Si Gadis Cantik Bertopeng

Si Gadis Cantik Bertopeng
Aku Mencintaimu Bram


__ADS_3

" Kakak, hiks...hiks...hiks..Aku bodoh jatuh cinta kepada pria brengsek itu. Aku sangat mencintainya, sangat dan sangat." ucap Anna di sela-sela tangisannya.


Jleebbb


Kata-kata adiknya membuat Bram sadar, Ia tidak bisa memaksa Anna untuk menikah dengannya. Dari ucapan Anna yang di lontarkan Ia mengerti bahwa di hatinya hanya Aiden seorang. Tidak lama kemudian Anna tertidur di pelukannya setelah menangis dan mencurahkan isi hatinya. Dengan hati-hati Bram membaringkan tubuh Anna di ranjang dan menyelimutinya.


Beberapa saat kemudian, Bram keluar dari kamar Anna setelah melihat Anna sudah tertidur pulas. Bram melangkah ke arah balkon dan duduk menatap langit-langit menikmati dinginnya malam. Cinta yang begitu besar untuk adiknya ternyata tidak sebanding dengan cinta Anna ke Aiden.


Tidak jauh darinya, Eris menatapnya dengan tatapan menyedihkan. Ingin rasanya kaki itu melangkah untuk mendekatinya, tapi Ia takut keberadaannya tidak di inginkan oleh Bram.


Di saat Eris membalikkan tubuhnya, Bram menghentikannya." Apa ada sesuatu Eris?." tanya Bram yang mengetahui keberadaan Eeis di belakangnya.


" Eh!! Maaf, kalau aku mengganggumu. Aku hanya sekedar lewat dan tanpa sengaja melihat kamu berada di sini." Ucap Eris.


Bram menoleh ke arah Eris yang juga menatapnya." Kau mau pulang?." tanya Bram.


" Rencananya sih begitu, tetapi Reya belum mau di ajak pulang. Jadi, mau nunggu Reya dulu baru pulang." jawab Eris.


" Ya sudah, temani aku di sini sambil minum dan mengobrol biar kamu nggak bosan menunggu Reya." pinta Bram.

__ADS_1


Eris pun tersenyum dengan ucapan Bram yang mengajaknya. Eris mendengkati Bram dan duduk di kursi yang berada tidak jauh dari Bram.


" Oh iya! Coba cicipi minuman ini, apa enak atau nggak?." ucap Bram sambil mengarahkan segelas minuman yang di hadapannya.


Eris menerimanya dan meneguknya sedikit." Gimana rasanya?." tanya Bram ke arah Eris.


" Enak, tetapi rasanya berbeda loh Bram." jawab Eris.


" Coba yang ini." tawar Bram dengan segelas minuman lagi.


Eris pun menerima dan meneguknya kembali." Bram, ini enak banget dan lebih dingin." jawab Eris yang kembali meneguknya.


" Wah! Bram, kau memang cocok jadi pembisnis. Semoga laris manis Bram." ucap Eris.


Bram tersenyum ke arah Eris yang sudah mendoakan keberhasilan. Tiba-tiba senyuman Bram itu lama-lama memudar, tatapannya di alihkan ke tempat lain membuat Eris bertanya." Ada apa Bram?." tanya Eris yang masih menatap wajah Bram.


" Semua aku bisa Eris, semuanya juga aku bisa dapatkan dengan gampang. Tapi cuma satu yang tidak bisa aku dapatkan." ucap Bram.


" Apa?." tanya Eris.

__ADS_1


" Cinta dari Anna." jawab Bram dengan menundukkan wajahnya yang menahan kesedihan hatinya yang amat terluka.


Eris mendengar pun begitu sakit dan sangat cemburu, ingin rasanya Ia pergi dari tempat itu dan meluapkan kesedihannya di tempat lain. Tapi entah mengapa tubuhnya tidak bisa bangkit dari tempat duduk, tubuhnya seakan sudah melekat di tempat duduknya itu.


Dengan hati amat terluka, Eris kembali berkata." Bram, kau tahu? Aku juga seperti dirimu, aku jatuh cinta kepada pria yang begitu baik denganku di saat kami masih duduk di bangku sekolah. Aku sangat mengaguminya, di saat kelulusan kami berpisah dan kembali bertemu di saat aku ingin melupakannya." ucap Eris mengingat pertemuan pertama mereka.


" Lalu bagaimana sekarang? Kenapa kau tidak mengungkapkan isi hatimu kepadanya, Ris?." tanya Bram menoleh ke arah Eris.


Eris menggelengkan kepalanya sebagai jawabannya ke arah Bram." Kenapa?." tanya Bram.


Eris mendongakkan wajahnya menatap Bram." Dia mencintai orang lain." jawab Eris.


" Ternyata nasib kita sama Ris, seharusnya kau mencoba mengungkapkannya." ucap Bram.


" Caranya?." tanya Eris ke arah Bram.


" Entah! Yang pasti kamu harus mengungkapkannya agar pria itu tahu kalau kamu mencintainya." jawab Bram.


" Aku mencintaimu Bram."

__ADS_1


__ADS_2