
" Annaa!." gumam Vina yang masih di dengar oleh Gladis dan Suaminya.
" Anna? Siapa?." tanya Gladis.
Vina menoleh ke arah suaminya yang juga menoleh kepadanya, mereka menatap satu sama lain dan kembali menoleh ke arah gadis yang membuka pintu ruangan Eris.
" Siapa itu Gla?." suara seseorang dari dalam.
Gladis menoleh ke arah suara itu yang ternyata suara Eris, Eris yang menatapnya kembali bersuara." Suruh masuk, kenapa hanya di depan pintu?." ucap Eris kembali.
" Eh iya Mba." ucap Gladis yang tersadar. Gladis mempersilahkan sepasang suami istri untuk masuk.
Mereka pun melangkah memasuki ruangan Dokter Eris, terlihat mata mereka masih mengamati sosok yang seperti mereka kenal. Masih dalam benak mereka memikirkan sosok gadis itu yang tidak mengenali mereka. Tanpa sengaja Vina bertanya nama gadis yang mirip dengan menantunya.
" Siapa nama kamu?." tanya Vina penasaran.
" Eh, namanya Gladis Tante." balas Eris yang sudah kenal dengan Vina sehingga Ia yang membalas pertanyaan Vina yang mengarahkan ke Gladis.
" Gladis? Adik Dokter atau?." tanya Vina lagi.
" Mah!." ucap Prabu ingatin istrinya untuk tak berlanjut bertanya.
" Iya Tante, Gladis adik saya. Gladis, perkenalkan ini Om Prabu dan Tante Vina." ucap Eris ke arah Gladis yang masih setia berdiri di samping Eris. Ia pun menghampiri Prabu dan Vina untuk menyalami tangan mereka.
"Pah, Gladis sopan seperti Anna."bisik Vina di telinga Suaminya. Prabu mengangguk sesaat membenarkan ucapan Istrinya.
Setelah itu, Eris melanjutkan memeriksa Prabu, beberapa menit kemudian pemeriksaan pun telah selesai. Setelah mendapatkan hasil pemeriksaan suaminya, akhirnya mereka berpamitan. Walaupun dalam pikiran masih bertanya-tanya tentang gadis itu.
Setelah keluar dari ruangan Dokter Eris, mereka menyusuri koridor rumah sakit untuk pulang kembali. Di dalam perjalanan Vina nggak bisa menahan pertanyaan yang ada di dalam benaknya.
__ADS_1
" Pah, gimana kalau Papa nyuruh anak buah untuk selidiki gadis itu. Mama yakin itu Anna lo Pah! Tapi kenapa dia nggak ingat kita ya?." ucap Vina.
" Papa juga merasa itu Anna Mah, kalau begitu Papa bakal selidiki gadis itu." ucap Prabu.
" Iya Pah!." ucap Vina.
" Rian, tolong kamu selidiki Adik Dokter Eris yang bernama Gladis ya! Aku butuh informasi tentang gadis itu secara detail dan Aku ingin laporan secepatnya." Ucap Prabu ke arah Asistennya yang berada duduk di kursi depan samping pengemudi.
" Baik Tuan." ucap Rian.
🍁🍁🍁
Di tempat pemakaman terlihat sepasang suami istri sedang menangis di atas kuburan putrinya. Bram juga ikut bersedih melihat sepasang suami istri yang sedang menangis di pusara putri mereka. Ia merasa tidak begitu adil tidak bisa melaporkan Ibu kandungnya sendiri ke kantor polisi. Dalam lamunannya terdengar suara dering ponselnya, Ia merogoh ponsel dalam saku. Setelah melihat kontak yang memanggilnya Ia pun mengangkat panggilan itu. Tiba-tiba wajahnya terkejut mendengar ucapan dari seberang ponselnya. Dengan berat hati Bram berpamitan kepada Pak Riko dan Bu Winda untuk meninggalkan mereka di sana.
Pak Riko dan Bu Winda membiarkan Bram pergi, mereka yakin saat melihat raut wajah Bram yang tegang pasti ada masalah yang harus Ia selesaikan. Bram pun meninggalkan mereka berdua yang masih berada di kuburan putrinya. Tak lama kemudian Bram yang mengemudi mobilnya dengan laju telah sampai di halaman kantor polisi. Dengan cepat Ia berlari ke arah ruangan itu, dari jauh terlihat Ayahnya sudah berada di samping Ibunya sedang mendekap. Saat Ia semakin dekat mereka menoleh ke arahnya, melihat Ibunya yang tersenyum ke arahnya betapa hatinya tersayat-sayat melihat kesedihan Ibunya. Rasa bersalah dan penyesalan kini terlihat dari wajah Ibunya itu.
