
" Hallo kantor polisi!." ucap Bram menghubungi polisi.
Mereka kaget yang di lakukan Bram untuk menjebloskan Ibu kandungnya kepenjara. Rissa yang tidak mau Ibunya masuk penjara mencoba menghentikan Kakaknya.
" Kak, Rissa mohon jangan cebloskan Mama ke penjara!." ucap Rissa yang mulai berlinangan air mata sambil memohon.
Bram menoleh ke arah Adiknya yang sedang memohon, hatinya mulai tergoyah." Ya Pak, ada yang bisa kami bantu?." ucap suara seseorang dari ponsel Bram. Bram yang sadar dari lamunannya kembali berfikir.
" Rissa biarkan Kakak kamu melaporkan kejahatan Mama, Mama pantas masuk penjara." ucap Jenie pasrah.
Dian menoleh ke arah Istrinya Ia juga merasa tidak tega membiarkan Istrinya masuk penjara. Tetapi kejahatan Istrinya sudah melenyapkan nyawa dan merencanakan pembunuhan itu tidak bisa di biarkan. Mereka juga akan terseret dalam kasus telah menyembunyikan tersangka kejahatan.
" Halo Pak!." terdengar lagi suara seseorang dari ponsel yang di genggam oleh Bram.
" Pak, saya ingin melapor_." ucapan Bram terhenti karena Rissa menarik ponsel Kakaknya.
Praaangghh
Suara ponsel yang di lempar Rissa ke lantai hingga menyebabkan benda pipih itu hancur. Bram dengan amarah menoleh ke arah Adiknya yang sudah merampas ponsel dan melemparnya ke lantai sampai hancur.
" Apa-apaan kau Rissa!." bentak Bram ke arah Adiknya.
" Kenapa Kak? Kakak nggak sayang Mama sampai tega laporin Mama ke polisi?." bentak Rissa yang tak mau kalah.
" Kakak sayang banget sama Mama tapi Mama sudah melakukan kejahatan yang sudah melanggar Sa! Kalau Kakak nggak melapor kita sama saja jahat Sa! Sudah melindungi penjahat yang sudah melenyapkan 2 orang tewas." bentak Bram ke arah Adiknya.
Rissa terdiam mendengar ucapan Kakaknya, Kakaknya benar mereka bakal sama penjahatnya sudah menyembunyikan kejahatan Ibunya. Ia tidak tega melihat Ibunya masuk penjara dan nama besarnya menjadi model pun ikut hancur. Ia hanya bisa menangis, tidak bisa menjawab kata-kata Kakaknya. Tiba-tiba terdengar dari luar bel rumah berbunyi tanda ada seorang tamu.
Ting tong
" Bii!." panggil Dian ke salah satu pelayan di rumahnya.
" Ya Tuan." Ucap salah satu pelayan menghampiri tuannya yang sedang memanggilnya.
" Ada tamu di depan, coba temui dan tanyakan ada perlu apa!." ucap Dian.
" Baik Tuan." sang pelayan pun beranjak pergi menemui tamu di luar rumah kediaman Pramudita.
Ceklek
" Assalamu alaikum." ucap mereka bersama melihat seorang pelayan membuka pintu.
" Waalaikum salam." balas seorang pelayan.
__ADS_1
" Maaf ada perlu apa?." tanya pelayan itu melihat sepasang suami istri berkunjung ke kediaman majikannya.
" Maaf, apa benar ini rumah Anna?." tanya seorang Ibu yang masih terlihat mata sembab. Sang pelayan melihat kedua sepasang suami istri itu merasa heran, karena setahunya baru kali ini ada yang mencari Anna.
" Iya benar, ada apa?." tanya sang Bibi.
" Boleh kami bertemu dengan Anna?." tanya Ibu itu yang sedang mengembangkan senyumannya. Sebelum seorang pelayan itu menjawab pertanyaan seorang Ibu itu, tiba-tiba terdengar suara seseorang dari dalam.
" Siapa Bi?." tanya Pria itu yaitu Bram. Bram yang menunggu pelayannya kembali tak kunjung terlihat sehingga membuatnya menyusulnya ke depan.
" Itu lo Den, nanya Non Anna." ucap Bibi.
