
Terdengar burung-burung bernyanyi menandakan menjelang pagi hari yang belum menampakan mentari. Embun di pagi hari yang begitu dingin membuat seorang pria terbangun karena merasakan tubuhnya kedinginan. Ia mengerjapkan matanya melihat sekeliling yang masih berada di dalam mobil. Pria itu mencari ponselnya melihat jam yang sudah menunjukan pukul 05.40, kedua matanya menoleh ke arah rumah sang kekasih yang lampu kamarnya masih keadaan menyala. Jendela kamarnya belum juga terbuka menandakan gadis itu masih tidur.
Kring kring kring
Ponselnya berdering, Aiden menoleh ke kontak panggilan yang sedang menghubunginya. Raut wajahnya berubah geram, ia tidak ingin meladeni pria itu yang sudah menyakiti Anna. Aiden terpaksa mengangkat ponselnya yang masih terus berdering.
" Ada apa?." tanya Aiden tanpa basa basi.
" Kau di mana?." tanya seseorang dari ponselnya yang sudah kesal dengan Aiden yang tidak pulang semalaman.
" Terserah aku berada di mana, jangan pernah mengurusi urusan pribadiku." ucap Aiden tegas.
" Kamu lupa soal semalam? Apa kau ingin kekasih pujaanmu itu tambah terluka lagi?." tanya pria itu penuh dengan ancaman liciknya.
" Kau?? Apa maumu?." tanya Aiden.
" Kau sudah tidak menghormatiku? Memanggilku saja bukan lagi papa?." tanya ayahnya.
" Jangan mengalihkan pembicaraan." jawab Aiden.
" Secepatnya kau temui Nena dan minta maaf padanya." ucap Prabu.
" Baik, dan dengar kalau memang kau ayahku seharusnya kau mengerti perasaan putranya." ucap Aiden yang setelah itu memutuskan panggilannya.
Hatinya begitu kacau, Ia tidak ingin pergi sebelum melihat kekasihnya itu. Aiden teringat kejadian semalam saat Anna yang sedang menangis membuatnya semakin frustasi. Dengan terpaksa dan hati tidak rela Aiden menyalakan mobilnya dan pergi meninggalkan komples kediaman Dian. Ia tidak ingin ayahnya kembali melakukan yang membuat Anna tersakiti lagi.
🌳🌳🌳
Di sebuah kamar yang berchat pink terlihat sepasang manusia sedang terlelap dalam tidurnya. Tiba-tiba tirai bergerak karena tiupan angin yang memasuki lewat pentilasi jendela kamar itu. Hingga tirai itu menyentuh wajah gadis itu yang terlelap di dada bidang kakaknya. Ia terusik dengan tirai yang menyentuh wajahnya itu yang membuat gadis itu membuka matanya dengan pelan.
Ia mengucek matanya yang sempat buram pandangannya melirik ke sekeliling. Di saat tangannya menyentuh kulit seseorang yang begitu hangat membuatnya tersadar bahwa Ia tidak sendirian tidur di kamar itu.
Matanya melihat dada bidang yang di tindihnya itu, Ia teringat semalam kakaknya berada di kamar ini juga. Dengan canggung Anna mendongakkan wajahnya melirik ke arah pria yang sedang tidur pulas itu. Anna merasa bersalah melihat wajah polos kakaknya yang tertidur tanpa berbantal.
" Apa begitu tampan kah?." tanya Bram membuat Anna terlonjak bangkit mendengar suara kakaknya.
" Sejak kapan kakak bangun?." tanya Anna.
" Semenjak adik kesayangan kakak ini memandangi wajah tampanku." jawab Bram.
" Narsiiss!! Maunya kakak di bilang tampan." ucap Anna memutar bola matanya jengah mendengar ucapan kakaknya yang begitu PD dengan ketampanannya.
__ADS_1
Anna mulai bangkit dari duduknya, yang di ikuti Bram yang ingin bangkit juga. Namun, sakit di punggungnya membuat Ia merintih menahan sakit.
" Aakh!! Sakit." ucap Bram membuat Anna berhenti dan membalikkan tubuhnya ke arah Bram.
" Kakak kenapa?." tanya Anna yang khawatir.
" Eehhm, nggak apa-apa." jawab Bram sambil memegang punggungnya.
Anna yang melihatpun mengerti, Anna membalikkan tubuh kakaknya itu dan memijat punggung yang sakit. Bram yang merasakan tangan lentik Anna yang memijat tubuhnya begitu terasa nyaman, sakit yang di rasakannya kini mulai menghilang.
" Seperti punya istri saja." ucap Bram membuat Anna mengkerut keningnya, dengan cepat tangan Anna menepuk punggung Bram yang sakit.
" Aduh!! Sakit De'!!." ucap Bram mengadu kesakitan.
" Cepat cari istri, biar ada yang mijitin kakak. Bikin nyusahin aku aja!." ucap Anna berhenti memijat.
