
Rumah Ana
Lyla yang baru saja membeli tas keluaran terbaru dari merek terkenal, sedang mencocokan baju outfit dengan tas tersebut. sekitar dua jam lebih Lyla berdiri di depan cermin berpose layaknya model internasional
"Astaga..!! Lyla! "bentak Mama Iren masuk kedalam kamar Lyla, beliau melihat kamar Lyla sudah sepeti kapal pecah. baju-baju berserakan di atas tempat tidur, sepatu, heels berserakan di lantai
"Mama... ngagetin saja" Lyla memegangi dadanya yang berdetak kencang karena terkejut Mama Iren masuk dengan berteriak
"apa yang kau lakukan? "
"aku sedang...."
"kau beli Tas lagi??! " Mama Iren sudah memunculkan tanduknya marah "sudah berapa kali Mama bilang... beli Tas yang berguna saja" Mama Iren memukuli Lyla dengan gemasnya. karena dari dua anaknya Lyla lah yang paling boros, dia terus membeli tas mewah. jika sudah bosan dengan tas tersebut atau ada tas keluaran terbaru maka tas yang lama akan di simpan di gudang
"Maa....sakit!!! " keluh Lyla berlarian menjauhi pukulan Mama Iren
"biar tahu rasa! contoh itu kakak mu Ana! tidak perlu barang mewah. dia bisa mengaet laki-laki kaya! " ujar Mama Iren masih mengejar Lyla
"Ampun Ma.. ampun... " Mohon Lyla duduk bersimpu, meminta pengampunan mama Iren
Mama Iren yang luluh karena Lyla sudah bersimpuh di depanya, langsung menyudahi pukulannya. kini Beliau duduk di kursi setelah lelah mengejar Lyla
"tapi Ma.. Mama yakin kak Ana akan menikah dengan kak Rey? " tanya Lyla pelan-pelan mendekati Mama Iren
"kau ini...!" Mama Iren melangyangkan tanganya hendak memukul Lyla kembali namun ia urungkan "masih cemburu saja kakaknya punya pacar tajir! " omel Mama Iren
"bukan seperti itu Ma..., dengarkan Lyla dulu" Lyla ikut duduk di samping Mama Iren "tadi pagi aku melihat kak Ana pergi dengan seorang pria dan tadi aku melihat dia berada di Mall sedang bermain dengan pria itu dengan mesranya" setelah membayar tas itu, Lyla melihat Ana, Zen, Rey sedang berbincang. Lyla tidak begitu mendengar apa yang di bicarakan mereka karen jaraknya cukup jauh, yang pasti Lyla melihat pria itu mengandeng tangan kakaknya dengan mesra di depan Rey, dan sepatinya Rey tidak keberatan akan hal itu
"Apa?! maksudmu Ana berselingkuh? "
"aku tidak tahu pasti, tapi yang aku tahu dia bersama kak Rey"
"Dasar Bodoh..! " Mama Iren memukul Lyla "pasti mereka sedang bersenang-senang dengan teman-temannya" bela Mama Iren
"Aww.. " Lyla menyentuh bahunya yang sakit di tampar Mama Iren "seandainya mama ada di sana, pasti akan tahu situasi di sana seperti apa" batin Lyla
__ADS_1
"sebagai hukumannya tas ini mama sita" Mama Iren mengambil tas baru milik Lyla
"Maaa.. jangan Maa" Lyla masih berusaha mempertahankan tas miliknya
"Tidak bisa! berikan tas itu kepada Mama" Mama Iren menarik tas itu, akhiranya terjadi tarik menarik antara Mama Iren dan Lyla. namun tenaga Lyla terlalu lemah sehingga tas kesayangannya yang baru ia beli harus berpindah tangan
"Maa.. Mama tidak tahu bagaimana cara ku mendapatkan tas itu, aku harus ber-rebut dengab tante - tante," Lyla mengejar Mama Iren berusaha bernegosiasi agar tas kesayangan kembali
"Mama tidak peduli! " Mama Iren masuk ke dalam kamarnya dan langsung mengunci pintu kamarnya agar Lyla tidak bisa masuk
