaf ya!. Apa ada yang terluka?." tanya Bram memeriksa tubuh Eris.

__ADS_1


" Nggak ada Bram, aku baik-baik saja." ucap Eris.


__ADS_2