Si Gadis Cantik Bertopeng

Si Gadis Cantik Bertopeng
Perjodohan


__ADS_3

Menjelang siang hari, walaupun begitu panas banyak orang-orang berlalu lalang mencari makanan untuk mengisi kampung tengah mereka di siang hari di jam istirahat kantor. Apalagi restoran yang terkenal makanannya begitu enak dan tidak menguras kantong banyak di antri para pembeli.


Sebuah mobil memasuki kawasan itu dan memparkirkan mobilnya di tempat parkiran mobil. Setelah itu seorang gadis turun dari mobil dan di susul oleh seorang pria yang juga tidak kalah tampannya.


" Banyak yang antri kak!." ucap gadis itu mengamati tempat yang penuh dengan orang-orang.


" Iya, tapi kakak sudah pesan duluan Anna." ucap pria itu yang sudah berdiri di sampingnya.


" Ish!! Ya udah deh!." ucap Anna kesal, pasrah karena ajakan kakaknya.


Anna melangkah pergi meninggalkan kakaknya yang sedang tersenyum atas tingkahnya itu. Di saat langkahnya tiba di ujung pintu masuk, matanya tanpa sengaja melihat pria yang sedang makan siang juga berada di sana. Pria yang sangat Ia rindukan dan juga menyakiti hatinya.


Pria itu pun menoleh ke arahnya sehingga, kedua mata yang saling merindukan itu bertemu.Terlihat dari dalam kedua mata pria itu sangat merindukan wajah kekasihnya yang selalu membuatnya tersenyum. Gadis itu melangkah mundur ingin kembali ke mobil kakaknya, namun tubuhnya bertabrakan dengan seseorang.


" Maaf." ucap Anna tanpa melihat pria yang di tabraknya yang ternyata adalah kakaknya sendiri.


" Anna!." panggil Bram yang menghentikan langkah Anna untuk pergi.


Anna mendongakkan wajahnya kearah pria yang menarik lengannya." Kak Abra." ucap Anna.


" Ada apa?." tanya Bram sambil menatap wajah Anna yang ingin sekali pergi dari tempat itu.


" Aku nggak selera makan di sini, nanti aku ganti uang kakak yang sudah memesan makanan itu." ucap Anna setelah itu melangkah pergi tanpa menunggu jawaban dari kakaknya.


Melihat kepergian adiknya, Bram berpikir sejenak dan membalikkan tubuhnya menoleh ke dalam restoran itu. Matanya mencari sesuatu yang tanpa sengaja tatapannya berhenti ke arah seseorang yang sedang makan bersama kekasihnya itu. Bram mengepalkan tangannya melihat pria yang sudah mematahkan hati adiknya. Rasanya ingin menghajar pria itu sekarang karena dialah, adiknya kehilangan selera makan. Padahal Ia sudah susah-susah membujuk adiknya itu untuk makan.


🌳🌳🌳


Beberapa menit kemudian, Bram krmbali memasuki mobilnya yang sudah di tunggu Anna sejak tadi.


" Kakak, kenapa lama sekali?." tanya Anna yang sedang kesal.


Bram menoleh ke arah adiknya yang hanya menatap lurus kedepan." Apa kamu lupa?." tanya Bram.


Anna menoleh ke arah kakaknya." Lupa apa?." tanya Anna.


" Astaga, saking sedih dan patah hati lupa sama ulang tahun mama. Kakak juga ambil makanan yang sudah di pesan tadi, mubajir dong sayang kalau nggak di ambil." ucap Bram sambil menyalakan mobilnya.


" Ulang tahun mama? Hihihi.. kok bisa Anna lupa?." ucap Anna sambil kecekikan mengingat sesuatu.


" Iya, belum tua udah sering kelupaan, kita jenguk mama di penjara dan juga makan siang dan juga merayakan ulang tahun Mama." ucap Bram sambil mengemudi mobilnya.


" Iya Kak, Anna kangen sama Mama." ucap Anna yang girang hingga melupakan kesedihannya sesaat.


" Oke!! Lets'goo!!." ucap Bram yang melajukan mobilnya ke tempat yang sudah di sepakati. Hati Bram sedikit reda melihat Anna yang kembali tersenyum, walaupun dalam hatinya sedang terluka.


🌳🌳🌳


" Praannkhh." terdengar suara benda yang di banting dengan keras.