Bram menghampiri sepasang suami istri itu yang nampak terlihat begitu sedih." Lebih baik mengobrol di dalam saja biar kelihatan bagus dan saling bersilatuhrahmi, ayo silahkan masuk Pak, Bu!." ucap Bram dengan ramah mempersilahkan kedua sepasang suami istri itu masuk.
Mereka pun mengikuti langkah Bram masuk kedalam ruang tamu. Bram mempersilahkan mereka untuk duduk dan menyuruh pelayan untuk menyediakan minuman untuk mereka.
" Jangan repot-repot Den, kami hanya sebentar di sini." ucap Ibu.
" Tidak apa-apa Bu, sudah seharusnya seorang tamu di perlakukan dengan baik." ucap Bram.
" Terimakasih Den." ucap Ibu yang begitu senang di perlakukan baik oleh keluarga Anna.
" Sama-sama Bu, mmm maaf ada apa ya mencari Anna?." Tanya Bram.
" Tentang apa? Oh iya perkenalkan saya Bram Kakaknya Anna." ucap Bram mengulurkan tangannya memperkenalkan diri.
" Ini suami saya namanya Riko dan saya Winda kami berdua orang tua Cantika kami dari kampung sebelah." ucap Ibu Winda. Mereka berdua membalas uluran tangan Bram.
" Cantika?." tanya Bram yang tidak mengenal nama itu.
" Iya Den, Cantika Putri kami dan dia juga teman kuliah Anna." ucap Ibu Winda." Kami datang kesini mau bertanya sama Anna waktu 3 bulan lalu apa benar Cantika sempat berangkat bersama Anna ke kampus? Karena salah satu warga di sana sempat melihat kalau Anak kami berangkat dengan temannya. Dan setahu kami hanya Anna yang sekampus dengan Cantika yang sering lewat jalan itu. Kami juga sudah beberapa kali bertemu dengan Anna waktu Cantika pulang atau berangkat bersamanya ke kampus." ucap Ibu Winda.
" Iya Den, saya juga begitu setiap berangkat ke kantor kadang melihat Cantika bersama Anna. Jadi kami datang ke sini mau bertanya saat Cantika bersama Anna berangkat ke kampus Cantika turun di mana? Karena Cantika tidak masuk kuliah pada saat itu dan tidak ada yang tahu Anak kami kemana? Satu-satunya hanya Anna yang bisa menemukan keberadaan Anak kami. Semenjak 3 bulan lalu kami sudah berusaha mencarinya dan melaporkan ke polisi tapi pencaharian kami semua tidak membuahkan hasil." ucap Pak Riko Ayahnya Cantika yang mulai sesegukan memikirkan keberadaan putrinya yang entah di mana. Istrinya pun ikut meneteskan air mata dan merebahkan kepalanya di dada bidang suaminya. Suaminya pun memeluk tubuh Istrinya untuk menenangkan tangisannya.
Bram yang mendengarpun terkejut, Ia benar-benar lupa tentang gadis yang mereka makamkan yang setahu mereka adalah Anna. Pikiran Bram yang sudah penuh dengan amarah tentang keterlibatan Ibunya atas kematian Anna tidak memikirkan siapa gadis yang ikut tewas akibat terjadinya kecelakaan itu. Bram bangkit tidak menjawab kata-kata sepasang suami istri itu membuat mereka bingung dan kembali memikirkan ucapan mereka apa ada kata-kata menyinggung Bram. Atau Bram mencoba menghubungi Anna untuk bertanya keberadaan putrinya. Tetapi yang mereka pikirkan salah Bram menghubungi Aiden bukan Anna untuk datang ke kediamannya sekarang juga.
Dian menghampiri Bram yang sedang mondar-mandir melihat sepasang suami istri yang sedang menunggu jawaban Bram kepada Mereka. Dian bertanya kepada Putranya yang terlihat tidak baik-baik saja.
" Ada apa Bram?." tanya Dian ke arah putranya.
" Mama mana pah?." tanya Bram balik bertanya tidak menjawab pertanyaan Ayahnya kepadanya.
" Mama di dalam." balas Dian.
__ADS_1
Bram kembali terdiam menunggu Aiden datang sebelum Ayahnya bertanya lagi. Dian melihat ke diaman putranya tidak kembali bertanya, Ia tahu putranya seperti tidak baik-baik saja. Ia mendudukan tubuhnya ke salah satu kursi berada di sana.