setelah menempatkan tas itu di tempat yang aman, Mama Iren tiba-tiba kefikiran apa yang di ucapkan Lyla tadi. dengan rasa penasaran yang tinggi Mama Iren sengaja menunggu kepulangan Ana di ruang tamu
sekitar tiga puluh menit Mama Iren menunggu, benar saja Ana pulang dengan di antar oleh seorang pria mengunakan motor sportnya. sempat mereka berdua berbincang lama sebelum akhirnya pria itu pamit pulang
"siapa pria barusan? " Mama Iren langsung menembak Ana dengan pertanyaan, sesaat Ana memasuki rumah
"Astaga... Mama! bikin jantungan saja" Ana mengelus-elus dadanya
"Mama tanya siapa pria tadi? " tanya Mama Iren sudah berdiri tepat di depan Ana
"Pr-Pria? Ee.. Pr-Pria tadi teman Ana waktu sekolah" Ana masih menunggu waktu yang tepat utnuk mengungkapkan kebenaranya
"benaran teman sekolah Ma...kalau Mama tidak percaya bisa tanya Rani, Rani tahu Zen "
"Zen? jadi nama pria itu Zen? "
Ana memejamkan matanya pertanda ia menyesal telah keceplosan bicara
"Iya Ma, dia baru saja pulang dari Amerika jadi kami bermain bersama"
Sebelum Ana keceplosan lebih jauh lagi, Ana memutuskan untuk pergi ke kamarnya "Ana mau masuk dulu Ma" pamit Ana
Mama Iren kepergian Ana dengan wajah yang sulit ditebak
...***...
__ADS_1
Bali
hari ini rapat sponsor Casper diadakan di Bali, semua sudah berada di Bali termasuk Ana, Zen dan Rey
meski suasana pagi di Bali sangat sejuk, namun Rey sudah merasa panas karena Api cemburu. pagi-pagi ia sudah melihat Ana dan Zen yang sedang berpacaran di tepi pantai sambil berlari -larian.
"Apa yang kalian lakukan? " tanya Rey menghampiri mereka
"Rey? " Ana yang terkejut dengan kehadiran Rey lansung, melepaskan diri dari pelukan Zen
tadi Ana dan Zen sedang bermain lari tangkap dan Ana tertangkap. Ana langsung melepaskan diri ketika Rey datang karena merasa tidak enak
"kenapa kau ada di sini?" tanya Ana heran karena biasanya Rey akan berada di dalam kamarnya untuk mempersiapkan materi presentasi
"apa maksud mu? tentu saja menikmati suasana pantai" ucap Rey datar, menyembunyikan rasa marahnya
"ini sepeti bukan dirimu, biasanya kau akan mengunci kamar mu. lebih baik mempelahari proposal dari pada menimati pemandangan" ujar Ana
"Ck, kau itu hanya sekretaris, tidak tahu banyak tentang aku. buka begitu Tuan Zen?" Tanya Rey kepada Zen berusaha memancing emosi Zen
"tentu saja Tuan Rey" jawab Zen tersenyum tapi di dalam hatinya merasa kesal karena Rey sudah menganggunya berpacaran
"silahkan nikmati pemandangannya" pamit Zen mengandeng Ana untuk pindah ke tempat lain
"Tunggu... kalian mau kemana? " susul Rey
"Apa urusan mu kita mau pergi kemana? urus saja urusan mu sendiri " Ana kesal karena merasa di buntuti Rey
"Hei, jangan seperti itu. kita disinikan saling kenal. akan lebih seru jika kita pergi liburan bersama" ucap Rey tiba-tiba mengandeng tangan Ana lalu mengajaknya berlari sehingga membuat Ana melepaskan genggaman tangan Zen sebelumnya
Zen yang melihat Rey mengajak kekasihnya pergi, menatap ke arah Rey dan Ana dengan penuh amarah
"Rey berhenti! "Ana berhenti berlari karena Zen masih tertinggal di belakang "Rey lepaskan! " Ana berusaha melepaskan tangganya dari gengaman Rey
"bagaimana kalau hari ini kita berlayar Tuan Zen? " tanya Rey kepada Zen yang baru saja sampai
__ADS_1
"ide bagus Tuan Rey" ucap Zen sambil menatap Rey dengan tajam
Rey yang ditatap seperti itu, menatap Zen balik. sehingga mereka berdua sedang beradu menatap dalam diam