
Sebuah mobil berhenti di tepi jalan yang sudah macet karena terjadi kecelakaan dan orang-orang yang ramai datang melihatnya. Kedua Pria yang berada dalam mobil itu pun keluar dan berlari menuju ke tempat dimana terjadi kecelakaan itu. Bram yang masih belum tahu apa-apa hanya bisa mengikuti langkah Ayahnya dari belakang. Dian melihat salah satu anggota kepolisian yang sedang berbicara dengan salah satu warga datang mendekatinya.
" Ma'af, apa Bapak yang menelfon saya?." Tanya Dian dengan nafas ngos-ngosan.
" Apa anda yang bernama Hardian Pramudita?." tanya Pria itu yang sedang menyelediki kasus kecelakaan tanpa menjawab pertanyaan Dian kepadanya.
" Iya saya sendiri." balas Dian.
" Kalau begitu benar, saya yang menghubungi Bapak tadi."
" Sebenarnya ini ada apa Pak?."Tanya Bram yang baru saja datang.
" Perkenalkan nama saya Yanto, Saya yang di tugaskan untuk menyelidiki penyebab terjadinya kecelakaan ini. Kecelakaan tabrakan ini membuat seorang supir sedang terluka berat dan 2 orang lainnya meninggal dunia di tempat. Menurut informasi salah satu keluarga anda yang telah tewas akibat kejadian itu." ucapnya tiba-tiba sebuah tangan langsung menarik keraknya.
" Apa maksud anda?." Bentak Hardian.
" Paahh." teriak Bram yang terkejut dengan tindakan Ayahnya.
" Sabar Tuan." ucap Yanto yang perlahan-lahan menengkan Dian yang sedang emosi.
" Cepat katakan!." bentak Dian ke arah wajah Pria itu.
" Pah , jangan begini." ucap Bram yang berusaha menarik tangan Ayahnya yang sedang mencengkram kerak baju Polisi itu.
" Maaf Pak, Ayah saya sudah hampir melukai Bapak." ucap Bram dengan rasa bersalah.
" Tidak apa-apa, saya mengerti." ucapnya
" Boleh teruskan cerita Bapak tadi?." ucap Bram yang penasaran.
" Di tempat kejadian di dalam mobil yang sudah hangus terbakar. Kami menemukan identitas seseorang yang berada di bangku bagian belakang. Pengawal.." ucap Dian.
" Identitas." gumam Bram.
" Ini barangnya." ucap seseorang dan menyerahkan sebuah tas kecil yang sudah hampir terbakar.
Dian mengambil tas kecil itu dan membukanya. Terlihat sebuah kartu yang hampir juga terbakar, Dian mengambilnya dan langsung membaca nama identitas di kartu itu. Mata Dian tampak sangat terkejut setelah membacanya berulang kali nama itu. Nama yang begitu dia kenal, nama yang di berikan Clara kepadanya. Bram yang melihat keterkejutan Ayahnya segera merampas kartu yang berada di genggaman itu. Bram pun sangat terkejut setelah membaca nama yang tertera di kartu itu. Kartu itu pun jatuh dari genggaman Bram, Bram semakin shok sehingga memundurkan tubuhnya dari posisi sebelumnya.
" Pah, ini..ini..nggak mungkin." ucap Bram yang masih tak percaya.
" Papa juga aakhhhh.. ini nggak benar. Pasti bukan Anna." ucap Dian yang sam seperti Bram.
Tiba- tiba Dian terjatuh dan pingsan, Bram yang melihat itu pun kaget dan mendekati Ayahnya.
" Pah bangun, Pah." panggil Bram yang sedang kacau.
" Pengawal, tolong di bantu bawa ke mobil dulu."
'' Tolong bawa hati-hati Papa saya." ucap Bram.
" Baik Tuan."
