
Tanpa sepengetahuan siapa pun Dara membeli satu botol miras. Awalnya ia membelinya untuk bersenang-senang karena ia yakin jika dirinya lah yang akan memenangkan project, namun kini berbalik seratus delapan puluh derajat ia telah di kalahlan oleh musuh bebuyutannya sewaktu SMA, ditambah lagi teman-teman kerjanya membanding-bandingkan Dara dengan Ana
Dara meminum mirasnya seorang diri di dalam kamar hotel, ia meminumnya untuk menghilangkan kekesalannya karena sudah kalah dari Ana, sebelum teman-temannya menghampirinya untuk mengajaknya makan malam
selesai acara orang-orang pergi ke restoran hotel untuk makan malah bersama, termasuk dengan Dara, kemenangan Ana tadi benar-benar menjadi topik pembicaraan semu orang
Dara sangat stres karena semua teman-temannya membicarakan Ana, hati dan kepalanya sangat mendidih saat semua orang pujian-pujian Ana
Dara yang masih di ambang antara sadar dan mabuk masih bisa mengendalikan sikapnya, ia masih bisa menahan amarahnya sata teman-temannya membahas Ana, namun hal itu tidak berlangsung lama
saat Ana hadir di sana untuk makan malam, Ana sudah seperti artis papan atas yang menjadi pusat perhatian semua orang. Satu persatu semua orang datang menghampiri Ana mengucapkan selamat kepadannya atas kemenangan tender, ada juga yang meminta tips dan trik kepada Ana
Amarah Dara semakin memuncak melihat itu semua, dia tidak ingin reval sainganya itu di puja-puja semua orang. Mereka belum mengetahui saja jika Ana juga memiliki kelemahan dan akan Dara bongkar hari ini juga
“Stopp” teriak Dara tiba-tiba membuat susanan menjadi hening “kalian dari tadi memija-mija dia! apa kalian tidak tahu jika dia itu perawan tua?!” Dara berdiri dari duduknya lalu berjalan mengahampiri Ana dengan sempoyongan seperti orang yang sudah mambuk berat
“dia adalah perawan tua yang sudah ditolak laki-laki teman sekelasnya waktu SMA. lihat! Apa dia tidak bercermin? bagaimana penampilan dia?! kribo, berkulit gelap, gigi berbehel mengutarakan cinta kepada siswa populer! " Dara ingin mengumumkan kepada semua orang jika Ana juga memiliki sebuah kegagalan
waktu kelulusan sekolah, Ana sempat mengutarakan cinta kepada siswa populer di sekolahannya, waktu itu cinta Ana di tolak dan dalam sekejap gosip pun berdar, Ana sangat malu beruntung setelah itu Ana tidak harus datang kesekolah lagi (ya ia lah, kan Ana sudah lulus sekolah)
dulu Ana sering di buly oleh teman-temanya hanya Rani dan siswa itu yang sangat baik dan tidak membuly dirinya, jika saat jam pelajaran olahraga yang menghasruskan berpasangan pasti Ana seorang yang tidak memiliki pasangan namun dengan jantelman siswa itu menawarkan dirinya sendiri sebagai pasangan Ana
__ADS_1
diperlakukan baik oleh seorang pria, mustahil jika Ana tidak jatuh hati keadanya. setelah curhat kepada Rani, Rani memberikan ide untuk mengutarakan cintanya. dengan dorongan dan dukungan penuh dari Rani akhirnya Ana memiliki keberanian dan kepercayaan diri mengutarakan cintanya saat keluusan sekolah
namun bukannya cintanya terbalas Ana justru dibuat malu dengan penolakan pria itu dan membuat Ana mlinder dengan penampilan dirinya sendiri, hal itulah yang membuat Ana mengurung diri di dalam kamar berkhayal membuat Novel Online
tanpa Ana dan Rani tahu pria itu sudah menjadi kekasih Dara, tentu saaja cinta Ana di tolak. Untungnya waktu itu mereka sudah lulus sekolah sehingga Ana tidak perlu malu lagi jika bertemu dengan pria itu atau bertemu dengan teman-teman mereka yang pasti Ana akan menjadi bahan ejekan satu sekolahan
