Si Gadis Cantik Bertopeng

Si Gadis Cantik Bertopeng
81


__ADS_3

Bulan begitu terang menerangi bumi menambah keindahan taman, seorang pria sedang duduk melamun di taman rumah sakit yang biasa pasien atau orang-orang mencari udara segar.


" Kau belum mengantuk?." tanya seseorang dari arah belakangnya yang baru saja melihatnya berada di taman itu.


Pria itu menoleh ke arah pria yang juga sedang menatap ke arahnya,Ia melangkah dan duduk di samping pria yang sedari tadi melamun.


" Belum." balas pria itu singkat.


" Apa ada sesuatu yang kau pikirkan?."


" Bram, apa benar Anna bukan anak Papa Dian?." tanya pria itu tanpa basa basi.


" Kau mengetahuinya Aiden?." balik Bram bertanya yang tidak ditanggapi pertanyaan Aiden ke arahnya.


" Aku baru tahu dari papa." jawab Aiden.


" Aku juga sama sepertimu baru mengetahui tentang kenyataan ini, aku di antara senang dan sedih." ucap Bram.


" Maksudmu?." tanya Aiden menoleh ke arah Bram.


Di saat mereka selesai makan Bram datang menjenguk adiknya, membuat Anna begitu bahagia. Bram sebenarnya menghindari adik kesayangannya itu karena hatinya dalam di lema. Ia senang Anna bukan adik kandungnya, tapi dia juga sedih Anna yang selama ini di sayangi dan di jaga semenjak kecil ternyata bukan adik kandungnya.


" Sudahlah kau tidak mengerti." jawab Bram sambil bangkit dari duduknya.


Aiden pun ikut bangkit menghalangi Bram pergi." Bram, apa kau tau sesuatu soal asal usul Anna?." tanya Aiden di hadapan Bram.


" Ada apa Aiden? Apa kau ingin meninggalkan adikku?." tanya Bram.


" Bukan itu." jawab Aiden singkat.


" Cih! Cintamu hanya memandang status seseorang." ucap Bram mendorong tubuh Aiden yang menghalanginya.


" Aku benar-benar mencintai Anna! Dan sedetikpun aku tidak akan meninggalkannya. Hidupku dan nafasku adalah Anna seorang!." teriak Aiden membuat Bram berhenti melangkah.


" Jangan hanya mengatakannya tapi buktikan." jawab Bram setelah itu meninggalkan Aiden yang kesal.


" Aaahhh." teriak Aiden meluapkan kekesalannya.


🌳🌳🌳

__ADS_1


" Assalamu alaikum." salam Anna yang melangkah memasuki rumah keluarganya yang di ikuti beberapa orang.


" Waalaikum salam, nona apa kabar?." ucap Bibi sang asisten rumah tangga.


" Alhamdulillah baik Bi! Kok sepi? Mana Mama sama kak Rissa?." tanya Anna yang melihat keadaan rumah yang nampak sepi.


Bibi hanya menunduk menoleh ke arah Dian yang juga menatap ke arah putrinya.


" Anna baru pulang, sekarang istirahat dulu ya?." ucap Bram yang memegang kedua bahu adiknya hingga Anna menoleh ke arah Bram.


" Kak, Anna mau lihat Mama dulu sama Kak Rissa, aku kangen sama mereka." jawab Anna.


" Iya, tapi sekarang Anna baru saja pulang, Anna harus istirahat dulu. Kakak yakin Anna pasti capek." ucap Bram mengajak adiknya ke arah kamarnya.


" Ya sudah Anna nyerah deh!." ucap Anna pasrah.


" Nah gitu baru adik kesayangan Kakak." ucap Bram sambil menoleh hidung adiknya.


Bram dan Anna pergi kekamar Anna sedangkan Bibi dan Dian hanya bisa melihat kepergian mereka.Dian melangkah ke arah sofa di ruangan itu dan mendudukan bokongnya sambil memijat keningnya.


" Tuan butuh sesuatu?." tanya Bibi melihat raut wajah Dian yang nampak memikirkan sesuatu.


" Tidak Bi!." jawab Dian.


🌳🌳🌳


Di tempat lain, seorang wanita paruh baya sedang duduk di balik jeruji memikirkan suami dan kedua anaknya.


