Si Gadis Cantik Bertopeng

Si Gadis Cantik Bertopeng
Ingatan Anna Kembali


__ADS_3

" Paman??." Alangkah terkejutnya mereka melihat keberadaan pamannya.


" Apa paman mendengar obrolan kita De'?." tanya Eris ke arah Adiknya. Reya menggelengkan kepalanya karena Ia pun juga tak tahu keberaadaan pamannya yang sudah berdiri tidak jauh dari mereka.


" Katakan pada paman Eris, apa yang terjadi sebenarnya?." tanya pamannya melangkah mendekati keponakannya itu.


Eris dan Reya saling menoleh, kedua mata mereka saling bertatapan, ada rasa ketakutan dari diri Reya yang terlihat dari kedua mata adiknya membuat Eris begitu khawatir.


" Pa_paman sebenarnya_." ucapan Eris terhenti karena Reya memotongnya.


" Reya lah yang membuat kak Anna seperti ini paman." ucap Reya jujur, Reya tidak ingin mempersulit Kakaknya lagi.


" De'!." ucap Eris menoleh ke arah Adiknya yang sudah mengakui kesalahan pada pamannya.


" Eris, boleh ceritakan pada paman tentang kejadian ini?." tanya Leo.


" Ba_baik paman." ucap Eris." Waktu itu_." ucap Eris mulai menceritakan kejadian 3 bulan yang lalu saat mereka bertemu dengan Anna.


Beberapa menit berlalu, akhirnya Eris sudah menceritakan kejadian itu yang membuat Leo terlihat sedih. Sebagai Ayah dan suami, Ia tidak bisa melindungi Anaknya dan istrinya, Ia gagal mempertahankan rumah tangganya bersama istrinya itu. Dulu, di saat istri dan anaknya masih bersama dengannya, Ia di pengaruhi oleh Ibunya membuatnya Ia berpisah dengan sang Istri dan Anaknya.


Eris yang mengetahui kejadian masa lalu pamannya membuat Ia merasa Iba, setelah bertahun-tahun lamanya mencari Istri dan Anaknya membuat pamannya begitu hancur dan menyesal.


" Paman." panggil Eris mendekati pamannya.


" Eris, paman merasa gagal. Seharusnya paman tidak mengusir mereka, paman bukanlah ayah yang baik untuk anak paman." ucap Leo sambil mengusap air matanya yang jatuh berderai.


Reya mendekati pamannya dan bersimpuh di hadapan Leo, Ia juga merasa bersalah. Karena dia juga Anna mengalami hilang ingatan.


" Maafkan Reya paman." ucap Reya di sela-sela tangisannya, membuat Eris sedih melihatnya.


" De'!." ucap Eris yang ingin membangunkan adiknya, namun lengannya di tahan oleh Leo.


" Reya, kamu nggak salah sayang. Mungkin ini jalan untuk paman agar bisa menemukan anak paman." ucap Leo.


" Kalau bukan karena Reya, paman belum menemukan anak paman. Jadi, kau nggak usah takut ya? Paman akan berusaha melindungi kalian, paman juga berterima kasih sama kalian berdua karena kalian lah paman bisa menemukan mereka." ucap Leo lagi.


Reya dan Eris mendengar penuturan pamannya membuat mereka terharu dan memeluk pamannya.Leo menyambut pelukan kedua keponakannya itu seperti ayah dan anak. Reya dan Eris sudah menganggap pamannya sebagai Ayah kandung mereka yang selama ini menyayangi dan melindungi mereka sampai sekarang.


" Paman, kami berdua sangat menyayangi paman." ucap Reya yang menitikan air mata di pelukan pamannya.


" Paman juga sangat menyayangi kalian seperti putri paman sendiri." ucap Leo mencium kening Reya dan Eris.

__ADS_1


🌳🌳🌳


Di ruang rawat, Aiden yang sedang menatap wajah Anna yang masih belum sadarkan diri. Aiden menyunggingkan senyumannya melihat wajah Anna lebih dekat.Dulu wajah ini ada bekas luka dan sebuah topeng, kini wajahnya sudah terlihat putih mulus dan begitu cantik.


Tiba-tiba kelopak mata Anna mulai bergerak membuat Aiden sontak berdiri mendekati Anna. Anna masih terbawa mimpi ke dalam bayangan masa lalunya yang terputar di benaknya.Kini bayangan itu semakin terlihat jelas. Bayangan yang biasa datang hanya buram kini terlihat jelas. Ingatannya kini telah kembali, sebuah kejadian yang menyebabkan Ia kecelakaan muncul hingga membuatnya terbangun.