Ana hanya diam diperlkukan seperti itu, bukan berati dirinya lemah hanya saja ia engan membalas, terlebih saat ini mereka sedang berada di hadapan para investior
“dia dengan tidak tahu dirinya mengutarakan cinta kepada siswa terpopuler di sekolah! haha.... lebih baik kau bercermin terlebih dahulu dan melihat bagaimana dirimu sendiri. bukan hanya dulu bahkan sekarang kau masih di tolak oleh laki-laki, kau menghadiri kencan buta sebanyak sebelas kali dan semuanya gagal karena laki-laki itu menolak mu! wkwk” oceh Dara
“Dara apa kau mabuk?” tanya Ana pelan
“mabuk? Aku baik-baik saja” jawab Dara sempoyongan “Dasar! wanita buruk rupa!” Dara menarik rambut Ana, beruntung rambut kepangan Ana mudah terlepas dari tangan Dara
“Dara kau ini kenapa?” Ana menangkis tanggan Dara yang hendak menyasar rambutnya kembali
“dasar perebut kekasih orang” Dara yang frustasi karena tidak bisa mengapai rambut Ana, dia mendorong tubuh Ana sangat keras hingga Ana terjatuh cukup keras kebelakang
Rey dan Jay yang kebetulan baru datang dan melihat karyawanya diserang segera membantu Ana
“Apa-apaan ini?!” bentak Rey penuh emosi “jika kau tidak terima kalah, jangan pernah kau menyakiti seseorang!” triak Rey tepat didepan wajah Dara yang sudah di pegangi oleh beberapa orang teman-teman kerjanya
__ADS_1
“Tuan, sepertinya kaki nona Ana terkilir, kita harus segera membawanya ke rumah sakit” ucap Jay yang langusng mengecek kondisi Ana pasca terjatuh
Mendengaar itu, Rey dengan sigap membopong tubuh Ana dan membawanya ke rumah sakit terdekat
hasil pemeriksaan menunjukkan, Ana mengalami cidera engkel yang lumayan. Ana harus membatasi gerak kakinya, jika tidak Ana akan memperburuk keadaan kakinya yang dapat berakibat fatal
Rey membelikan tongkat untuk membantu Ana berjalan meski Ana sudah menolaknya karena tidak enak hati dan juga malu jika harus mengunakan tongkat saat berjalan
“Tidak apa-apa aku bisa jalan sendiri, jadi tidak perlu mebeli tongkat” Ana keras kepala tidak ingin mengambil barang pemberian Rey
dirinya berjalan keluar ruang pememriksaan dengan menganngkat salah satu kakinya. Karena belum terbiasa menggunakan satu kaki Ana kehilangan keseimbangannya dan hampir tersungkur ke lantai beruntungnya Rey tidak jauh dari sana sehingga ia bisa menangkap tubuh Ana dengan sigap
“Kenapa kau keras kepala?! Kau hampir saja terjatuh! bagaimana bisa berjalan mengunakan satu kaki? yang ada nanti malah kedua kaki mu akan cedera! Atau kau sengaja melakukan ini? Agar aku memegang mu dan mengendong mu?” goda Rey
“Eee..bu-bukan sepert itu..hanya saja..” Ana menjadi salah tingkah “hanya saja aku tidak enak Anda membelikan ku dan membayar pengobatan ku”
“Kau itu karyawanku dan kau cedera saat bekerja, jelas aku akan bertanggung jawab menanggung biaya perawatan dan yang lainnya. lagi pula kalau kau cedera, aku harus memberikan mu cuti. aku tidak mau kau makan gaji buta”
"Apa? " lirih Ana tercengan dengan ucapan terakhir Rey, diawal kalimat seolah Rey sangat memperhatikan karyawanya namun di akhir kata-katanya sangat kejam
"intinya, kau terima saja! lagi pula dokter juga mengatakan kalau kakimu itu tidak boleh banyak bergerak"
__ADS_1
“Baik” Ana tidak punya pilihan lain selian menerima tongkat pemberian Rey