" Sudah beberapa hari ini mereka belum datang menjengukku, Rissa! Mama kangen sayang." gumam wanita itu.


Salah satu penjaga wanita lewat di hadapannya membuat Ia bangkit memanggilnya.


" Permisi, boleh saya menelfon keluarga saya?." tanya wanita itu memohon.


" Bisa bu Jenie, tunggu sebentar." jawab penjaga wanita. Ia membuka pintu dan membawa Jenie ke arah meja yang berada telfon genggam.


" Silahkan Bu." ucap Sipir itu mempersilahkan Jenie menelfon.


Jenie menghubungi suaminya namun tidak di angkat oleh suaminya. Beberapa kali mencoba tetap saja tidak di angkatnya, hingga Ia menelfon kekediamannya namun tidak seorang pun menjawabnya.

__ADS_1


" Kemana sih mereka? Kenapa nggak diangkat-angkat." ucap Jenie kembali menelfon ke ponsel putranya.


Namun Bram yang tidak berada di dalam kamarnya juga tidak menjawab, ponselnya tertinggal di atas nakas. Ponsel Bram berdering di dalam kamarnya. Bibi yang sedang membersihkan jendela pun tidak mendengar telfon karena Ia sedang memakai hedset di telinganya mendengar musik.


" Kemana sih orang-orang?." gumam Jenie yang kesal.


Ponsel Bram kembali berdering membuat seorang gadis yang melewati kamar Kakaknya membuat dia terhenti di depan pintu. Telinganya di dekati untuk mencari suara yang nampak berdering dari kamar Kakaknya.


" Sepertinya itu ponsel Kakak, tapi Kakak kemana ya?." gumam Anna.


Setelah Anna tertidur nyenyak, Bram keluar dari kamar Anna dan melangkah menuju ke arah kamarnya. Bram yang teringat barangnya berada di dalam mobil Ia bergegas kembali, tapi sebelum itu Bram meletakan ponselnya di atas nakas dan kembali ke mobilnya.


" Kakak kemana ya? Ponselnya terus berdering, lebih baik aku angkat saja. Siapa tau telfon dari perusahaan Kakak." ucap Anna tangannya menggenggam handel pintu dan di buka kamar Bram yang tidak terkunci.


" Kok tidak di kunci?." tanya Anna sambil membuka pintu kamar Bram yang di ikuti langkah Anna memasuki kamar kakaknya.


Anna mencari keberadaan Bram di dalam itu, namun sosok yang di carinya tidak di temukan.


" Kakak nggak ada, apa jangan-jangan di kamar mandi ya?." tanya Anna sendiri sambil melangkah ke arah kamar mandi.


" Tok tok tok, Kak! kak." panggil Anna namun tidak ada jawaban, terpaksa Anna membukanya. Namun juga tidak di temukannya.


" Kakak kemana ya?." tanya Anna kembali melangkah ingin meninggalkan kamar Bram. Sebelum langkahnya mencapai pintu kamar, mata Anna tidak sengaja melirik ke bingkai foto besar yang membuat Anna begitu terkejut.


Anna perlahan-lahan mendekati bingkai besar itu yang nampak seorang gadis tersenyum ke arah seseorang yang memotretnya.


" I_ini bukan kah a_aku?." tanya Anna tangannya mulai terangkat dan mengusap debu-debu di bingkai itu.


" Anaa!." panggil seseorang dari arah belakangnya membuat Ia menambah terkejut dan gugup karena memasuki kamar yang di larang kakaknya.


Anna pelan-pelan berbalik ke arah kakaknya yang berdiri di ambang pintu yang sedang menatap tajam ke arahnya.


" Ma_maaf, aku sudah lancang masuk kamat kak Abra." ucap Anna dalam kegugupannya.


Bram tidak begitu tega memarahi adik kesayangannya itu apalagi dalam hatinya ada benih-benih cinta untuk Anna. Bram baru saja menyadari Anna sudah melihat bingkai besar yang di mana foto adiknya sendiri yaitu Anna.


" Ada apa mencari Kakak?." tanya Bram.


" I_ itu ponsel kakak terus berdering, jadi_.

__ADS_1


" Keluar sekarang." ucap Bram mengusir Anna. Membuat Anna menambah terkejutannya.


Anna yang tidak ingjn menambah kemarahan Kakaknya terpaksa pergi meninggalkan kamar itu.


__ADS_2