Pria itu membanting semua benda yang ada di sekitarnya, tidak jauh darinya juga ada pria yang sedang mengawasi menatapnya sendu. Pria yang selalu terlihat bahagia, kini menjadi pria yang rapuh karena kesalah pahaman. Andai saja, Ia mendapatkan secepatnya bukti-bukti itu mungkin Ia tidak menyakiti kekasihnya terlalu jauh.


" Aaaaaaaahh!!." teriak pria itu sambil memukul dinding kamarnya, sehingga terlihat darah segar keluar dari punggung tangannya.


" Tuan!." panggil asistennya sambil mendekati pria itu untuk menghentikannya.

__ADS_1


" Hiks..hiks..hiks.. ini tidak seberapa dengan rasa sakit yang aku torehkan terhadap Anna, Stave." ucapnya di sela-sela tangisannya.


" Tapi, Tuan sudah melukai diri anda sendiri, ini tidak baik untuk Tuan." ucap Stave sambil menenangkan majikan atau sahabatnya itu.


" Stave, di sini hanya ada kita berdua, kenapa kau formal banget sama aku?." tanya Aiden menoleh ke arah Stave sambil mengusap sisa-sisa air mata di wajahnya.


" Aku adalah bawahanmu, mana mungkin manggil kamu Bro!." ucap Stave sambil memalingkan wajahnya ke arah lain menghindari tatapan bengis Aiden.


" Cih! Sok polos kamu. Panggil aku seperti biasa, kita berdua sudah tidak di kantor lagi." ucap Aiden bangkit dan berdiri menelfon seseorang.


" Haa?? Bukannya tadi dia nangis? Kok jadi santai kayak gitu? Aneh !!." batin Stave yang hanya melongo memandangi Aiden.


" Hati-hati, nanti kamu jatuh cinta sama aku." ucap Aiden yang mengetahui tatapan Stave ke arahnya.


Stave yang mendengar ucapan Aiden kepadanya, membuat Ia berpikir untuk mengerjai Aiden. Dengan gaya ala-ala banci, Stave mendekati Aiden yang tidak menyadari kedatangannya. Tangan Stave memegang bahu Aiden, membuat Aiden menoleh ke arah Stave.


" Ada apa?." tanya Aiden yang juga belum menyadari.


" Kalau benar aku jatuh cinta padamu, apa kau mau menjadi kekasihku?." tanya Stave yang mengubah suaranya menjadi seorang waria sambil mencolek dagu Aiden untuk menggodanya. Aiden tersigap dengan tingkah Stave yang memainkan mata menggodanya.


" Praannkkhh." suara benda jatuh, membuat mereka berdua menoleh ke asal suara itu yang ternyata adalah Nena berdiri mematung menatap ke arah mereka berdua.


Aiden dan Stave pun menyadari tubuh mereka berdua yang hampir intim, dengan cepat Stave menjauhkan tubuhnya dari Aiden.


" Ka_kalian?." tanya Nena yang masih dengan keterkejutannya sambil menunjuk ke arah mereka berdua.


" Ne_nena, ini bukan seperti yang kau pikirkan." ucap Aiden mencoba memberi penjelasan kepada Nena yang sudah salah paham kepadanya.


" I_ini." ucap Nena terbata-bata.


" Berhenti di sana, jangan mendekat!." lantang Nena yang setelah itu meninggalkan tempat itu dengan rasa kecewa.


" Shiitth.!! Ini semua gara-gara kau Stave!." ucap Aiden menoleh ke arah sahabatnya yang nampak acuh atas tuduhannya.


" Seharusnya kamu senang." ucap Stave sambil mendudukkan bokongnya di kursi yang tidak jauh darinya.


" Senang?? Kau sudah menjatuhkan aku, padahal aku adalah laki-laki normal. Bukan laki-laki yang di pikirkan oleh Nena." ucap Aiden yang juga ikut duduk di samping Stave.


" Nah!! Justru itu, agar Nena mau membatalkan perjodohan kalian berdua." ucap Stave membuat Aiden sontak menoleh ke arah sahabatnya itu.


" Maksudmu?." tanya Aiden.


" Nena berpikir kau adalah laki-laki tidak normal, sehingga Nena mengatakan pada ayahnya untuk membatalkan perjodohan ini. Tetapi bisnis antara ayahmu dan om Rudi tidak akan terputus, jadi kau tidak akan di salahkan. Dan juga Anna dan keluarganya akan baik-baik saja, kau tidak akan di ancam lagi dan kalian berdua akan bersama lagi." ucap Stave panjang lebar membuat Aiden mengerti.


