Si Gadis Cantik Bertopeng

Si Gadis Cantik Bertopeng
Gadis Bar-Bar


__ADS_3

Di ruangan yang terlihat begitu sepi, terlihat seorang pria yang sedang menatap luar jendela. Menunggu seorang gadis yang selalu mendebarkan hatinya. 3 hari yang lalu semenjak Eris memutuskan Aiden untuk tidak menemui Anna, pria itu hanya bisa menatapnya dari jauh.


Ingin sekali pria itu mendekati pujaan hatinya, bercerita, bercanda dan yang lainnya yang bisa hatinya bahagia. Kini pria itu hanya bisa menatapnya dari jauh, melihat gadis itu keluar dari dalam rumah.


Kring kring kring


Terdengar suara ponselnya berdering yang tidak jauh darinya. Aiden meraih ponselnya, terlihat nama Ayahnya yang sedang menghubunginya. Aiden langsung menggeser tanda hijau berada di ponselnya itu.


" Hallo." ucap Aiden.


" Kerumah sekarang juga, papa tunggu dalam 5 menit kau harus sudah berada di hadapan Papa ,son!." ucap suara Ayahnya yang langsung mematikan sambungan telfonnya.


" Haaa? Dalam 5 menit? Emangnya aku cuma bisa menghilang langsung di hadapan Papa? Ais!." ucap Aiden bangkit dari duduknya langsung pergi meninggalkan apartemennya yang baru saja di sewanya 2 hari yang lalu.


Aiden mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, setelah beberapa menit akhirnya mobil itu masuk ke kediaman Ayahnya. Aiden keluar dari mobilnya memasuki rumah yang terlihat Ayahnya dan beberapa yang lainnya berada di sana sedang mengobrol.


Mendengar langkah kaki yang memasuki ruangan, mereka menoleh ke arah pria itu yang ternyata Aiden.


" Assalamu Alaikum."


" Waalaikum salam." Vina yang melihat putranya, bangkit dari duduknya dan menyambut putranya.


" Sayang, kamu kemana saja? Kamu semakin kurus sayang!." ucap Vina yang mengamati tubuh putranya itu.


Aiden hanya terdiam atas ucapan Ibunya, memang benar ucapan Ibunya, tubuhnya sekarang menurun karena jarang tidur dan jarang makan. Demi ingin menjaga Anna, Aiden tidak peduli dengan hidupnya yang kadang makan atau pun tidak.


" Sayang, bagaimana kamu bisa bersama Anna kalau kamu tidak merawat kesehatanmu Den!" ucap Vina.


" Sayang, di sini ada Dian, nanti kamu bisa melanjutkan ocehanmu padanya." ucap Prabu ke arah Istrinya.


" Ya Pah! Ayo sayang, duduk dekat Mama." ucap Vina mengajak putranya.


Aiden masih saja belum berkata apa-apa, Ia hanya menuruti Ibunya yang mengajak duduk di sampingnya.


" Dian bicaralah." ucap Dian.


" Baik, Den,apa benar Anna masih hidup?." tanya Dian ke arah Aiden. Aiden hanya menatap Dian yang juga menatapnya.


" Ya Om, tapi Anna sekarang kehilangan ingatan. Ia tidak mengingat aku dan yang lainnya, kalau di paksakan akan berakibat fatal baginya." ucap Aiden.


" Maksudmu apa Den?." tanya Dian.


" Akibat benturan yang di alami Anna saat kecelakaan membuat Anns hilang ingatannya. Anna bakal di serang sakit kepala bila di paksakan mengingat masa lalunya, 3 hari yang lalu saya memaksa Anna untuk mengingat, tetapi Anna kembali sakit dan pingsan. Dokter Eris mengatakan, bila Anna terus sakit nanti ingatannya takkan kembali lagi." ucap Aiden.


" Ya ampun Anna." ucap Vina yang ikut bersedih.


" Anna." gumam Dian terkejut yang baru saja mengetahui kondisi putrinya sekarang.


" Jadi benar, yang kita kebumikan bukan Anna tapi Cantika?." tanya Dian.


" Iya Om." ucap Aiden.

__ADS_1


" Tapi sampai kapan Om bisa bertemu dengan Anna?." tanya Dian yang senang mendengar Anna masih hidup.


" Untuk sementara jangan dulu, biarkan Anna sembuh dulu Om" ucap Aiden.


" Maafkan Papa Anna, Papa nggak bisa menjagamu dengan baik." guman Dian.


" Dian, jangan sedih,berdoa saja semoga ingatan Anna kembali lagi." ucap Vina.


" Aamiin, terimakasih Vina." ucap Dian.


" Aamiin ya Allah, sama-sama." ucap Vina.


" Kalau begitu saya pamit dulu." ucap Dian.


" Iya Dian, hati-hati." ucap Prabu.


Dian pun pergi meninggalkan kediaman Prabu, Prabu kembali ke dalam rumah setelah mobil Dian menghilang dari pandangannya.


" Sayang, Mama begitu cemas dengan keadaan kamu. Kamu tinggal di sini untuk sementara waktu ya sayang!." ucap Vina.