Walaupun dengan berat hati Bram harus membiarkan Ibunya masuk ke dalam penjara. Ia juga akan berusaha menyuruh pengacara untuk meringankan hukuman yang akan di dapat Ibunya nanti. Keadilan harus di tegaskan walaupun dia kerabat kita ataupun Ibu kandung karena sudah melakukan kejahatan.
" Maafkan Mama Nak! Maafkan Mama tidak menjadi Ibu yang baik buat kalian. Mama mohon jaga Adik kamu, jangan sampai dia sedih." ucap Jenie di sela-sela tangisan.
" Iya Mah! Bram janji akan jaga Rissa. Mama jaga diri baik-baik di sini, Bram janji bakal jenguk Mama setiap hari." ucap Bram memeluk erat Ibunya. Dian melihat Istri dan Putranya berpelukan terlihat dari sudut matanya ada air mata.
" Permisi, maaf kami harus membawa Ibu Jenie masuk ke penjara." ucap salah satu anggota polisi yang mendatangi mereka untuk membawa Jenie ke penjara.
Jenie pun bangkit berdiri setelah melepaskan pelukannya dengan Bram, Jenie menoleh ke arah suaminya dengan berlinangan air mata.
" Papa, jaga diri dan jaga kesehatan di saat Mama tidak berada di samping Papa. Mama pergi Pah! I Love You Pah!." ucap Jenie sambil menggenggam tangan suaminya.
" Iya Mah! Mama juga ya? I Love you to Ma." ucap Dian sambil mencium punggung istrinya yang juga tidak begitu tega melepaskan istrinya. Setelah mendengar ucapan suaminya, Jenie menoleh ke arah Bram yang juga masih menatapnya.
__ADS_1
" Sayang, jaga Papa sama Adikmu ya? Mama titip mereka sama kamu. Dan Mama juga ingin kamu jaga diri dan jaga kesehatanmu ya! I love you so much." ucap Jenie sambil mencium pipi putranya.
" Bram janji Mah! Mama juga ya? To Mah!." ucap Bram juga mencium kening Ibunya.
Di ruangan yang penuh dengan kesedihan, pengacara keluarga Pramudita yang sudah lama bekerja juga ikut bersedih melihat momen di hadapannya. Jenie pun meninggalkan suami dan putranya mengikuti petugas polisi yang sudah mengajaknya pergi.
" Semua berkas dan bukti-bukti sudah di siapkan. Aku ingin kau mengurusnya dengan baik dan aku harap juga hukuman istriku di ringankan oleh hakim." Ucap Dian yang masih menatap kepergian istrinya namun ucapannya tertuju kepada pengacara yang berdiri tidak jauh dari mereka.
" Baik." ucap Pengacara itu kemudian meninggalkan Bram dan Dian.
" Ayo Bram, kita pulang." ucap Dian mengajak putranya. Bram pun menganggukan kepalanya.
🍁🍁🍁
" Bagaimana?." tanya seorang gadis ke arah wanita yang baru saja mendekatinya.
" Alhamdulillah baik Mba, kata Dokter aku tidak boleh memaksakan ingatan masa lalu takutnya nanti ingatanku tidak akan kembali Mba!." ucap gadis itu yang mendudukan tubuhnya di salah satu kursi di samping Eris.
" Alhamdulillah, kamu harus dengar kata Dokter ya! oh iya, Mba mau nanya nih apa sudah ada bayangan yang sering datang di pikiranmu?." tanya Eris.
" Ada lo Mba, seorang gadis kecil dan seorang Ibu sedang menangis melihat Anaknya yang sedang menangis histeris." ucap Gladis mengingat kembali bayangan itu.
" Gadis kecil?." tanya Eris.
" Iya, gadis kecil sedang menangis memegang pipinya yang terluka." ucap Gladis tangannya memegang pipi halusnya.
" Apaa?."
...****************...
__ADS_1
jangan lupa like komennya ya😊