" Hhmm.. pintar juga kau ya Stave!! Nggak sia-sia aku punya sahabat seperti kau." ucap Aiden sambil menepuk bahu Stave.


" Stave gitu loh!!." ucap Stave.


" Tetap cari bukti, aku tidak ingin tertunda lagi. Aku ingin Papa dan Om Leo tidak ada perselisihan karena kesalah pahaman masalah ini." ucap Aiden.


Braakkhh." suara pintu apartementnya yang di dobrak paksa oleh seseorang.


Aiden dan Stave sangat terkejut dengan kedatangan seorang laki-laki yang tidak asing bagi mereka. Laki-laki yang begitu dekat dengan Anna yang terlihat begitu geram terhadap Aiden.


Tanpa babibu Aiden mendapatkan serangan dari kakaknya Anna yang bernama Bram.

__ADS_1


Buugghh


" Tuan!." ucap Stave yang mencoba menahan Bram yang kembali menyerang Aiden.


" Brengsek kau Aiden!! Seandainya aku tahu dari awal kau hanya ingin menyakiti adikku, aku tidak menginjinkan adikku bertunangan dengan pria brengsek seperti kamu." ucap Bram dengan penuh amarah.


" Tuan, sebenarnya_." ucapan Stave terhenti karena Aiden menghentikannya.


" Diam Stave!! Aku minta maaf sudah melukai hati adikmu, aku tidak akan melukainya lebih dalam lagi." ucap Aiden menatap wajah Bram.


" Aku tidak akan memaafkanmu, dengarkan aku baik-baik Aiden. Jangan pernah dekati adikku lagi, camkan itu baik-baik!." ucap Bram setelah itu beranjak pergi, hanya dua langkah Bram tiba-tiba Ia berhenti dan menoleh ke arah Aiden.


" Pintu apartementmu rusak, itu tidak sebanding sakit hati adikku." ucap Bram setelah itu pergi meninggalkan mereka berdua yang nampak tidak menjawab sepatah katapun.


" Shith!! Pukulannya keras sekali." ucap Aiden sambil memegangi sudut bibirnya yang nampak membiru dan mengeluarkan darah karena pukulan Bram yang nampak keras.


" Seharusnya kau mengungkapkan semuanya pada Bram, agar Ia tidak berpikir lebih jauh untuk memisahkan kalian berdua." ucap Stave.


" Iya tapi nanti dulu, aku tidak mau rencana kita gagal total. Hei obatin dulu cepetan! Dan jangan lupa perbaiki pintu apartemenku, jangan dulu tidur sebelum pintu apartemenku baik seperti semula." ucap Aiden.


" Baik Tuan arogan!." ucap Stave sambil membungkuk sesaat di hadapan Aiden.


Aiden terkejut dengan tindakan Stave." Heeii! Aku potong gajimu sebulan." ancam Aiden.


Stave yang mendengar ancaman Aiden tubuhnya seketika terasa lemas mendengar gajinya di potong lagi." Ya tuhan, kasihan Aim." gumam Stave yang masih saja di dengar Aiden.


" Ngaduu!!."


🌳🌳🌳


" Papa, ada apa? Kok, ada Papa Leo juga?." tanya gadis yang baru saja ikut bergabung duduk di samping ayahnya.


" Ada yang ingin kita bicarakan sama kamu sayang, mana kakak kamu?." tanya Papa Dian ke arah Anna yang baru saja kembali bersama kakaknya.


" Bicara tentang apa Pah!?." tanya Anna.


" Anna baru saja sampai, coba bersih-bersih dulu. Nanti kita lanjutkan setelah semua hadir di sini." ucap Dian.


" Hadir? Apa ada tamu yang istimewa malam ini?." tanya Anna.


" Iya, sana bersih-bersih dulu." ucap Leo ke arah putrinya.


" Iya Pah!." jawab Anna sambil bangkit dari duduknya dan berpamitan ke arah kedua ayahnya itu.


" Apa kamu yakin?." tanya Leo ke arah Dian.


" Yakin, ada apa?." tanya Dian menoleh ke arah Leo.


" Takutnya mereka berdua tidak setuju." ucap Leo.


" Eh! Ada om Leo!." ucap Bram yang baru saja tiba di ruangan itu.


" Iya Bram. Mau bertemu dengan putriku dan juga membahas sesuatu." jawab Leo.


" Membahas tentang apa?." tanya Bram.

__ADS_1


" Perjodohan." jawab Dian.


__ADS_2