Bram bangkit melangkah ke tepi jurang, terlihat beberapa kepolisian sedang bertugas di bawah sana. Terlihat sebuah mayat di angkat keluar dari dalam mobil. Hati Bram begitu sedih dan tidak percaya. Adiknya meninggal dengan cara tragis seperti ini. Bram mengedarkan pandangannya melihat plat nomor mobil itu. Matanya semakin memerah melihat plat nomor mobil itu.Dia sangat tahu betul plat nomor mobil itu dan itu benar-benar mobil yang di naiki Anna.
Dada Bram semakin sesak melihat mayat yang sudah hangus terbakar. Air matanya tak tertahan lagi sehingga bulir-bulir air mata menetes di kedua pipinya.
" Anna, maafin Kakak nggak bisa menjaga Anna dengan baik." ucap Bram sambil mengusap air matanya yang semakin mengalir.
" Apa Aiden sudah tahu?." gumam Bram yang baru saja mengingat Aiden.
Bram meraih ponselnya di dalam saku celana dan langsung menghubungi Aiden.
Tut tut tu_
" Hallo."
__ADS_1
" Den, Anna kecelakaan hiks hiks." ucap Bram yang langsung terisak.
" Apaaaaa?." suara teriak yang terkejut.
" Bram, kirim lokasinya. Aku segera menuju kesana." ucap Aiden langsung menekan tombol merah.
Bram yang tak sempat menjawab ucapan Aiden hanya bisa melihat layar ponselnya.Kemudian jarinya kembali mengotak-ngatik untuk mengirim pesan untuk memberitahukan tempat terjadi kecelakaan.
🍀🍀🍀
Setelah Aiden mendengar dan mendapatkan sebuah pesan dari Bram langsung menuju ke lantai bawah. Melihat sang Asisten yang berada di lobi, Aiden memanggilnya.
" Cepat bawa Aku ketempat ini." ucap Aiden memberikan ponselnya kepada Asisten kepercayaannya.
Aiden melangkah dengan tergesa-gesa, setelah sampai di samping mobilnya dengan cepat Ia masuk ke dalam mobil. Mobil itu pun meninggalkan area parkiran dan melaju ke tempat di mana tujuan mereka.
" Telfon Mama dan Papa." ucap Aiden dengan wajah sangat khawatir. Aiden tidak bertanya keadaan tentang keadaan Anna.
" Baik Tuan." balas seorang asisten.
Beberapa menit kemudian mobil Aiden telah sampai di tempat kejadian. Aiden melihat mobil Ayah dan Ibunya juga baru saja tiba. Vina dan Prabu keluar dari dalam mobil dan langsung menghampiri Anaknya yang baru saja keluar dari mobilnya.
" Aiden, ada apa ini Nak?." tanya Vina yang sedang di liputi ke khawatiran.
" Aden juga belum tahu Mah, meningan kita menemui Bram." ucap Aiden.
" Baang." panggil seseorang yang datang berlari ke arah keluarganya.
" Abii." ucap Mamanya.
" Ada apa ini?." tanya Abi yang di landa ingin bertanya.
" Lebih baik kita bertemu Bram dulu." ucap Aiden.
Mereka melangkah ke arah Bram yang terlihat dari jauh. Bram duduk dengan linangan air mata dan mengobrol salah satu polisi.
" Mohon maaf Pak. Di bawah begitu licin dan becek. Tim kami saja begitu susah masuk ke dalam sana. Sedangkan kembali saja ke atas sini kadang harus berusaha Pak." ucap orang itu menjelaskan.
" Bram." panggil Aiden. Keluarga Prabu mengelilingi Bram yang nampak bertanya-tanya.
" Bram, mana Anna?." tanya Aiden yang nampak begitu khawatir.
Bram menoleh ke arah Aiden dan menatapnya dengan tatapan menyedihkan. Perlahan-lahan tangannya di angkat dan jari telunjuknya mengarahkan ke tempat di mana sebuah mayat yang hangus terbakar.