🌳🌳🌳
" Mah, kenapa Mama melakukan ini?." tanya Rissa kepada Ibunya. Semenjak Bram meninggalkan mereka untuk menemui tamu yang berkunjung ke rumah mereka, tidak ada lagi percakapan mereka ataupun suaminya bertanya. Dian pun menyusul putranya ruangan itu masih dalam keheningan. Rissa mendekati Ibunya yang tidak kuat menahan tanda tanya di benaknya.
Jenie menoleh ke arah putrinya, Ia merasa bersalah karena dialah penyebab kehancuran keluarganya. Anaknya yang di impikan sebagai seorang model papan atas yang tak akan tertandingi kecantikannya kini bakal hancur olehnya. Nama keluarganya bakal tercoreng karena dia seorang pembunuh. Putrinya bakal di hujat oleh para netizen dan fensnya.
" Maafkan Mama." ucap Jenie hanya itu yang dapat Ia ucapkan ke arah putrinya.
Rissa memeluk Ibunya dengan erat, Ia tahu yang di lakukan Ibunya hanya untuk kebahagiaannya. Tapi Ibunya tidak tahu yang Ia lakukan akan menyebabkan nama keluarganya hancur. Mereka menangis sambil mencurahkan kesedihan mereka masing-masing. Rissa yang kini sedang mengandung tidak ada yang tahu kecuali Alex. Ia tak ingin berbagi kesedihannya pada Ibunya yang terjadi padanya saat ini.
🌳🌳🌳
Di tempat lain, seseorang sedang melihat pemandangan di luar jendela mobil. Semenjak Ia turun dari pesawat hanya terdiam, Eris dan Reya hanya ikut terdiam pula dalam pikiran mereka masing-masing.
" Welcom back." teriaknya. Eris dan Gladis tersadar dari lamunannya mendengar teriakan Reya.
" Cih, dasar kau De',kayak orang kampungan aja!." ucap Eris ke arah Adiknya.
" Is Kakak mah, ngatain aku orang kampungan." ucap Reya tak terima di katain Kakaknya.
" Trus apa namanya nih! kalau bukan kayak orang kampungan? lulusan dari negara ternama tapi sifatnya kayak orang kampungan." ucap lagi Eris.
" Is Kakak." ucap Reya yang kesal.
Mobil yang mereka naiki terhenti karena menunjukan lampu merah, salah satu mobil itu pun ikut terhenti di samping mobil mereka naiki. Seseorang menoleh ke arah samping mobil itu, matanya membulat di saat Ia menoleh dan tanpa sengaja melihat wajah seseorang yang dia kenal. Wajah wanita yang sangat dia cintai dan Ia rindukan. Ia ingin sekali memanggil nama gadis itu nama suara dalam tenggorokannya tak kunjung bersua karena tercekat oleh rasa terkejutnya.
" Anaa". gumamnya tak terdengar.
Di saat Ia berhasil menenangkan dirinya Ia ingin kembali memanggil nama gadis itu. Tetapi lampu lalu lintas kembali berubah menjadi hijau.
Mobil itu pun kembali berjalan meninggalkan mobil lainnya." Anaaaaaa!." teriaknya dari jauh melihat mobil itu semakin menjauh.
Gadis yang berada di dalam mobil itu menoleh ke arah belakang di saat Ia mendengar seseorang memanggilnya. Namun di saat Ia menoleh tidak terlihat siapapun, hanya mobil yang lewat saja yang Ia lihat.
" Kenapa suara itu seperti aku kenal?." gumam Anna.
Eris yang melihat pun ikut menoleh ke arah belakang tetapi Ia pun tak melihat siapapun berada di sana." Ada apa?." tanya Eris.
Anna menoleh ke arah Eris yang masih memikirkan suara yang memanggil itu. " Nggak ada apa-apa Mba." ucap Gadis.
Di dalam mobil seseorang nampak kesal karena kehilangan jejak mobil yang di tumpangi gadis yang di panggilnya.
__ADS_1
" Shiitt, aku kehilangan jejaknya. Aku yakin itu Anna, aku pasti akan menemukanmu sayang tunggu Aku." ucapnya