" Tidaaakk." pekik Anna terbangun dari pingsannya.


" Anna!, ada apa?." tanya Aiden yang terkejut melihat Anna terbangun seperti bermimpi buruk.


Anna menoleh ke arah asal suara yang tidak asing baginya." Kak Aiden." panggil Anna yang langsung berhamburan di pelukannya.


" Semua baik-baik saja, ada Kak Aiden yang selalu di samping An_ maksud Kakak, Gladis." ucap Aiden yang belum tau ingatan Anna telah kembali sambil mengusap rambut kepala Anna.


" Gladis?." tanya Anna merenggangkan pelukannya dan mengangkat wajahnya menatap wajah Aiden.


" Ada apa? Apa Kakak salah memanggil nama Gladis?." tanya Aiden.


Anna kembali memikirkan nama Gladis, Ia teringat tentang dirinya yang sempat hilang ingatannya. Aiden yang masih menatapnya mendudukan bokongnya di tepi brankar Anna.


" Ada apa?." tanya Aiden yang tak kunjung di jawab Anna.


" Aku sudah ingat semua Kak!." ucap Anna.


" Iya Kak." ucap Anna sambil menganggukan kepalanya.


" Bentar, Kakak panggil dokter dulu." ucap Aiden yang bangkit dari duduknya menuju ke arah pintu.


" Dokter!." pekik Aiden yang hanya kepalanya terlihat keluar memanggil dokter.


Mereka yang sedang menunggu begitu terkejut dengan teriakan Aiden memanggil dokter, membuat mereka semakin khawatir tentang kondisi Anna.


Eris dan Irwan berlarian ke arah ruang rawat Anna, alangkah terkejutnya melihat Anna yang sedang menatap mereka di ambang pintu kamar rawat.


" Gladis?." panggil Eris yang begitu senang melihat Anna yang sudah sadar di ikuti dokter Irwan.


" Dok, cepat periksa keadaan Anna, apa masih ada ingatannya yang tertinggal?." ucap Aiden membuat kedua dokter berada di sana menatap ke arah Aiden bergantian menoleh ke arah Anna.


" Gladis, maksud Aiden apa?." tanya Eris memastikan.


" Mba_."

__ADS_1


" Anna sudah mengingat semua." sanggah Aiden.


" Benarkah?." tanya mereka berdua ke arah Anna yang begitu terkejut.


" Iya Mba." ucap Anna.


" Syukur alhamdulillah." ucap Eris dan Dokter Irwan.


Eris mendekati Anna, kemudian menarik tubuh Anna ke dalam pelukannya. Eris begitu bahagia mendapatkan kenyataan Anna keponakannya. Anna yang merasa nyaman di pelukan Eris membiarkannya, Ia juga merasa bahagia ingatannya kembali namun belum tahu tentang jati dirinya. Tiba-tiba terbesit dengan kabar keluarganya.


" Papa, Mama, Kak Abra dan Kak Rissa bagaimana kabar mereka saat ini?." gumam Anna yang masih di dengar Eris.


Eris mengendurkan pelukannya menatap wajah Anna yang sedang mencemaskan keluarganya.


" Mereka berada di luar Anna." ucap Eris.


Anna mengangkat wajahnya menatap ke arah Eris yang juga menatapnya." Benarkah?." ucap Anna.


" Hhmm.. benar, aku panggil dulu ya?." tanya Aiden.


" Bentar Aiden, Anna di periksa dulu ya! Seenggaknya kita tau, apa Anna sudah benar-benar pulih atau belum?." ucap Dokter Irwan.


" Ya benar Dok!." balas Eris.


" Iya Dok!." ucap juga Aiden.


Anna membaringkan tubuhnya untuk di periksa oleh dokter Irwan, Eris juga membantu Anna memperbaiki posisi bantalnya.Beberapa menit kemudian, Dokter Irwan akhirnya selesai memeriksa keadaan Anna.


" Syukurlah, keadaan Anna cukup membaik. Semoga sakit kepala Anna yang sering menyerangnya tidak akan muncul lagi." ucap Irwan.


" Semoga saja." ucap Eris.


" Aamiin." ucap Aiden yang masih setia menemani Anna di periksa.


" Anna, kalau masih kembali sakit, hubungi aku!." ucap Irwan ke arah Anna.


" Ya Dok, terimakasih." ucap Anna.


" Sama-sama, kalau begitu saya pamit dulu." ucap Irwan berpamitan.


" Ya Dok, terimakasih." ucap Aiden.

__ADS_1


" Sama-sama." ucap Irwan melangkah pergi.


__ADS_2