" Ya udah, yuk kita nikah!." ucap Bram asalan membuat Anna terpaku mendengar ajakan kakaknya untuk menikah, mengingatkannya dengan ucapan Aiden yang kemarin. Anna perlahan turun dari ranjangnya, senyumpun Anna memudar mengingat peristiwa yang semalam yang membuat hatinya begitu hancur.
Bram merasa bersalah, padahal sebelumnya Anna telah melupakan kesedihannya itu. Seharusnya Ia tidak mengungkit tentang pernikahan yang mengingatkannya kepada Aiden.
" Anna!!." panggil Bram ke arah Adiknya. Anna menoleh ke arah kakaknya dengan wajahnya yang terlihat sedih. Betapa hancur hati adiknya ini, apa Ia mampu mengobati luka yang di torehkan Aiden kepada adik kesayangannya ini?.
" Maafkan kakak sudah membuatmu mengingat lagi Aiden." ucap Bram.
Bram menatap wajah Anna, memang sangat terlihat di kedua mata adiknya ini memendam luka yang begitu besar. Tapi Anna masih saja tersenyum ke orang menandakan Ia baik-baik saja tapi tidak dengan hatinya. Tidak ada yang tahu apa yang dipikirkan ataupun yang dirasakan adiknya itu. Anna hanya terlihat baik-baik saja tanpa ada beban di mata orang yang memandangnya.
Tok tok tok
Terdengar suara pintu kamarnya yang di ketuk dari luar oleh seseorang.
" Non! Di tunggu tuan di bawah." ucap suara pelayan dari luar kamarnya.
" Iya Bi! Dikit lagi aku nyusul." balas Anna.
" Pasti papa sudah nunggu lama di bawah." ucap Anna bangkit dari ranjangnya menuju ke kamar mandi untuk mencuci wajah kusutnya.
Bram hanya bisa melihat kepergian Adiknya itu yang begitu pintar menyembunyikan kesedihannya. Ingin rasanya Bram memukul wajah Aiden yang sudah membuat adiknya itu patah hati.
🌳🌳🌳
" Pagi Pah!!." sapa Nena yang sudah terlihat begitu cantik dengan dres mininya yang memperlihatkan kulit putihnya.
__ADS_1
" Pagi juga sayang!." sapa balik ayahnya setelah menoleh ke arah putrinya itu.
" Pagi-pagi sudah rapi dan sangat cantik, mau kemana putri kesayangan papa ini?." tanya Ayahnya.
Nena bersemu merah di wajahnya mendengar pujian ayahnya." Aku mau jalan-jalan sama Mas Ai." jawab Nena setelah duduk di hadapan ayahnya.
" Jalan-jalan sama Ai?." tanya Rudi menghentikan suapannya ke arah mulutnya.
" Hmm.. Aku ingin lebih dekat sama Mas Ai dan satu lagi." ucap Nena.
" Apa?." tanya ayahnya yang penasaran.
" Aku akan memberi tahu kepada seluruh dunia kalau aku adalah calon istri Aiden Bramantiyo." ucap Nena sambil mengoles roti di tangannya.
" Ini baru putri papa." puji Rudi ke arah putrinya.
" Ini yang aku suka, sedikit lagi perusahaan dan harta Prabu menjadi milikku lagi. Tangkapan yang bagus sekali, apalagi Leo dan Prabu saling membenci mengira keduanya saling mencuri harta padahal keduanya aku tipu. Sekarang aku memanfaatkan putriku untuk menjadi menantumu setelah itu aku akan mencuri semuanya, hahaha." pikir Rudi tersenyum licik.
" Pah! Papa, papa!." panggil Nena melihat ayahnya melamun.
Rudi tersadar dari lamunannya saat mendengar putrinya memanggil." Ada apa?." tanya Rudi.
" Papa kenapa? Sakit?." tanya Nena yang terlihat cemas sambil bangkit mengulurkan punggung tangannya di atas kening ayahnya.
" Nggak kok sayang, papa baik dan sehat kok!." ucap Rudi sambil meraih pergelangan putrinya yang berada di atas keningnya.
" Terus kenapa papa melamun?." tanya Nena.
" Papa hanya melamun tentang putri satu-satunya papa ini." jawab Rudi sambil tersenyum ke arah Nena.
" Tentang apa?." tanya Nena mengerit kedua keningnya sambil mendudukkan bokongnya kembali.
" Tentang putri papa setelah menikah nanti papa akan kesepian, tidak ada yang selalu memberi perhatian sama papa dan ajak papa bicara saat sarapan." ucap Rudi membuat Nena bersedih.
" Papa tidak akan kesepian, aku tidak akan pernah meninggalkan papa." ucap Nena bangkit dari duduknya memeluk ayahnya.
" Terimakasih sayang, jangan sedih! Nanti luntur bedaknya." ucap Rudi sambil mengamati wajah putrinya itu.
" Dah luntur juga! Gara-gara Papa." ucap Nena sambil mengusap kedua sudut matanya yang mengeluarkan bulir air mata.
" Hahaha, tapi anak papa tetap cantik." ucap Rudi memuji putrinya.
__ADS_1
" Terimakasih papa tampanku!." ucap Nena masuk kedalam pelukan ayahnya.