Aiden dan keluarganya pun menoleh ke tempat di mana sebuah mayat tergeletak yang hanya di tutupi sebuah kain putih.
Vina, Prabu , Abi dan Aiden nampak begitu shock setelah melihat mayat itu.
" Pah, Anna hiks..hiks..hiks..." panggil Vina yang langsung menyembunyikan wajahnya ke dalam pelukan suaminya. Ia tak begitu kuat melihat Anna yang sudah tak bernyawa. Prabu mengalihkan pandangannya juga karena tidak kuat melihatnya hingga air matanya juga keluar dari sudut matanya. Walaupun Prabu baru saja mengenal sosok Anna tapi Ia tahu sifat Anna seperti apa. Sehingga membuatnya menyayangi Anna seperti Anak kandungnya.
" Bram, di mana Ayahmu?". tanya Prabu.
" Di dalam mobil Om." ucapnya.
" Ma, kita temui Dian ya?." ucap Prabu. Vina pun menganggukan kepalanya yang masih sesegukan.
Prabu meninggalkan Aiden dan Abi yang nampak masih berdiri tanpa gerakan.Abi dan Aiden seakan tak percaya apa yang di lihatnya. Anna yang baru saja kemarin di lihatnya kini sudah terbujur kaku tanpa bernyawa lagi. Abi melangkah perlahan dan melihat tubuh yang nampak hampir habis terbakar.
" Anna, maafkan Aku ya? semoga kau tenang di alam sana." ucap Abi yang mulai meneteskan air mata. Abi tidak sanggup melihat keadaan Anna sekarang, sehingga Ia pergi tanpa meninggalkan sepatah katapun terhadap Abangnya dan Bram.
Aiden mulai melangkah dan mengamati semua, bahwa Ia masih belum percaya. Ia ingin mencari celah untuk sadar dari mimpinya. Tapi semuanya nyata dan terlihat jelas di matanya. Perlahan Aiden membuka kain putih itu dan tatapannya menyusuri ke jari manisnya. Terlihat sebuah cincin yang begitu dia kenal terpampang jelas di matanya.
" Hahaha..kalian mau prank aku kan? Ini nggak lucu Anna." ucap Aiden.
Bram menoleh ke arah Aiden yang sedang berbicara. Bram mendekati Aiden dan menepuk-nepuk pundak Aiden.
__ADS_1
" Bram, ini prank. Anna hanya mengerjai kita." ucapnya yang masih saja tak percaya.
" Aiden buka mata lo, Ini nyata Den." ucap Bram.
" Nggak, Anna belum mati. Anna bangun, Kakak nggak suka kayak gini. Candanya kelewatan." bentak Aiden.
" Den sadar, lo harus ikhlas. Ini sudah jadi takdir Den. Kasihan Anna melihat lo kayak gini. Ini nggak ada prank dan candaan. Anna sudah pergi Den!." ucap Bram.
" Nggaaakk, Aku nggak percaya. Annaaa lo di mana? Ini kelewatan." bentak Aiden.
" Den, buka mata lo." bentak Bram yang sudah tidak bisa menahan kesabarannya.
" Anna belum mati Bram." bentak Aiden.
Bugghh
" Lo harus terima kenyataan ini Den. Lo boleh sedih tapi jangan kayak orang gila Den." bentak Bram.
Aiden yang kena pukulan dari Bram terjatuh ke lantai aspal. Dirinya yang masih shok dan lemah tak ingin bangkit melawan Bram yang sudah terkena tinjuannya di rahang Aiden. Sehingga, nampak muncul kebiru-biruan.
Prabu yang mendengar keributan langsung menghampiri mereka dengan di susul oleh Vina. " Ada apa ini?." tanya Vina melihat Anaknya yang masih dalam posisinya.
" Sayang, Kau harus ikhlas. Kasihan Anna yang sudah tenang Nak." ucap Vina memeluk Aiden.
