
Plaakkhh" suara tamparan.
" Aakhh" rintihan Rissa.
" Braaamm" bentak Jenie kearah Bram yang sudah menampar Rissa.
" Kakak berani menampar Aku hanya gara-gara wanita itu? Hiks.. Aku kecewa sama Kakak." Ucap Rissa meninggalkan Bram dan Jenie yang terdiam. Bram menatap telapak tangannya yang sudah nyakitin Adiknya.
" Bram, Mama kecewa sama Kamu!" bentak Jenie yang beranjak pergi menyusul Rissa. Namun, sebelum Ia melangkah Bram mencekal lengan Jenie.Sehingga Jenie menoleh kearah Bram.
" Mama kecewa terhadap Aku? Gimana dengan Aku Mah? Mama melukai orang yang tidak pernah bersalah sama Mama. Mama dan Rissa melukai Ana dari kecil, coba Rissa yang di posisi Ana Mah! Gimana perasaan Mama melihat siksaan yang di terima Anak Mama sendiri tanpa melawan? Bram hanya menampar Rissa karena Dia berkata kasar tentang Ana. Apa Aku salah Ma, membela orang yang tetap baik sama sama Mama dan Rissa!" ucap Bram kemudian meninggalkan Jenie yang mematung karena ucapannya.
Jenie kembali mengingat tentang perlakuannya terhadap Ana. Disaat Ana yang sedang tidur di siram dengan air dingin. Ana di kasih makan sisa makanan dari mereka, disuru bekerja seperti pembantu. Jenie yang merampas uang jajan Ana dari pemberian suaminya. Ana yang sakit tanpa di rawat dan masih banyak lagi siksaan yang mereka berikan. Namun, apa yang mereka terima Ana tidak pernah benci kepada mereka berdua.
Jenie berjalan dengan lunglai ke arah kamarnya tanpa menyusul Rissa yang berada di kamarnya. Jenie sadar atas kelakuannya selama ini terhadap Ana. Namun, ingatannya kembali mengingat sosok wanita yang hadir di tengah-tengah kehidupan rumah tangganya hingga membuatnya gelap mata kembali.
" Aku nggak boleh terpengaruh ucapan Bram" ucap Jenie menggelengkan kepalanya untuk menyingkirkan ucapan Bram yang terngiang di benaknya.
Tok tok tok
" Siapa?" ucap Jenie yang mendengar ketukan pintu kamarnya.
" Saya Nyonya, Tuan menunggu Nyonya di bawah" ucap seseorang di balik pintu.
" Bilang saja nanti saya menyusul" ucap Jenie yang kembali menenangkan dirinya.
" Iya Nyonya, Saya permisi dulu" Ucap sang Bibi kemudian beranjak pergi.
" Aku harus ke bawah, kalau bukan Dian, aku nggak mau mengurus acara ini" ucap Jenie bangkit dari duduknya. Jenie mengoles bedak di wajahnya untuk menutupi kesedihannya. Setelah merapikan dirinya, Jenie pun melangkah meninggalkan kamarnya dan menuju ke lantai bawah untuk kembali mendekorasi yang sempat tertunda.
🍁🍁🍁
*Blaackkhh" Suara pintu yang di banting dengan kerasa.
" Praangghh" suara benda yang berjatuhan karena di banting*.
Rissa menghancurkan barang-barang yang berada di kamarnya." Sialan, brengsek, Aku benci kamu Ana." Ucap Rissa sambil membanting barang yang di gapainya.
__ADS_1
" Tunggu saja pembalasan Aku Anak sialan" ucapnya sambil meremas foto Ana.
🍁🍁🍁
"Hiks..hiks..hiks.." suara tangisan seseorang yang berada di kamar yang sangat berantakan yaitu Rissa.
" Lihat kamarku berantakan karena ulahku, aku tidur di tengah-tengah serpihan kaca ini. Aku bakal buat hidupmu seperti ini Ana." Ucap Rissa yang memandangi sekeliling kamarnya yang berantakan.
" Dari kemarin sampe sekarang Mama tidak mendatangiku. Apa Mama berpihak pada Ana?" Ucap Rissa.
" Aku harus tampil cantik hari ini, untuk menyaksikan kehancuranmu." Ucap Rissa yang mulai bangkit dari duduknya menuju kearah lemarinya. Rissa mencari gaun yang indah untuk di pakainya nanti.