" Mah! Aku_." ucapan Aiden terpotong karena Ayahnya.


" Dengerin kata Mamamu, Son!" ucap Prabu mendudukan tubuhnya di kursi sofa yang berhadapan dengan Istri dan putranya.


Aiden memijat keningnya merasa pusing karena beberapa hari Ia tidak tidur dengan nyenyak. Vina yang melihat pun merasa cemas terhadap putranya itu.


" Kamu kenapa?." tanya Ibunya.


" Hanya sakit kepala sedikit Mah!." ucap Aiden.


" Astaga sayang! Bentar Mama ambilin makanan kesukaan kamu dulu." ucap Ibunya.


" Ya Ma!." ucap Aiden.


Vina pergi ke arah dapur mengambil makanan Aiden, Prabu hanya bisa melihat tingkah istrinya yang begitu perhatian terhadap putranya.


" Sudah besar, bisa ambil sendiri kan?." ucap Prabu ke arah Aiden.


Aiden hanya tersenyum ke arah Ayahnya, Ia tahu Ayahnya begitu cemburu karena Ibunya begitu perhatian padanya.


" Aku tahu Papa cemburu kan?." ucap Aiden.


" Hhmm...kapan sih kamu nikah biar nggak rebutin Istriku?." ucap Prabu dengan kesal.


" Maaaahh!." teriak Aiden membuat Prabu sontak terkejut karena putranya ingin mengadu.


" Ya sayang, sedikit lagi." teriak Ibunya dari arah dapur.


" Apaan sih kamu? Pake ingin mengadu segala sama Istri saya." ucap Prabu.


" Sayang, ini makanan kamu." ucap Vina yang baru saja datang sambil membawa napan yang ada makanan Aiden.

__ADS_1


" Mama suapin ya!." ucap Aiden.


" Iya sayang." ucap Ibunya.


Membuat Prabu semakin panas karena cemburu, Ia hanya bisa mendengus kesal melihat tingkah Istri dan putranya yang begitu manja.


Vina yang melihat raut wajah suaminya yang terlihat kesal kembali berucap." Ada apa Pah?." tanya Istrinya yang belum mengerti.


" Mama nggak mencium di sekitar kita ada bau-bau yang hangus gitu?." tanya Aiden.


" Yang hangus?" ucap Vina menoleh ke sekelilingnya sambil mendengus tetapi tidak mencium bau angus yang di katakan putranya itu.


" Nggak ada kok sayang." ucap Vina.


" Bau angus Mah! Gara-gara terbakar cemburu." ucap Aiden menoleh ke arah Ayahnya yang sedang menatapnya dengan tajam bagaikan belati yang ingin menusuknya.


Vina menoleh ke arah suaminya yang sedang menatap tajam ke arah putranya." Pah! Aiden putra kita. Untuk apa Papa cemburu sama anak sendiri?." ucap Vina.


Prabu hanya bisa menghela nafasnya, Ia tidak membalas perkataan Istrinya. Nanti ujung-ujungnya Ia tidur di luar, Aiden tersenyum licik ke arah Ayahnya membuat Prabu tambah kesal saja.


" Abang." panggil Abi yang baru saja datang.


" Astaga Bian, kalau masuk rumah itu salam dulu. Mama kaget lo Bi!." ucap Vina.


" Maaf Mah! Assalamu Alaikum" ucap Abi yang sudah berdiri di samping Kakaknya.


" Waalaikum salam." ucap mereka serempak.


" Kalau di ulang lagi nggak salam, Mama jewer telinga kamu Bi!." ucap Vina


" Iya Mah, Maaf." ucap Abi memohon.


" Hmm.."


" Bang, beneran Anna masih hidup? Katakan dimana Anna sekarang ?." tanya Abi.


" Abii, nggak lihat apa Abang kamu masih makan? Duduk dulu, jangan bertanya apapun dulu sama abang kamu." ucap Ibunya.


" Mah_." ucap Abi namun ibunya sudah mengangkat tangannya untuk menghentikan Abi berbicara." Ais Mama." ucap Abi yang kemudian mendudukan tubuhnya di samping Ayahnya.


" Pah." sapa Abi.


" Bagaimana?." tanya Prabu.


" Berhasil Pah." balas Abu


" Tapi kenapa wajahmu tidak meyakinkan?."


" Yakin kok pah! Cuma kesal saja ketemu sama gadis bar-bar." ucap Abi.


" Gadis bar-bar?." ucap Vina.

__ADS_1


...----------------...


Terimakasih bagi yang sudah setia selalu membaca karyaku ini, walaupun nggak bagus seperti Author lainnya..tapi aku doakan semoga kalian suka. Aku fokus nulis novel yang ini dulu sampai ending ya! Nanti lanjut sama karyaku yang berjudul " Selingkuhanku jadi Suamiku" bagi yang penasaran bisa intip kok..jangan lupa tinggalkan jejaknya dengan cara like komen, kalau mau kasih vote atau giftnya yang seikhlasnya aja🙏🙏 Malak author hehehe😁.


__ADS_2