Aiden yang mendapatkan pelukan Ibunya langsung membalasnya. Aiden yang sangat terpukul, tidak bisa menahan air matanya. Hingga tangisannya pecah di pelukan Ibunya. Orang yang begitu dia cintai telah meninggalkannya. Hatinya sakit dan remuk melihat sosok yang selalu di idam-idamkannya. Yang selalu hadir di mimpi dan pikirannya. Kini telah pergi selama-lamanya. Andai waktu bisa memutar kembali, Ia tak ingin kehilangan sosok yang di cintainya. Seharusnya dia datang menjemput Anna walaupun di larangnya.
Tapi apa boleh buat nasi sudah menjadi bubur, hanya bisa mengikhlaskan kepergian kekasih hatinya. Ia tak kuat melihat sosok yang sudah tak bernyawa lagi. Hatiku ikut mati bersama sosok yang di cintainya. Tangisan Aiden berhenti dan berdiri mendekati mayat itu. Tiba-tiba matanya kembali buram sehingga, membuatnya tak sadarkan diri. Seseorang sedang memanggilnya namun kembali lenyap bersamaan datangnya kegelapan.
Buugghh
" Aiii.." panggil Vina melihat Anaknya yang jatuh tergelatak.
" Den.." panggil Prabu dan Bram bersamaan.
" Ayo kita bawa Aiden." ucap prabu.
Beberapa orang membantu Bram memapah Aiden ke dalam mobil. Seorang Polisi mendekati mereka bertiga.
" Kami sudah mendapatkan mayat yang satunya lagi. Jadi, bagaimana? Apa keluarga Bapak kami antar ke kediaman atau ke rumah sakit dulu untuk melakukan visum?." tanya orang itu.
" Antar saja kerumah Pak. Ini murni kecelakaan." ucap Dian yang sudah sadar dari siumannya.
" Baik kalau begitu." ucapnya. Kemudian meninggalkan keluarga Prabu dan Dian.
" Kasihan Anna. hiks..hiks..hiks.." ucap Vina.
" Sabar Ma." ucap Prabu yang sedang mengelus pundak Istrinya.
" Pah, padahal kita visum dulu. Siapa tau ada kejadian yang kita tidak tahu di balik ini." ucap Bram.
" Papa ingin Anna tenang Bram. Sudahlah, ayo kita kerumah mempersiapkan semua. Mereka pun melangkah memasuki mobil mereka masing-masing dan meninggalkan tempat itu.
🍀🍀🍀
Cahaya mentari masuk di celah jendela menyinari kedua insan yang masih dalam kehangatan. Wajah seorang gadis di terpa cahaya itu, sehingga membuatnya terbagun karena merasakan panas. Matanya mulai terbuka perlahan, dan mengusap matanya agar bisa melihat dengan jelas. Matanya mulai mengelilingi langit-langit ruangan itu.
" Ini Aku di mana?." gumamnya.
Tangannya yang di dalam selimut yang sedang memeluk sesuatu tiba-tiba bergerak dan meraba-raba. Tiba-tiba tangannya terhenti saat tangannya menyentuh sesuatu.
" Eh apa ini? Kok keras?." gumamnya. Tubuhnya mulai bergerak.
" Aakkhh sakit." ringisnya menahan sakit di selangkangannya.
" Eh, tunggu? Aku di mana? Kok badanku sakit banget?. Oh Rissa kamu di mana nih?." gumamnya lagi.
__ADS_1
" Semalam aku mabuk dan.." tiba-tiba teringat sesuatu." Apa jangan-jangan Aku melayani Om-Om yang berperut buncit?." gumam Rissa dengan cepat Ia menoleh ke arah sampingnya dan terlihat wajah seseorang yang tertidur pulas. Rissa kaget dengan orang itu hingga membuatnya berteriak.
" Aaaahhhhhkk."