🍁🍁🍁
Waktu yang di tunggu-tunggu pun telah tiba, sang calon pria bersama keluarganya telah tiba di kediaman sang calon wanita.
Keluarga Prabu mengenakan pakaian yang serasi bersama sang calon. Keluarga Pramudita juga tak kalah dalam penampilan begitu cantik dan serasi.
Keluarga Pramudita menyambut keluarga Prabu yang baru saja tiba di kediaman mereka. Mereka mengajak keluarga Prabu ketempat di mana acara yang akan berlangsung.
Aiden terlihat begitu tampan dan berwibawa mengenakan pakaian batik adat mereka. Tapi dari tadi Ia nampak tak tenang karena kegugupannya.
" Pah, cantik ya? Sederhana tapi begitu indah." ucap Vina yang kagum atas dekoran keluarga Prabu.
" Iya Ma." ucap Prabu merasa puas atas sambutan keluarga Dian.
Keluarga yang lain pun mengambil tempat duduk yang sudah di sediakan untuk mereka.
Setelah beberapa menit acara pun kini akan di mulai sang calon wanita pun keluar dari kamarnya menuju ke tempat di mana sang calon pria berada. Ana begitu cantik dengan menampilkan senyum bahagianya menyambut tamu-tamu yang berada ruangan itu. Tamu yang hadir begitu kagum dengan sosok wanita cantik perpenampilan sederhana tapi cantik. Walaupun wajah separuhnya tertutup oleh topeng tetapi tidak mengalahkan kecantikannnya yang terpancar.
__ADS_1
Aiden melihat sosok Ana yang mulai melangkah mendekatinya. Aiden begitu terpanah dengan kecantikan dan senyum Ana kepadanya. Vina dan Prabu tersenyum bahagia menyambut calon menantu mereka.
" Pah cantik ya calon menantu kita?." tanya Vina tanpa berpaling dari tatapannya ke arah Ana.
" Iya Ma, Aiden pintar memilih pasangannya." ucap Prabu. Vina menganggukkan kepalanya sesaat untuk membenarkan ucapan suaminya.
Ada pula 2 orang Pria dari jauh menatap Ana tanpa berkedip memandangi Ana yang begitu cantik di mata mereka siapa lagi kalau bukan Abian dan Bram.
" Kau begitu cantik Adik kecilku" gumam Bram sambil memandangi sosok Ana.
" Cantik Na" gumam Abi tanpa sadar.
Ana telah sampai dan mengambil tempat duduk di tengah-tengah kedua orang tuanya. Jenie menatap sinis kearah Ana yang berada di samping Ana.
" Anak Papa sangat Cantik" ucap Dian mempersilahkan Ana duduk di tengah-tengah mereka.
" Terimakasih Pah, Papa juga sangat tampan." ucap Ana sambil tersenyum ke arah Ayahnya.
" Sama-sama sayang, memangnya selama ini Papa tidak tampan di matamu sayang?." Tanya Dian ke arah putrinya.
" Tampan Pah, tapi hari ini Papa lebih tampan." balas Ana.
" Kau pandai merayu Papa" ucap Dian sambil menoel hidung anaknya.
" Cih" Jenie yang tidak suka percakapan mereka berdua. Ana menoleh ke arah Jenie dan mengembangkan senyumnya ke arah Jenie.
" Mama cantik banget pakai kebaya" ucap Ana dengan jujur.
" Aku sudah dari dulu cantik" ucap Jenie. Ana hanya tersenyum atas jawaban Ibu tirinya.
" Ana, Kau sangat cantik" ucap Aiden dengan jujur. Ana tersenyum bahagia membuat Jenie makin membencinya.
" Apa acara ini sudah bisa di mulai?" tanya seorang MC.
" Iya silahkan" ucap Dian.
Acara pun di mulai sesuai yang sudah keluarga rencanakan. Setengah jam kemudian acara memakaikan cincin ke arah pasangan pun di mulai. Pasangan itu berdiri dan saling mendekati untuk melakukan pemasangan cincin di tangan mereka masing-masing. Aiden mengambil cincin untuk di pakai di jari Ana. Namun, suara seseorang menghentikannya.
__ADS_1
" Tungguuuu".